Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 (Empat Sekawan)


__ADS_3

Boy sekarang sudah duduk di depan Mom dan Daddy nya, duduk santai sama seperti si Daddy yang menyilang kan kakinya ,namun tidak dengan Boy,dia hanya duduk santai dengan sopan, Mom Nayla sudah mondar-mandir seperti setrika an ketika Boy mengutarakan keinginannya.


"Canim...duduklah!" pinta Ben


"Kau benar-benar bisa setenang itu Ben!!!??? kau bisa sesantai itu dengan apa yang dilakukan anakmu??!!" ucap Nayla dengan muka geram ke arah sang suami,sambil menunjuk pada Boy.


"Boy sudah besar sayang! benar kan Boy?" tanya Ben


"Of course Dad!" jawab Boy tenang.


Hal itu malah membuat Nayla geram, bagaimana bisa dua lelaki yang terlihat kembar namun berbeda usia ini juga kembar dalam kepribadian nya bukan hanya wajahnya,hal itu membuat Nayla frustasi. Beberapa hari yang lalu May sahabatnya yang frustasi karena Lee meminta menikah, tapi Nay maklum atas permintaan Lee karena Vita sudah tak suci lagi, dan Lee adalah pelakunya,namun Boy? Boy dan Kayra bahkan tak pernah pacaran, apalagi Kay masih 16 tahun, enam bulan lagi dia baru berusia 17 tahun. kali ini darah tinggi Nay benar-benar naik, sifat kedua anaknya lebih menurun dari sifat Ben, apalagi ditambah Boy yang dingin seperti Ray.


"Ohh Tuhan Mama!!! apa salah Nay!!!" gumamnya sambil menghempaskan bo*kongnya di samping sang suami.


"Canim..... jangan begini... rileks okey?" rayu Ben, namun Ben dengan sengaja mengambil kesempatan untuk bisa dekat dengan Nayla, dia bahkan sudah meletakkan wajah nya di leher sang istri dari samping.


"Jangan pamer Dad!!" ucap Boy yang terlihat tak suka.


"Daddy menyingkir!!" kata Nay yang melihat tingkah Ben.


"Kenapa? apa kamu yakin anak kamu belum melakukan ini?'' kata Ben sambil mencium pelipis Nayla. Nay sampai melotot tajam ke arah Ben.


"Yang lebih dari itu, Boy juga pernah!!" kata Boy sambil berdiri dan berlalu dari sana.


"Booooyyyyyy!!!" teriak Nayla, Boy semakin mempercepat langkahnya,dia tak mau mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang mommy.


"Sudahlah sayang....ayukk..... Daddy pengen yang lebih!!" bisik Ben.


"Dasar pria bule mesum!!!'' ucap Nay


"Mesum gini juga mau maunya di bikin mende*sah terus Canim!!!" kata Ben santai.


"Ohh Tuhan!!"


Di sisi lain, Lee sudah berada di hadapan Om Kevin, lelaki kepercayaan Papa nya.Beberapa kali Lee menelan saliva nya dengan susah payah, Om Kevin,bagaikan cermin sang Papa, dingin tanpa senyuman sama sekali.Sudah hampir Lee yang di temani Fabri duduk di hadapan lelaki itu 30 menit lamanya, namun Om Kevin belum bergeming dari laptop yang ada di hadapannya.Fabri sudah biasa dengan semua itu, namun berbeda dengan Lee, dia sudah berulang kali menggeser bo*kongnya ke kanan dan ke kiri, rasanya gugup campur tak sabar sedang menguasai dirinya.

__ADS_1


"Jadi kapan kamu mulai Lee?" tanya Om Kevin tiba-tiba.


"Eh...kapan saja Om! Lee siap!" jawab Lee kaget karena tiba-tiba saja Om Kevin bertanya.


"Baiklah, setelah acara pernikahan mu, Om kasih kamu istirahat 3 hari, setelahnya kamu akan menduduki wakil direktur untuk sementara! bagaimana?"


tanya Om Kevin, ya... Kevin dan Ray sepakat untuk mendidik Lee terlebih dahulu sebelum nantinya akan menggantikan Kevin sebagai direktur utama, jabatan nya saat ini adalah wakil direktur, namun Lee belum di beri wewenang untuk mengambil keputusan sendiri, semuanya harus di diskusikan dengan Kevin terlebih dahulu.


