
Johan sedang menunggu Boy di ruang kerjanya, dia ingin berbicara empat mata dengan menantu nya tersebut.Entah mengapa Johan merasa tak rela jika Boy, lelaki yang beberapa waktu lalu menikahi putri nya itu masih suka bermain-main tak mengenal waktu.Padahal ini baru pertama kali sejak menikah, Boy pulang larut malam tanpa kabar berita. Tapi begitu lah Johan bila menyangkut ank perempuan nya, dia seakan tak rela jika Kay di sakiti sedikit pun oleh lelaki, walaupun itu suami nya sendiri.
Boy sudah berdiri tepat di pintu ruang kerja sang mertua, ini adalah hari Sabtu dan seperti biasa, Johan akan libur dari kantor nya, apalagi sekarang ada Levin anak lelakinya yang sudah menetap di sini dan membantu mengurus perusahaan.
Boy sadar kesalahan nya, bahkan di kamar nya tadi Kay seakan biasa saja tanpa mempertanyakan kemana Boy pergi semalam, Kay sangat percaya pada Boy, hal itu malah membuat Boy semakin bersalah.
tok...tok....tok....
"Masuk!"
"Pagi pa" sapa Boy sambil menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut, ya hanya kepalanya saja.
"Apa hanya kepalamu yang akan masuk ke dalam Boy?"
tanya Johan dengan santai.Boy hanya menghela nafasnya pelan, dia mencoba tenang dan yang pasti akan mengakui kesalahannya.Boy tau dia salah, walaupun sang istri hanya diam dan terkesan tak ambil pusing, tapi dia tau dia salah.
"Boy?"
"Boy salah pa! janji akan mengabari Kay kalau harus pulang telat!" jelas Boy memotong omongan Johan.
"Ckc.....kau harus tau batasan mu Boy! apalagi Kay hamil muda, tega sekali kamu membiarkan istrimu tidur sendirian!" kata Johan tak terima anaknya terlihat terlantar, padahal Boy hanya meninggalkan Kay menuruti hobinya dan bahkan dia pulang ke rumah walaupun harus telat, yang jadi kesalahan Boy hanya tak mengabari Kay, dan dia tau itu salah.
"Kau akan tau bagaimana rasanya jadi aku saat anakmu nanti lahir Boy!tak ada seorang ayah yang bisa melihat anaknya terabaikan atau menderita"
"Iya pa...maaf pa"
Setelah berbincang cukup lama, Boy juga berjanji tak akan mengulangi perbuatannya,dan Johan juga berjanji tak akan mencampuri urusan rumah tangga mereka jika memang Boy bisa menjadi pemimpin yang baik untuk Kay.Johan berjanji hanya akan mendukung rumah tangga mereka.
ceklek.......
"Sudah kak?" tanya Kay ketika merasakan Boy memeluknya dari belakang.
"Sudah...maaf semalam aku tak mengabari mu!" kata Boy
"Memang apa yang Kakak lakukan sampai larut malam?" tanya Kay sambil mengelus pipi Boy yang ada di belakangnya.
"Hemmm aku hanya pergi berlatih dengan Lee" kata Boy sambil mengeratkan pelukannya.
"kangen banget sama kamu... cup...cup...."lanjut Boy.
__ADS_1
"Kangen apa! gombal banget kamu Kak! baru juga semalam gak tidur seranjang!" ucap Kay sambil cekikikan sendiri, apalagi lidah Boy sudah tak bisa di kendalikan di leher dan telinga nya.
"Gak tau sayang.... pokoknya semalam aja gak meluk kamu, aku kangen" ucap Boy
"Dasar bucin!"
"Gak dong!! kamu yang bucin!!" pekik Boy sambil mengangkat tubuh Kay dan di bawa ke ranjang ukuran king milik mereka.
"Aargghhhh.....kakak!" teriak Kay kaget.
"Pokoknya aku mau pagi-pagi panas!!" kata Boy.
"Kakak!! di luar hujan, mana ada pagi-pagi panas!'" seru Kay.
"Kita yang bikin panas-panas Kay sayang!"
