
"Sesil?"
Seketika senyum Sesil mengembang melihat ke arah suara yang memanggil namanya. Resepsionis tersebut nampak kaget dengan pertemuan dua orang tersebut.
"Tuan Johan, kak Brian" ucap Sesil
"Terimakasih kasih mbak, aku rasa bisa menemui tuan Levin dengan meminta bantuan tuan Johan" kata Sesil pada sang resepsionis yang akan menelpon sekertaris Levin.
"Sama-sama Nona" kata resepsionis itu sambil tersenyum manis.
"Sedang apa di sini?" tanya Brian setelah Sesil ada di hadapannya
"Kakak sendiri?" tanya Sesil
"Aku baru saja meeting dengan tuan Johan, dia salah satu investor di perusahaan Kakak" kata Brian
"Apa kau datang menemui Levin?" tanya Johan
"Iya Om, tuan Levin meminta aku mengantar makan siang!"
"Benarkah?" tanya Johan seakan-akan tak percaya, Levin jarang sekali mau di ganggu di kantor, namun sekarang Sesil di minta untuk datang.
"Setelah mengantar nya apa kau mau makan siang dengan Kakak?" tanya Brian.
__ADS_1
"Oh...itu aku...." belum juga Sesil melanjutkan perkataannya, Ali sudah datang dengan sedikit berlari.
"Maaf Nona Sesil, saya terlalu lama menyambut Anda datang, mari Nona tuan Levin sepertinya sudah hampir sekarat karena kelaparan!!" kata Ali, yang sudah membuat Brian dan Johan menahan tawanya.
Johan tau betul Levin pasti mengawasi Sesil dari cctv yang terpampang jelas di lobby perusahaan.Nampak sekali Ali yang tenang namun jelas sekali nafasnya yang di atur sedemikian rupa agar tidak terlihat ngos-ngosan.Ini semua pasti ulah dari anak gengsinya itu, pikir Johan.
"Baiklah, naiklah.....nanti Kakak hubungi, sekarang aku dan tuan Johan akan pergi terlebih dahulu" kata Brian sambil mengacak rambut Sesil.
Johan dan Brian sebenarnya keluar perusahaan dengan tujuan masing-masing, namun ketika melihat sosok yang mereka kenali di depan meja resepsionis,membuat mereka berdua menghampirinya.Setelah Ali datang dan membawa Sesil naik ke kantor Levin, mereka berdua pun ikut pergi ke tujuan masing-masing sambil berbincang.
"Bagaimana Brian, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Johan
"Tentu saja Om, di bujang lapuk itu pasti kepanasan karena kejadian semalam hahahaha"
"Bukannya kau juga bujang lapuk??" tanya Johan santai
''Ckck...paling tidak aku sudah pernah menikah Om! tidak seperti dia, dari jam SD, SMP bahkan sampai sekarang masih saja kaku, datar dan bermulut semakin pedas!" kata Brian
"Sebaiknya dia tidak mengingat mu, kalau iya...aku jamin dia akan menghajar mu habis-habisan" kata Johan sambil berjalan ke arah mobilnya.
"Om....jangan bilang dia!! biarkan saja dia seperti itu Om!!!" teriak Brian pada Johan.
Brian mengacak rambutnya sendiri, dia tak bisa membayangkan bagaimana murka nya Levin ketika dia tau bahwa Brian adalah teman masa kecil nya yang memilih untuk hidup bersama Mama nya di luar negri setelah perpisahan dengan sang Papa, Levin bahkan sampai menangis kala itu ketika di tinggal Brian menetap di luar negeri,dan setelah sekian lama, dia datang dan bertemu secara tak sengaja dengan Sesil, anak dari sahabat Papa nya, tak pernah di duga nya pula, bahwa Levin tinggal serumah dengan Sesil dan bahkan dari cerita Johan, Brian tau bagaimana kisah Sesil dan Levin dan Brian memutuskan untuk membantu Johan, karena bagaimanapun Sesil sudah di anggap adik oleh Brian sendiri.
__ADS_1
"Lama banget sih??!! kemana saja??" ucap Levin ketus
"Gak kemana-mana Tuan" kata Sesil dengan lembut dan segera duduk di sofa menyiapkan makanan untuk Levin.
"Masak apa?" tanya Levin yang ikut duduk di sofanya
"Ayam bakar madu pedas dan sayur bayam, bukannya ini kesukaan Tuan?" kata Sesil dengan senyuman manisnya
"Jangan tersenyum!!!" ucap Levin cepat, seketika Sesil kembali ke mode datar.
'Sepertinya aku harus ke dokter jantung!! hanya melihat dia tersenyum saja,jantung ku sudah berdetak sangat cepat!! ini bahaya!!' batin Levin
Levin bukannya tak suka Sesil tersenyum padanya, hanya saja melihat gadis di depannya ini tersenyum Manisa membuat hati Levin meleleh,.dan dia tak mau itu terjadi, Sesil bisa besar kepala, setidaknya itulah yang ada di pikiran Levin.
Levin baru saja menyelesaikan makannya,dan terlihat Sesil juga sama, Levin memaksa Sesil untuk ikut makan dengan nya tadi, Levin meminta Sesil untuk menunggu sore untuk pulang bersama nya, dan Sesil pun mengiyakan permintaan Levin.
Drt......drt....drt.....
"Hallo!" jawab Levin
"Kak....ini Fabri! aku butuh bantuan Kakak!"
bersambung
__ADS_1