Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Sesil yang sedang berjalan berdua dengan Brian yang sama-sama menenteng belanjaan mereka, tak pernah tau bahwa ada sepasang mata cemburu yang di balut dengan kemarahan yang sedang mengintai nya dari dalam mobil.


"Ini tak bisa di biarkan!!! kenapa dia harus tertawa seperti Ali?"


"Tenanglah tuan!" batin Ali,ya.....Ali hanya berani membatin.


"Kau harus mencari tau apa yang di bicarakan mereka Ali!!!"


"Oh God!! tuan aku bukan Tuhan yang bisa mendengar percakapan mereka dari jarak sekian meter ini tuan!!!" lagi-lagi Ali hanya bisa membatin.


"Ini sangat menyebalkan!!! berani-beraninya dia menghianatiku!!"


"Aku harus memberikan pelajaran padanya nanti!!"


Ucapan dari mulut Levin benar-benar membuat sang asisten geram sendiri, namun tentu saja dia hanya bisa diam dan menjawab dengan satu kata 'iya' agar singa yang kebakaran jenggot ini tak bertambah marah.


Ya....saat ini Levin dan Ali tengah berada di depan gedung apartemen Levin dan berada di dalam mobil, Levin yang mendapat informasi dari anak buahnya yang di beri tugas mengawasi Sesil, melaporkan bahwa Sesil sedang makan siang bersama dengan Johan, Papanya. dan akhirnya memutuskan untuk pulang,namun belum juga dia turun dari mobil, Levin sudah di suguhkan dengan pemandangan yang membuat nya marah-marah sendiri.


"Ali!!! apa kau sudah bosan kerja dengan ku?"


tanya Levin dengan sedikit memiringkan kepalanya ke arah Ali


"Tentu saja tidak Tuan!!" jawab Ali secepat kilat


"Kalau begitu kenapa kau hanya diam saja!! jawab!! bukankah kau ini seorang playboy? jadi jelas kau punya jawaban nya bukan?" kata Levin


"Tuan, saya bukan playboy, saya cuma lagi seleksi calon pacar Tuan!" kata Ali membela diri


"Sama saja bodoh!!"


"Tuan, saya akan memberikan saran atas ucapan Tuan Levin tadi, bagaimana?" tanya Ali


"hemmmmm" jawab Levin


"Tuan, kadang kala wanita minta di perlakukan sehalus mungkin, seperti sebuah guci antik! harus hati-hati dan sepelan mungkin memperlakukan nya, tuan jangan marah terlebih dahulu, bisa jadi mereka hanya kebetulan bertemu saja!" kata Ali

__ADS_1


"Bukankah lelaki itu sekarang tinggal di salah satu unit apartemen di sini Tuan? bisa jadi ini hanya sebuah kebetulan saja!"


Kata Ali mencoba meredam gemuruh di hati Levin, karena Levin dan Ali sebenarnya sudah melihat Brian pindah ke gedung apartemen yang sama dengan Levin beberapa hari lalu, hanya saja Sesil yang memang tak pernah keluar apartemen baru saja mengetahui nya hari ini.


"Ckc..... menyebalkan!" kata Levin


"Jalan Ali!! aku malas pulang!" kata Levin meminta Ali kembali mengendarai mobil nya ke kantor miliknya, namun baru juga 500 meter berjalan Levin berulah.


"Ali....putar balik!! seperti nya aku harus tetap pulang! aku akan memberi pelajaran pada gadis nakal itu!!" kata Levin


"Baik Tuan!" Ali segera mencari jalan putar balik ke arah apartemen Levin.


Jalanan sedikit macet, karena jam masih menunjukkan waktu makan siang, banyak dari mereka yang keluar kantor untuk makan siang. setelah berhasil putar balik, Ali sedikit menambah kecepatan agar sampai di apartemen Levin secepat nya.


"Tidak....tidak...tidak!! putar balik ke kantor lagi Ali!! dia bisa besar kepala kalau aku pulang jam segini!! aku tak mau di bilang mengintai mereka!" kata Levin.


