
Bima bersama Tigor makan di gazebo sambil ngobrol tentang cewek.
"Eh kau tadi janji mau cerita tentang Lina kan!" ucap Tigor teringat janji Bima di taman tadi.
"Iya, kenapa? bang Tigor mau tanya apa?" tanya Bima sambil makan bubur.
"Kau pacaran ya sama Lina?" tanya Tigor memicingkan mata.
"Sttt...ini rahasia." ucap Bima berbisik.
"Iya.., apa apa!" bisik Tigor semakin penasaran.
"Aku kemarin ke Jogja itu nikahin Lina bang! percaya gak?!" ucap Bima berbisik sambil tengok kanan kiri.
"Ah yang benar kau!" teriak Tigor tidak percaya.
"Ini loh buktinya! ihhh...gini gini pesona ku ngiket juga ya!" ucap Bima menunjuk cincin di jari manisnya.
"Ihh benar e! gila kau bim!!! cewek secantik Lina aja klepek-klepek sama kau! suhu kau ya!" bisik Tigor tertawa.
"Tampan dan pemberani! mungkin dia suka sama aku waktu mukulin preman waktu itu bang!" ucap Bima berteori.
"Bisa jadi! ku lihat mukanya kek khawatir gitu lah!" ucap Tigor ikut berteori.
"Abang katanya deketin Mbak Siska!!!" teriak Bima membuat Tigor gelagapan.
"Kau jangan keras keras! ah gak asik kali!" ucap Tigor panik.
"Yaa ada apa mas bim?" tanya Siska yang waktu itu sedang menjemur pakaian di samping parkiran.
"Katanya di ajak jalan bang Tigor nanti malem!" jawab Bima yang membuat Tigor duduk lemas.
"Sebentar." ucap Siska menyelesaikan jemuran nya.
Setelah itu dia menghampiri Bima dan Tigor di gazebo.
"Emang mau jalan kemana bang?" tanya Siska.
"Anu..eee...k-ke pasar malam." jawab Tigor tergagap karena grogi.
"Boleh tuh, besok kebetulan tanggal merah juga." ucap Siska.
"N-nanti aku panggil ya S-siska." ucap Tigor masih grogi.
"Okey, aku tunggu ya, bye." ucap Siska pergi kembali ke kamarnya.
"Hahahaha...badan gede takut ama cewek!!!" ucap Bima tertawa terbahak-bahak.
"Mending di hadapin preman 10 bim dari pada harus ngobrol sama Siska!" ucap Tigor dengan badan bergetar karena grogi tadi.
"Hahahaha..." Bima hanya bisa tertawa geli melihat wajah Tigor yang penuh keringat.
Setelah selesai makan, Tigor memilih untuk ke kamarnya. Bersih bersih badan untuk nanti malam jalan jalan bersama wanita yang dia sukai. Sedangkan Bima juga kembali ke kamarnya untuk bersantai di hari liburnya.
"Oh iya, lupa aku mau tanya ke bos soal pekerjaan!" gumam Bima baru ingat kalau istrinya minta di carikan pekerjaan.
Bima pun menelepon Albert sambil merokok santai.
"Halo, kenapa?" tanya Albert.
"Bos, ada lowongan pekerjaan tidak? di posisi apa aja. Temanku lagi cari kerja soalnya." tanya Bima.
"Cewek atau cowok?" tanya Albert balik.
"Cewek bos." jawab Bima.
"Pendidikan?" tanya Albert.
"D3 Manajemen Bisnis dan Ekonomi." jawab Bima.
"Suruh ke sini besok siang." ucap Albert.
__ADS_1
"Loh katanya bos ke puncak." ucap Bima bingung.
"Anak kantor, saya tidak ikut." jawab Albert.
"Ohh, ya udah besok siang aku ke sana." ucap Bima.
"Saya tunggu." jawab Albert menutup telepon.
