
Dengan paksaan dari Levin,kini empat sekawan sedang duduk di sebuah private room di sebuah Bar milik teman Levin,bahkan sejak tadi Lee sudah berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana tidak! Levin dengan tak ada akhlak nya menelpon ponsel istri nya setelah berulang kali menghubungi nya namun tak di hiraukan oleh Lee.
Itu adalah kebiasaan dari Lee, jika sudah bermain-main dengan tubuh istri nya dia akan melupakan benda yang bernama HP, bahkan ketukan pintu kamar nya pun akan di buka ketika hasratnya sudah tersalurkan.
"Loe kenapa?"
Fabri akhirnya membuka suara setelah sekian waktu mereka terdiam karena menunggu sesi curhat Levin yang dengan paksa mendatangkan mereka, Namun Levin masih setia menenggak minuman nya sambil terus menyedot rokoknya.
"Kak Levin memang gila! entah apa yang dia katakan sama istri gue!! lagi tegang-tegangnya, Vita minta berhenti!! siaaallan!!!! pusing kepala gue!!"
ucap Lee dengan ketus, pasalnya entah apa yang di katakan Levin hingga senjata pamungkas Lee yang sedang memacu sang istri tiba-tiba minta di cabut paksa oleh Vita dan segera meminta Lee membersihkan diri kemudian turun ke bawah karena Levin sudah menunggu di bawah, ya.. Levin pertama kali menjemput Lee ke rumahnya.sedangkan Fabri, Leo dan Boy akhirnya menyusul mereka ke Bar.
"Simpatik dikit kek sama gue!"
celetuk Levin.Boy dkk tertawa cekikikan mendengar keluh kesah Lee.
"Kak!! gue lagi enak-enak nya! malah di cabut!" kata Lee dengan sesi curhat nya.
"Loe enak! lha gue!!" kata Levin.
"Makanya nikah!!" kata empat sekawan serempak.
Levin mengacak rambutnya kasar, kemudian meminum kembali minuman di depannya, Leo menuangkan kembali minuman beralkohol itu di gelas Fabri, Levin dan dirinya sendiri, Leo sengaja melewati Boy, karena dia tau betul Boy tak pernah bisa tahan lama dengan minuman beralkohol.
"Apa yang mau Kakak bicarakan?"
tanya Leo yang sudah tidak tahan ingin mendengar curhatan hati Levin, lelaki sedingin tembok es itu, sangat jarang curhat atau membagi kegalauan nya pada empat sekawan.Namun entah mengapa Levin dengan tiba-tiba meminta mereka semua datang, sahabat Levin satu-satunya sedang berada di luar negeri karena urusan pekerjaan, jadi ke empat sekawan lah sasaran nya kali ini.
"Menurut kalian, kenapa cewek menolak kita?"
__ADS_1
tanya Levin tiba-tiba, Leo, Boy dan Lee saling pandang, Fabri sampai tak jadi memasukkan camilan nya ke mulut, mereka sungguh merasa Levin sangat aneh sekarang, namun lebih tepatnya mereka bertiga, karena Boy tahu bahwa beberapa hari lalu Levin meminta ijin untuk menikahi Sesil di depan mama dan papa nya dan di tolak oleh sang Papa,juga Sesil.
"kita bicara soal Sesil?" tanya Boy heran.
Levin diam sejenak kemudian menggangukkan kepalanya ketika pertanyaan dari Boy keluar begitu saja.
"Aku dengar dia banyak berubah" saut Leo, dia sering mendengar perbincangan antara Ayana dan Kay,bahkan mereka punya misi khusus untuk menyatukan kedua insan tersebut.
"Loe cinta sama dia?" tanya Fabri sambil melanjutkan memakan camilan nya.
"Entahlah! gue hanya merasa marah ketika dia menolak gue!"
kata kata Levin sambil menyulut rokoknya dan entah untuk yang ke berapa kali, Lee menarik rokok tersebut pelan, Levin hanya melotot menyaksikan rokok yang baru saja dia nyalakan terkapar mengenaskan di asbak di depannya, Lee hanya nyengir melihat ekspresi Levin dan dengan cepat dia berkata
"Vita tak suka badanku bau rokok, Kakak sudah menghabiskan banyak rokok hanya dalam waktu kurang dari 1 jam!"
