
Keesokan harinya
Saat mau berangkat kerja, Bima melihat ibu kost, bapak kost dan Lina sudah berdandan rapi membawa koper sedang menunggu GoCar.
"Mau kemana buk?" tanya Bima heran karena saat itu masih jam 6 kurang 20 menit.
"Ke Jogjakarta, nemuin orang tua kamu biar masalahnya cepet clear." jawab Ibu kost.
"Buru buru banget." ucap Bima kaget.
"Enggak papa, ini juga demi kebaikan Lina." ucap ibu kost.
"Ya udah, semoga sampai dengan selamat, nanti kalau udah sampai kabarin ya buk. Bima mau kerja dulu." ucap Bima.
"Iya hati hati di jalan ya." ucap ibu kost.
Bima masuk kedalam mobilnya lalu melaju ke arah rumah Albert. Sesampainya di rumah Albert, Bima pergi ke kamar mandi untuk kencing.
"Mas Bima tumben pagi banget datengnya." ucap bi Narti heran.
"Pak bos yang suruh bi, katanya berangkat pagian sampe belum sarapan tadi." jawab Bima memberi kode.
"Ahh alasan! bilang aja pingin sarapan di sini! bentar bibi masakin dulu." ucap bi Narti.
"Hahaha...bi Narti tau aja!" ucap Bima tertawa geli.
"Sana tunggu di luar, nanti kalau sudah matang bibi panggil." ucap bi Narti.
"Okey!" ucap Bima pergi.
Bima duduk di depan pos sambil rokokan menghirup udara segar pagi hari. Tak berselang lama bi Narti memanggil Bima untuk sarapan. Bima yang sudah kelaparan langsung berlari ke dapur untuk makan.
Setelah sarapan Bima duduk di depan pos bengong sambil menunggu Albert mengajak berangkat. Jam 7 pas Albert keluar dari rumah dan mengajak Bima berangkat ke kantor.
"Tumben bos berangkat jam segini?" tanya Bima heran.
"Banyak kerjaan di kantor." jawab Albert.
"Ohh gitu." ucap Bima.
20 kemudian mereka sampai di kantor, Bima menyusul ke atas setelah memarkirkan mobilnya. Sesampainya di ruangannya, Bima kaget melihat banyak berkas yang harus dia selesaikan.
Bima duduk fokus mengerjakan berkas-berkas yang menjadi tanggung jawabnya itu.
"Serius amat bim, santai aja napa, itu berkas buat Client perusahaan cabang kok. Gak terlalu buru buru, santai aja." ucap Mike ketika melihat Bima yang bekerja sangat serius.
"Sekali kali serius lah." ucap Bima masih fokus mengerjakan berkas.
"Hahaha..." Mike hanya tertawa geli melihat wajah Bima yang terlihat setress.
Sampai makan siang, berkas yang ada di meja Bima hanya bisa di selesaikan setengah saja. Akhirnya Bima di ajak Albert untuk makan siang sebentar sekaligus meriset otak yang sudah penuh dengan makan.
Mereka bertiga pergi ke restoran yang dekat kantor saja karena takut kejadian kemarin terjadi lagi dan lagi. Saat istirahat makan siang, ayah Bima menelepon mengabarkan bahwa Lina dan keluarga sudah sampai.
__ADS_1
"Halo bim, ini Lina udah sampai, dia gak bisa ngabarin kamu soalnya ponselnya mati habis baterai." ucap Aryo.
"Cepet banget! naik apa mereka?!" tanya Bima kaget.
"Naik kereta, tadi juga langsung kesini naik GoCar." jawab Aryo.
"Ohh ya udah kalau gitu, uangnya dah masuk kan?" tanya Bima.
"Kenapa kamu kirim sebanyak itu? kamu di sana makan apa?" tanya Aryo kaget karena tadi ketika mengecek ATM saldo menunjukan 50 juta baru di transfer dar rekening Bima.
"Bos Bima kaya pak, jadi kalau soal makanan gampang." jawab Bima.
"Ya udah kalau gitu, semangat kerjanya, nanti biar bapak rembuk sama keluarga lainnya. Orang tua Lina juga dateng soalnya." ucap Aryo.
"Iya iya, di tunggu kabarnya." ucap Bima menutup telepon lalu kembali ke dalam restoran untuk lanjut makan.
"Siapa yang telpon?" tanya Albert.
"Bapak." jawab Bima dengan mulut penuh.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor dan lanjut bekerja. Di tengah kesibukannya, ponsel Bima kembali berdering dan memunculkan nama Draco koclok.
"Halo, gimana?" tanya Bima.
"Info bos, orang kemarin itu benar suruhan orang itu untuk membunuhmu, kami sedang berusaha menangkap orangnya sebelum dia bertindak lebih nekat lagi. Dan lagi surat yang waktu itu kau kirimkan bukan orang itu yang menulis, tapi kakak dari kekek bosmu yang masih hidup sekarang." jawab Draco.
"Lalu?" tanya Bima menghentikan aktivitasnya.
"Orang ini lebih nekat dari paman bosmu, dia sudah mengirimkan banyak mata mata untuk mengawasi bosmu dan kau sendiri. Kita akan berusaha mengurusnya secepatnya." ucap Draco.
