Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Fabri nampak ragu ketika Leo mengajaknya untuk melihat beberapa mayat yang sudah di masuk kan ke dalam kantong mayat.


"Ayo Bri... mumpung mayatnya belum di bawa ke rumah sakit" kata Leo.


"Gue gak bisa Le....gue gak sanggup Leo!!" kata Fabri.


karena melihat keadaan Fabri, akhirnya Boy memutuskan untuk memeriksa kelima tubuh tersebut, Boy juga merasa tak sanggup melihat Fabri yang nampak begitu cemas dan tertekan, hingga pada akhirnya Boy menghela nafasnya ketika melihat satu persatu tubuh yang ada di kantong plastik tersebut, namun Leo menemani Fabri yang hanya melihat dari kejauhan. Fabri nampak heran ketika melihat Boy kembali tanpa memeriksa isi kantong mayat tersebut.


"Bagaimana Boy?" tanya Leo


"Kenapa loe gak memeriksa isi kantong nya?" lanjut Leo.


"Polisi tidak mengijinkan, karena korban harus di bawa ke rumah sakit terlebih dahulu, lagian ada beberapa mayat yang tak bisa di kenali, karena keadaannya sedikit mengenaskan" kata Boy menjelaskan.


"Kalau begitu kita segera menyusul ke rumah sakit!" ajak Leo.


Entah mengapa perasaan Fabri sungguh tak enak, dia membayangkan bagaimana keadaan Ela saat ini, rasa takut akan kehilangan Ela dia buang jauh-jauh dari kepalanya, masih ada beberapa korban yang di evakuasi dari dalam restoran tersebut. Seluruh korban luka ringan maupun luka parah semuanya di bawa ke rumah sakit terdekat.


"Ayo berangkat ke sana!" ajak Boy.


"Kita tunggu di sini dulu, karena semua korban belum di evakuasi, setelah habis dan semuanya kumpul jadi satu di rumah sakit tersebut, kita akan mudah mencari keberadaan Ela" kata Leo menjelaskan.


"Ya gue setuju!" kata Fabri.


Fabri,i Leo dan juga Boy akhirnya duduk dan berbaur dengan beberapa orang yang mencari keluarganya, polisi memang tidak mengijinkan mereka untuk melihat semua korban yang terluka maupun korban yang meninggal, polisi meminta para keluarga untuk datang ke rumah sakit di mana tempat dilarikannya para korban agar mempermudah identifikasi nantinya, Setelah menunggu hampir 1 jam kurang,seluruh korban sudah dibawa ke rumah sakit,Leo, Boy dan juga Fabri pun ikut bersiap menuju ke rumah sakit yang ditujukan polisi.


Sedangkan di rumah Kevin, Desi dan bik Nur nampak gelisah setelah melihat berita di televisi tentang musibah yang terjadi di restoran tempat Ela bekerja.Desi mondar-mandir tak jelas di ruang tamu rumah nya. Apalagi setelah menelpon Fabri dan Fabri mengatakan belum ada kejelasan tentang keberadaan Ela dan daftar korban yang ada di restoran tersebut.

__ADS_1


"Bik....kenapa aku sangat was-was ya, ya Tuhan tolong selamatkan Ela, kasihan gadis itu, kenapa hidupnya begitu malang!" kata Desi sambil terus terisak.


Tak berbeda dengan bik Nur yang sudah menganggap Ela sebagai anaknya sendiri, dia juga tak henti-hentinya menangisi nasib malang Ela.Kevin datang dengan tergesa-gesa, Kevin yang dingin dan datar itu juga sangat menyayangi kekasih dari anak lelakinya itu.


"Bagaimana?apa ada kabar?" tanya Kevin tanpa basa-basi


"Papa! hiks..... Fabri belum memberi kabar lagi..hiks....." kata Desi segera memeluk tubuh suaminya.


"Kita ke sana juga untuk memastikan keadaan Ela, ayo...." ajak Kevin.


"Bik Nur di rumah saja, barangkali ada yang menelpon nanti" lanjut Kevin.


