Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 12


__ADS_3

Keesokan paginya


Bima pergi ke markas pagi pagi buta untuk menyusun strategi.


"Apa kita kerahkan semua bos?" tanya Draco.


"Jangan, cukup 100 orang saja, sisanya tetap jaga istriku dan anak bosku, jangan lupa kerahkan penjagaan ketat di kantor istri bosku." jawab Bima.


"Baik bos!" jawab Draco.


"Bawa truk bos?" tanya Tiger.


"Bawa, beri alas yang tahan air, truk itu mau di gunakan untuk menaruh mayat." jawab Bima.


"Siap! aku akan siapkan sekarang." ucap Tiger pergi.


Setelah semuanya siap, Bima dan bawahannya berangkat menuju kediaman keluarga besar Howard. Pagi pagi buta hari itu puluhan mobil Jeep dan beberapa truk berjalan iring-iringan.


"Pakai sarung tangan, aku tidak mau kalian menyentuh kulit najis mereka." ucap Bima.


"Siap bos!" ucap Draco yang memegang AK-47.


Bima memakai sarung tangannya dan menggunakan masker hitam.


"Kau tidak lupa membawa bajingan itukan?" tanya Bima.


"Jelas tidak! dia sudah siap melihat kehancurannya sendiri." jawab Tiger.


"Baguslah kalau begitu." ucap Bima.


Sesampainya di komplek kediaman keluarga Howard, Bima memerintahkan anak buahnya memblokir semua jalan keluar komplek itu.


"Ayo bersenang-senang!!!!" teriak Bima naik ke atas truk bersama Draco dan Tiger membawa senapan serbu M249.


Dor..dor...dor..dorr..dorr..


Mereka menembakkan senjatanya guna membangunkan orang orang yang masih tertidur di rumahnya.


"Masuk kedalam rumah! bawa ke jalanan! kita eksekusi mereka secepatnya!" teriak Bima.


Seketika para anggota geng yang bertugas ikut serta dalam pembantaian langsung masuk paksa ke rumah rumah di komplek tersebut. Mereka menyeret orang yang ada di dalam rumah, tak pandang bulu, mau anak kecil, balita, orang tua, orang lumpuh, semua di seret paksa ke luar rumah.


Teriakan ketakutan orang orang membuat para anggota geng tertawa puas sambil sesekali melecehkan wanita-wanita di sana.


"Bawa bajingan itu ke mari!" ucap Bima.


Draco berlari ke dalam truk dan menyeret Max ke depan Bima.


"Kau mau tau rasanya seorang yang kau cintai di perkosa?" tanya Bima.


Max hanya bisa diam ketakutan melihat apa yang di katakan Bima kemarin benar benar di lakukan.


"Hoeyy! bawa istri dan anak perempuan bajingan ini kesini!" teriak Draco tersenyum lebar.


Tak lama salah satu anggota geng membawa dua wanita cantik dan sexy ke hadapan Bima.


"Loh! ini istrimu semok gini masih cari yang lain?! emang mesum pikiranmu!" ucap Bima.


"Ampun! ampuni istri anakku! aku mohon! mereka tidak bersalah!!" ucap Max.


Bima mengajak Draco dan Tiger berunding.


"Gimana bos? aku tidak tega dengan dua cewek cantik itu." ucap Draco.


"Sama! gimana kalau kalian berdua yang setubuhi mereka? nanti jangan di bunuh, tapi bawa ke markas aja! jadikan pemuas kalian! sepakat?!" ucap Bima memberi ide.


"Hahaha! aku setuju sekali! aku mau yang spek tante tante aja! kau yang kecil! mumpung masih perawan itu!" ucap Draco.


"Huuu ambil enaknya aja!" ucap Draco.


"Sudah bawa ketiga orang itu ke salah satu rumah! setubuhi kedua cewek itu di depan mata Max!" ucap Bima.


"Ayooo!!" ucap Tiger semangat.


Setelah kepergian Draco dan Tiger, Bima memanggil satu kepala anak buah yang dia angkat karena kekuatannya yang luar biasa, namanya Dion, perawakan tinggi besar tubuh penuh tato wajah banyak bekas luka jahitan.


