
Berulang kali Ela menyeka air matanya, dia tak ingin terlihat sedih di hadapannya putri nya, walaupun Ela tau Bian mungkin belum tau apa yang dia rasakan saat ini.
"Tolong kami sayang.....tolong temu kan kami!" gumam Ela sangat lirih, dia kembali nampak menahan air mata nya dengan sekuat tenaga. Bian nampak bermain dengan ceria, karena di sana ada beberapa mainan anak-anak yang bisa di pakai untuk bermain.
Drap.....drap.....drap....
Suara langkah kaki terdengar semakin jelas menghampiri ruangan di mana Ela di sekap bersama anaknya.Secara spontan Ela mengambil Bian yang ada di hadapannya dan menggendongnya.Kali ini Ela benar-benar terlihat ketakutan, dia tak bisa lagi menahan derasnya air matanya menetes.
"Tuhan tolong kami... tolonglah kami.... selamat kan kami?" gumam Ela berulang kali memanjatkan doa.
Ceklek......suara pintu terbuka lebar dan menampilkan seseorang yang masuk dengan wajah tenang nya.
"Hallo Ela'' sapa Edo dengan santai.
Melihat Edo di hadapannya, Ela sejenak berpikir betapa bodoh nya dirinya, Dia begitu mempercayai Edo, dan bahkan menjadi tempat curhat Edo, dia belum tau apa mau Edo saat ini, namun melihat gelagat Edo dan caranya bertemu dengan dirinya,jelas Edo punya maksud yang tidak baik, setidaknya itulah yang ada di pikirannya saat ini.
"Apa maksud semuanya ini Do?" tanya Ela dengan tenang, ya dia mencoba setenang mungkin.
"Maafkan aku Ela, sebenarnya kau sangat baik dan terus terang aku nyaman menjadi teman mu,tapi......'' kata Edo menjeda perkataan nya.
__ADS_1
"Tapi apa Do? apa yang membuat kamu berubah seperti ini?" tanya Ela yang sudah mulai tak bisa menahan air mata nya.
"Maaf Ela, ini ulah suami dan juga teman-temannya, mereka yang salah dan naas....kamu yang harus membayar nya Ela sayang!" kata Edo dan Ela masih mendengar apa yang di katakan kembali oleh Edo
"Mereka yang mengusik ku terlebih dahulu Ela, membuat nama ku dan nama teman-teman ku hancur di masyarakat! mereka benar-benar jahat Ela!" lanjut Edo.
"Itu tidak mungkin Edo!! Fabri dan teman-temannya tak akan melakukan itu kalau kalian tidak mengganggunya terlebih dulu!" kata Ela membela sang suami.
"Cih...sama saja Ela sayang!! mereka pengganggu!! dan membuat kami semua tersingkir kan dari masyarakat!" kata Edo dengan wajah merah menahan amarahnya.
Di sisi lain, Fabri dengan cepat mendapatkan alamat rumah Vandi, namun lelaki itu yang dulu berprofesi sebagai dosen muda, kini dia membuka toko bunga, Fabri dengan kasar masuk ke dalam toko bunga tersebut yang bersebelahan dengan rumah nya.
"Katakan di mana istri dan anakku!!" bentak Fabri yang marah sambil mencengkram kaos milik Vandi.
"Bangsaaat!!!"
Bugh......
Satu bogem mentah mendarat ke wajah Vandi, bahkan Vandi sampai tersungkur di lantai, kedua pegawai Vandi terlihat kaget dan segera menolong Vandi.
__ADS_1
"Bri....sabar!!" teriak Lee ketika Fabri hendak menghampiri Vandi dan sudah melayangkan genggaman tangannya ke udara.
"Aku tidak tau apa salahku, tapi bisa kan kalian jelaskan dulu! bukan main pukul begini!" kata Vandi yang mulai terpancing emosinya.
"Kau tidak ingat hemmmm?" kata Lee yang mulai terpancing juga,
Melihat gelagat Lee dan Fabri, Vandi mengisyaratkan pegawai nya untuk keluar, Vandi jelas tak mau kedua pegawai nya tau kelakuan nya dulu, biarkan saja mereka tau bahwa Vandi bekas narapidana tapi tidak dengan kejahatan yang dia lakukan.Lee mulai berbicara, Vandi yang hanya berpura-pura tak tau pada akhirnya mencoba menyakinkan Lee dan Fabri kalau dia tak ada sangkut pautnya dengan Ela.
"Aku masih menjadi tahanan kota, dan semua perilaku ku di awasi kepolisian, jadi bagaimana bisa aku melakukan apa yang kau tuduh kan?? Aku masih sayang diriku dan kebebasan ku!" kata Vandi nampak menyakinkan mereka berdua.
Fabri masih belum puas, namun sebuah dering telepon membuatnya terdiam dan mengangkat panggilan telepon nya.
"Ada apa?" tanya Fabri
"Tuan.....ada seseorang yang mengirim peti jenazah ke rumah Anda!" kata seorang anak buahnya.
"Apa kau membukanya? Apa isinya?" bentak Fabri.
"Mayat tuan!!"
__ADS_1
Deg....
bersambung