Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 9


__ADS_3

Keesokan harinya


Saat ini Bima sedang joging pagi bersama Tigor supaya tubuh mereka bugar. Saat sedang istirahat di sebuah taman yang sangat ramai, mereka berdua melihat sepasang kekasih yang sedang ribut entah karena masalah apa.


"Ribut ribut." ucap Bima pada Tigor.


"Ahh orang pacaran rupanya! biasalah di sini bim! kayak gak tau aja kau rupanya!" ucap Tigor membuka air mineralnya.


"Kira kira umur berapa bang?" tanya Bima.


"Masih sekolah itu, SMA ku tafsir." jawab Tigor menerka-nerka.


"Abang kerja apa sih?" tanya Bima penasaran.


"Aku? aku satpam Bank." jawab Tigor.


"Owalah pantes." ucap Bima paham.


Saat sedang memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang mereka berdua di kaget kan oleh pasangan tadi yang dari bertengkar biasa berubah menjadi pertengkaran luar biasa.


Laki-laki nya tidak segan lagi untuk menampar pipi, menjambak bahkan sampai menojok si perempuan yang masih kelihatan polos.


Saat sedang seru menonton pergulatan pasangan pemuda itu, ponsel Bima berdering dan memunculkan nama 'Mbak Lina💕'.


"Halo, kenapa mbak?" tanya Bima.


"Dimana?" tanya Lina.


"Lagi joging, mbak dah sampe?" tanya Bima balik.


"Enggak, ini masih di Jogja, cuman tanya doang." jawab Lina.


"Alahhhh alasan! ada apa sih?" tanya Bima.


"Pingin kerja, mas Bima punya kenalan yang buka lowongan enggak? bosen jaga warteg." jawab Lina.


"Nanti saya cariin ya, mbak mau pulang kapan?" tanya Bima.


"Lusa kayaknya, masih pingin di sini, belajar masak sama ibuk." jawab Lina.


"Ya udah, betah betah ya di sana." ucap Bima.


"Iya, sampai ketemu ya, ayah..." ucap Lina langsung menutup telepon.


Bima kaget mendengar panggilan Lina barusan.


"Telpon siapa bim?" tanya Tigor penasaran.


"Mbak Lina." jawab Bima.


"Kau pacaran ya sama dia?" tanya Tigor.


"Ini rahasia ya..." ucap Bima terhenti karena melihat cewek yang di pukuli tadi ternyata Lia, anak Albert.


"Apa?" tanya Tigor semakin dibuat penasaran.


"Bentar, nanti aku cerita di kost." jawab Bima beranjak pergi menghampiri pasangan yang gelud itu.


Bima melerai keduanya dan merasa sangat bodoh karena baru sadar setelah Lia bonyok.


"Kau siapa?! kau selingkuhan nya hah!!" teriak pria bernama Dendi itu.


"Saya bawahan ayahnya." jawab Bima memeluk Lia yang menangis kesakitan.


"M-mas B-bima kok bisa di sini? p-padahal aku enggak pamit s-sama ayah." ucap Lia sesenggukan.


"Saya lagi joging sama temen, mbak tenang aja biar saya yang urus." ucap Bima.


Bima menatap tajam Dendi yang amarahnya masih meluap-luap.


"Kamu banci ya? kok beraninya sama perempuan?" tanya Bima sinis.


"Dia yang mulai duluan bang*at! dia gak balas chat ku seharian! di telepon gak di angkat! kayak orang paling sibuk aja!" teriak Dendi.


"Cuman masalah sepele?! labil banget! wajah udah dewasa tapi jiwa masih bocah SD!" ucap Bima.

__ADS_1


"Emang kenapa?! aku anak pejabat! kau siapa?! dasar rakyat jelata!!!" teriak Dendi merendahkan Bima.


"Mbak Lia duduk dulu ya, saya pingin olahraga sebentar." ucap Bima.


"J-jangan d-di bunuh..." ucap Lia lirih.


"Ahh enggak, anak manja begini cukup di pukuli sampe bonyok aja." ucap Bima santai.


Bima berbalik menghadap Dendi, tanpa banyak omong dia memukul wajah Dendi dengan keras.


Buaghhh...


"Tuh makan jabatan bapakmu!" ucap Bima.


"Bajing*n!" teriak Dendi berlari membalas Bima.