Setelah itu Bima menelepon Lina yang sedang berada di Jogjakarta.
"Halo, ada apa yah?" tanya Lina.
"Hari bisa pulang enggak?" tanya Bima.
"Emangnya kenapa? ada masalah ya?" tanya Lina heran dengan permintaan Bima.
"Besok kamu di suruh ke rumah bos, mau interview kerja." jawab Bima.
"Yang bener? jangan bercanda ah!" tanya Lina tidak percaya.
"Kalau enggak mau ya udah." jawab Bima.
"Iyaaa, bentar aku tanya ke budhe dulu, jangan di matiin." ucap Lina.
"Buruan." ucap Bima.
Setelah beberapa saat, Lina kembali berbicara.
"Nanti siangan kita pulang, budhe sama pakde juga mau pulang katanya." ucap Lina.
"Kalau nanti dah sampe di stasiun telpon aja biar aku jemput." ucap Bima.
"Okey ayahku sayang! muachh..." ucap Lina menutup telepon.
Setelah menelepon Lina, Bima pun ganti pakaian untuk pergi ke markas Blood Moon untuk cek kondisi markas, evaluasi bisnis dan yang lainnya.
Sesampainya di markas, Bima langsung di sambut Draco dan Tiger yang langsung mengajak Bima masuk ke dalam kantor pemerintahan geng. Bima di beri beberapa informasi baru yang semakin membuat Bima marah dan ingin sekali menghancurkan keluarga besar bos nya.
"Tunggu tiga hari, tambah pengamanan pada istriku, tapi jangan sampai dia meresahkan keberadaan kalian. Aku tidak mau dia tau sisi gelap ku dan pekerjaan asliku." ucap Bima.
"Wanita yang kau kirimkan fotonya tadi?" tanya Draco.
"Iya." jawab Bima.
"Sesuai perkiraan, aku tadi sudah memerintah 50 anggota khusus kita untuk menjaganya dari berbagai masalah." ucap Draco lega.
"Bagus! ayo jelaskan bagaimana perkembangan kita." ucap Bima.
Draco dan Tiger mulai menjelaskan bagaimana perkembangan geng mereka. Dari mulai pertambahan anggota yang bertambah sekitar 2000 orang, bertambahnya beberapa sektor bisnis, dan meluasnya kekuasaan mereka di tangan Bima.
"Mobilku tolong modif, kasih beberapa slot senjata api tersembunyi sekalian pelurunya. Aku pinjam mobil geng dulu sementara waktu." ucap Bima.
"Serahkan pada kami." ucap Draco yang latar belakangnya memang pecinta otomotif.
"Oh ya, kalian ada koneksi si Eropa?" tanya Bima.
"Aku ada bos, salah satu orang kuat di Eropa sana, megang beberapa wilayah besar di sana." jawab Tiger.
"Hubungi, kita buka cabang di Eropa, kita kuasai Eropa dan kita kuasai ekonomi di sana." ucap Bima tersenyum lebar.
"Biaya bos?" tanya Tiger.
"Biaya? aku yang tanggung, hasil bisnis kita melimpah ruah." jawab Bima.
"Aku segera hubungi temanku, kalau dia mau nanti aku kabarin nanti." ucap Tiger bangga dengan pemikiran Bima yang ingin menguasai semua wilayah yang masih belum ber kepemilikan.
"Jam berapa sekarang?" tanya Bima.
"Jam 5 sore bos." jawab Draco melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku pulang dulu." ucap Bima kaget karena perbincangan mereka tidak terasa sangat lama sampai sesore ini.
__ADS_1
"Mari aku antar ke garasi untuk milih mobil." ucap Draco.
Mereka pun pergi ke garasi geng yang besarnya menyamai Hanggar pesawat. Luas markas geng Blood Moon ini menyamai sebuah bandara internasional, terdapat beberapa helikopter dan tiga bangunan hanggar untuk parkir truk tronton dan mobil mobil Jeep serta mobil dinas lainnya.
