Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Sesil tahu banget Levin sedang menahan rindu padanya, bahkan dia bisa merasakan bagaimana Levin mencurahkan segala kerinduan nya pada dirinya. Namun gerakan Levin yang semakin menuntut membuat Sesil cemas sendiri.


"Vin!!" pekik Sesil


Levine tak menjawab perkataan Sesil, namun bisa di lihat dari wajah Levin, kelihatan sekali dia menampakan senyum seringai nya.


"Vin.....jangan macam-macam!!" teriak Sesil


"Hanya satu macam sayang......" saut Levin kembali mencumbu sang calon istri.


Hal tak terduga sebelumnya oleh Sesil, nyatanya mampu di lakukan oleh Levin,hingga jeritan kecil menggema di kamar kedap suara tersebut.


"Leviiinnn!!!" jerit Sesil.


"Vin bangun...!" pekik Sesil ketika melihat Levin tak sadarkan diri di atas tubuhnya, dia benar-benar kaget, Beberapa saat lalu Levin masih mencumbu dirinya dengan semangat 45 nya, namun lambat laun pergerakan Levin mulai menurun. Sesil berusaha membangunkan nya namun gagal, pada akhirnya dia menangis dan berlari keluar kamar.


"Ayana..... Kay!! tolong Levin!!" Teriak Sesil pada mereka yang terlihat baru saja selesai makan.


"Ada apa?" tanya Ayana yang mendekati Sesil.


"Levin!... Levin tidak sadarkan diri! hiks .. aku tidak tahu bagaimana awalnya hiks ... tapi tiba-tiba dia sudah tidak sadarkan diri" kata Sesil dengan wajah cemas nya.


"ada apa?" tanya Boy dan juga Leo yang baru saja datang dan mendekati Ayana dan juga Sesil.


"Leo..... Kak Levin pingsan!" pekik Ayana.


mendengar bagaimana keadaan Levin dari sesil dan juga Ayana, Boy berlari masuk kedalam kamar tamu dan dia bisa melihat bahwa Levin sedang tak sadarkan diri tengkurap di atas ranjangnya,Boy dan juga Leo langsung memindahkan posisi tidur Levin agar lebih nyaman, kemudian dia meminta Kay yang lebih dekat dengan telepon rumah untuk menghubungi dokter.Sesil dengan setia berada di samping tubuh Levin yang terlihat sangat lemah, sebelum datang ke sini Sebenarnya Levin sudah terlihat sangat lemah,namun langsung bersemangat agar bertemu dengan Sesil dan membuat Levin melupakan rasa badannya yang mulai tak enak.


beberapa saat kemudian dokter keluarga Boy akhirnya datang untuk memeriksa keadaan Levin, Dokter menyarankan agar Levin segera di bawa ke rumah sakit supaya bisa menjalani perawatan intensif.Dengan deraian airmata nya, Sesil terus menggenggam tangan Levin.Karena tak mau terlalu lama menunggu ambulan datang, Leo dengan sigap mengambil mobil dan mengendarai nya, toh dia dan sopir ambulan sama saja, bisa membawa mobil dalam keadaan darurat dengan cepat dan anak buahnya yang menjadi penghalau bagi pengendara lain.Sesampainya di rumah sakit, Seorang dokter segera berlari menyambut kedatangan pasien dan segera di masukkan ke UGD. Sesil nampak menangis tersedu menyaksikan bagaimana Levin yang sedang di tangani oleh dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan nya Dok?" tanya Sesil ketika melihat dokter keluar dari ruang UGD


"Anda siapa pasien?" tanya dokter tersebut.


''Saya calon istrinya Dok" jawab Sesil yang masih berderai air mata.


"Semuanya sudah baik-baik saja sekarang Nona, pasien terkena penyakit typus, dalam beberapa hari ini semuanya akan kembali baik, dan sekarang pasien sudah akan di pindahkan ke ruang rawat"


Kata dokter tersebut menjelaskan, dan akhirnya Sesil dan juga Boy menuju ke ruang rawat inap di mana Levin sekarang berada, Leo yang mengurus semuanya urusan administrasi, Boy mencoba menghubungi Kay dan Ayana yang sudah di pastikan cemas di rumah, setelah mengabari istri nya, Boy mengabari Kiara mertuanya. Karena Levin harus istirahat akhirnya Boy dan Leo pamit terlebih dahulu, mereka membiarkan Sesil menunggu di ruang rawat.


"Hiks.....hiks ......bisa tidak kamu menjaga diri sendiri!! baru tiga hari saja aku tinggal kamu sakit!! hiks.....apa kamu benar-benar senang membuat aku khawatir!!" omel Sesil,


Levin hanya diam melihat gadis yang sangat di cintai nya itu, gadis yang bisa menarik hati nya terlalu dalam.


Baru kali ini Sesil begitu cerewet, dia biasanya tak terlalu banyak bicara, namun Levin sangat senang mendengar setiap ocehan dari mulut Sesil, walaupun sebenarnya dia tak tega melihat Sesil menangis.


"Sini....peluk" kata Levin


"Aku tidak apa-apa! besok juga pasti sudah baikan!" kata Levin mencoba menenangkan Sesil.


Braaaaak.....suara pintu kamar rawat di buka dengan keras


"Levin!!! anak mama...... bagaimana bisa kamu masuk rumah sakit?? apa yang sakit sayang? mana....mana?"


cerca Kiara tanpa melihat kalau Levin sedang memeluk erat Sesil, Sesil seketika keluar dari pelukan Levin, dia bisa melihat wajah cemas dari calon mertuanya. Johan nampak berjalan santai di belakang sang istri.


"Mama!..... Levin gak papa" ucap Levin yang melihat sang Mama yang tak berhenti bertanya.


"Ma....ini semua juga gara-gara Mama! gara-gara Mama menyabotase Sesil!" kata Levin yang pura-pura bermuka kesal pada sang Mama.

__ADS_1


"Heleh!! lebay.....gitu aja lemah!" kata sang Papa yang mencoba membela sang istri.


"Emang benar pa! coba kalau Mama gak bawa Sesil.....pasti Levin ada yang merhatiin dan ada yang ngurusin" kata Levin yang gak mau kalah.


"Ya karena kamu lemah aja Vin, baru juga di tinggal tiga hari udah KO!......dasar lemah!" lagi-lagi Johan membela Kiara sang istri.


"Udah.....jangan berdebat! malah berdebat....." lerai Kiara


"Kata dokter gimana Sil?" tanya Kiara


"Udah lumayan ma, kurang istirahat dan pola makan nya berantakan...." kata Sesil


"Karena itu Levin kena typus ma, dan dokter bilang perlu di rawat beberapa hari" lanjut Sesil


"Gak kok ma, besok juga Levin udah bisa pulang....." kata Levin


"Siapa bilang? dokter belum bilang seperti itu" saut Sesil


"Ya kan aku udah agak mendingan sekarang, aku gak betah di rumah sakit" kata Levin.


"Udah deh Vin, kamu di rawat aja dulu! Mama khawatir"


saut Kiara yang sudah duduk di samping kiri Levin, karena di samping kanan ada Sesil yang sejak tadi sudah di genggam tangan nya oleh Levin tanpa mau melepaskan nya.


"Benar, pulih kan dulu kesehatan kamu!" kata Johan


"Nanti biar Papa undur saja pernikahan kalian!" lanjut Johan


"Apa??? Gak!!!!" kata Levin, Johan berusaha menahan tawanya,dia benar-benar sengaja mengerjai anak lelakinya itu.Sebuah kesenangan tersendiri melihat Levin merasa kesal padanya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2