
Fabri nampak memeluk erat Bian, balita yang tak tau apa-apa itu mencoba mengusap air mata Papa nya.
"Papa....papa..." panggil Bian, Fabri yang melihat anaknya menghapus air matanya membuat Fabri memeluk erat anaknya karena airmata nya tak bisa di bendung. beberapa saat kemudian polisi mengevakuasi jenazah Ela, juga sisa-sisa tangan dan kaki Ella yang terlihat terputus dari tubuhnya, keadaan Ella sangat menyedihkan, Fabri bener-bener mati rasa melihat keadaan sang istri,ingin rasanya dia mengamuk di sana namun begitu melihat Bian hatinya sedikit menghangat dan Bian menjadi peredam kemarahannya.
Kevin,Desi dan Ray juga May mendapatkan kabar dari anak buah Levin dan segera mendatangi lokasi, setelah beberapa menit perjalanan mereka sampai di lokasi,Desi menjerit histeris ketika melihat keadaan mobil yang ditumpangi oleh Ela,sesaat kemudian Desi tak sadarkan diri, Ela bener-bener menjadi menantu kesayangannya. Dia sudah terbiasa hidup persandingan dengan Ella, bahkan kebersamaannya dengan Fabri pun mengalahkan kebersamaannya dengan Ela,Kevin nampak mengepalkan tangannya menahan kemarahannya akan perbuatan orang-orang yang berusaha menghancurkan keluarganya,Kevin memandang Levin dari jarak beberapa meter kemudian Levin mengangguk seakan memberi tahu bahwa semuanya sudah beres,alias dalangnya sudah di ketahui.
Disisi lain ternyata Vandi dan juga Edo sudah melaksanakan rencana mereka yang kedua,di saat semua sibuk mengurusi jenazah Ella dan menangisi nasib Fabri,seseorang sedang menjemput Vita,salah satu anak buah dari Edo yang mengaku sebagai suruhan Lee untuk menjemput Vita ke lokasi dimana ditemukannya mayat Ella, Vita yang panik melupakan ponselnya yang sedang di isi baterai nya di kamarnya,namun dia tidak mau pergi bersama dengan orang tersebut,Vita masih memakai sopirnya untuk mengantarnya menuju ke tempat Lee.
Akhirnya seseorang yang mengaku sebagai suruhan Lee tadi mengikuti mobil Vita dengan sepeda motornya agar dia tidak dicurigai dan membiarkan Vita membawa sopirnya sendiri, kemudian di tengah jalan dia sudah menelpon beberapa orang temannya untuk menghadang mobil Vita, begitu lah rencana nya.
"Ada apa pak?" tanya Vita pada sopirnya yang nampak terlihat cemas.
"Apa tidak sebaiknya Nyonya menelpon tuan muda untuk memastikan apakah benar lokasi tempat penemuan jenazah nya Nona Ela?" tanya sang sopir yang sedikit meragukan si pesuruh tadi.
"Tapi HP saya ketinggalan di rumah Pak,bagaimana dengan ponsel Anda apakah bapak membawanya?" tanya Vita
"Tentu Nyonya...ini silahkan di pakai" kata sang sopir
Vita nampak beberapa kali menghubungi sang suami namun entahlah sejak tadi Lee tidak mengangkat teleponnya, mungkin karena di sana sedang sibuk sehingga tidak mengangkat teleponnya, pikir Vita.Kemudian Vita mengurungkan niatnya untuk menelpon Lee,namun beberapa menit kemudian Vita mencoba lagi untuk menghubungi sang suami,di saat bersamaan sang pesuruh yang membawa motor berhenti di depan mobil Vita,dan datang dari arah belakang satu buah mobil juga sepeda motor yang menghadang mereka.
"Hallo sayang.....ada apa?" tanya Lee setelah sambungan teleponnya di angkat Lee
"Mas.... sepertinya aku ada masalah! seseorang menjebak ku!" kata Vita dengan tenang, dia masih berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Dimana sayang?? apa kamu tidak apa-apa? kamu bersama siapa?" tanya Lee berturut-turut dengan kecemasan nya.