Dan tanpa menunggu persetujuan istrinya, Boy sudah melancarkan aksinya di pagi ini, dengan berbagai gaya yang tak membahayakan kandungan Kay, Boy menang banyak pagi ini, mereka benar-benar menciptakan pagi panas mereka, padahal mama Kiara sudah menunggu di dapur karena janjian dengan Kay yang akan membuat kue bersama.
"Kemana Kay ya pa?" tanya Kiara ketika melihat Johan mengambil kopinya di dapur.
"Emang kenapa sayang?" tanya Johan setelah meminum sedikit kopi di cangkir nya.
Johan berpikir sejenak, kemudian dia melihat ke arah jendela dan terlihat air hujan menetes di kaca jendela tersebut.
"Ma ikut papa yuk!" kata Johan sambil menarik Kiara untuk mengikuti nya.
"Ehh..pa ..mau kemana? ini mama lagi bikin adonan kue!" teriak Kiara yang masih di tarik tangan nya oleh Johan.
"Bikin kue siang aja! kita bikin adonan adiknya Kay dulu!" kata Johan dengan santainya.
"Eh...papa!!! dasar mesum!!" kata Kiara sedikit berbisik karena takut ada pelayan yang mendengar mereka.
"Mantu kamu juga mesum sayang!! lihat aja Kay dan Boy pasti lagi enak-enak an di atas! makanya Kay tak turun!"
braaakkk......suara pintu kamar tertutup.
"Astaghfirullah......gak mertua dan menantu pagi-pagi sudah ngerjai istri-istrinya!!" kata salah satu pelayan yang mendengar apa yang di katakan Johan sebelum masuk kamar.
Sedangkan di rumah Ray, Lee bahkan sudah mengikuti istrinya di belakang sejak bangun pagi.
__ADS_1
"Sayang ..apa kamu tidak ingin teh hangat dengan jahe? mumpung lagi hujan ini"
tawar Lee dari belakang Vita yang sedang berjalan-jalan di teras belakang rumahnya, sesuai saran Maysha sang mertua,kalau pagi Vita harus sering berjalan-jalan dengan kaki telanjang, karena hujan Vita yang biasa nya jalan-jalan di taman, sekarang hanya bisa jalan-jalan di teras belakang saja.
"Tidak!" jawab singkat Vita.
"Sayang..... bagaimana kalau bubur putih yang biasanya kamu sukai? aku sudah belajar membuat nya! aku buatin ma" tawar Lee lagi.
ya....sejak hamil Vita suka dengan bubur putih yang terbuat dari tepung beras, Vita bilang dia sering memakannya di kampung halaman nya, dan akhirnya Lee belajar membuatnya.
"Tidak!" jawab singkat Vita sambil terus berjalan pelan
"Sayang ...apa kau.....!!"
"Tidak mas!! aku masih sebel sama kamu!!! jadi diam saja!!" potong Vita dengan cepat, Lee yang terus berbicara padanya membuat mood nya berantakan.
"Sayaaang!! jangan marah!" rengek Lee sambil memeluk Vita dari samping.
"Lepas mas!!"
"Gak mau...gak mau!!" rengek Lee persis seperti anak kecil.
pletaakk......sebuah pukulan mendarat di kepala Lee
"Mama!! apa sih!!" pekik Lee karena May memukul kepala anaknya dengan sebuah gagang sapu.
"Lepaskan menantu Mama!" ancam May dengan sapunya.
"Gak!! dia istri Lee ma! ayo sayang kita ke kamar saja!" kata Lee menarik tangan Vita pelan.
"Maaa.....tolong Vita!" rengek Vita.
"Berhenti Lee!! kalau tidak! Mama pastikan kamu akan tidur sendiri sampai Vita melahirkan!!" ancam May lagi.
"Haiisshh!!! dasar tukang ngancam!"
ucap Lee sambil kembali menarik Vita untuk duduk di samping sang Mama, akhirnya Lee hanya bisa pasrah karena pagi ini Vita benar-benar mengabaikan nya, padahal Lee sudah berulang kali meminta maaf.
Vita hanya merasa khawatir dengan Lee karena tak memberikan kabar semalam, seandainya Lee memberikan kabar mungkin ceritanya tak akan seperti ini.
__ADS_1
bersambung