Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Fabri yang puas dengan urusan nya dengan Vandi, harus berhenti mendadak karena salah satu anak buahnya menelpon nya.


"Ada apa?" tanya Fabri


"Tuan.....ada seseorang yang mengirim peti jenazah ke rumah Anda!" kata seorang anak buahnya melaporkan Keadaan di rumah Fabri


"Apa kau membukanya? Apa isinya?" bentak Fabri.


"Mayat tuan!!"


Deg....


Fabri langsung berlari ke arah mobilnya tanpa banyak bicara, Lee segera mengikuti,dan Lee memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Vandi dari jauh, tak ada yang tau Vandi tersenyum tipis melihat kepanikan dan kemarahan di mata Fabri.Vandi segera menetralkan mimik wajahnya ketika kedua anak buahnya masuk.


"Mas Vandi gak papa?" tanya salah satu dari mereka


"Gak papa, mereka hanya salah paham,ya sudah kembali berkerja!" kata Vandi, dan Vandi sadar betul,dia pasti sedang di awasi oleh Fabri dan Lee melalui anak buahnya, jadi Vandi berperilaku sewajarnya, dia bahkan tak menghubungi Edo untuk menutup kecurigaan musuh nya.


Di jalanan, dengan kecepatan penuh, Fabri mengendarai mobil nya, dia bahkan sudah berulang kali mengumpat bila dalam keadaan macet atau ada mobil yang menghalang-halangi laju mobilnya.


"Bangsaaat!!! dasar bego'!!! bawa mobil saja gak becus!"


umpat Fabri pada setiap pengendara mobil yang ada di depannya atau yang di lintasinya.Lee hanya tersenyum kejut, padahal dari tadi Fabri lah yang tidak becus mengendarai mobil nya karena terlalu panik, di saat-saat seperti ini Lee sungguh merindukan Leo, si pembalap gila itu lebih bisa di andalkan di jalanan daripada yang lainnya.Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah, Fabri segera berlari ke arah kerumunan anak buahnya.


"Mana petinya?" tanya Fabri


"Di sana tuan!" kata mereka

__ADS_1


dengan segera Fabri melangkahkan kaki menuju peti yang dikirimkan oleh seseorang kepadanya, Fabri membuka isi peti mati yang dikirimkan kepadanya dan betapa kagetnya Fabri melihat mayat babysitter BIan dengan tubuh yang penuh dengan luka, bahkan ada beberapa bagian yang masih mengeluarkan darah,di sana juga terdapat sebuah surat yang ditujukan untuk Fabri.


untuk tuan Fabri :


" Sediakan uang 10 milyar, maka keselamatan istri dan anak mu akan terjamin!"


"Bangsaaat!!!" teriak Fabri sambil meremas isi surat yang dia dapat.


"kirimkan peti mati ini kepada keluarganya, Tapi sebelumnya urus mayat ini tersebut dan lapor kepada pihak kepolisian agar kita tidak terlibat di dalamnya!" kata Fabri


Fabri juga menyerahkan surat yang tadinya dia remas kepada anak buahnya, Fabri sebenarnya tidak mau melibatkan pihak kepolisian di dalam urusannya karena dia sangat tahu bahwa urusannya ini akan sangat panjang bila di tangani oleh pihak berwajib Namun karena sudah memakan korban yaitu babysitter nya Bian,Fabri berpikir dia wajib melaporkannya ke pihak kepolisian, Fabri hany nggak mau dituduh sebagai pelaku pembunuhan atas babysitter Bian tersebut.


"Bagaimana selanjutnya Bri?"


tanya Lee pada Fabri,belum ada titik terang akan keberadaan Ela dan Bian, bahkan di dalam surat tersebut, Fabri hanya cukup menunggu pihak sana menghubungi Fabri.Beberapa kali Fabri nampak meremas rambutnya sendiri, penampilannya saat ini benar-benar sangat kacau,dia tak bisa berhenti memikirkan Ella dan juga Bian anaknya.


Fabri dan Lee belum memberi kabar pada orang tua mereka soal kehilangan Ela dan Bian, mereka mengira bisa mengatasi nya sendiri, namun melihat situasi dan kondisi nya seperti nya mereka benar-benar membutuhkan bantuan kedua orangtuanya.Terutama sang papa yaitu Kevin yang memang dari dulu mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu, saat hidupnya di abdi kan pada Ray papa Lee.


Sikap Levin pagi ini pasti tidak lepas dari kejadian semalam, dimana Sesil meminta izin untuk bertemu dengan Brian, Brian bahkan menjemput Sesil di depan unit Apartemen milik Levin,Brian hanya mengajak Sesil untuk makan malam di bawah unit apartemen mereka karena di sana memang ada sebuah restoran yang cukup mewah.Levin yang baru saja pulang dari kantor tak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kedatangan Brian karena jelas-jelas Brian mengatakan hanya akan membawa Sesil ke bawah dan Sesil pun sudah mengatakan kepada Levin kalau dia sudah menyediakan makan malam di meja, tak ada lagi alasan bagi Levin untuk mencegah kepergian Sesil, akhirnya Levin pun mengijinkan Sesil pergi untuk melakukan makan malam bersama Brian.


sejak semalam Ali sudah tak enak perasaannya karena dia ada di sana saat kejadian dan bahkan pagi ini sampai dengan detik ini semua yang dilakukan Ali salah dimata Levin. Tugas tambahan untuk Sesil pun sudah di susun dengan rapi oleh Ali.


"Katakan padanya,dia harus tepat waktu Al!"


kata Levin ketika meminta Ali memerintahkan Sesil untuk membawakan makan siang ke kantor Levin pagi tadi.


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang namun dia belum melihat Sesil berada di dalam kantor nya, Levin bahkan sudah mondar-mandir tak karuan, Ali yang masih memeriksa berkas di kantor Levin rasanya pusing sendiri melihat tingkah Levin.

__ADS_1


"Mana dia Ali??!!" kata Levin sedikit membentak Ali, hingga Ali melonjak di tempat nya


"Eh copot... copot...copot!!" saut Ali spontan.


"Sabar Bos! Nona Sesil pasti masih di jalan" lanjut Ali.


Dan benar saja, Sesil baru saja turun dari taksi yang di kendarai nya, dia berjalan sedikit ragu ke arah lobby perusahaan.Dengan cepat seorang satpam yang kebetulan ada di sekitar pintu,membuka pintu kaca tersebut.


"Terimakasih pak" ucap Sesil


"Sama-sama Nona"


Sesil menuju ke resepsionis kantor dan mencoba bertanya di sana, penampilan Sesil yang rapi dan sederhana,namun nampak begitu cantik sambil menenteng tas bekal makanan membuat sang resepsionis mengerutkan keningnya,pasalnya baru kali ini dia melihat Sesil.


"Ada yang bisa kami bantu Nona?" tanya sang resepsionis.


"saya ingin bertemu dengan tuan Levin" kata Sesil


Perkataan Sesil sukses membuat sang resepsionis dan kawan nya saling pandang,dan kemudian kembali bertanya pada Sesil.


"Apa sudah buat janji?"


"Sudah, beliau yang meminta saya datang" kata Sesil.


Belum juga si resepsionis berkata lagi, ada seseorang yang memanggil nama Sesil.


"Sesil?"

__ADS_1


Seketika senyum Sesil mengembang melihat ke arah suara yang memanggil namanya.


bersambung


__ADS_2