"Baik Tuan" kata Ali yang masih sabar menuruti kemauan majikannya itu.


Ali kembali mengikuti arah jalanan dan putar balik, dan dengan se enak jidatnya saja, Levin memberi perintah putar balik lagi, Ali geram sendiri dengan tingkah Bos nya itu, dia sampai berhenti dan terdiam di bahu jalan tanpa perintah Levin. Levin yang menyadari mobil tak bergerak merasa heran.


"Tuan! sebaiknya Tuan tentu kan pilihan Tuan! kita ke kantor atau ke apartemen tuan untuk menemui Nona Sesil?" kata Ali memberanikan diri.


"Berani kau memerintah ku Ali!!!" teriak Levin kesal.


"Bukan begitu Tuan, kita sudah berputar-putar di jalan selama 7 kali, dan itu sedikit membuang waktu berharga Tuan" kata Ali menjelaskan semuanya walaupun dengan tangan gemetaran karena takut.


"Haisshh....ini semua salah mu!!! kita balik ke kantor!! Cepat!!" kata Levin.


"Nasib mu Al... Al.....semua demi pundi-pundi tabungan mu Al, semangat!!! buat ngelamar anak orang!!" batin Ali


Di Kantor Lee


Fabri berulang kali mondar-mandir tanpa alasan, entah mengapa hatinya nampak gelisah hari ini.


"Ada apa?" tanya Lee yang melihat Fabri tak bisa konsentrasi kerja.

__ADS_1


"Entahlah Lee, rasanya ada yang janggal di hati gue!" kata Fabri


"Sudahlah jangan di pikirkan!" kata Lee


Fabri bekerja sebagai asisten Lee, Lee sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan milik Papa nya yang dulu di percaya kan pada Kevin Papa dari Fabri. Hari ini Fabri tak bisa berkonsentrasi dengan baik, lelaki itu bahkan sudah berulang kali menelpon sang istri yang di rasa mungkin penyebab dari rasa tak enak di hatinya, namun setelah berbicara dengan istrinya yang sekarang sedang berada di rumah tak serta merta membuat Fabri lega, entah mengapa beberapa hari ini dia nambah gelisah.


"Lee....bisa minta berhenti sebentar! gue benar-benar tidak bisa konsentrasi, ague butuh teman bicara!" kata Fabri.


Fabri paling muda di antara mereka, namun paling bisa mengendalikan diri dan emosi nya, entah mengapa saat ini dia merasa tak bisa menahan emosinya yang naik turun.


"Perlu sebotol wine?" tanya Lee, karena dia tau siapa Fabri, Fabri bukan Boy yang tak kuat minum.


"Bisa minta jenis lain?" tawar Fabri.


Dan akhirnya sekarang ruang kerja Lee menjadi tempat nongkrong mereka berdua.


"Loe tau Lee, gue sedang menyelidiki tentang Vandi" kata Fabri, Lee sedikit mengerutkan keningnya


"Why?" tanya Lee


"Ela tak pernah di kenalnya Bri!" lanjutnya.


"Hemmm, aku tau.... tapi Ela bersama ku sekarang, aku hanya khawatir..... perasaan ku tak enak!" kata Fabri


"Kita sama.....gue bahkan lebih khawatir dari loe, loe tau kan dulu yang di incar Vandi adalah Vita'' kata Lee yang juga mencoba menenangkan hati nya.


"Apa dia punya sekutu Lee? menurut loe?" tanya Fabri


"Entahlah, semua si pelaku hidup masing-masing sekarang, bahkan yang aku dengan salah satu dari mereka belum keluar " kata Lee


"Oh Tuhan Lee!! gue gak bisa membayangkan jika gue kehilangan salah satu dari kalian!" ucap Fabri sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.


Musuh mereka tak kasat mata,artinya semua nya masih hanya sebatas kekhawatiran mereka saja, setidaknya begitulah perkiraan mereka, hal itu yang membuat empat sekawan susah bertindak, andaikan mereka terang-terangan menyatakan perang, maka akan lebih mudah bagi empat sekawan untuk berperang melawan mereka.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2