Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Ela nampak berpikir keras, dia harus bisa menyelamatkan dirinya dan juga Bian, paling tidak anaknya harus selamat.


"Tolong lepaskan anakku!!!! lepaskan anakku saja!! kau boleh melakukan apapun padaku!!"


kata Ela yang berusaha mengambil simpati Edo agar mau melepaskan.Edo nampak melihat ke arah balita mungil itu, Edo nampak tersenyum dan Bian yang memang mengenali Edo ikut tersenyum memandang ke arah Edo.


Ella berdoa dalam hatinya, dia berharap sekali Edo mau melepaskan Bian, Ela akan melakukan apapun untuk Bianca anaknya, biarkan dia mengorbankan dirinya,asal Bian bisa melihat gelagat Edo, Ela benar-benar berharap Edo mengingat kebersamaan nya dengan Bian, hingga ada rasa iba pada anaknya.


"Bos semuanya sudah selesai! mobil sudah siap!" kata anak buah Edo membuyarkan lamunan Ela.


Tiba-tiba senyuman menyeramkan nampak di wajah Edo, dia benar-benar sangat suka dengan permainan nya sendiri, sebenarnya dia ingin sekali menghubungi kekasih nya yaitu Vandi, namun Vandi memberitahu Edo untuk tidak menghubungi nya sementara waktu, Vandi takut kalau ponsel mereka di lacak oleh Fabri dan kawan-kawannya, mengingat bagaimana dulu perbuatan mereka bisa terbongkar oleh ulah Fabri dan teman-temannya.


"Baiklah Ela sayang, ayo.... bukannya kau ingin pulang?"


kata Edo menarik tangan Ela untuk mengikuti nya, dan di sana ada sebuah mobil yang akan di pakai oleh Ela, selama ini Ela memang tak pernah bisa menyetir,namun demi melancarkan segala aksinya, Edo yang kala itu mendekati Ela akhirnya mengajari Ela membawa mobil.Edo mendorong Ela ke dalam mobil,Ela nampak gugup di belakang kemudi, dia tak tau apa yang diinginkan oleh Edo, Edo mengambil Bian dari tangan Ela,dan meletakkan Bian di samping Ela.


"Kamu tau bagaimana cara nya mengemudi kan Ela sayang?"


tanya Edo dengan senyum manisnya yang membuat Ela semakin muak.


"Do.... Bian hiks....hiks.. lepaskan Bian!" kata Ela melihat balitanya itu nampak senang.


"No Ela! kamu sendiri yang harus menyelamatkan anakmu!"


kata Edo, dia kemudian mencium pipi Bian,dan berkata lembut pada Bian.


"Bian sayang....nurut sama Mama ya? semoga kamu masih di beri keajaiban!" kata Edo dan Bian nampak tersenyum manis pada Edo, Ela semakin sesegukan manangisi nasibnya dan Bian


"Ela sayang....dengar! aku sudah mengisi penuh bensin di tangki dan itu akan bertahan beberapa kilo, jika kamu berhenti secara mendadak! maka bom yang terpasang di sana akan...booom!!!.....meledak seketika!"


jelas Edo pada Ela, tangan Ela sudah gemetaran mendengar apa yang di katakan Edo.


"Dan jika kamu memperlambat laju kendaraan nya, maka itu akan mempercepat waktu yang tertera pada bom itu,dan tentu saja.....bom akan meledak lebih cepat!"

__ADS_1


"Jadi Ela sayang..... setelah aku menyalakan mobil ini, maka bom itu akan secara bersamaan aktif" kata Edo panjang lebar


"Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatan mu Edo!!" ucap Ela dengan geram


"Dan suamimu juga sedang mendapatkan balasannya saat ini!!" balas Edo tak kalah geram nya.


"Aku memberikan kesempatan padamu agar kamu bisa menyelamatkan Bian, jadi pikirkan caranya mulai dari sekarang" kata Edo


"Ah iya.......ini.....aku memberikan mu ponsel, hubungi suamimu! aku ingin tau bagaimana caranya dia menyelamatkan istri nya,atau dia bahkan akan melihat istri dan anaknya hangus terbakar..hahahahahaa!"