"Aku bersama pak Amir..... kira-kira ada berapa orang pak?" tanya Vita yang masih bisa di dengar jelas oleh Lee.
"6 orang Nyonya!" saut pak Amir
"Sayang...share lok sekarang!" kata Lee tegas
"Okey mas!" saut Vita kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Ayo pak Amir...kita olah raga sebentar!"
kata Vita sambil melepas sandal cantik nya, beruntung di mobil selalu ada sepatu olahraga yang dia bawa, setelah mengganti sepatu nya dia turun dengan pelan dari mobil nya,di ikuti pak Amir, tentu saja pak Amir sudah di bekali dengan ilmu beladiri.
"Ada yang bisa saya bantu bapak-bapak?" tanya Vita dengan tenang.
"Pergilah dengan tenang dari sini, maka aku pastikan kalian akan baik-baik saja!" saut Vita membalikkan omongan mereka.
"Rupanya anda lebih suka di paksa Nona!" ucap orang tersebut dengan seringai di wajahnya.
Vita dan pak Amir pun bersiap untuk menyerang orang-orang tersebut.
Di sisi lain, Lee sudah terlihat panik mengetahui bahwa istri nya sasaran berikutnya, dia bingung bagaimana menyampaikan semua nya pada Fabri, namun Vita juga penting dalam hidup nya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Levin
"Vita...dia dalam bahaya, seperti nya dia sasaran berikutnya!" saut Lee.Mendengar penuturan Lee, Fabri seketika menoleh di ikuti oleh Ray, Leo dan Boy.
"Dan loe masih di sini?? bego'!!!! pergi selamat kan istri loe Lee!! jangan sampai menyesal seperti gue!" bentak Fabri
"Gue bantu loe!" saut Leo segera menepuk bahu Lee dan berlari ke arah mobilnya.
"Bri.... sorry gue pergi dulu!" kata Lee sambil memeluk sahabatnya itu, Bian sudah ikut di bawa May menemani Kevin yang menemani sang istri ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan.
"Ya Lee gue paham!" kata Fabri dengan suara berat nya, rasa shock Fabri belum juga surut, dia masih sangat tidak percaya dengan kepergian sang istri. Fabri dan kawan-kawannya menunggu jalannya evakuasi karena setelah mengubur kan jenasah Ela,maka Levin baru akan memberitahu bahwa dalangnya sudah di tangan walaupun Lee maupun Levin belum memerintahkan anak buahnya menangkap mereka, tapi sudah bisa di pastikan mereka tak akan bisa kemana-mana lagi.
Pertarungan sengit sedang terjadi di lokasi Vita, Vita nampak beberapa kali mendapatkan pukulan di wajah dan tubuhnya, namun Vita si pemegang sabuk hitam bela diri itu sudah merobohkan 4 orang dalam pertarungannya.. tinggal 2 orang yang satu sudah di lawan oleh pak Amir, pak Amir nampak lebih parah dari pada Vita,namun dia masih bisa berdiri melawan orang-orang tersebut demi membantu sang majikan.
"Hanya..... hanya seperti ini kemampuan kalian?"
tanya Vita dengan nada mengejek walaupun nafasnya tersengal.Dua orang tersebut nampak saling pandang.
"Ciiihh......kucing liar seperti kalian mau melawan harimau seperti ku??...hahahahaha yang benar saja!!!"
ucap Vita langsung menyerang keduanya secara bergantian, pak Amir hanya sesekali membantu bila salah satu dari mereka hendak menyerang Vita dari belakang. Dalam beberapa menit mereka terkapar dengan memegang perutnya masing-masing.Bersamaan dengan itu mobil si pembalap Leo sampai di lokasi.
"Sayang....apa kamu perlu bantuan?" kata Lee berbasa-basi karena dia jelas tau bahwa musuh Vita lah yang perlu bantuan.
__ADS_1
"Woooww!! keren!! aku selalu mengidolakan mu Vita!" saut Leo ketika melihat apa yang ada di depannya, nampaknya kecemasan Lee tadi benar-benar tak ada gunanya.
bersambung