
Ray masih setia memeluk tubuh May, sedangkan May yang nyaman di pelukannya Ray tiba-tiba merosot tubuhnya, untung Ray menangkap dengan cepat ternyata May tertidur di pelukannya.
"Gadis bodoh! kenapa selalu tidur kalo lagi di peluk!" ucap Ray lirih sambil mengangkat tubuh May naik ke atas ranjang, belum juga dia pergi May sudah memeluk lengan Ray posesif, akhirnya Ray hanya bisa duduk di tepi ranjang sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran ranjang dengan kaki menjulang ke bawah, karena rasa kantuknya Ray juga iku menyusul Maysha ke alam mimpi, beberapa saat kemudian karena posisi nya tak enak, Ray melepaskan sepatunya dan naik di tepi ranjang, menarik kepala Maysha masuk ke dalam pelukannya dan kembali tertidur pulas.
Keesokan paginya, May dan Ray masih saja setia dalam tidurnya, Lerie yang memang terbiasa bangun pagi menemani papa Arya olahraga di halaman belakang bergegas membangun kan kakaknya, namun baru juga membuka pintu kamar dia melihat Maysha tidur di pelukan Ray, Lerie kaget kemudian dia lari ke halaman belakang setelah menutup pintu kamar kakaknya.
"ada apa Lerie? kok lari-lari? mana mbakmu?" tanya papa Arya sambil menggerak-gerakkan badan nya olahraga.
"ehhmmm itu pa..ehmmm masih masih tidur!" ucap Lerie terlihat binggung.
"tidur? bangunin aja! nanti dia marah kalo bangunnya kesiangan!"
"Tapi pa!! itu..mbak May...anu.....pa!"
Karena penasaran papa Arya masuk ke rumah dan menuju kamar Maysha, Lerie hany diam di tempat, bocah 13 tahun itu tau betul apa yang dia lihat, dia panik takut kalo kakaknya di sangka menggoda tuan Ray yang telah baik membiarkan dia tinggal di sana dan kakak perempuannya bekerja di sana.Lerie berlari mengejar papa Arya dan berdiri di depan kamar sang kakak.
"Pa...maafin mbak May pa! Lerie yakin mbak May punya alasan untuk tindakan nya!"
"Maksud kamu? papa gak paham?"
"itu pa...ehmmm....."
"Minggir Lerie! papa mau lihat apa yang kamu sembunyikan!"
Lerie akhirnya mundur dari depan kamar Maysha dan membiarkan papa Arya membuka kamar kakaknya.
ceklek......begitu terbuka pintu kamar Maysha, papa Arya kaget dengan apa yang dilihatnya, Ray dengan baju lengkap dengan jas nya sedang memeluk erat Maysha yang tertidur di lengannya, sedangkan Maysha menyusup kan kepalanya di dada Ray dengan tangan bertumpu di dada Ray walaupun tak sampai memeluknya.
Melihat bagaimana anaknya saat ini papa Arya malah tersenyum kecil dan menutup pintu kembali.
"Ayo kita olahraga lagi!" ajak papa Arya pada Lerie, Lerie melongo dengan reaksi dari papa Arya, Lerie sudah menduga kalo papa Arya pasti marah, namun di luar dugaan papa Arya malah tersenyum dan mengajak Lerie keluar dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Papa gak akan marah sama mbak May? papa gak akan ngusir Lerie kan?" tanya Lerie takut-takut pada papa Arya.
"Kamu gak pengen mbak May menikah dengan kak Ray?" tanya papa Arya balik.
"Emang boleh pa?"
"Itu yang papa inginkan! sudah ayo kita olahraga!"
Selesai olahraga Lerie dan papa Arya sudah bersiap di meja makan, sedangkan di kamar Maysha.
"Eughh....." Maysha mengeliat dan membuka matanya, tubuhnya terasa di himpit seseorang.
Begitu membuka mata dia kaget karena berada di dalam dekapan Ray.