"Ini, mobil yang sama dengan milikmu, tapi sudah aku modif sedemikian rupa untuk pertahanan orang-orang penting." ucap Draco memberikan kunci mobil yang sama persis seperti milik Bima.
"Terimakasih, kalau begitu aku pulang dulu ya." ucap Bima berpamitan.
"Hati hati bos." ucap Draco dan Tiger membungkuk.
Bima mengendarai mobilnya menuju kost, tak lupa dia mampir di restoran Padang untuk beli makan karena sejak siang tadi dia belum makan. Sesampainya di kost, Bima langsung naik ke kamarnya untuk makan.
Selesai makan, Bima turun ke dapur untuk buat kopi lalu pergi ke gazebo untuk bersantai sambil ngopi dan ngerokok. Pukul 19.00 Tigor menuruni tangga bersama Siska sambil ngobrol membiasakan satu sama lain.
"Kau gak keluar bim?" tanya Tigor.
"Enggak, nanti jemput mbak Lina soalnya." jawab Bima santai.
"Ooo...kalau gitu kita jalan dulu ya bim, sampai nanti!" ucap Tigor tersenyum sumringah.
"Iya hati hati ya." ucap Bima.
Mereka berdua pun menaiki motor dan pergi begitu saja menuju pasar malam. Jam 9 malam Lina menelepon Bima untuk minta di jemput di stasiun.
"Halo yah, jemput sekarang." ucap Bima.
"Otw!" jawab Bima menutup telepon lalu cepat-cepat mengendarai mobil menuju stasiun.
Sesampainya di stasiun, Bima langsung mencari tempat Lina menunggu. Setelah celingak celinguk mencari keberadaan Lina, akhirnya dia menemukan keberadaan Lina bersama pakde dan budhe nya.
"Ayo pulang." ajak Bima membawakan koper mereka menuju mobil.
Setelah selesai menaruh barang di bagasi, mereka langsung pergi menuju kost.
"Kamu tidur mana nak?" tanya ibu kost pada Lina.
"Malam ini di kamar mas Bima aja." jawab Lina.
"Ya udah." ucap ibu kost.
Sesampainya di kost, mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Bima membantu Lina ke kamarnya, saat berada di kamar, Lina langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Mandi dulu, baru tidur." ucap Bima.
"Bentar yah, masih capek." jawab Lina.
Bima duduk di samping ranjang sambil scroll ig untuk memecah kebosanan.
"Ayah enggak pingin kah?" tanya Lina memeluk Bima sambil merogoh barang Bima.
"Mandi dulu." ucap Bima menahan nafsunya.
"Aku udah pingin banget yah, pliss..." ucap Lina memohon.
"Ayo mandi sekalian." ucap Bima berdiri menggendong Lina ke kamar mandi sambil mengecup bibir Lina.
Saat di kamar mandi, Lina langsung berjongkok di depan Bima dan membuka celana Bima dengan wajah penuh gairah.
"Ahhh..besar banget!" ucap Lina mengocok Stephen sambil menggigit bibirnya yang menambah gairah Bima.
Karena sudah saling bernafsu, keduanya pun berhubungan suami istri di kamar mandi. Lina di buat kewalahan oleh Bima yang nafsunya sedang tinggi tingginya.
Saking kesalahannya dia sampai tidak bisa berdiri lagi dan hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Bima pada tubuhnya.
Setelah sama sama puas, keduanya pun melakukan mandi bersama sambil beberapa kali saling bercumbu mesra.
"Ayah jago banget! aku sampe lemes gak bisa berdiri!" ucap Lina mengelus dada bidang Bima.
"Biasa aja." ucap Bima mengecup kening Lina.
Setelah mandi sampai bersih, mereka pun pergi tidur dengan posisi saling berpelukan.
__ADS_1
Bersambung....