
"Hahahahahaha"
Tawa menggelegar sedari tadi tak berhenti, Boy yang ada di sana sudah cemberut tak karuan.Sedangkan Kay hanya nyengir kuda dengan semua omongan dari teman-teman Boy dan bahkan mertuanya juga ikut tertawa.Johan dan Kiara ijin pulang karena mereka terlihat lelah setelah drama melahirkan putri bungsunya itu, Boy dan Kay yang mendapatkan putra pertama mereka sangat bahagia, namun ketika menceritakan bagaimana Kay melahirkan, tetap saja sahabat-sahabatnya dan Daddy nya tertawa tanpa henti.
"Udah dong Dad!!! ketawa mulu'!!!"
kata Boy yang sudah sangat kesal dengan sang Daddy.
"Lagian lucu banget Boy, makanya punya istri hamil jangan di unboxing mulu', Daddy yakin gara-gara keseringan kamu jenguk,anakmu jadi gak sabar pengen keluar!! hahahahahaha lahir di mobil! mau di kasih nama Mobilio Boy?? " kata sang Daddy dengan tak berperasaan.
"Bukan Mobilio Om, Alphard Emmad, biar bisa di panggil Al... Al.... hehehhehe!" saut Leo, dia tau Johan membawa mobil Alphard milik nya saat mengantar Kay putri nya.
"Rese'.....udah sono pada pulang!!" kata Boy dengan ketus.
"Waahhh ganteng banget Boy anak loe, perasaan lebih tampan anak loe deh daripada loe!! besanan yuk Boy" ujar Lee yang terus mengamati anak Boy yang sedang di gendong Nayla.
"Heh!!!loe muji anak gue, tapi ngehina gue!! mana mau gue besanan sama loe!" kata Boy yang di sebut kalah ganteng dari anaknya.
Fabri barusan datang dan langsung nyelonong masuk dan mendekati Kay.
"Kay.... selamat ya!"
kata Fabri sambil mencium kening Kay, wanita yang memang sudah di anggap adik oleh Fabri, Leo dan Lee, bahkan dulu sebelum jatuh cinta pada Kay, Boy pun menganggap Kay sebagai adiknya.
"Makasih Kak"
"Gimana cowok atau cewek?" tanya Fabri.
"Cowok Kak, capek tau...kayak Kay!" saut Kay senang.
"Kayak Daddy nya dong!" saut Boy tak mau kalah.
Fabri mendekati Nayla dan melihat bayi mungil itu, entah mengapa lelaki kekar itu selalu merasa gemas dengan bayi, pertama Shasha dan sekarang anak Boy dan Kay.Melihat anak Boy seketika dia ingat Ela, Ela sama dengan nya, sangat suka dengan bayi dan anak-anak.
"Cakep ya Tante, Ela pasti suka kalau lihat dia" kata Fabri pada Nayla.
__ADS_1
Seketika semua yang ada di ruangan itu terdiam, mereka tau bagaimana hatinya Fabri saat ini, namun dia tetap memberikan senyuman terbaiknya di saat salah satu sahabat bersuka cita karena kelahiran anaknya.
"Ya..... Ela pasti suka, dan dia pasti segera sembuh" kata Nayla mencoba menguatkan Fabri.
"Ya Tante, ada berita baik hari ini, Ela sudah sadar semalam"
kata Fabri sambil menatap ke arah orang-orang yang ada di sana, nampak jelas wajah berbinar di wajahnya, Lee, Leo dan Boy ikut tersenyum, seakan wajah Fabri menular pada mereka.
"Benar kah?" tanya Nayla
"Iya Tante, dan keadaan nya mulai membaik, hanya saja dokter memberitahu agar kami menyediakan dokter psikiater untuk Ela, dokter takut mental Ela sedikit terganggu,karena jujur saja akibat kebakaran itu, beberapa bagian tubuhnya yang terbakar cukup parah sulit untuk di pulihkan seperti semula" kata Fabri nampak sedih.
"Dokter takut, Ela belum bisa menerima keadaannya, tapi bagiku tak masalah, asalkan Ela bisa sembuh!" lanjut Fabri.