"Baik tuan" saut Bik Nur


Desi menghubungi Fabri dan mengatakan akan menyusulnya ke rumah sakit.Di sisi lain, Kay dan Ayana nampak shock ketika melihat siaran langsung di depan restoran yang mereka kenal.


pekik Kay ketika mendengar nama restoran yang di sebut kan oleh seorang pembawa berita.


"Kau benar Kay!! aku telpon kak Leo dulu, barangkali kak Leo tau!" kata Ayana mencari nomor Leo di ponselnya.


Dan setelah beberapa saat terdengar nada dari ponselnya, Leo mengangkat panggilan telepon Ayana, Ayana bertanya tentang keadaan restoran di mana tempat Ela bekerja, Ayana juga menanyakan bagaimana keadaan Ella,apakah Ela ada di tempat kejadian ketika restoran tersebut mengalami kebakaran besar.


Leo sudah menjelaskan keadaan yang terjadi di sana, ia juga mengatakan bahwa saat ini Leo,Boy dan juga Fabri sedang menuju ke rumah sakit di mana para korban dievakuasi, Leo akan memastikan keberadaan Ela di sana,apakah Ela menjadi salah satu korban atau bukan.


"Mereka menuju ke rumah sakit Kay, mereka akan memastikan apa Ela menjadi salah satu korban atau bukan!" kata Ayana setelah mematikan panggilan telepon nya dengan Leo.


"Semoga semuanya baik-baik saja!" kata Kay, dan di Amini oleh Ayana.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit, Kevin dan Desi sudah ikut bergabung dengan Leo, Boy dan Fabri. Desi langsung memeluk erat anaknya, dia bisa melihat wajah Fabri yang sungguh sangat cemas.


"Bagaimana pak? apa sudah keluar daftar para korban?" RT tanya Kevin ketika seorang polisi mendatangi segerombolan orang yang menunggu kejelasan tentang daftar korban,termasuk Kevin dan yang lainnya.


"iya pak ini adalah daftar mereka yang mengalami luka ringan dan juga luka parah namun masih bisa ditanyain, untuk kelanjutan identitas korban meninggal dan korban parah yang tidak bisa kami data akan menyusul segera!" kata seorang polisi.


"Gimana pa? apa ada nama Ela di sana?" tanya Fabri buang terlihat antusias.


"Sebentar" kata Kevin


Terdengar helaan nafas pelan dari mulut Kevin, dia menatap anaknya dengan penuh rasa iba, sungguh ini di luar keinginan dari semua orang, Ela tidak terdaftar dalam korban luka ringan maupun korban yang terluka parah yang masih bisa di interogasi, namun nama Ela masih ada kemungkinan terdaftar di daftar korban meninggal dan juga korban parah yang tak bisa ditanyai sesuai dengan apa yang dikatakan polisi tadi.


"Pa....cari tau tentang Ela pa!!! Sekarang pa!!" teriak Fabri yang mulai panik dan ketakutan.


"Tenang Bri!! loe Jangan teriak-teriak gini!" kata Leo yang mencoba menenangkan Fabri.


"Tenang!!! loe pikir gue bisa tenang!!! bisa saja Ela sedang kesakitan disana!!atau malah terbujur kaku di sana Leo!!! loe bilang tenang!!"


bentak Fabri pada Leo, untung nya Leo tau kekalutan Fabri, dia hanya bisa menenangkan Fabri sambil sesekali menghela nafasnya pelan.


Fabri nampak berlari ke ruang UGD dimana beberapa korban terluka parah dirawat,beberapa suster dan dokter sudah berteriak untuk menghalangi Fabri agar tidak masuk ke ruang UGD namun Fabri tak mempedulikannya, dia tetap mencari keberadaan Ela hingga Leo dan Boy pun mengikuti ke mana Fabri pergi sambil meminta maaf dan meminta pengertian kepada suster dan juga dokter di sana agar Fabri bisa menemukan Ella.


"Ela...sayang..."


Ucap Fabri lirih dengan deraian airmata ketika berhenti di sebuah ranjang yang berisi seseorang dengan luka bakar hampir 70%, namun wajah Ela masih bisa di kenali Fabri, walaupun tak utuh sepenuhnya.


"Sayang...... Ela...."

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2