"Siap bos!" jawab Draco.
Bima menutup telepon lalu menatap Albert yang sedang memperhatikannya.
"Dua musuh sedang mengintai mu dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi istri dan anakmu. Apa yang mau bos lakukan?" tanya Bima.
"Siapa saja?" tanya Albert mengerutkan alisnya.
"Pamanmu dan kakak dari kakekmu, keduanya mengincar saham perusahaan ini dan tubuh istri serta anakmu. Aku yakin tidak hanya mereka berdua saja yang mengincar itu." jawab Bima.
"Arghhh......pusing saya bim!" teriak Albert mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kita tunggu saja pergerakan merak berdua, kalau berani main fisik, biar aku yang maju, akan ku bunuh mereka dan kirim kepalanya ke keluarga besarmu. Jika masih ada yang nekat ya sudah tamat, akan aku hancurkan sekalian keluarga mu yang punya niat buruk." ucap Bima.
"Aturlah sesukamu, yang penting keluargaku aman dari ancaman orang-orang serakah itu." ucap Albert akhirnya menyerah juga.
"Nahhh! kenapa tidak dari kemarin!" ucap Bima semangat.
Bima bekerja lebih semangat hingga semua berkas tanggung jawabnya selesai sebelum jam pulang. Hingga membuat Bima bisa sedikit santai sebelum pulang, Bima login ke dalam game untuk me rileks kan otaknya yang kaku.
Satu game sudah cukup untuk refreshing otak, setelah itu baru Albert mengajak pulang karena sudah tidak ada lagi yang harus di kerjakan.
Mereka pulang ke rumah dengan santai, sesampainya di rumah Albert langsung masuk ke dalam rumah dan Bima langsung pergi kembali ke kostan.
__ADS_1
Sesampainya di kost, Bima langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil scroll igig menunggu kabar ayahnya.
Karena kelelahan, Bima pun ketiduran sampai jam 8 malam, dia terbangun karena ketokan pintu kamarnya dan panggilan dari Tigor.
"Kenapa bang?" tanya Bima mengucek matanya yang masih pedes.
"Kau mau nongkrong enggak? mumpung lagi pada ngumpul." tanya Tigor.
"Enggak dulu lah bang, capek banget." jawab Bima merasa badannya pegal semua.
"Ohh ya udah, maaf ya ganggu istirahat kau." ucap Tigor.
"Iya gak papa." jawab Bima menutup pintu setelah Tigor pergi.
Bima kembali merebahkan tubuhnya dan kembali tertidur karena rasa kantuk yang teramat.
Keesokan harinya
Bima bangun jam 4 pagi karena ponselnya terus berdering tanpa henti.
"Hemphh...halo, siapa?" tanya Bima masih merem.
"Ini Lina mas, maaf ya ganggu pagi pagi buta." jawab dari sebrang.
"Iya, kenapa mbak?" tanya Bima mengucek matanya melihat jam dinding.
"Hari ini mas libur enggak?" tanya Lina balik.
"Sekarang hari apa sih?" tanya Bima balik.
"Jumat mas." jawab Lina.
"Kerja, kenapa?" tanya Bima.
(Sabtu minggu kantor libur, jadi Bima bisa leluasa istirahat dalam dua hari itu)
"Mas di suruh orang tua mas ke Jogja secepatnya, bisa enggak?" tanya Lina.
"Bisa, nanti malem otw." jawab Bima.
"Di tunggu ya, bye." ucap Lina menutup telepon.
Bima duduk mengumpulkan nyawa dengan cara bengong sampai setengah jam. Setelah terkumpul, Bima membuka kaosnya untuk melihat tatonya, karena sudah kering Bima pun memutuskan untuk mandi supaya bakteri di kulitnya hilang.
Setelah mandi, Bima pergi olahraga sekalian menaikan tingkat bela diri nya sesuai suruhan ayahnya. Pertama tama Bima melakukan peregangan terlebih dahulu di parkiran kost.
Setelah di rasa cukup, Bima lanjut push-up, sit up dan sebagainya sebelum melakukan joging pagi. Setelah joging, Bima lanjut berlatih bela diri, dari muaythai, karate, taekwondo, silat, tinju,bahkan capoeira juga Bima kuasai.
Tak lupa dia juga melatih penggunaan sajam yang dia kuasai sebelumnya, kunai, pedang, tombak, tongkat, dan masih banyak lagi. Setelah di rasa cukup, Bima pergi ke halaman belakang untuk melakukan semedi guna menaikan tingkat bela diri nya ke tingkat Grand master.
Pukul 7 pagi Bima membuka matanya sambil tersenyum puas karena berhasil naik tingkat ke Grandmaster tanpa hambatan. Setelah itu Bima mandi lagi karena tubuhnya terasa lengket.
Setelah mandi Bima pergi ke rumah Albert untuk bekerja. Hari itu Bima fokus bekerja karena pekerjaan banyak dan harus selesai hari itu juga. Sorenya setelah pulang dari rumah Albert, Bima langsung mandi dan ganti baju.
__ADS_1
Bima makan malam dulu sebelum pergi ke Jogja, setelah makan malam, Bima langsung berangkat ke terminal dan berangkat ke Jogja malam itu juga.
Bersambung....