
Johan datang dengan gagah nya ke apartemen anaknya, Johan dengan tenang masuk ke dalam apartemen Levin karena memang Levin membiarkan kedua orangtuanya tahu sandi apartemen miliknya, itu adalah perjanjian Levin dengan sang Papa bila ingin di ijinkan tinggal di luar rumah.
Bisa di pastikan saat ini Levin tak ada di tempat. Johan benar-benar penasaran dengan isi hati anaknya, dendam akan sikap Sesil? jelas bukan itu! karena Johan tak akan membiarkan anak-anak nya berkubang dalam benci yang berkepanjangan.
Di temani oleh sang sekertaris, Johan duduk dengan tenang di sofa, Sesil yang mendengar ada suara pintu terbuka begitu terkejut melihat siapa yang datang ke apartemen milik majikannya.
"Tu-tuan Johan!"
sapa Sesil dengan gemetaran, entah mengapa Sesil lebih sering gemetaran bila hatinya merasa takut. Sejuta pertanyaan berada dalam benaknya saat ini, apa sebenarnya yang menjadi penyebab Papa dari Levin itu datang berkunjung ke apartemen Levin di saat majikannya itu kerja.
"Kau betah tinggal di sini?"
tanya Johan, Sesil merasa Johan hampir persis dengan Levin, cuma bedanya Levin terlihat lebih garang dan mulutnya lebih pedas.
"I-iya Tuan!" jawab singkat Sesil.
"Dengarkan aku Nona! aku tidak suka anak lelaki ku se-atap dengan seorang gadis, walaupun itu adalah pembantu nya sendiri!" kata Johan sukses membuat Sesil semakin tegang.
"Maafkan saya Tuan"
"Ini bukan sepenuhnya salahmu! tapi aku juga tau kau banyak menyusahkan Levin!"
"Maafkan aku Tuan"
"kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar aku mau memaafkan mu Nona?" tanya Johan pada Sesil.
"A-apa pun tuan.....aku akan melakukan apapun"
Jawab Sesil sambil menunduk, demi apa pun Sesil berusaha keras untuk menahan tangisnya, dia benar-benar tak tau harus berbuat apa, sepertinya Sesil sekarang sedang menyesali perbuatannya yang mendatangi Levin dan meminta bantuan nya untuk bisa hidup di rumah Levin, Sesil mulai berpikir, harus nya dia terlantar saja dulu, hidup di jalanan mungkin akan lebih baik daripada hidup tertekan di tengah keluarga Levin.
"Aku mengenal siapa Papa mu Nona!" kata Johan
__ADS_1
tes...... airmata Sesil sudah tak bisa lagi di bendung, kata Papa entah mengapa begitu sensitif di telinga nya, dia seperti di ingatkan tentang Papa nya yang telah tiada, Papa yang begitu sangat menyayangi dan memanjakan nya, mungkin jika sang Papa masih hidup dan melihat penderitaan Sesil, sang Papa akan langsung menangis di tempat.
"Walaupun tak begitu akrab, namun di dunia bisnis, siapa yang tak mengenal tuan Hadi, dia pembisnis yang handal dan baik!" lanjut Johan
"Apa kamu tak ingin bercerita sedikit tentang nasib mu yang seperti sekarang?" tanya Johan.
"Papa meninggal setelah dua tahun kami tinggal disana tuan, dan setelah nya,saya menerus kuliah seperti biasa tanpa hambatan berarti, sedangkan perusahaan di pimpin oleh asisten pribadi Papa, Dia yang selama ini membantu papa tuan, namun selama dua tahun,saya dengan bodohnya menandatangani semua peralihan harta Papa secara pelan, sedikit demi sedikit, hingga dua tahun berlalu, dia mendepak saya keluar dari rumah Papa!" cerita Sesil, Johan ingin tau apa yang bisa dia lakukan dari cerita Sesil.
"Setelah di usir, semua ijazah dan data-data saya di sita Tuan, tapi setahun kemudian seorang pelayan setia keluarga saya masih menaruh iba pada saya, hingga saya bisa pulang ke tanah air Tuan!" cerita Sesil.