"Dion! bawa dua orang yang kemarin itu!" ucap Bima.


"Siap bos! ayo!" ucap Dion mengajak anak buahnya.


Tak selang lama, Dion membawa seorang pria tua dan seorang pria paruh baya dengan wajah ketakutan.


"Silahkan bos!" ucap Dion berdiri di belakang Bima sambil mengarahkan senjatanya ke arah dua pria itu.


"Pose dulu." ucap Bima mengeluarkan ponselnya lalu memotret kedua pria itu dan di kirimkan kepada Albert dan Wiliam kakak kedua Albert.


"Kemarin berani kirim surat ancaman, sekarang kok ketakutan gitu sih? kenapa?" tanya Bima.


"A-ampun tuan, kami salah!" ucap kakek Albert ketakutan.


"Biar apa? biar apa minta ampun?" tanya Bima mengokang senjatanya lalu...


Dor..dor..dor..dor..


Bima menembakkan empat peluru ke arah kakek Albert. Lalu Bima mengarahkan senjatanya ke arah paman Albert yang semakin pucat ketakutan.


"A-ampun! ampun!!!" teriak paman Albert.


Dorr..dorr..dorr..dorr..dorr...dorr...


Bima menembaknya sampai hancur tak berbentuk karena sempat membaca informasi baru dari Draco. Setelah itu dia memerintahkan anggotanya agar segera mengeksekusi semua orang disana.


"Bunuh! kecuali orang di daftar ini!" ucap Bima memberikan stopmap pada Dion.

__ADS_1


"Ayo!!" teriak Dion.


Mereka mengokang senjatanya lalu segera menembak satu persatu orang di sana termasuk balita, dan anak kecil yang tak tahu apa apa tapi ikut menerima imbas orang tuanya.


Bima masuk ke dalam truk dan membuka ponselnya. Dia melihat telepon berkali kali dari Albert dan Alena bersamaan.


"Halo, ada apa bos?" tanya Bima videocall Albert.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Albert dengan nada tinggi.


Bima membalikkan kameranya dan menyorot yang di lakukan Dion dan anggotanya.


"Tunggu!!! jangan dia! dia anak anak! biar aku yang mengurus nanti!" teriak Alena melihat seorang gadis kecil mau di eksekusi oleh Dion.


Tiinnnn....


Bima membunyikan klakson dan memberi isyarat untuk melewati anak itu.


"Bawa kemari!!!" teriak Bima.


Salah satu anggotanya membawa anak polos itu ke dalam truk, Bima menutup kaca truk dengan gorden yang sudah tersedia lalu mengajak bicara gadis itu.


"Namanya siapa?" tanya Bima.


"Bia, nama aku bia, kakak siapa?" tanya gadis bernama Bia itu.


"Nama kakak Bima." jawab Bima.


"Kan Bima, ini kenapa? kok rame rame gini?" tanya Bia.


"Ah enggak papa, Bia pingin ketemu tante Alena enggak?" tanya Bima.


"Tante Alena? iya! bia pingin ketemu tante!" jawab Bia semangat.


"Ini, Bia bicara sama tante dulu, nanti kakak anter ke rumah nya." ucap Bima memberikan ponselnya.


"Halo tante Alena! nanti Bia ke sana ya!" ucap Bia gembira.


"Tante tunggu ya, kebetulan tante juga punya banyak camilan disini." ucap Alena mencoba tenang setelah sekilas melihat pembantaian yang di lakukan Bima.


"Bia, kakak keluar dulu ya, kamu di sini aja ngobrol sama tante Alena." ucap Bima.


"Siap kak!" jawab Bia menurut.


Bima keluar dari truk dan melihat Draco dan Tiger sudah selesai menikmati tubuh istri dan anak Max.


"Nikmat sekali bos! ahh masih sempit walaupun sudah bersuami!" ucap Tiger gembira.


Bima hanya tersenyum melihat kedua wanita itu yang terlihat sangat lemas dan puas.


Siang harinya


"Semua yang di daftar sudah mati bos! kita mau apakan bajingan satu ini?" tanya Dion menunjuk Max.


