Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 ( Empat Sekawan)


__ADS_3

pletaakk!!! pukulan mendarat di kepala belakang Boy


"Dasar anak durhaka!!! berani kamu menghianati Daddy mu!!"


hardik Beniqno,


niat hati datang lebih pagi ke rumah Ray, hanya untuk meminta bantuan Ray namun melihat pembicaraan Ray dan Boy yang tak menyadari kedatangan nya,membuat Ben penasaran. siapa yang menyangka bahwa ternyata di Ray dan Boy sedang terlibat pembicaraan rahasia,apa permasalahan mereka, Ben tidak terlalu mendengarnya namun mendengarkan bahwa Boy akan membocorkan rahasia perusahaan kepada Ray membuat Beniqno menjadi kesal sendiri,walaupun dia tahu Ray tidak menginginkan hal itu dan Boy takkan pernah melakukannya, tapi ketika Boy mengatakan hal itu rasanya dia sangat kesal karena itu artinya Ray lebih unggul daripada Ben di hadapan Boy.


Ray dan Ben akhirnya meninggal Boy yang sudah habis-habisan dimarahi oleh Ben, sedangkan raya segera menelpon tuan Adrian untuk memberitahu bahwa dia akan sedikit terlambat. Ray akhirnya memutuskan untuk satu mobil dengan Ben dan ikut Ben ke kantor nya.


"Apa Johan tau apa yang di lakukan Boy?" tanya Ben,


Bagaimana pun Ben dan Ray masih mengawasi anak-anak mereka, Boy sudah seperti anaknya sendiri bagi Ray, Ray tentu saja tau kejadian beberapa hari yang lalu dari salah satu anak buahnya yang melapor, dan pagi itu juga Ray menelpon Boy dan menyuruh Boy kembali. Begitu juga dengan Ben, anak buah yang membantu Boy tentu saja lebih setia pada tuan besarnya yaitu Ben di banding dengan Boy,hingga rencana Boy juga ikut terendus oleh Ben.


"Belum!" jawab Ray


"Dasar anak itu! turunan siapa sih dia! aku curiga Ray, jangan-jangan anak kita tertukar!!" ucap Ben yang membuat kening Ray berkerut.


Dengan tidak sadarnya, Ben mau mengelak darah mesum yang mengalir deras dari tubuhnya.


"Bayangkan Ray, Lee itu seperti aku! yang membantu istrinya dengan tujuan mengobati nya, seperti yang pernah aku lakukan pada Nay dulu! sedangkan Boy, aku rasa dia seperti...mu!" kata Ben langsung menghentikan ucapannya, Bagaimana tidak! Ray bahkan sudah memandang tajam dan malas ke arah Ben.


"Apa kamu tidak sadar tuan mantan Casanova?" ucap Ray dengan penuh penekanan.


"Cck.... tenang Ray, aku sudah pensiun sangat lama" kata Ben berlagak sok tenang dan berwibawa, Apalagi di sana ada Antoni yang sedang berada di kursi kemudi.


Di rumah Fabri, Desi dengan memasak sarapan pagi yang sedikit agak telat, karena Kevin kemarin berangkat ke luar kota dan Fabri tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia berangkat pagi sekali, walhasil sekarang Desi sedang memasak dengan santai dengan Ela dan bibi Nur, pembantu yang sudah lama ikut dengan keluarga Fabri.

__ADS_1


"Kamu beneran mau ikut sekolah kesetaraan La?" tanya Desi pada Ela


"Iya nyonya kalau boleh, sekalian di sana ada kursus bikin kue Nyonya, saya mau belajar!" kata Ela


"Ya udah, nanti biar Roni saja yang mengantar kamu ke sana buat daftar" kata bik Nur, Roni adalah anak dari bik Nur.


"Jangan bik, kalau mas Roni nya sibuk, kasihan kalau harus nganterin aku bik" kata Ela menolak.


"Pagi ma....!" sapa Fabri membuyarkan obrolan mereka


"Pagi sayang.... kamu mau ke kampus?" tanya sang Mama


"ke perusahaan dulu ma, Lee muntah dan mual lagi" ucap Fabri sambil meminum teh hangat bikinan Ela.


"Asyik banget, lagi bicarain apa?"


