Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 (Empat Sekawan)


__ADS_3

Boy meminta Kay menatap ke arah nya dengan cara menaikkan dagu Kay dengan jari telunjuknya.Boy memandang lekat ke arah Kay, sekali lagi memantapkan hatinya, dia mencoba mencari keraguan dalam hatinya,namun yang ternyata hatinya mantap menyerahkan seluruh pada Kay, Tak ingin kehilangan Kay lagi, itulah inti dari keinginan hatinya Boy.


"Would you marry me?'' tanya Boy pada akhirnya.


Kay seketika menatap ke arah mata Boy, lelaki yang sejak kecil bahkan sudah dia kagumi, kekaguman yang berubah menjadi cinta ketika Kay mulai meranjak remaja.Apa yang di dengar Kay bagai sebuah mimpi panjang yang bila terbangun dari mimpi tersebut maka semuanya hanyalah angan-angan belaka. Hati Kay berbunga, namun hanya sesaat,dia ingat bagaimana Boy selalu menolak nya dulu,bahkan terkesan tak mau berdekatan dengan Kay. Kay mulai berpikir bahwa Boy tak mencintai nya saat ini, mungkin Boy merasa kasihan dengan keterpurukan yang di alami oleh Kay,pikir Kay saat ini.


"Kay?Would you marry me?'' tanya Boy lagi.


Kay dengan menundukkan kepalanya,Kay menggelengkan kepalanya, Boy paham akan kekhawatiran Kay, Boy sangat tau bagaimana Kay mencintai nya, Levin sudah menceritakan semuanya beberapa hari yang lalu saat Kay mulai menolak kedatangan Boy.


"Benarkah kau menolak?"


tanya Boy dengan memajukan wajahnya dekat dengan wajah Kay, Kay yang tadinya menunduk mencoba memandang Boy, dia sudah menetapkan hati juga, bahwa dia tak akan menyusahkan Boy lagi.Kay juga tak mau Boy melamarnya hanya karena kasihan saja, Kay mengangguk menjawab pertanyaan Boy.


"Bisakah kau menolak ku?"


tanya Boy lagi yang semakin mendekat kan wajahnya.Kay menjadi salah tingkah sendiri, namun Kay kembali mengangguk.


"Benarkah? boleh aku membuktikan nya?"


kata Boy lagi, Kay heran dengan pertanyaan Boy,Kay hanya diam saja dengan wajah herannya.Secara pelan Boy menempelkan bibirnya ke bibir Kay, melumaaat lembut bibir Kay dan dengan pelan juga dia menarik pinggang Kay agar lebih dekat dengannya, satu tangan berada di tengkuk belakang Kay untuk memperdalam ciuuumannya, Kay yang awalnya biasa saja tiba-tiba memejamkan matanya,dia mulai mengikuti alur yang di buat oleh Boy, Boy mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kay, menyisir tiap bagian mulut Kay.


Karena merasa pasokan oksigen mulai menipis, Kay mencoba mendorong dada Boy,dan dengan pelan Boy melepaskan ciumannya.


"Masih mau menolak ku?" goda Boy, Kay tersipu malu mendengar godaan dari Boy sambil memukul pelan dada Boy.


"Ciee.....calon istri pipinya merah!" goda Boy, Kay sampai membelalakkan matanya, dia berpikir sejak kapan Boy bisa bercanda, biasanya dia bersikap dingin seperti papa Ray.


"Tidur yuk!" ajak Boy


"Kakak gak pulang?" tanya Kay


"Gak!! kakak mau belajar jadi suami yang baik!" kata Boy sambil menarik tangan Kay menuju ke ranjang milik Kay.

__ADS_1


"Sini....kakak pengen belajar ngelonin kamu!" lanjut Boy.


Boy tidur sambil memeluk Kay seperti saat kai masih trauma beberapa hari yang lalu kaya memang sudah terbiasa tidur memeluk Boy beberapa hari yang lalu merasa nyaman dan dia tertidur dengan nyenyak, sejujurnya setelah tidak mau bertemu dengan Boy, Kay agak susah tidur, dia selalu tidur melewati pukul 12 malam, matanya baru bisa terpejam bahkan pernah sampai hampir pagi dia baru bisa memejamkan matanya.