"Baik bos!" ucap Dion pergi.


"Ayo, kita ke rumah bosku." ajak Bima menaiki truk.


Draco memutus kepala kakek Albert dan di bungkus plastik lalu pergi mengikuti Bima dengan menggandeng istri Max. Mereka berangkat ke rumah Albert, Bima duduk memangku Bia yang masih videocall dengan Alena.


Sesampainya di rumah Albert, Bima menggandeng Bia masuk ke rumah Albert.


"Bu bos, ini anaknya, aku ada urusan dengan pak bos, tolong ajak main di belakang saja." ucap Bima menyerahkan Bia sambil menyerap rokoknya.


"Cepat pergi! aku tidak sudi dekat dekat dengan pembunuh sepertimu!" teriak Alena marah.


"Permisi..." ucap Bima pergi keluar memberi kode pada Draco dan Tiger yang sedang berbincang-bincang dengan Cokro.


Mereka membawa dua mobil, satu di tumpangi Bima dengan Draco dan Tiger, satu lagi di tumpangi Dion, Max dan anak istrinya. Draco dan Tiger membawa Max masuk rumah dengan kondisi penuh luka parah.


"Pak Cokro, tolong jangan lapor polisi ya, cukup kalangan kita saja yang tau." ucap Bima menghampiri Cokro yang bengong.


"Siap siap! saya bisa jaga rahasia kok!" ucap Cokro memberi hormat.


Setelah itu Bima, Draco dan Tiger masuk ke dalam rumah dengan membawa Max dan sebuah kantong plastik hitam.


Tok..tok..tok..


"Masuk!" jawab Albert dengan nada sedikit marah.


Bima membuka pintu ruangan lalu melempar Max kedalam.


"Selamat siang semua, aku bawa hadiah lhoo...." ucap Bima menaruh sebuah kantong plastik hitam di meja Albert.


Saat itu ketiga kakak Albert datang ke rumah Albert karena permintaan Albert setelah melihat apa yang di lakukan Bima.


"Apa yang kau lakukan pada adiku!" teriak Wiliam marah.


"Maju, dia mati!" ucap Tiger dingin menodongkan pistol pada Max.


"Duduk!!!" teriak Brian marah pada Wiliam.


"Wahhh....kakakmu sangat galak ya bos hahaha...." ucap Bima tertawa lepas.


"Apa ini?" tanya Albert menunjuk kantong plastik hitam di mejanya.


"Buka dong biar tau isinya." jawab Bima santai.


Albert membuka kantong plastik hitam itu, seketika tubuhnya lemas dan mual.


"Bos biasa saja dong, itu hanya permulaan, nanti kalau masih ada yang berani macem-macem lagi sama bos, aku beri hadiah lainnya yang lebih fantastis." ucap Bima.


"Kamu terlalu gegabah bim! nekat banget!" ucap Albert menjauhkan diri.

__ADS_1


"Sekarang bos mau aku berbuat apa untuk bajingan ini? langsung di bunuh atau di siksa dulu?" tanya Bima.


"Lepaskan, lepaskan saja, dia masih kakakku juga." jawab Albert.


"Okey! lepaskanlah." ucap Bima pada Draco dan Tiger.


Draco dan Tiger melepaskan Max, Max yabg sabgat ketakutan langsung berlari memeluk Brian dengan tubuh bergetar hebat.


"Kalian tunggu di luar, habis ini kita pesta di markas!" ucap Bima.


"Kalau begitu kami permisi bos." ucap Draco pergi keluar ruangan.


Setelah kepergian mereka berdua, Bima langsung duduk di sebuah sofa empuk sambil merokok layaknya seorang bos besar.


"Hahh....kalau saja kau tidak berbuat lebih, mungkin kau dan keluarga besarmu itu akan hidup normal hariini." ucap Bima menghembuskan nafas berat.


"K-kau iblis!!!!" teriak Max histeris.


"Iblis? apa yang kau lakukan itu tidak lebih iblis dariku? apa yang di lakukan pamanmu tidak lebih iblis dariku? hah!!!" teriak Bima marah.


Dor...