"Biasalah Bri, kita sering ngerumpi kalau pagi!" kata sang Mama sambil meninggalkan dapur,


Fabri benar-benar tak mau melewatkan kesempatan dekat dengan Ela, gadis yang selama beberapa hari ini selalu menghindari nya. Mamanya yang sudah beranjak dari dapur membawa masakan nya ke meja makan di bantu oleh bik Nur, hal itu membuat Fabri tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Ela.


"Kenapa menghindari aku?" tanya Fabri pelan.


"Tidak tuan muda" saut Ela


"Aku tidak suka di panggil tuan muda, biasa nya juga kamu manggil aku,kak Fabri!kemana kata-kata itu sekarang Ela? kamu benar-benar mencoba untuk menghindariku Ela?"


Ela hanya terdiam, dia tak mau menjalin hubungan dengan Fabri lebih dari seorang pembantu dan Tuan mudanya, walaupun dulu dia pernah memanggil Fabri dengan sebutan kakak,namun sekarang tak sekalipun Ela menghiraukan protes Fabri yang memanggilnya tuan muda, Ela betah tinggal di rumahnya Desi, nyonya besar nya itu memperlakukan dia dan bik Nur dengan baik sebagai pembantu rumah tangga mereka, Ela tak mau menyia-nyiakan kesempatan nya untuk disukai dan disayangi oleh orang-orang di sekitarnya, Ela takut jika keakrabannya dengan Fabri akan mengubah pandangan Desi kepada Ela,Ella tak mau disebut sebagai penggoda Tuan mudanya, dia cukup tau posisinya sekarang.

__ADS_1


"Maaf Tuan muda, saya harus membantu nyonya"


ucap Ela yang tak mau menanggapi omongan dari Fabri, Fabri hanya diam sambil mengepalkan tangannya,dia merasa frustasi! sesulit ini kah mendapatkan hati seorang gadis?. Dengan perasaan dongkol, Fabri duduk di kursi meja makan, Mama nya sampai heran dengan perubahan sikap Fabri. Namun Desi mencoba berpikir positif saja.


"Sayang.... kemarin Mama bertemu dengan temen Mama, dia pengen anaknya di kenali sama kamu!" kata sang Mama disela-sela acara sarapannya.


Fabri melihat sekilas ke arah Ela yang meletakkan air putih di depan Fabri dan Desi.


"Fabri lagi ngicer gadis ma"


kata Fabri sambil sesekali melihat ke arah Ela, Ela sedang di perintahkan Desi untuk duduk di ujung meja dan mengupas buah.


"Oya....? siapa? trus gimana dong cerita nya?" kata sang Mama yang antusias


Desi tak mau lagi menjodohkan Fabri dengan anak-anak dari sahabat-sahabatnya atau teman-teman arisannya, Desi tak mau mengulang lagi kejadian Sania,Desi hanya ingin Fabri bahagia dengan wanita yang dicintainya, tentu saja wanita itu harus wanita baik-baik hanya itu syarat yang diajukan oleh Desi. calon istri Fabri tak harus dari keluarga kaya raya,karena pada hakikatnya nya, Kevin dulu bukanlah orang yang sekaya ini sebelum bertemu dengan tuan Ray,Kevin berasal dari keluarga yang sangat sederhana bahkan ibunya sudah meninggal saat Kevin masih kecil dan ayahnya lah yang membanting tulang untuk menghidupi Kevin sampai besar.


"Fabri masih di tolak ma!"


"Di tolak?? anak ganteng mama ini di tolak?" kata Desi dengan heran.


"ya....Fabri ditolaknya karena dia merasa tak pantas untuk Fabri ma! apa Mama tidak keberatan kalau Fabri menikahi seorang pembantu?" tanya Fabri pada sang Mama,namun matanya tak lepas memandang Ela, dia ingin tahu bagaimana reaksinya Ela.


Deg......


jantung Ela berdetak kencang, entah mengapa dia merasa tak nyaman di sana, Ela cukup paham dengan apa yang dikatakan oleh Fabri, Ela bisa menangkap kalau Fabri menyukainya, apalagi beberapa hari yang lalu dengan entengnya Fabri mencium bahkan melumaaat bibir gadis tersebut disaat Fabri meminta Ela mengirim minuman ke kamarnya, Sejak saat itu Ela menjauhi Fabri.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2