"Tuan Ray!" ucap May kaget, hingga membuat Ray terbangun.
"Sudah bangun?" tanya Ray datar
"Kenapa tu-tuan tidur disini?"
"Mandilah! aku keluar dulu! aku harus ke kantor hari ini!"
Ray dengan tenang keluar dari kamar Maysha, Maysha berguling-guling sendiri di atas ranjang ketika sadar bahwa Ray tertidur sambil memeluk dirinya semalaman.
Sama halnya dengan May, Ray yang keluar dan baru saja menutup pintu kamar Maysha tersenyum penuh arti. tiba-tiba saja....
"Kembali ke kamarmu dan mandilah Ray!" kata papa Arya yang melewati Ray begitu saja sambil membawa teh herbal nya. Ray hanya melongo melihat papa Arya yang melewati dirinya. Namun papa Arya berhenti dan tanpa berbalik ke arah sang anak, papa Ray berkata...
"Lain kali kunci pintu nya, kasihan mata suci Lerie kalau harus melihat sesuatu yang belum waktunya dia lihat!"
Belum juga Ray menjawab kata-kata yang papa, papa Arya sudah kembali melangkah sambil memanggil nama Lerie.
__ADS_1
Ray hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berjalan menuju lantai dua ke arah kamarnya.
Ditempat lain, dua orang manusia juga sedang di mabuk asmara, setelah kejadian di apartemen nya beberapa waktu lalu, Valeria yang sempat menghindari Raka pada akhirnya menyadari perasaannya pada lelaki brondong nya itu,
sambil menunggu tuan Adrian selesai sarapan Raka menarik gadis pujaan hatinya ke sebuah tempat di depan rumah yang terhalang pilar besar rumah tersebut.
"Kangen banget sama kamu!" ucap Raka sambil memeluk dari belakang gadis yang baru saja berstatus sebagai kekasihnya itu, sudah beberapa hari Raka jarang bertemu dengan kekasihnya.
"Kamu yang susah di temui!" kata Ria cemberut.
"Maaf sayang! aku sedang buka showroom dan bengkel baru! jadi aku harus mastiin sendiri! semuanya juga buat kamu ntar kalo kita nikah!" kata Raka sedikit berbisik dan mencium leher samping kanan kekasihnya, aroma tubuh Valeria benar-benar membuat Raka rindu setengah mati pada gadis tersebut.
"Emang berani meminta aku ke orangtuaku?" tantang Valeria.
"Berani dong!! apa sih yang gak buat kamu!" rayu Raka.
"Emang siap nikah?" kata Ria kembali.
"Sayang.....siap dong!!! aku selalu siap buat kamu!" ucap Raka sambil mempererat pelukannya seakan lupa dia berada di mana sekarang.
"Iidiih apa-apain! udah lepasin dulu! kak Adrian pasti udah selesai sarapan nya!" ucap Ria yang berusaha melepaskan pelukannya Raka.
"Yakin mau di lepaskan? gak pengen cium dulu gitu!??" goda Raka sambil menciumi pelipis kanan Valeria.
"Yakin! kalo tidak yakin aku akan potong gaji kamu 80% karena membuat aku terlambat kerja!!" suara barito Adrian membuat Raka seketika melepaskan pelukannya pada Valeria, Valeria yang malu segera berlari masuk ke dalam rumah, sedangkan Raka yang kaget tetap terlihat cool walaupun sebenarnya hatinya berdebar dengan kencang! karena terciduk oleh Adrian.
"Berangkat sekarang tuan?" tanya Raka tenang.
"Apa kau masih mau pacaran?"
"tentu kita akan berangkat sekarang tuan!" kata Raka tanpa menjawab pertanyaan Adrian.
__ADS_1
Raka berjalan sedikit berlari menuju mobilnya dan membukakan pintu belakang untuk Adrian, dengan cepat dia masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesinnya dan keluar dari mansion utama, membelah jalanan di pagi hari ini.
bersambung