Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Sesil masih berdiri di tempatnya, dia tak berani membalas tatapan tajam mata Levin, sedangkan Levin, banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalanya, tapi dia cukup gengsi untuk menanyakan sesuatu pada Sesil.


"Siapkan makan siang! aku lapar!"


kata Levin memecahkan keheningan di antara mereka.


"Baik Tuan!"


Sesil berlalu dari hadapan Levin, dia membawa paper bag yang di bawa oleh Johan, Levin hanya memandang ke arah punggung Sesil yang berjalan ke arah dapur, Levin terlihat mengusap kasar wajahnya dan menghela nafasnya pelan.Levin mendudukkan dirinya di sofa, membuka laci kecil yang berada di bawah meja sofa tersebut, mengambil bungkus rokok dan sebuah pematik. Levin memang sudah mengurangi kebiasaan merokok nya, bahkan bila di apartemen dia jarang sekali merokok, namun entah apa yang membuat hati nya suntuk, hingga dia lebih memilih menyalakan satu batang rokok yang terselip di jari-jari tangan nya. Dari jauh Levin bisa melihat ke arah dapur lebih tepatnya melihat Sesil yang dengan cekatan memulai memasak untuk nya.


Levin berpikir dia sudah benar-benar gila sekarang, gadis yang menyebalkan itu secara tidak tau dirinya sudah merusak hari-hari tenangnya akhir-akhir ini, setiap jam makan siang Levin sering menghabiskan waktu nya untuk makan di dalam kantor nya dan menatap ke arah layar laptop yang menampilkan isi apartemen miliknya, lebih tepatnya dia mengikuti setiap gerak-gerik Sesil, wanita yang dia jadikan pembantu nya itu. Dan hari ini bahkan dia lebih gila lagi, melihat siapa yang bertandang ke apartemen nya, dengan tanpa berpikir panjang Levin lari kembali ke apartemennya. Entah mengapa kata-kata sang Papa beberapa hari yang lalu yang ingin mengambil Sesil sebagai pembantu di rumah Papa nya terngiang di telinga nya ketika melihat Johan berada di apartemen miliknya dan sedang berbincang dengan Sesil.


"Tuan makanan sudah siap!"


kata Sesil membuyarkan lamunan Levin, Levin tak menjawab dia hanya berjalan menuju meja makan yang berada di area dapur, Sesil segera berlalu dari sana, namun suara Levin menghentikan langkah kakinya.


"Mau kemana?" tanya Levin


"Mau kembali ke kamar tuan!" jawab Sesil


"Kau tidak mau melayani aku makan siang?" tanya Levin dengan tegas


"Ya??"


Jelas Sesil kaget dengan permintaan dari tuannya itu.


"bukankah aku sudah bilang kita akan menikah! jadi mulai sekarang belajar lah jadi istri yang baik!" kata Levin dengan datar


"Maaf Tuan, tapi saya sudah menolaknya bukan?" kata Sesil dengan hati-hati, dia benar-benar tak ingin membuat Levin marah.

__ADS_1


Braaaak.....


Benar saja, Sesil melonjak di tempat ketika Levin berdiri dan mengebrak meja demi mendengar jawaban dari Sesil, Levin sangat tersinggung dengan jawaban dan penolakan dari Sesil. Sesil berkesiap ketika dengan tiba-tiba Levin sudah mendorong nya sampai punggung nya membentur pintu kulkas.


"Berani pembantu seperti mu menolak ku??!!"


kata Levin sambil menekankan tangannya ke leher Sesil, Sesil hanya diam dengan muka ketakutan, namun karena tak ingin memancing kemarahan Levin, Sesil hanya diam sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa karena Papa ku? apa kau menjual dirimu pada Papa ku??"


ucap Levin dengan kejam sambil memindahkan tangannya dari leher Sesil ke dagu Sesil sambil mencekramnya, Sesil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Berapa uang yang dia tawar kan untuk membelimu?? heh!!!!"


bentak Levin, entah mengapa penolakan Sesil membuat Levin marah, bahkan menuduh Papa nya sendiri dengan hal yang tak baik, padahal Levin kenal betul siapa Papa nya, namun kemarahan dalam dirinya ingin dia lampiaskan pada Sesil.