"Lakukan!!" perintah Edo pada anak buahnya.


Di sisi lain, Levin dan empat sekawan sedang menuju tempat di mana anak buah Levin mendapatkan lokasi di mana mobil yang membawa Ela berada.Ray dan Kevin di minta Fabri untuk tetap di rumah Fabri, bahkan sekarang Desi sang Mama serta May sudah menemani suami mereka, Desi tak henti-hentinya menangisi nasib Ela dan cucu semata wayangnya. Fabri nampak sangat cemas, berulang kali dia mengumpat dan menyumpahi pelaku, namun Fabri belum bisa memastikan bahwa Vandi lah yang ada di belakang semuanya ini,karena anak buah Levin dan juga Lee yang berjaga di sekitar tempat Vandi menyatakan bahwa tidak ada hal yang mencurigakan yang dilakukan oleh Vandi, Vandi bahkan tidak menerima telepon dari siapapun,Edo dan Vandi benar-benar bermain cukup halus kali ini.


"Bagaimana sekarang Kak? apa ada pergerakan lagi?" tanya Lee, Lee yang tega melihat wajah kacau Fabri ikut mendesak Levin.


Di antara empat sekawan, hidup Fabri lah yang paling banyak di uji, entah mengapa saat ini sasaran orang-orang yang menabuh genderang perang dengan mereka adalah Fabri terlebih dahulu.


kata Levin dengan tenang, memang hanya Levin rasanya di sana yang pembawaan nya tenang. Boy yang berada di samping Leo yang sedang mengemudi mobil nya,juga nampak tegang. Fabri sudah tak bisa lagi berkata-kata, hanya Lee yang mewakili pertanyaan yang seharusnya keluar dari mulut Fabri.


Drt......drt......drt......


Fabri merogoh saku celananya ketika melihat layar ponsel nya yang menampilkan nomor telepon yang tak dia kenali.


"Siapa?" tanya Boy melihat ke belakang di mana Fabri duduk.


"Gak tau! nomor nya baru!" kata Fabri


"Jawab saja, barangkali si penculik, bukankah dia yang bilang tadi akan menghubungi mu" kata Lee


Dengan sedikit berburu Fabri mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo!" saut Fabri

__ADS_1


"Kak...hiks..... hiks.....sayang" suara Ela nampak terdengar di telinga Fabri


"Ella!!! sayang!!"


pekik Fabri begitu mendengar suara istrinya. Lee, Boy dan Levin nampak ber kesiap, Leo memperlambat laju mobilnya,dia juga ikut mendengarkan percakapan mereka, akhirnya Lee meminta ponsel Fabri dan menyalakan mode speaker di ponselnya Fabri.


"Kamu di mana sayang? bagaimana Bian? apa mereka menyakiti mu? katakan di mana?" kata Fabri berbinar karena tau kabar dari sang istri.


"Kak...hiks ... maafkan aku! harusnya aku lebih berhati-hati! harusnya aku tidak begitu percaya padanya hiks ...hiks...." kata Ela sambil menangis.


"Sayang...... jangan katakan itu! kamu tidak salah sayang!" kata Fabri yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Nggak.....karena aku Bian dalam bahaya.... semuanya karena aku hiks....hiks....!" kata Ela


"Katakan kamu di mana sayang? katakan....aku akan menjemputmu!"


"Aku tak tau ini daerah mana? aku sedang mengemudi mobil....hiks .....!" kata Ela


" Kau membawa mobil sendiri?" tanya Fabri kaget karena tak pernah melihat Ela membawa mobil sendiri.


"Kak..... temukan kami! temukan Bian.... selamat kan dia Kak!!" kata Ela


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ela, Fabri segera mengambil laptop yang ada di mobil itu dan mulai melacak keberadaan Ela melalui sambungan teleponnya.


"Sabar sayang.....aku akan menemukan kalian!" kata Fabri sambil jari-jarinya lincah di atas laptop nya.


"Hiks.....jika mobilnya berhenti.... mobilnya hiks....akan meledak Kak!!"


Deg...


Jari-jari Fabri secara spontan berhenti mengutik laptop nya, sedangkan Lee dan yang lainnya hanya saling berpandangan.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2