Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Entah Sejak kapan Levin lewat namun orang yang pertama kali sampai di apartemen adalah Levin,sedangkan beberapa menit kemudian Sesil nampak masuk ke apartemen,namun Sesil nggak pernah tahu kalau Levin sudah berada di kamarnya, malam ini masih pukul 8 malam jadi Sesil berfikir bahwa tidak mungkin jika Levin sudah pulang,hari ini asistennya Levin pun tak menelpon untuk memberitahu kepadanya agar menyiapkan makan malam untuk Levin seperti biasa, jadi karena asistennya belum menelpon apartemen, Sesil masih beranggapan bahwa Levin belum pulang.


Sesil dampak bernyanyi-nyanyi kecil di dapur sambil mencuci beberapa piring yang baru saja dia pakai untuk makan,juga beberapa peralatan dapur dan kompor yang kotor karena Sesil memasak makan malam untuk Levin walaupun Sesil tak tau jam berapa Levin pulang, kedatangannya tidak pasti tapi setiap kali Sesil memasak Levin pasti menghabiskannya, tentu saja dengan porsi yang sangat sedikit Sesil membuatnya.


Sedangkan di dalam kamar Levin berendam dengan air hangat di kamar mandinya,setelah hampir satu setengah jam dia berada disana kemudian dia berlalu memakai bajunya dan juga membalut rambutnya yang basah dengan handuk sambil menggosok nya untuk mengeringkan rambut tersebut,Levin berjalan keluar dari kamarnya, tentu saja dia tak ingin mengganggu Sesil karena berhadapan dengan muka Sesil pasti membuatnya sangat muak, sedangkan Sesil yang berasa di dapur kaget begitu mendengar suara sebuah kamar tertutup, terus terang saja dia melonjak kaget karena dia tak tahu kalau Levin berada di apartemen saat ini. Naas panci panas yang berisi air mendidih yang akan dia gunakan untuk membuat teh untuk nya sendiri tersenggol.


"Aaaarrggghhh.....sssstttt!!"


Teriakan pelan Sesil dan suara sebuah benda jatuh membuat Levin yang berjalan menuju kulkas ikut melihat.Tangan kanan Sesil tampak memerah karena air panas, dia benar-benar panik, tanpa mempedulikan warna merah di tangannya, Sesil segera mengambil panci dan mengeringkan sisa air yang tumpah di lantai.


"Apa yang kau lakukan!!!!"


bentak Levin melihat Sesil yang sedang membersihkan lantai dengan kain lap.


"Maaf Tuan!! saya akan membersihkannya.... sebentar saja Tuan"


kata Sesil tanpa menghiraukan Levin yang ada di hadapannya,dia benar-benar ketakutan saat ini hingga tangannya yang memerah dan bahkan ada beberapa bagian yang melepuh serasa tak sakit lagi. Levin melihat tangan merah Sesil, entah mengapa dia merasa marah ketika Sesil malah mempedulikan lantai basah daripada tangan nya yang melepuh.


"Hentikan!!" kata Levin dengan tegas.


"Se-sebentar Tuan, nanti Tuan kepleset kalau lantai nya belum kering" saut Sesil yang masih mengepel lantai dengan kain pel, terlalu kalau harus memakai alat pel, dia mengepel dengan menggunakan tangan nya.


Levin yang sudah geram melihat nya, segera menarik tangan Sesil hingga Sesil berdiri sempurna, Levin membawa tangan Sesil ke wastafel dan mengguyur nya dengan air dingin.


"Aaarghhh......" runtuh Sesil, namun karena tak ingin di dengar oleh Levin, Sesil mengigit bibirnya untuk menahan suara rintih kesakitan nya tak keluar.


"Bo*doh!!! apa kau tidak bisa menjaga dirimu dengan baik!! heh???!! menyusahkan!!!" bentak Levin sambil menghempaskan tangan Sesil


"Maaf Tuan, ini gak akan terulang lagi! saya janji" ucap Sesil sambil menunduk.