Levin mondar-mandir di depan kamar Kay, dia merasa Boy terlalu lama berada di dalam kamar Kay, tiba-tiba bahunya di tepuk dari belakang.


"Eh astaga papa!! mengagetkan saja!" kata Levin.


"Sudah malam, kenapa kamu gak tidur?" tanya Johan sang papa


"Boy kenapa lama sekali ya pa?" tanya Levin cemas


"Biarkan saja! roman - romannya papa akan dapat mantu baru!!" kata Johan santai sambil menuruni tangga, Johan memang berniat untuk mengambil air minum di dapur.


"Pa.....papa gak khawatir!! itu anak gadis papa lho! apa gak tau di apa-apa in sama Boy?" kata Levin sambil mengejar Papa nya.


"Boy gak akan berani!" kata Johan.


"Tapi Boy juga laki-laki pa!!"


"Paaa....papa lupa siapa Boy!!" kata Levin lagi.


"Maksud kamu?" tanya sang papa menghentikan langkahnya.


"Boy anak Om Ben pa!!!'' kata Levin.


"Om Beniqno!! Bisa aja kan sifatnya Om Ben nurun ke anaknya!!" kata Levin dengan menekankan kata Beniqno.


"Ooh Shi*t!!!" Umpat Johan tanpa sadar, dia berlari ke arah kamar di ikuti Levin di belakang.


Sedangkan di kamar, benar firasat Levin, buktinya bibir Boy sekarang sudah nangkring di leher Kay, beberapa kali Kay mengeluarkan de*sahan yang cukup indah ditelinga Boy.


"Aku ingin menandaimu sebagai milikku!!" bisik Boy yang sudah meninggal kan bekas kiss*Mark di dada Kay bagian atas.Boy seakan lupa sedang di mana, entah sejak kapan Boy merasa candu akan tubuh Kay, kancing piyama yang Kay pakai, bagian atasnya sudah terbuka sebagian,hingga........

__ADS_1


tok..tok....tok....


"Kay??... Boy??? buka pintu nya!!" teriak Johan, dia sampai lupa apa kamar terkunci dari dalam atau tidak.


"Kak!!! sssttttt kak!!!" kata Kay sambil mendorong wajah Boy dari dadanya.


"Kenapa sih Kay?" tanya Boy tak suka.


"suara Papa!!"


"Apa??? Oh Tuhan Kay!! kenapa aku bisa lupa kalau ini rumah mu!!" Boy segera beranjak dari kasur dan membenahi baju dan rambutnya.


"Kay.... kancingkan piyama mu cepat!!!" kata Boy memerintah sambil berjalan ke arah pintu serta menyuruh Kay pura-pura tidur, merasa Kay sudah selesai Boy membuka kamar.


Ceklek.........


"Mana Kay?" tanya Johan menerobos masuk.


"Tidur Om, itu... tadi dia sudah mengantuk Om!!"


kata Boy santai, dia mencoba untuk benar-benar tenang seperti tak terjadi apa-apa.


"Trus ngapain kamu kunci kamar nya?" tanya Levin penuh selidik.


"Boy tidak menguncinya kak!" saut Boy, karena pada kenyataannya memang pintu kamar Kay tidak terkunci.


"Pa?" kata Levin menoleh ke sang Papa seakan bertanya kenapa Papa nya harus mengetuk pintu kalau kamar nya tidak terkunci.


"ehhmmmm Papa lupa tidak mengeceknya!" kata Johan yang sebenarnya malu, namun masih bersikap tenang karena tak mau ketahuan anaknya.


"Trus kamu tidur dimana?" tanya Levin


"Di sana!" kata Boy yang menunjuk ke sofa, kebetulan sekali dia tadi melempar bantal dan singgah di sofa,karena dia mau Kay ber bantal lengannya, makanya Boy melempar bantal tersebut.Tanpa berkata apa-apa, Johan dan Levin keluar dari kamar Kay, Levin yang memandang Boy lama sebelum benar-benar keluar dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Aman!" ucap Boy sambil membuang nafasnya,kemudian dia menatap ke arah Kay sedang senyum liciknya, kalau sudah seperti ini,dia benar-benar anak dari seorang Beniqno!!!


bersambung


__ADS_2