Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

"Kau bisa cepat!"


kata Levin ketika tak kunjung melihat Sesil keluar dari kamarnya, malam ini sang Mama meminta Levin membawa Sesil ke acara makan malam rutin yang di adakan oleh Johan, dulu acara ini ada karena Levin lebih sering tinggal di apartemen daripada di rumah utama, namun seiring berjalannya waktu, Boy juga memboyong Kayra keluar dari rumah utama,sehingga selalu di adakan makan malam yang wajib di hadiri anak-anak nya setiap satu bulan sekali, dan acara berbincang sehari an di hari berikutnya.


"Sudah Tuan!" kata Sesil sambil sedikit berlari ke arah Levin.


Levin memandang lekat ke arah Sesil, dengan balutan dress berwarna putih bermotif bunga-bunga pink selutut dan sedikit polesan make up di wajahnya, membuat Sesil nampak cantik, hari ini Kay menelpon agar Sesil berdandan sedikit, Sesil yang notabene nya bekas orang kaya tentu sangat bisa mendandani dirinya sendiri, apalagi siang tadi Kay menyuruh seseorang untuk mengirimkan baju dan peralatan makeup yang di yakini Kay tak di miliki Sesil.


Sesil nampak sedikit gelisah ketika Levin menatap nya tanpa berkedip sama sekali.


"Tu-tuan....saya sudah siap!" kata Sesil membuyarkan lamunan Levin.


"Dandan begitu saja.. lama!!"


Ucap Levin dengan ketus, padahal dia sedang mengatur debar jantung nya yang semakin meningkat, entah mengapa dia sering sekali berdebar ketika melihat Sesil, pengendalian dirinya juga bisa tiba-tiba runtuh saat berlama-lama berdekatan dengan Sesil.


Di Perjalanan Levin berhenti di sebuah minimarket, dia akan membeli beberapa bungkus rokok dan beberapa Roti, Levin sering melakukan itu ketika berkunjung ke rumah utama, semuanya dia berikan pada satpam rumah sang Papa yang berjumlah beberapa orang sekaligus tukang kebun di sana yang selalu berkumpul di pos penjagaan bila malam tiba.


"Kau ikut turun?" tanya Levin


"Iya Tuan" kata Sesil


"Bisa berhenti memanggilku Tuan!??" ucap Levin dengan ketus.


"Tapi......"


"Sudahlah!!"


Levin yang kesal keluar terlebih dahulu, dia tak menunggu Sesil untuk masuk ke dalam mini market,Sesil sedikit mengejar Levin, namun Levin meminta nya untuk menunggu di depan, akhirnya Sesil menunggu di depan karena di sana ada kursi.


"Sesil?" panggil seseorang, Sesil nampak mengingat siapa yang memanggil nya.


"Sesilia kan? anaknya Om Hadi?"

__ADS_1


"Siapa ya?" tanya Sesil


"Aku Brian.....lupa ya? memang sudah cukup lama, aku anak Papa Regan, teman Papa mu" kata lelaki yang mengakui dirinya sebagai Brian.


"Om Regan? oh iya..aku ingat, apa kabar Kak?" kata Sesil,dia ingat siapa Regan, teman sang papa yang menyambut pertama kali saat dia dan Papa nya kembali ke tanah air, namun selang beberapa tahun, Om Regan pindah ke luar negri, dengan Brian pun Sesil hanya bertemu beberapa kali.


"Baik Sil, bagaimana kabar Om Hadi?" tanya Brian


"Papa sudah meninggal Kak, sudah lama juga" jawab Sesil terlihat raut wajah sendu di wajah Sesil.


"Oh Maaf... Kakak tidak tau, Papa juga sudah meninggal satu tahun yang lalu Sil, dan akhirnya aku juga memutuskan kembali ke tanah air setelah sidang perceraian ku dengan istriku" kata Brian


"Maaf... Kakak jadi sedih" saut Sesil ketika mendengar Brian juga menceritakan tentang dirinya.


"Oya...kamu tinggal di mana?" tanya Brian


"Aku kerja Kak, jadi aku tinggal serumah dengan majikan ku!" saut Sesil


"Kerja apa?" tanya Brian, namun Sesil masih diam.


