
"Halo Leo.....!" kata Levin dengan seringai licik nya.
"Hallo kak, ada apa? tumben Kakak telponnya malam-malam gini!" jawab Leo
"Bisa temui kakak? di Bar X-ray?" kata Levin
"Iya kak, aku berangkat sekarang!" kata Leo walaupun dia sangat bingung, tumben sekali kakak ipar Boy itu mengajak bertemu di Bar
"Aku akan kirim room berapa yang aku pesen!kita butuh private room!"
"Iya Kak!"
Sambungan teleponnya terputus, dan saat ini Leo memang sedang bersama dengan Fabri dan Boy di markas mereka, sedangkan Lee harus menenangkan anaknya yang sedang rewel karena baru saja melakukan imunisasi dasar anak.
"Ada apa?" tanya Boy
"Kak Levin ngajak ketemuan!'' kata Leo
Fabri dan Boy saling pandang, kak Levin jarang sekali berbaur dengan mereka, lelaki itu gila kerja, Kakak ipar Boy yang bahkan di bilang Boy sebagai saudara kembar mertuanya itu dalam hal sifat,dan bahkan lebih parah dari Papa Johan memang jarang berkumpul dengan mereka, kecuali acara keluarga besar Tiga Serangkai yang wajib dia datangi.
Levin bahkan memilih untuk tinggal sendiri di apartemen miliknya, sesekali dia akan datang untuk menginap di rumah utama.
"Loe ada masalah yang melibatkan kak Levin?" tanya Fabri.
"Gak! gue gak ada masalah yang melibatkan dia, masalah gue cuma sama klien Papi yang anaknya setres doang!"
kata Leo yang memang baru saja curhat dengan mereka, bahkan Boy mengusulkan untuk meminta bantuan Daddy Ben untuk masalah nya, sayangnya Leo menolak, dia tau Papi nya tak akan mau menerima, bahkan bantuan dari Lee saja masih di pertimbangkan oleh Leo, karena kalau menolak langsung, rasanya dia tak enak hati,karena Raka sang Papi adalah adik angkat Ray, papa Lee,sedangkan Fabri tak bisa berbuat apa-apa, orang tua dia tak sekaya orang tua Boy dan Lee.
"Ya udah yuk, kita temenin!" kata Fabri yang langsung mengambil kunci mobil nya.
"Dimana?" tanya Boy pada Leo
"Bar X-ray" jawab Leo
__ADS_1
"Bar?? tumben? kita gak lagi mau di ajak mabok kan?" kata Boy sedikit bingung.
"Ne-thing aja loe!! kenapa? takut sama mertua?" tanya Fabri sedikit meledek.
"Gak gitu, gue tuh mabok dikit aja, beringas!! kalau Kay kenapa-kenapa gimana?kan dia lagi hamil! kalau gak hamil sih gas pool!!!" kata Boy dengan sombongnya.
"Otak mesum!!!" ucap Fabri dan Leo serempak.
Kini mereka bertiga sudah berada di Bar yang dijadikan tempat untuk bertemu dengan Levin,Leo mendapatkan chat dari Levin untuk masuk ke ruangan yang sudah disediakan oleh Levin, sedangkan Levin masih dalam perjalanan menuju ke ke Bar tersebut.
seorang pelayan masuk mengantarkan pesanan yang dipesan oleh Levin,mereka bertiga menikmati minuman dan juga camilan yang dipesan oleh Levin sambil menunggu lelaki tersebut.
"Sudah lama?" tanya Levin yang tiba-tiba berada di ambang pintu private room tersebut.
"Kita baru datang Kak" saut Leo.
Mereka bersalaman ala lelaki, Fabri terlebih dahulu membuka botol dan menuangkan minuman ke dalam gelas mereka masing-masing.Belum ada pembahasan berarti dalam pertemuan mereka, hanya sekedar menanyakan hal-hal kecil dan minum minuman mereka.
"Shasha rewel, abis imunisasi, Lee gak tega melihat Vita kesusahan sendiri!" kata Fabri yang tadi juga ikut menenangkan Shasha. Levin hanya mangut-mangut saja.
" Loe udah chat Kay, jangan sampai mertua posesif loe itu ngamuk!" kata Levin pada Boy, padahal yang di bicarakan adalah Papa nya sendiri.
"Hehehehe udah Kak, dia lagi sama Ayana di rumah!" jawab Boy.