Saking marahnya Bima menembak paha Max tanpa belas kasihan.


"Arghhhh....." teriak Max kesakitan.


"Kau beruntung memiliki seorang adik yang pemaaf, kalau aku tidak menghormati adikmu, mungkin aku sudah menembak kepalamu sampai hancur berceceran!" ucap Bima.


"Bima! sudah! hentikan!" ucap Albert.


"Bos, kau tau? pamanmu berhasil memperawani anakmu! saat dia menginap di kediaman pamanmu! tak hanya dia, bajingan ini dan bajingan tua itu juga ikut serta!" teriak Bima sudah tidak tahan lagi.


Seketika Albert merebut pistol Bima lalu menembak Max berkali kali sampai tewas di tempat.


"Bajingan!" teriak Albert membanting pistol yang sudah kehabisan peluru itu.


"Astaga...Albert! kamu tega sekali!" ucap Elena kaget dengan apa yang di lakukan Albert.


"Tega?! kakak bilang tega?!!! kakak belum punya anak! kau tidak akan tahu rasa sakit yang aku tanggung saat ini!" teriak Albert.


"Cukup!!!" teriak Brian tegas.


"Bima! kamu bisa handle ini semua kan?" tanya Brian tenang.


"Aman! serahkan semuanya padaku." jawab Bima santai.


"Cukup kali ini kamu berbuat nekat, lain kali tolong pikirkan terlebih dahulu, masalah ini tolong jangan sampai di bahas lagi di kemudian hari!" ucap Brian.


"Baik!" ucap Bima setuju.


"Ayo urus pemakaman untuk adik biadab ini!" ucap Brian.


Bima menelepon Draco untuk kembali naik membawa kantong jenazah. Mereka membawa jenazah Max untuk di urus di pemakaman umum, tak lupa membawa kepala kakeknya untuk di urus sekalian.


Setelah semua beres, ketiga kakak Albert pun pulang ke rumahnya masing-masing, sedangkan Bima dan Albert kembali ke rumah untuk berbicara empat mata.


Draco, Tiger dan Dion pun juga kembali ke markas membawa istri dan anak Max sesuai perintah Bima.


"Kamu sudah puas?" tanya Albert memegang kepalanya karena teringat peristiwa barusan.


"Sudah bos." jawab Bima lega.


"Kedepannya, saya tidak mau kamu terlibat dalam kasus pembunuhan lagi, ingat itu!" ucap Albert.


"Kalau tidak mendesak ya bos!" ucap Bima.


"Usahakan jangan! sudah kamu boleh pergi, lusa kamu masuk kembali." ucap Albert.


"Kalau begitu aku permisi dulu bos!" ucap Bima pergi.


Bima turun ke bawah sambil mengecek jam karena dia belum makan sedari tadi pagi. Saat sampai di bawah, Bima melihat Lina yang datang karena di telepon Alena.


"Kerja mbak?" tanya Bima.


"Ihh! kok ayah disini?! tadi di cariin budhe lhoo!" ucap Lina sedikit berbisik dengan wajah marah.


"Iya kerja too..." jawab Bima santai.


"Sekarang?" tanya Lina.


"Pulang, tugas saya sudah selesai." jawab Bima.


"Ya udah sana pulang!" ucap Lina ketus.


Saat ingin beranjak pergi, Bima di panggil Lia yang saat itu baru selesai gym di ruangan khusus.


"Mas Bima! mau kemana?" tanya Lia.


"Pulang." jawab Bima menengok.


"Loh... kok buru buru banget? emang enggak mau santai dulu di sini?" tanya Lia.


Lina menatap tajam Bima sambil memberi kode untuk menolak.


"Enggak mbak, mules ini saya, dari pagi juga belom makan. Lagi pingin makan nasi padang di luar." jawab Bima merinding dengan tatapan tajam Lina.


"Ohh..hati hati ya di jalan." ucap Lia.


"Iyaa..." jawab Bima pergi.


Bima pun pulang ke kost, tak lupa dia juga beli nasi padang untuk makan siangnya. Setelah mandi dan makan siang, Bima langsung tidur karena capek


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2