
"Jay.....!"
"Ya Tuan!!"
"Hubungi orang tua gadis itu! jangan katakan keadaan anaknya terlebih dahulu!" kata Ray.
"Baik tuan! saya akan melakukannya!"
Sambungan terputus, paman Jay menghela nafasnya berulang kali,dia tau Rony pasti juga bisa menggila jika tau keadaan Revita saat ini, teman satu kampung nya itu sudah menitipkan Revita pada nya, namun kejadian naas ini membuat Paman Jay merasa bersalah karena kurang bisa mengawasi Vita dengan baik.
sedangkan di rumah sakit.....
Kay sudah tersadar dari pingsannya, dan dia sudah melewati masa kritisnya, namun wajahnya selalu ketakutan bila dokter datang memeriksa, sebelumnya dokter yang menangani Kay adalah seorang laki-laki, ketika melihatnya, dia histeris dan berteriak-teriak, akhirnya Johan meminta mengganti dokter yang memeriksa Kayra,Bahkan Tian yang datang dan berencana menjadi dokter untuk anak sahabat nya itu tak berhasil membuat Kay tenang.Boy tak sampai hati meninggalkan nya begitu saja, Gadis yang biasa bersikap konyol dan bar-bar itu tiba-tiba bersikap sangat menyedihkan, membuat Boy merasa iba karenanya. Kay terus memeluk Boy, bahkan sang papa yang datang bersama Ray di tolak mentah-mentah, dia juga terlihat ketakutan melihat Johan,Tian dan Ray.
"Aaaarrggghhh!!!" teriak Johan di luar ruangan Kay, dia merasa gagal menjadi papa untuk Kay, bagaimana dia bisa menceritakan semuanya pada sang istri Kiara.
"Kenapa seperti ini Tian?? kenapa dia begitu takut ngeliat gue?? gue papanya Tian!!!" teriak Johan dengan frustasi.
"Dokter Farah bilang, dia melihat semua lelaki seperti melihat penjahat itu, karena Boy orang pertama yang dia kenal dan dia lihat saat itu, maka dia merasa aman di dekat Boy!" kata Tian.
"Kita harus menghubungi dokter Erika! dokter psikolog! Kay harus segera di tanganin Jo!" lanjut Tian.
"Anak gue gak gila Tian!!!" amuk Johan yang tak bisa berpikir jernih, kata dokter psikolog membuat Johan berasumsi anaknya di pandang gila.
"Kay trauma bodoh!!" teriak Tian, mencoba mengembalikan kewarasan otak sahabatnya.Ray melerai keduanya yang sedang kalut, akhirnya Johan di temani kedua sahabatnya untuk duduk di cafe rumah sakit itu.
"Kita bawa Kay ke rumah sakit loe!" celetuk Johan
"Hemmm....lebih baik kita bawa pulang! dan hubungi Kiara Jo!" kata Ray
__ADS_1
"Loe gila Ray!!!" sentak Johan
"Kiara berhak tau!!" kata Ray penuh penekanan bertanda tak mau di tolak.
"Tapi gue gak sanggup Ray hiks.....hiks..... melihat Kay saja gue gak sanggup!!! bagaimana dengan Kiara!!" tangis Johan meledak juga, sedari tadi dia terus menahannya.Setelah beberapa waktu Johan mulai tenang, Tian sudah pergi mengurus kepindahan Kay ke rumah sakit milik nya, Ray juga sudah menghubungi Ben agar tak khawatir pada Boy.
Sedangkan di dalam kamar Kay,dia sudah tertidur di pelukan Boy, dengan lengan Boy sebagai bantalan nya, keningnya terus berkerut saat tidur, tangan dan tubuhnya sesekali bergetar ketakutan, tidurnya tak lagi nyenyak.
"Jangan!!.....aku mohon.....jangan!!!" gumam Kay dalam tidurnya, dia mencekram baju Boy sampai jari-jarinya berubah merah.
"Kay....hei... Kay......!" panggil Boy yang tak membiarkan Kay tidur dalam ketakutan.
"Kak Boy hiks .....hiks...... Kay mau mati saja!! Kay mau mati saja!!" ucapnya sambil berlinang air mata.