Sesil asyik bercerita dengan Johan, Johan benar-benar membuat Sesil menuntaskan segala isi hatinya, Johan menjadi pendengar terbaik hari ini.
Sedangkan di sebuah kantor, Levin sedang mengadakan rapat tertutup dengan asistennya, membahas tentang proyek yang tengah di bangunnya bersama kliennya.
"Bagaimana Desta? apa semuanya sudah selesai?"
tanya Levin, dia sudah menandatangani beberapa berkasnya setelah memeriksa satu persatu berkas tersebut.
"Apa tuan perlu di pesankan makan siang?" lanjut nya.
Levin berjalan ke arah kursinya, seperti biasa dia akan duduk di kursi sambil mengamati laptop nya yang menampilkan isi apartemen miliknya dan mengawasi kegiatan Sesil.
"Pesan kan aku seperti biasa, jangan lupa kopi Hitam nya!" kata Levin sambil menyalakan laptop nya.
Braaaak.....
Levin mengebrak meja keras, sambil berdiri dan memandang layar laptop nya.Dia sangat kaget ketika melihat penampakan sang Papa yang duduk manis di sofa apartemen nya, sedangkan Sesil duduk di depannya, Sesil nampak terisak sambil terus berbicara, sedangkan Johan hanya memandang nya datar, sayangnya Levin tak melengkapi cctv dengan perekam suara, sehingga dia tak tau apa yang sedang di bicarakan oleh Sesil dan juga Johan, Papa nya. Rupanya Desta masih setia di sana ketika hendak keluar tadi malah mendengar suara gebrakan meja milik Levin.
"Desta! batalkan makannya dan siapkan mobil!"
Desta bergegas turun ke parkiran mobil, bahkan dia sedikit berlari karena Levin pun berjalan cukup cepat dari biasanya.
__ADS_1
Desta yang sudah stand by di depan kantor dengan mobilnya dan hendak keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Levin di urungkan ketika mendengar suara dari Levin.
"Tetap di tempatmu Des! kita berangkat!"
kata Levin membuka sendiri pintu mobilnya, dan dengan kecepatan tinggi Desta membelah jalanan yang terbilang ramai karena jam makan siang .
Entah apa yang di pikirkan Levin, dia terlihat nampak cemas walaupun tak terlalu kelihatan,tapi Desta yang tau keseharian Levin tentu paham betul dengan perubahan mimik wajah Levin.
Sesampainya di depan apartemen, Levin segera turun dan sedikit berlari ke arah left, dan beruntung pintu left terbuka karena baru saja ada yang turun.
Di apartemen Levin, sang asisten nampak membisikkan sesuatu di telinga Johan, Johan tersenyum penuh arti. Johan mengambilkan Sesil tisu dan Sesil mengucapkan terima kasih setelah nya.
"Jadi pikir kan apa yang saya katakan Sesil! dan jangan biarkan Levin curiga, kamu paham?" kata Johan.
"Baik Tuan!"
Braaaak.....
suara pintu apartemen di buka tergesa-gesa hingga membuat suaranya nyari sampai ke dalam apartemen. melihat anaknya datang, Johan menyinggungkan senyum seringainya.
"Ngapain Papa ke apartemenku?" tanya Levin,dari nafasnya saja Johan tau bahwa Levin pasti berlari ke sini.
"Tidak ada, papa hanya memberikan titipan Mama kamu buat Sesil! iya kan Sesil?" kata Johan, memang Johan memberikan sebuah bingkisan dari Kiara untuk Sesil.
"Papa pamit dulu,... Sesil... Om pergi dulu!" sengaja sekali seperti nya Johan tersenyum manis pada Sesil.
Levin nampak menatap Sesil tajam saat Sesil akan membalasnya dengan senyuman juga. Johan dengan senyum kemenangan nya keluar dari apartemen Levin.
"1-0 " gumam Johan sambil tersenyum manis karena bisa membuat anaknya bergegas pulang ketika melihat nya bertandang ke apartemen menemui Sesil,karena Johan sudah mengira bahwa Levin pasti mengawasi apartemen nya dengan cctv tersembunyi.
bersambung..
__ADS_1
..