"Ti-tidak ada Tuan....tidak!" jawab Sesil yang terus menggelengkan kepalanya.


"Sa-saya ti-tidak pantas untuk Anda tuan!! saya akan mengabdi pada Anda bila Anda menginginkan nya tapi tidak untuk menikah" kata Sesil dengan wajah pasrah nya.


"Karena.....saya bukan orang yang pantas menerima kebaikan Anda tuan!"


Airmata yang di tahan dan dia perkiraan tak akan pernah tumpah,pada akhirnya meleleh juga.


Jika saat ini dia bukan Sesil yang miskin, yang tak punya apa-apa, dan bukan seorang pembantu, tentu saja dia akan sangat bahagia ketika ada seorang lelaki yang melamarnya, tapi tidak untuk sekarang, Sesil tidak pernah berpikir sejauh itu. Levin melepaskan cengkraman di dagu Sesil setelah melihat wanita itu meleleh kan air mata nya, dan Levin segera berlalu tanpa menoleh kembali ke arah Sesil.


Sesil terduduk di depan kulkas setelah mendengar pintu apartemen ditutup dengan sangat keras. Sesil menghapus Air mata nya, dia kembali mengingat perbincangannya dengan Johan.


"Aku bisa membantu mu mengambil seluruh aset milik Papa mu Sesil!" kata Johan

__ADS_1


"Maksud Tuan?" tanya Sesil tak mengerti


"Kau sudah di curangi oleh asisten Papa mu itu Sesil, segala aset perusahaan adalah milik mu, bukan milik wanita itu?!" kata Johan


"Tidak tuan, biarkan saja, aku tak ingin membuat masalah lagi dalam hidupku!" kata Sesil dengan menundukkan kepalanya.


"Apa kamu tidak merasa kasihan dengan Papa mu?"


kata Johan, lagi-lagi kata Papa membuat Sesil teringat Papa nya, seketika air matanya menetes, dia tak pernah berpikir sampai ke arah sana, dia hanya memikirkan dirinya bisa bertahan hidup saja sudah cukup kala itu.


"Dia berjuang membangun bisnis dan menabung berbagai aset untuk di berikan padamu,apa kamu pikir dia akan bahagia melihat mu seperti ini?" lanjut Johan.


"Tuan..." kata yang hanya bisa Sesil katakan, dia bahkan sudah terisak di depan Johan.


"Lalu aku harus bagaimana Tuan hiks....hiks....aku tidak punya kekuatan apapun untuk melawan dia hiks ...!" kata Sesil pada akhirnya.


"Turuti kemauan ku, maka aku akan membantu mu mengembalikan semua yang menjadi hak mu!"


kata Johan dengan datar. Sesil nampak berpikir, Johan dan Levin hampir sama dalam perwatakan nya, namun Johan tak bermulut sepedas Levin.


"Apa yang harus aku turuti Tuan?"


tanya Sesil dengan takut, dia tak tau apa rencana Johan, jujur saja dia merasa takut bila Johan meminta yang tidak-tidak.


"Jangan khawatir, apa yang aku minta,aku yakin kamu bisa melakukan dengan baik! bagaimana? ini semuanya juga demi dirimu dan anggap saja ini demi baktimu pada Papa mu yang sudah membesarkan dan menyayangi mu dengan cara menjaga aset kekayaan miliknya!" kata Johan


"Apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Sesil


"Tolak ajakan Levin menikah sampai dia menyatakan cintanya padamu!! Lakukan apapun, asal jangan membuat Levin curiga!"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2