Leo yang maju terlebih dahulu untuk memeluk Fabri, Lee dan Boy akhirnya ikut memeluk Fabri, seperti itu lah cara mereka saling menguatkan, Ben yang ganas saja merasa terharu dengan persahabatan mereka, Ben yang dari dulu tak pernah punya sahabat seperti mereka, merasa anaknya sungguh beruntung mendapatkan sahabat-sahabat seperti Fabri, Lee dan Leo.Nayla dan Kay bahkan sudah meneteskan airmata mereka.
"Gue yakin loe bisa bikin Ela menerima semuanya!! asal loe menerima Ela sepenuhnya!!" kata Lee setelah melepaskan pelukan mereka.
"Gue gak butuh tubuh mulus Lee, yang penting hati dia mulus dan tulus cinta sama gue! itu saja udah cukup!"
"Good Fabri!! itu baru teman gue!" saut Boy.
"Apa masa pemulihan nya masih lama?" tanya Leo
"Mungkin setelah dia siap untuk di bawa berpergian jauh, dokter menjadwalkan dia untuk melanjutkan pengobatan ke luar negeri, ke rumah sakit yang di rekomendasikan oleh dokter, dan mungkin hanya butuh 3 sampai 4 bulan saja!" jelas Fabri.
"Yang penting kamu harus menguatkan dia Bri, dan Om percaya kamu pasti bisa!" kata Ben sambil menepuk bahu Fabri.
"Pasti Om! makasih Om!"
Ben kembali menepuk bahu Fabri dan tersenyum tipis, setelah beberapa saat, mereka pamit karena Kay pasti butuh istirahat,dan akhirnya Boy tinggal bertiga bersama anak dan istrinya.
Di sisi kamar rawat yang lain...
"Tolong suster, ambilkan aku kaca! aku mau melihat wajahku!!"
__ADS_1
kata Ela yang memohon pada seorang suster yang menemani nya, setelah sadar dari tidurnya tadi, Ela mencoba meraba sebagian wajahnya, dan tangan nya merasakan hal yang berbeda di wajahnya.Suster tersebut hanya diam saja karena Fabri sudah mewanti-wanti mereka jika Ela menginginkan melihat wajahnya,maka suster di minta untuk diam saja tanpa memberikan Ela apapun.
"Maaf mbak, saya gak punya kaca" kata si suster.
"Tolong suster! aku mohon, apa saja agar aku bisa melihat wajah ku!" mohon Ela lagi.
"Maaf mbak...saya gak bisa!" jawab suster lagi.
"Keluar!!! keluar suster!!! keluar dari kamar ini kalau suster tidak bisa membantu!!!" teriak Ela walaupun terdengar tak begitu keras.
"Keluar!!!" pekiknya lagi.
Ceklek........suara pintu di buka, nampak sekali si suster bernafas lega dan segera pamit undur diri.
"Ela....sayang....kenapa?" tanya Fabri yang langsung berlari kecil mendekati Ela.
"Kak......beri aku kaca! aku mau melihat wajahku!! wajahku jelek kan? iya kan?" tangis Ela pecah juga, dia tau bahwa wajahnya tak secantik dulu, dia merasa tak pantas bersanding dengan Fabri, sebelum wajah nya rusak saja, Ela sudah merasa minder bersanding dengan Fabri karena latar belakang keluarga nya, apalagi sekarang.
"Tidak sayang.... semuanya akan baik-baik saja!" ucap Fabri sambil menarik Ela ke dalam dekapan nya.
Namun Ela mendorong tubuh Fabri.Fabri merasa heran dengan tingkah Ela.
"Keluar Kak!!! jangan dekati aku!!!aku tidak pantas lagi buat Kakak!!" kata Ela
"Hei.....apa yang kamu katakan sayang.....Aku masih Fabri mu dan kamu tetap Ela, Ela kesayangan Fabri!" kata Fabri meyakinkan.
"Tidak...tidak.... Kak!!! tidak!! jangan kasihani aku Kak!!! aku mau kita putus!!" kata Ela karena dia merasa Fabri kasihan dengan keadaan Ela saat ini.
"Frela!!!!" bentak Fabri sampai membuat Ela terjingkat.
"Berani kamu bilang seperti itu lagi!!! maka aku akan mengakhiri hidup ku di hadapan mu!!ingat itu!!" lanjut Fabri.
Ela seketika memeluk Fabri,dia tau dia salah saat ini, hingga membuat Fabri sangat marah.
bersambung
__ADS_1