Namun dengan mudah Bima menangkis serangan Dendi dan kembali mendaratkan pukulan di wajah Dendi, tapi kini di tambah tendangan keras pada tulang keringnya sampai terdengar suara benda patah.


Krakk...


"Arghhhhh....bajing*n!!!!!! ku adukan ke ayahku kau bajing*n!!!" teriak Dendi lari dengan kaki pincang.


"Yahh kelepasan, maaf ya." ucap Bima terkekeh.


Bima melihat ke arah Lia, dia merasa tidak tega padanya.


"Ayo mbak ke kost saya dulu, biar saya obatin luka di wajah mbak. Kost saya deket kok dari sini, paling cuma setengah kilo doang. Habis itu saya anterin ke rumah naik mobil." ucap Bima.


"I-iya, makasih ya mas." ucap Lina berdiri.


"Balik bang!" teriak Bima pada Tigor.


"Okey!" jawab Tigor ikut pulang ke kost.


Mereka pun pulang ke kost, sesampainya di kost, Lia di dudukan di gazebo, sedangkan Bima pergi mengambil kotak p3k untuk mengobati luka Lia supaya tidak infeksi.


"Lain kali kalau keluar ijin sam orang tua mbak, untung ada saya, kalau enggak gimana?!" ucap Bima memberi nasehat.


"Iya, aku salah." ucap Lia menyesal.


"Iyaa..." jawab Lia menahan sakit ketika lukanya di obati.


"Ini bim teh hangatnya!" ucap Tigor memberikan segelas teh hangat.


"Makasih bang." jawab Bima memberikan teh hangat itu pada Lia.


"Di minum, habis ini saya anter pulang." ucap Bima santai.


Lia hanya menganggukkan kepalanya lalu meminum teh hangat buatan Tigor. Setelah habis, Bima langsung mengajak Lia untuk pulang.


"Bim, aku titip bubur ayam ya." ucap Tigor memberikan uang.


"Okey." jawab Bima mengambil uang pemberian Tigor.


Setelah itu mereka pun berangkat ke rumah Albert, sesampainya di rumah Albert, Lia langsung berlari masuk ke dalam rumah memeluk ibunya sambil bercerita kejadian tadi.


"Pak Bos di atas bu?" tanya Bima.


"Iya." jawab Alena kaget melihat kondisi anaknya.


"Saya ke atas dulu bu bos, permisi." ucap Bima pergi menaiki tangga menuju ruangan Albert.


Tok..tok..tok..


"Masuk.." jawab dari dalam.


Bima membuka pintu dan di buat kaget ketika melihat empat orang asing yang umurnya tak terpaut jauh dengan Albert.


"Ada urusan apa? hari ini libur." tanya Albert heran.


"Tadi aku baru mengantar Lia pulang bos, dia habis di pukuli pacarnya cuma karena masalah kecil. Tadi aku ketemu di taman, kebetulan lagi joging, jadi aku bawa Lia ke kost untuk di obati, baru habis itu aku antar pulang. Sekalian mau bicara sedikit denganmu." jawab Bima santai.


"Kamu tau pacar Lia anak pejabat?" tanya Albert mengerutkan dahinya.


"Tau, tadi aku juga tidak sengaja mematahkan tulang keringnya, tendangan ku terlalu keras sepertinya. Kayaknya juga aku bakal dapat masalah kecil hehe...tapi ya sudahlah tidak penting." jawab Bima terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oh ya, ini kenalkan kakak kakakku, kak perkenalkan diri kalian ke asisten ku yang tadi aku ceritakan." ucap Albert.


"Aku Brian, kakak tertua Albert, salam kenal ya." ucap seorang pria berambut ikal berkulit putih bersih tanpa tato, sikapnya terlihat ceria dan positif.


"Aku Wiliam, kakak kedua Albert, salam kenal." ucap seorang pria berambut pirang tidak terlalu panjang dan rapi, berkulit putih menatap Bima sinis.


"Aku Elena, kakak ketiga Albert, salam kenal ganteng." ucap seorang wanita cantik berambut coklat panjang, berkulit putih bersih dan bodynya tak kalah bagus dengan Alena, dia menatap Bima genit.


"Aku, Max." ucap seorang pria berambut pirang berawakan kurus kerempeng, berkulit putih pucat menatap Bima dengan tatapan benci.


"Bima, salam kenal." ucap Bima sopan.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Albert.