__ADS_1


"Ganti bajumu kita ke rumah sakit!" kata Levin sambil berlalu dari sana


"Ti-tidak usah Tuan, ini tidak apa-apa, cukup di olesi salep saja nanti juga......!" perkataan Sesil terhenti ketika melihat tatapan mata Levin yang mematikan, dan artinya Levin tak mau di bantah


"Iya Tuan,saya ganti baju dulu"


Sesil berjalan ke kamarnya,.tanpa sepengetahuan Levin,air matanya menetes pelan, jika dia di bentak dan di sakiti Levin, itu sudah biasa bahkan airmata pun sudah tak bisa keluar lagi, tapi ini lain! saat dia terluka masih ada orang yang perhatian padanya, apalagi itu adalah majikan yang terpaksa menampung dirinya, rasanya beda, air matanya tak bisa berhenti menetes. Sesil segera mengganti pakaian nya yang sedikit basah.dengan menyisir rambut seadanya dia berjalan keluar kamar, dan Levin sudah menunggu di ruang tamu.


Di ruang rawat rumah sakit


"Apa parah Dok?"


tanya Levin dengan ekspresi datarnya.


"Iya Tuan, luka bakarnya lumayan, apalagi ini tidak segera di siram air dingin"


"Nona, jangan kena air dulu ya, kalau mandi tolong di angkat tangannya" kata dokter memberitahu.


"Tapi saya harus kerja Dok, apa bisa nanti di bungkus plastik agar tidak kena air" kata Sesil


"Jangan banyak gerak dulu Nona, kalau Nona kerja, nanti saya kasih surat dokter untuk ijin" kata sang dokter yang tak tau perkejaan Sesil.


"Baik Dok" kata Sesil yang akhirnya pasrah.


Selesai pemeriksaan Sesil mengambil sendiri obat nya di depan apotik rumah sakit, dia mengantri disana.Tiba-tiba seseorang menghampiri nya.


"Sesil? Sesil kan?"


tanya seseorang yang berdiri sambil mengamati wajah Sesil, Sesil mendongak dan melihat siapa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan!! benar Sesil ya??"


"Nara?" tanya Sesil memastikan.


"Iya ini aku, Nara!"


Sesil memandang seorang wanita dengan baju cleaning servis rumah sakit, dia ingat itu adalah Nara, anak pembantunya dulu yang akrab dengannya sebelum pindah ke luar negeri, tapi karena bik Sri punya keluarga maka dia tak ikut ke luar negeri untuk ikut Sesil dan Papa nya.


"Nara...."


Sesil memeluk Nara dan menangis terisak, masih ada orang yang mengenalinya di kota ini, Sesil memang manja dan selalu mau di turuti, namun pada dasarnya dia adalah gadis baik, walaupun kadang sering menyusahkan para pembantu dan pengawalnya.


Mereka berbincang,Sesil menceritakan bahwa Papa nya sudah meninggal,namun Sesil tidak mau menceritakan penderitaan selama ini, dia tak ingin bik Sri yang selalu menyayanginya khawatir. Dia meminta nomor telepon Nara, barang kali suatu saat bisa menelepon nya.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Nara


Tiba-tiba saja Levin datang dan bertanya apa urusan Sesil sudah selesai.


"Ini suami kamu?" tanya Nara, Levin heran dengan seorang wanita di depannya yang nampak sangat akrab dengan Sesil.


"I-iya....kalau begitu aku pergi dulu Nara, salam buat bik Sri"


Sesil segera menarik tangan Levin, sesampainya di parkiran Levin menghempaskan tangan Sesil dan sesaat sebelum membuka suara,Sesil menjelaskan tentang pengakuan nya tadi.


"Dia anak bik Sri! pengasuh ku! bik Sri sudah tua,...... a-aku hanya tak ingin Nara menceritakan nasib hidup ku saat ini,bik Sri bisa khawatir, jadi maaf kan aku Tuan, dan terima kasih Tuan"


Levin hanya diam saja, dia tak tau bahwa dulu Sesil pernah begitu dekat dengan para pembantu nya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2