"Ini Nomor telepon Kakak, kapan-kapan kita bertemu, banyak yang ingin kakak tanyakan sama kamu" kata Brian


"Iya Kak"


"Sama siapa ke sini" tanya Brian


"Sudah ngobrol nya?" tanya Levin sebelum Sesil menjawab pertanyaan Brian.


Brian nampak melihat ke arah suara tersebut, dan dia mencoba mengingat wajah Levin yang di rasa nya pernah di lihat nya.


"Oh maaf, saya tidak tau kalau Sesil datang ke sini dengan seseorang"


kata Brian terlihat mencairkan suasana karena Levin terlihat sangat datar dan jelas tatapan matanya tak menyukai percakapan Brian dan Sesil.

__ADS_1


"Baiklah Sesil, Kakak pergi dulu, nanti Kakak hubungi" kata Brian sambil mengacak pelan kepala Sesil, tak ada yang pernah memperhatikan tangan Levin yang mengepal cukup kuat.


"Iya Kak" jawab Sesil.


Brian akhirnya pergi dengan mobilnya, dan Levin segeralah berlalu masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan Sesil yang sedikit berlari mengikuti nya. Tiba-tiba aura di dalam mobil mencekam, Sesil bisa melihat wajah Levin yang menahan amarahnya, Sesil berpegangan pada self belt yang di pakai nya kuat-kuat karena Levin mengemudi dengan gila-gilaan, Sesil hanya bisa komat-kamit membaca doa.


ciiiiittt......


Suara rem mobil terdengar cukup nyaring di telinga beberapa satpam yang berjaga di rumah Johan, bahkan suara klakson berulang kali terdengar seakan tak sabar ingin menerobos masuk ke dalam, dengan cepat menjaga pintu membuka, dan dengan cepat juga Levin masuk ke dalam perkarangan rumah utama dengan tergesa-gesa. Levin memanggil salah satu satpam dan memberikan bungkusan dari mini market pada mereka, dan tanpa mempedulikan Sesil yang mengekor di belakang nya dia masuk begitu saja, Sesil hanya diam terheran-heran dengan sikap Levin.


Sepanjang makan malam dan obrolan di ruang keluarga setelah acara makan malam, Levin hanya diam saja, sedangkan Sesil yang ingin membantu para pelayan di larang oleh Kiara.Levin beranjak ke kamarnya, karena sudah larut Boy mengajak Kay istirahat, begitu pula dengan Johan dan Kiara yang membawa cucu mereka untuk tidur bersama.


"Kalau Levin sudah keluar kamar, tak perlu berpamitan kamu bisa langsung pulang bersama dia ya Sil, maaf Tante tinggal dulu, ini si Al sudah ngantuk" kata Kiara


"Iya Nyonya" kata Sesil.


Sesil menunggu Levin cukup lama, dia bahkan sudah terlihat mengantuk, dia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.15 menit, namun tak ada tanda-tanda Levin turun, akhirnya Sesil memutuskan untuk naik dan mengetuk pintu kamar Levin karena dia tau di mana letaknya.


ceklek...... pintu terbuka.


"Tuan ...apa kita tidak pulang?" tanya Sesil sedikit ragu.


Levin menarik tangan Sesil ke dalam kamar, mengunci kamar tersebut dan menghempaskan Sesil di atas ranjang dan mengungkung tubuh gadis itu.Entah mengapa amarah di hatinya sedari tadi mencoba dia padam kan namun tak berhasil, Levin sampai tak ingin melihat wajah Sesil agar dia tak bertindak kasar pada gadis itu, namun pada akhirnya Sesil datang sendiri ke hadapan nya.


"Sudah gue bilang!! Kita akan menikah!! jadi.....jangan jadi cewek murahan!!!"


Teriak Levin, Sesil menatap sendu wajah Levin yang terlihat merah karena amarahnya sendiri, dia sering kali mendengar Levin mengatakan dirinya cewek murahan.


"Ya......aku memang murahan, bahkan demi bisa tinggal dan makan sesuap nasi saja, aku menjual diriku padamu Tuan" ucap Sesil lirih sambil berderai air matanya.


Deg.......


bersambung

__ADS_1


__ADS_2