"Baik Om!" kata Lee patuh.


"Dan kamu Fabri!! kamu akan jadi sekertaris Lee!" kata Om Kevin.


"Aku pa? ehhmmm aku...!!" melihat tatapan sang papa , Fabri langsung mengiyakan nya.


"Itu permintaan tuan Ray..Fabri, dan kamu harus setuju!" lanjut Om Kevin.


"Iya pa!"


Setelah itu mereka keluar dari ruangan tersebut, Lee terlihat menghela nafas lega.


"Tiap hari di rumah kayak gitu Bri?" tanya Lee penasaran


"Wiiihhh betah lihat muka Om Kevin yang datar dan galak gitu?" tanya Lee lagi.


"betah lihat muka Om Ray yang datar dan galak juga?"


Pertanyaan di lempar balik oleh Fabri, keduanya saling pandang dan tawa mereka meledak seketika, karena sifat dan sikap papa-papa mereka memang sama.


Leo sedang cemberut karena mami kesayangan nya sedang memerintahkan belanja bulanan, dengan catatan belanjaan di tangannya, Leo menyusuri lorong supermarket dengan wajah yang di tekuk sedari masuk tadi.Dia membaca catatan belanjaan sampai pada sebuah barang yang hanya tinggal 2 bungkus saja.


"Maaf saya dulu yang melihatnya!" kata Leo tanpa melihat siapa yang di ajak berebut barang tersebut.


"Tapi saya sudah memegang nya terlebih dahulu!" kata orang tersebut.


"Jadi maksudnya loe gak mau ngasih barang ini? gue butuh!! dan ini hanya tinggal 1, jadi mengalahlah!"

__ADS_1


kata Leo sambil memandang ke arah orang tersebut, ternyata adalah gadis muda dengan kaos oblong putih, rambutnya di ikat tinggi ke atas.


"Tapi aku sangat butuh!" kata gadis itu.


"Kau?...." kata Leo


"Ya?" saut gadis tersebut


"ehhmmm sepupunya Kay kan?" tanya Leo


Mereka memang sempat beberapa kali bertemu, namun Leo heran mengapa gadis itu tak mengenali Leo, padahal beberapa bulan yang lalu mereka pernah liburan bersama di Bali selama satu minggu,gadis itu adalah Ayana,Ayana ikut ke Bali karena Kay yang mengajaknya dan beberapa hari yang lalu saat tragedi yang menimpa Kay,Ayana juga bertemu dengan Leo di rumah sakit,jadi Leo sangat hafal dengan wajah gadis sederhana tersebut tapi entah mengapa Ayana seakan lupa kalau pernah bertemu dengan Leo.


"Kau tidak mengenali aku?" tanya Leo


"Tidak!" jawab Ayana singkat.


"Bali....Kay.... Boy.....ingat?" kata Leo sambil menyebutkan kata yang bisa membuat Ayana ingat.


"Ahh....iya .. Empat Sekawan?" kata Ayana


"Hah??" kata Leo bingung


"Hehehehe Kay bilang seperti itu! Boy,Lee , Leo dan Fabri! benar?" kata Ayana.


"Dan kamu? yang siapa?" lanjutnya.


"Temani aku bisa?" kata Leo yang malah balik bertanya,tanpa menjawab pertanyaan Ayana.


"lho kok aku?"


"Pegang ini! aku gak paham dengan catatan itu, mami yang memerintah!" kata Leo sambil berjalan mendorong troli nya.


Akhirnya Ayana hanya bisa pasrah dan mengikuti Leo, dia akhirnya di depan Leo sambil menunjuk kan di mana letak barang yang ada di catatan. Ayana yang pendiam, tak begitu banyak bertanya atau mengeluarkan suara nya, hal itu membuat Leo pada akhirnya lebih banyak bicara.


"Makan dulu gimana?" kata Leo, setelah selesai berbelanja, dia ingin mengucapkan rasa terima kasih nya dengan mengajak Ayana makan

__ADS_1


"Tidak usah! aku ada janji dengan orang, jadi aku pergi sulu... terima kasih semuanya ya!" Ayana mengangkat barang belanjaan nya yang tadi juga di bayar oleh Leo.


bersambung....


__ADS_2