"Ooh Sh*it!!" batin Boy, kemarahan masih tersisa mengingat bagaimana kondisi Kay dan membayangkan bagaimana trauma nya Kayra karena tiga lelaki sekaligus memainkan tubuhnya, walaupun tak sampai merenggut kesuciannya.
"Kay......kamu masih punya kakak!! papa dan Mama!!! bagaimana kamu mau pergi??? hemm?"
"Maafkan kakak yang terlambat datang!!! maaf!" ucap Boy menenangkan Kayra.
Setelah menyuntik kan obat penenang pada Kay, mereka membawa Kayra ke rumah sakit di kota, rumah sakit milik Ray, walaupun Tian sekarang sudah mempunyai rumah sakit sendiri, namun sahamnya yang berada di rumah sakit milik Ray, memaksa Tian untuk memimpin rumah sakit tersebut atas bujuk rayu Ray tentu nya.
Kiara yang di hubungi oleh Johan, menangis sesenggukan di pelukan sang suami, melihat bagaimana keadaan anaknya saat ini, dia terus menggenggam tangan Boy dan tak mau lepas, di sana juga sudah ada Mama May, Nay dan juga Ben serta Leo dan Fabri sudah berada di sana.
"Pa.... bagaimana ini? hiks ..... bagaimana anakku??" jerit Kiara.
"Tenang sayang"...cup...cup....cup.... kata Johan menciumi puncak kepala sang semua berusaha menenangkan Kiara yang terlihat sangat terpukul, sedangkan sang anak tak mau menemui siapapun kecuali Boy yang selalu ada di dekatnya, bahkan kedatangan seorang suster saja bisa membuat Kay gemetaran.
"Bagaimana dengan Lee?' tanya Johan, dia sampai lupa tentang anak sahabat nya itu.
__ADS_1
"Lee....!" ucap Ray terpotong dengan helaan nafasnya panjang.
"Ada apa dengan Lee pa?" tanya Mama May, disana juga ikut menyaksikan, mereka menunggu penjelasan Ray, Ray malah menatap Leo dan Fabri.
"Eh Lee belah duren!!" kata Leo cepat, langsung menutup mulutnya sendiri.
"Pa?" tanya May.
Akhirnya Fabri menceritakan semuanya pada mereka, semuanya nampak terkejut kecuali si mesum Beniqno.
"Sepertinya Lee lebih cocok jadi anakku!!" bisik Ben pada istrinya,Ben bangga akan tindakan Lee.
"Dasar pria tua mesum!!" balas Mama Nay berbisik juga.
"Selamat ya Ray, seperti nya kau akan cepat di panggil Opa!" ucap Ben, namun dia belum berani mengejek Ray karena suasana disana sedang sedih, Ray hanya memutar bola matanya saja, dia tau tujuan ucapan selamat dari Ben.
"Sepertinya kita nikahkan juga Boy dan Kayra!" lanjut Ben, dan tentunya mendapatkan tatapan berbagai macam dari semua orang. Merasa tak enak dengan tatapan mereka ,Ben melanjutkan perkataannya.
"Ehem... ehem... maksud ku Jo....apa kau rela anak gadismu tidur di peluk lelaki seperti itu setiap malam?" kata Ben sambil membuka ruang rawat Kay yang menampakkan Boy yang tengah tertidur di peluk erat Kayra,
"Ini juga satu-satunya cara untuk menyembuhkan psikis dari Kay, dia tak mau di sentuh siapapun kecuali Boy kan?" Ben coba menjelaskan.
"Kau benar!" kata Johan dengan lesu.
"Baiklah lebih baik kita berbesan!" kata Ben yang terlihat berbinar.
plaaak.......suara pukul Nay di lengan sang suami.
"Kita diskusikan lagi dengan Boy sayang!!!" bujuk Nayla, dia tak ingin Boy dan Kay sama-sama terluka bila mereka menikah tanpa cinta, hanya karena Kay butuh Boy sekarang,bukan berarti Kay mencintai Boy,atau sebaliknya. Lagian Kay baru menginjak umur 16 tahun sedangkan Boy masih belum genap 20tahun, pernikahan dini bisa menghancurkan perasaan keduanya bila tidak di dasari oleh cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
bersambung