"Sebenarnya ada apa Kak? kenapa kakak meminta bertemu?" tanya Leo yang terlihat sudah tak sabar.
"Gue bilang kita bertemu! artinya berdua! bukan berempat begini!" kata Levin.
"Percuma juga berdua Kak, kalau pada akhirnya kita juga bakalan tau!" kata Boy santai.
"Dasar!!" Levin hanya bisa mencebikkan bibir nya, sebenarnya dia merasa kagum dengan persahabatan mereka, yang notabene sudah di anggap adik nya sendiri.
"ini soal Ayana! gue mendengar perbincangan antara Ayana dan juga Kay, loe tahu Leo? gue gak suka adik-adik gue di usik!!" kata Levin sambil membakar ujung rokoknya, menyedotnya sebentar dan membuang asapnya ke udara dengan gaya machonya.
__ADS_1
"Gue lagi mikirin solusinya Kak! Kakak tenang saja, gak akan pernah gue biarin orang lain menyakiti Ayana!" kata Leo dengan tegas.
"Leo...loe tau siapa Ayana, dia bisa mengorbankan apapun tanpa kita minta!! apalagi kalau dia sudah merasa iba dengan seseorang! gue takut bukan loe yang menyerah! melainkan dia" kata Levin
Leo hanya diam, benar kata Levin, Ayana kadang kala tak bisa di percaya, hanya karena di ancam sedikit saja oleh Sesil, Ayana sudah minta putus, dan itu membuat Leo murka, apalagi kalau Sesil memakai cara lain, saat ini saja, Ayana sudah merasa bersalah karena perusahaan Raka terancam bangkrut karena ulah Papa Sesil.
"Lalu Leo harus gimana kak?"
Kali ini Boy yang bertanya, karena melihat Leo yang hanya terdiam, Leo bingung! sejujurnya dia belum siap dan bahkan tidak akan pernah siap bila kehilangan gadis yang sangat di cintai nya.
"Ini bukan hanya karena Leo, tapi Ayana adik gue! jangan pikir gue bakalan diam saja!"
kata Levin dengan seringai licik nya, Fabri dan Boy sampai berpandangan dan menghela nafas mereka pelan. Di antara anak-anak tiga serangkai, Ben, Raka dan Kevin, hanya Levin yang susah di kendalikan, lelaki itu bisa berbuat apa saja sama seperti Papa nya bila ada keluarga nya yang di ganggu, namun tindakan Levin bisa lebih parah dari Johan, Papa nya.
"Loe benaran cinta sama Ayana kan?" tanya Levin pada Leo
"Dengan segenap hidup gue Kak!!" jawab Leo tanpa ragu.
"Cerita kan semua masalah Om Raka, dan siapa gadis pengganggu itu, kirim kan identitas lengkap ayah dan anak itu!!" kata Levin.
"Aku sudah tak sabar, mencabik-cabik seseorang!!" ucap Levin sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara, jangan lupakan senyum psikopat yang nampak di bibirnya.
"Kakak ipar loe serem!!" bisik Fabri pada Boy, Boy tak menjawab,dia hanya menyikut perut Fabri pelan.
Akhirnya mereka melanjutkan acara mereka, beberapa kali Leo mengingatkan Boy agar berhenti meminum minuman nya, namun Fabri dengan liciknya terus saja mengisi gelas Boy.Fabri sengaja melakukan nya, entah mengapa curhatan Boy tentang hubungan dia dan mertua nya menjadi hiburan tersendiri bagi Fabri. Dan benar saja, ketika semuanya masih terlihat segar, hanya Boy yang terlihat mabok, walaupun dia masih bisa di katagori sadar. Levin membawa Boy pulang dengan sedikit menggerutu, dia tak begitu tau kalau Boy tidak kuat minum.
"Dadaaaa Boy..... nikmati malammu ya!!" teriak Fabri dengan di akhir i tawa terbahak-bahak.
"Jahil banget loe!! ikut nginep di apartemen gue aja ya!" tawar Leo, karena apartemen nya lebih dekat dengan Bar.
"Gak!!! gue mau pulang!! mau ngeloni Ela!!" kata Fabri sambil menyetop taksi, dia tau Leo pasti lelah jika harus mengantar nya,Dan Leo hanya bisa mengumpat karena di apartemen miliknya tak ada Ayana, Ayana ijin menginap di rumah Kay.
bersambung...
__ADS_1