
Setelah Ayana membuka pintu rumahnya,Leo terlihat berbinar, Leo tak menyangka dia bisa bertemu dengan kekasihnya juga, setelah sekian lama memendam rindu pada kekasihnya itu.
"Oh Sh*it Ay!!...aku rindu banget!!"
Ucap Leo sambil mendorong Ayana masuk ke rumah, bahkan Leo tak menghiraukan asistennya yang masih berada di luar rumah, Leo benar-benar menuntaskan kerinduan nya pada Ayana, Lumataaan demi Lumataaan di lancarkan Leo membuat Ayana kewalahan dengan aksi Leo, seperti biasa si pemaksa itu terus saja mencurahkan rasa rindunya dengan cumbuan-cumbuannya.
"Leo!" pekik Ayana dengan nafas tersengal-sengal, setelah Leo melepaskan ciumannya.
"Aku rindu Ayyy......" rengek Leo sambil memangku Ayana dan duduk di kursi ruang tamu.
"Lepas Leo, ada nenek" ucap Ayana tenang, namun dengan penuh kelembutan.
"Pindah kamar yuk...biar aman dari nenek" kata Leo asal.
"Leo!!! dasar nakal!" ucap Ayana sambil berdiri dari pangkuannya Leo,
Leo hanya bercanda, dia cukup dengan melampiaskan kerinduan nya dengan menciumi bibir dan bahkan seluruh wajah Ayana, Leo sangat tau, Ayana begitu ingin membentengi dirinya, namun si pemaksa itu acap kali menang dengan keinginan nya, walaupun dia hanya mencumbui sang kekasih tanpa melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Leo masih menghormati keinginan sang kekasih.
Beberapa saat kemudian neneknya terbangun, Ayana mengenalkan Leo pada sang nenek, dan setelah melalui beberapa percakapan, Leo di ijinkan tinggal di sini selama satu minggu bersama asisten nya, dan menempati rumah kecil yang ada di samping rumah utama, tentu saja setelah mendapat ijin juga dari pengurus kampung.
Meninggalkan Leo yang sedang berbunga-bunga, Lee dengan sangat muka pucatnya kembali berlari ke kamar mandi yang ada di area dapur.
hoeekk....hoekkkk.....
Lee mengeluarkan semua isi perut nya, dia benar-benar tak habis pikir, kenapa malah dia yang akhir-akhir ini mengalami mual dan muntah di pagi hari, pagi ini pun sama, ketika sedang asyik sarapan, tiba-tiba bau telur dadar keinginan Vita membuat Lee mual, dia segera berlari ke arah kamar mandi terdekat.
__ADS_1
"Mas....masih mual?" tanya Vita yang terlihat cemas pada suaminya.
"sedikit sayang ....lemes banget!" jawab Lee
"Sebaiknya kamu libur Lee, bawakan dia teh jahe" ujar Ray,
Dia juga tak tega melihat Lee tersiksa seperti itu, Pasalnya Ray tak pernah pas pengawasan terhadap Lee, sejak kecil Lee lebih dekat dengan nya dari pada sang Mama. Namun akhir-akhir ini kesehatan Lee sedikit terganggu, hal itu juga tak lepas dari pengawasan Ray.
"papa akan meminta om Kevin dan Fabri menangani pekerjaan mu dulu Lee" kata Ray
"Jangan pa, kasihan Fabri,nanti kalau udah enakan aku akan ke kantor, lagian aku juga ada kelas siang pa" kata Lee.
belum juga Ray membuka suara, Lee sudah berlari lagi ke kamar mandi, sekali lagi dia memuntahkan isi perutnya.Lee akhirnya benar-benar lemas, dia di papah masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Sayang .. jangan siksa Papa mu" ucap Vita. berbicara dengan mengelus pipi Lee yang sedang terbaring di ranjang bergantian dengan mengelus perutnya, seakan berbicara pada sang calon anak.Vita memang mengalami mual dan muntah yang sering, namun dia lebih banyak menginginkan makanan atau melakukan sesuatu yang membuat hatinya senang, seperti menjadikan Leo bahan praktek, mulai dari mendandaninya, meminta Leo nge-dance ala Korea dan masih banyak lagi sesuatu yang membuat Leo acap kali geram.
"Aku telpon Fabri ya? biar dia handle pekerjaan kantor'" punya Vita, karena sudah tak ada lagi tenaga, Lee hanya bisa mengangguk pasrah.
Di ruang makan, Ray menyelesaikan sarapannya,dan hendak berpamitan dengan sang istri.
"May ....apa Lee baik-baik saja? sepertinya dulu aku tidak seperti itu saat kamu hamil sayang?" kata Ray sambil berjalan beriringan menuju ke luar rumah.
"Itu kehamilan simpatik mas,kehamilan yang mual dan muntah nya dialami oleh sang suami,itu sudah biasa terjadi, beberapa hari lagi mungkin akan segera mereda Karena setelah dihitung-hitung sepertinya Vita sudah menginjak trimester ke-2, artinya kandungan sudah berada di bulan ke 4 dan aku yakin, mual muntah nya segera berakhir!" kata May yang akhirnya bergelayut manja di lengan sang suami, sedang kan Abhi sudah berpamitan terlebih dahulu di antar oleh sopir pribadi mereka.
"Aku jadi malas kerja kalau kamu bergelayut manja gini" bisik Ray di telinga Maysha.
__ADS_1
"Iihh apaan sih mas! ingat umur" kata May
"Semakin berumur semakin mantap sayang!" balas Ray kembali berbisik, sungguh Ray masih ingin terlihat berwibawa di depan sopir nya.
"Kalau gitu aku mau 3 ronde malam ini" kata May berbisik manja.
"Oh Shi*t!!! Sandy!Tutup matamu !!!" ucap Ray dengan tegasnya, seketika Sandy, sopir yang selama ini menggantikan Raka,segera berbalik badan dan menutup matanya.
"Ray...kau hmmmfff"
Belum juga May melayangkan protes, Ray sudah melumaaat bibir seksi sang istri, Ray bahkan menarik pinggang wanita itu dan menahan tengkuk nya agar lebih leluasa melakukan lumataaan nya di bibirnya May. May lebih sering menggoda Ray bila di dalam kamar, dan si Everest yang sudah mencair itu selalu merasa panas dengan bisikan manja May, dan bodoh nya May lupa mereka sedang ada di teras rumah tersebut.
"Papa! bisakah Papa tidak mengotori mata suciku??" ucap Boy yang baru saja datang, Boy dengan tenang menatap Ray sambil menikmati drama live di depan matanya.
"Ray!" pekik May yang akhirnya bisa lepas dari jeratan si gunung Everest itu.
"Kau masih suci Boy?" kata Ray sambil berlalu menuju mobil nya.
"Tidak di ragukan pa!" ucap Boy dengan berlagak bangga.
"Baiklah! besok papa harus bertemu dengan Papa Johan, seperti nya akan sangat menyenangkan bila Johan tau ada pencuri masuk ke kamar putri nya!" kata Ray membuka pintu.
"Papa.....apa perlu Boy ikut Papa? aku bisa membantu Papa di kantor, atau aku bisa membocorkan rahasia perusahaan Daddy pada Papa!" kata Boy dengan antusias, bisa berabe kalau Papa singa sampai tahu anaknya bukan gadis lagi.
pletaakk!!! pukulan mendarat di kepala belakang Boy
__ADS_1
"Dasar anak durhaka!!! berani kamu menghianati Daddy mu!!"
bersambung