Bima menyodorkan ponselnya yang menunjukkan sebuah foto sadis.


"Siapa ini?" tanya Albert mual.


"Itu orang yang mencoba membunuhmu beberapa minggu yang lalu, dia suruhan seseorang yang tidak akan aku beritahu sekarang, biar kau tau dengan sendirinya. Potongannya aku sebar ke beberapa titik, pamanmu dan kakekmu akan aku perlakukan seperti itu jika masih nekat." jawab Bima dengan santainya, bahkan dengan sangat santai menghidupkan rokoknya di depan para atasannya.


"Jangan gegabah, berpikir dingin." ucap Albert.


"Buat apa? mereka sudah berani memata mataiku, semua privasi ku sudah di ketahui. Bahkan tato di punggung ku berhasil di foto dan di ancam untuk di sebar luaskan. Buat apa aku berpikir dingin? buat apa aku bersabar untuk orang orang seperti itu? ini juga demi kebaikan bu bos dan Lia." ucap Bima.


"Kamu sabar saja Bima, saya akan bantu kalian urus masalah ini." ucap Brian serius.


"Tidak perlu tuan Brian, saya akan atasi masalah ini sendirian. Ini juga demi keamanan keluarga saya di kampung. Bos peringatkan pada paman dan kakekmu, kalau masih berani mengusik, dalam satu minggu ini akan ada berita menggemparkan! termasuk orang yang berani main belakang denganmu! akan aku bunuh mereka semua tanpa pandang bulu, mau itu kakak, adik atau salah satu keluargamu!" ucap Bima yang membuat seisi ruangan sesak nafas.


"Nanti aku bilang ke mereka, kamu boleh pulang." ucap Albert sedikit gemetar melihat tatapan membunuh Bima.


"Kalau begitu saya permisi dulu..." ucap Bima berubah sekejap menjadi murah senyum dan sopan.


Bima pergi dari ruangan Albert menuruni tangga dengan santai sambil chatan dengan Lina. Saat sampai bawah, Bima di panggil Alena untuk di mintai keterangan.


"Bim, kesini sebentar." panggil Alena.


"Iya bu bos, ada apa?" tanya Bima menghampiri Alena.


"Bisa ceritakan kronologi aslinya?" tanya Alena balik.


Bima pun menceritakan semuanya dengan rinci tanpa di tambah tambahi tanpa di kurang kurangin. Mendengar yang di ceritakan Bima, Alena pun mengangguk paham.


"Kalau begitu kamu boleh pergi, kalau ada apa apa telpon bapak aja, biar saya sama bapak yang urus semuanya nanti." ucap Alena.


"Terimakasih bu bos, saya permisi dulu." ucap Bima pamit.


Bima pun kembali ke kost, tak lupa dia juga mampir membeli bubur ayam untuk Tigor tiga porsi sesuai titipan nya. Bima beli di tempat langganannya yang tidak terlalu terkenal padahal rasanya sangat nikmat dan khas.


"Bubur ayam 5 di bungkus pakde." ucap Bima duduk di kursi yang semuanya masih kosong.


"Kuahnya pisah apa campur?" tanya penjual bubur bernama Pak Kumis padahal tidak punya kumis.


"Pisah aja pakde." jawab Bima.


"Okey!" ucap pak Kumis.


Sambil menunggu, Bima menelepon Lina untuk bertanya tentang jenjang pendidikan nya.


"Halo, mbak, pendidikan terakhirnya apa?" tanya Bima.


"D3 Manajemen Bisnis dan Ekonomi." jawab Lina.


"Wohh D3! kenapa enggak lanjut sampai S1?" tanya Bima.


"Ekonomi yah, tau sendiri kan." jawab Lina membiasakan diri memanggil Ayah pada Bima.


"Ohh, mbak mau kerja bagian apa? nanti aku tanyain ke Bos kalau ada lowongan." tanya Bima.


"Seadanya aja, aku mah bebas yang penting kerja di gaji." jawab Lina.


"Okey, tunggu ya, kalau ada informasi aku kabarin lagi." ucap Bima.


"Iyaaa..." jawab Lina menutup telepon.


Tak lama bubur pesanan Bima pun jadi, Bima membayar pesanannya dengan uang lebih supaya pak Kumis semangat bekerja. Setelah itu dia pulang ke kost untuk sarapan, padahal waktu itu sudah jam 10 kurang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2