Levin sudah banyak mengurangi mengkonsumsi rokok, Bahkan dia bisa seminggu sama sekali tak memegangnya, namun ketika suntuk hal pertama yang di cari Levin adalah rokok dan minuman beralkohol, Levin jarang mengalami kegalauan dalam urusan cinta,karena memang Levin tak ingin mengenal yang namanya cinta, Levin bisa menghitungnya dengan hitungan jari kapan dia merasakan galau, namun entah mengapa berhubungan dengan Sesil, dunianya seakan terbalik, Sesil bisa memporak-porandakan hati dan juga dunianya. Levin merasa Sesil begitu hebat, Sesil merayunya pun tidak pernah l,apalagi menampilkan tubuh nya dengan tujuan menggodanya pun juga tak pernah, Sesil tak melakukannya,dia hanya dalam mode diam dan patuh dengan perintah Levin saja Sesil sudah bisa menerobos ke dalam hati seorang Levin,Levin si tembok es yang tak pernah tersentuh seorang wanita karena terkenal dengan mulut pedasnya ini merasa kelabakan sendiri ketika mendapatkan penolakan dari Sesil.
tanya Fabri
"dia bilang dia hanya merasa tak pantas bersanding dengan gue! dia bilang dia hanya seorang pembantu, tidak berniat bermimpi bisa bersanding dengan gue!!"
kata Levin yang masih nampak frustasi.
"apalagi yang membuat cewek menolak kita? cepat katakan!!! entah kenapa gadis itu benar-benar membuat gue selalu ingin marah setiap saat.!!"
"harga diri Gue merasa terinjak-injak ketika wanita itu menolak ajakan gue menikahinya!" lanjut Levin
"atau jangan-jangan Sesil butuh penjelasan yang sejelas-jelasnya!!!'kata Lee
__ADS_1
"memang penjelasan apalagi yang harus gue jelasin Lee? gue sudah benar-benar jelas mengatakan kalau akan menikahinya!!" jawab Levin
"Loe udah pernah menyatakan cinta pada Sesil belum?" ganti Fabri yang bertanya
"Ya??!!" tanya Levin heran, bahkan dia memandang satu persatu dari ke empat Lelaki yang di jadikan teman curhat itu.
"Nah belum kan?? cewek butuh kejelasan brother! Bukan hanya ajakan nikah yang gak ber perasaan! apalagi riwayat masa lalu Sesil yang cukup tidak mengenakan sama loe dulu!" saut Fabri.
"Atau jangan-jangan Sesil masih cinta lagi sama Leo!"
celetuk Lee yang sukses membuat Leo menatap tajam ke arah Lee sampai dia tak sadar bahwa Levin sedang menatapnya.Boy menyenggol kaki Leo, seketika Leo menatap Boy, Boy mengisyaratkan Leo untuk menatap Levin.
"Ehem.....ehem....jangan khawatir Kak, gue yakin Sesil sudah berubah!" kata Leo semanis mungkin untuk mengalihkan tatapan tajam Levin.
"Sudah cukup! gue pulang!" kata Levin
"Kak perlu aku antar? Kakak sedang mabuk!!" teriak Boy berusaha menjadi adik ipar yang baik.
Levin menolaknya dengan cara melambaikan tangannya dan terus berlalu keluar dari private room itu, Levin bukan tipe Boy yang tak kuat minum, hal itu sudah biasa di lakukan Levin,jadi minuman Beberapa gelas tak akan membuat nya mabuk.
"Menurut loe gimana?" tanya Boy pada teman-teman nya.
"Cinta tapi gengsi!!" saut Fabri
"Gue yakin Sesil pasti sudah sering mendapatkan serangan mulut pedas perjaka tua itu!! hahahahahaha!" kata Leo di barengi dengan tawa teman-temannya.
"Gue dengar baaangsat!!!" teriak Levin yang tiba-tiba masuk karena ketinggalan kunci mobilnya.
"Ma*mpus gue!!" gumam mereka serempak.
__ADS_1
bersambung..