
Hari-hari berlalu begitu saja, namun tak ada hal yang dilakukan oleh Papa Sesil dan juga Sesil, batas waktu yang di berikan pada Raka pun seakan di abaikan oleh pak Hadi, rupanya pak Hadi memang sengaja melakukan nya, agar pembangunan proyek yang di lakukan Raka semakin banyak mengalami kerugian bila terus di jalankan, sayang nya Raka tak menyadari nya, apalagi selama hampir dua minggu ini pak Hadi ada di luar negri,pun dengan Sesil yang tak nampak batang hidungnya di kampus.
Leo merasa senang dengan keadaan itu, namun teman-temannya tetap memperingatkan Leo agar tetap waspada, Ayana mungkin aman dari Sesil sekarang karena Sesil tidak ada di kampus, menurut kabar yang didapatnya dari Raka,. Sesil dan Pak Hadi sedang berada di luar negeri entah apa yang mereka lakukan, Levin yang terus mengamati keberadaan Sesil lewat anak buahnya ternyata mendapati Sesil yang pergi ke luar negeri menyusul sang Papa beberapa hari yang lalu, karena itu Levin membiarkannya saja.
Dan hari ini, Kay, Ayana, Ela serta empat sekawan berkumpul di Markas, para wanita berkutak di dapur rumah utama, karena hari ini Ela libur maka dia bertugas mengajari Kay memasak, mereka heboh di dapur berempat dengan Vita, karena kebetulan Ray, May dan Abhi mengunjungi salah satu teman May dan Nay keluar kota karena di rawat di salah satu rumah sakit disana, dan Abhi memutuskan untuk ikut orangtuanya.
Kehebohan juga terjadi di Markas, di mana empat sekawan sedang menjaga Shasha. Karena seringnya mereka bermain dengan Shasha, Leo, Fabri dan Boy sampai hafal dengan semua kebiasaan Shasha.
"Eh Bri!! ngapain ini Shasha?" tanya Boy keheranan melihat Shasha mengeliat ke kanan dan kiri.
"Mana?" tanya Fabri sambil berjalan ke arah Boy yang menemani Shasha sedari tadi.
Sedangkan Leo sedang membuat kopi di dapur kecil di dalam markas.
"Tuhh lihat muka nya sampai merah gini!" kata Boy
" Biasanya kalau tidak pup dia.....!"
Duuut........
Suara kentut dari bayi mungil itu, membuat Boy kaget lalu memandang Fabri sekilas, kemudian mereka tertawa bersama.
"Gila ya Bri, gak ada jaim-jaim nya jadi cewek!!" ? gerutu Fabri.
__ADS_1
Lee dari meja nya hanya bisa tersenyum melihat anaknya terkesan menjahili dua orang lelaki tersebut.
"Eh Shasha cantik, kalau sudah besar jangan jadi cewek bar-bar kayak Papa kamu ya, harus jadi anak baik kayak Daddy!" ucap Fabri dengan pedenya.
"Jangan ajari anak gue yang gak- gak Bri!!" saut Lee sambil mengambil Shasha dari tangan Lee.
"Ayo makan dulu, mereka pasti sudah selesai"
akhirnya Lee, Boy, dan Fabri serta Leo makan di rumah utama dan benar saja wanita sudah menyiapkan makanannya di meja. mereka mulai makan bersama, Shasha di serah pada baby sitter yang membantu Vita menjaga bayi nya, Lee tak mau Vita kelelahan. Vita memang memilih untuk mengikuti jejak sang mama mertua, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya untuk Shasha dan juga suaminya Lee.
"La...aku dengar kamu di rekomendasikan jadi chef ya?" tanya Ayana, dia benar-benar suka dengan masakan Ela.
"Iya...aku senang banget, kapan kita hang out bareng ya, itung-itung syukuran" kata Ela yang terlihat berbinar.
saut Vita dan di iya kan oleh yang lain, sedangkan para lelaki hanya diam saja tanpa menanggapi percakapan mereka.
"Eh Ay...kapan kalian menikah?" tanya Vita.
"Rencana kita mau tunangan dulu, setelah lulus kuliah dan Leo bekerja meneruskan perusahaan Om Raka baru kita rencanakan pernikahan" jawab Ayana
"Hemmm gitu, gak kelamaan Ay? ntar Leo gak kuat lho!" goda Vita pada Ayana.
"Tenang Vit, gue selalu punya cara buat diri gue puas!" kali ini Leo yang menjawab dan tentu saja Vita hanya mencebikkan bibir nya, sedangkan Ayana sudah nampak merona karena malu.
__ADS_1
"Dan kamu El?" tanya nya ke Ela
"Aku?......aku masih lama, aku masih ingin bekerja terlebih dahulu...aku ingin menjadi seorang chef, sebelum pensiun dan menjadi ibu rumah tangga" jawab Ela.
"Lagian aku merasa masih belum mampu untuk berkomitmen dalam pernikahan, aku masih terlalu kecil" lanjut Ela di akhiri dengan tawa kecilnya.
"Hello....apa kabar gue El, kita kan seumuran! malah gue udah buncit duluan!" saut Kay.
"Masih tuaan kamu kali Kay... kita beda 6 bulan hehehehe"
obrolan mereka mengalir begitu saja, hingga pada akhirnya Ayana harus pamit pulang terlebih dahulu karena ada keperluan dengan Sari temannya yang baru saja menelpon nya, Leo mau mengantarkan Ayana namun diurungkannya,karena Leo ditelepon sama Papa untuk segera pulang ke rumah,Leo memesankan Ayana taksi online untuk menemui Sari dan bagi Ayana tidak masalah karena memang perjalanan mereka berbeda arah, sedangkan Ella dan Fabri masih berada di situ, Kay dan Boy pun pamit pulang mengikuti jejak Leo.
"Terimakasih pak" ucap Ayana ketika turun dari taksi online nya.
Dari kejauhan nampak Sari sedang menunggu Ayana, namun Ayana bingung mengapa Sari mengajak dia bertemu di tempat yang nampak sepi.
"Sari....kok ketemuan di sini?" tanya Ayana dengan lembut.
"Hiks....hiks....hiks..... Ayana...maafkan aku!! adikku hiks ......dalam..hiks....bahaya!" ucap Sari sambil terisak.
"Apa maksud kamu Sari? trus adik kamu mana?" tanya Ayana cemas, belum juga Ayana mendapatkan jawaban dari Sari, terdengar suara seseorang dari arah belakang nya.
"Hallo Ayana........!!"
__ADS_1
bersambung...