Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 4: Mulai bekerja


__ADS_3

Hari pertama bekerja pun datang


Bima sampai di rumah Albert pukul 07.00 karena jam kerjanya mengantar Albert ke kantor pukul 08.30. Bima ngobrol dengan Cokro sambil menunggu Albert siap berangkat.


"Pak Cokro udah berapa lama kerja di sini?" tanya Bima.


"Baru 3 tahun mas, nyaman gak nyaman di sini hehe..." jawab Cokro.


"Lumayan lah ya." ucap Bima.


Tak lama Albert keluar dari rumah dan memberi kode pada Bima untuk berangkat.


"Saya berangkat dulu pak." ucap Bima beranjak menuju mobil.


Bima melajukan mobilnya ke kantor milik Albert sesuai map karena Bima belum tau jalan. 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di gedung pencakar langit bertuliskan Corporate Group.


"Saya ikut masuk atau tunggu di sini bos?" tanya Bima setelah memarkirkan mobilnya.


"Ikut masuk, kamu asisten pribadi ku jadi tidak boleh jauh dari ku." jawab Albert.


"Baik bos." jawab Bima.


Bima berjalan di belakang Albert berpakaian serba hitam seperti bodyguard. Mereka naik ke lift menuju ruangan Albert yang berada di lantai 14.


"Kenapa selalu telat sih!" ucap seorang pria muda tampan saat lift terbuka.


"Aku bosnya." jawab Albert.


"Sialan kau!" ucap pria bernama Mike itu.


"Dia asisten pribadi ku, namanya Bima, Bima ini asisten kantor ku, namanya Mike." ucap Albert duduk di kursinya.


"Salam kenal pak Mike." ucap Bima mengulurkan tangan.


"Salam kenal pak Bima, mohon kerja samanya." ucap Mike menjabat tangan Bima.


"Mana berkas yang harus aku cek?" tanya Albert.


Mike keluar ruangan Albert untuk mengambil berkas-berkas di ruangannya.


(Di lantai ini terdapat kubikel kubikel karyawan yang bekerja di bagian penting yang harus di awasi langsung oleh Albert dan Mike)


"Bos, menurutmu aku keren tidak?" tanya Bima absurd sambil berkaca.


"Kamu sudah keren, tapi lebih keren lagi tatomu di perlihatkan. Linting saja jasmu supaya tatomu terlihat." jawab Albert walaupun pertanyaan Bima sangat tidak penting.


"Aku harus apa di sini bos?" tanya Bima.


"Duduk diam di situ, nanti kalau aku butuhkan baru kamu bergerak." jawab Albert.


"Dari pada begitu lebih baik aku keluar jalan jalan mencari jodoh! haihh membosankan sekali, mana tidak ada TV lagi!" ucap Bima mengeluh.


"Kamu pergi keluar saja, nanti kalau aku butuh aku telepon." ucap Albert.


"Yakin? gajiku tidak di potong?" tanya Bima.


"Tidak, sudah sana keluar kau berisik sekali!" jawab Albert.


"Permisi bos!" ucap Bima keluar ruangan dan berpapasan dengan Mike.


"Pak Bima mau kemana?" tanya Mike.


"Jalan jalan cari LC hahaha...." jawab Bima tertawa geli.


"Hahaha...pak Bima bisa saja!" ucap Mike ikut tertawa.


"Saya mau ngopi dulu, dari tadi pagi belum ngopi." ucap Bima.


"Ohh di depan kantor ada coffee shop, di sana biasanya saya ngopi, bagus kualitasnya di sana." ucap Mike.


"Saya mau coba, kalau begitu saya pamit pak, permisi." ucap Bima.


"Iya..." jawab Mike.


Bima turun ke lantai dasar menggunakan lift, lalu pergi ke mobilnya. Bima mengecek apakah ada GPS di mobil itu, setelah di cek ternyata tidak ada GPS di sana.


Akhirnya Bima bisa jalan ke mana pun dia mau tanpa di ketahui Albert. Bima pergi ke lokasi geng Blood Moon yang sudah dia cari tahu semalam. Sesampainya di lokasi, Bima memarkirkan mobilnya di dekat gerbang markas dan masuk dengan jalan kaki.


"Ada keperluan apa kau?" tanya penjaga gerbang.


"Aku baca brosur di internet kalau di sini menyelenggarakan sayembara, apa benar?" tanya Kevin balik.


"Iya benar, lantas maumu apa?" tanya Penjaga.

__ADS_1


"Aku mau ikutlah bodoh!" jawab Bima.


"Ayo masuk!" ucap penjaga membuka pintu masuk kecil.


Bima mengikuti penjaga gerbang menuju arena yang ada di tengah-tengah halaman depan. Penjaga itu menyuruh Bima menunggu di sana, sedangkan dirinya pergi menemui ketua untuk memberitahu ada penantang.


Tak lama dua orang pria tinggi besar kekar dan sangar datang bersama penjaga tadi menemui Bima.


"Kau yang menantang?" tanya pria bernama Tiger.


"Iya." jawab Bima singkat.


"Baru kau yang berani mengikuti sayembara ini, sudah siap mati ternyata." ucap Tiger.


"Ah banyak omong! kau berani tidak bang*at!" ucap Bima kesal kalau soal bertarung harus banyak omong.


"Ayo cepat mulai!" ucap Tiger pada pria di sampingnya bernama Draco.


Mereka berdua naik ke atas arena dengan jurinya adalah Draco.


"Fight!" teriak Draco.


Bima tanpa babibu langsung berlari menyerang Tiger dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Kecepatannya tidak bisa diimbangi oleh Tiger, belum lagi kekuatan pukulan dan tendangannya yang bahkan lebih kuat dari ketua sebelumnya yang sudah pensiun.


"Ayo mana kekuatanmu?!" teriak Bima terus menyerang titik vital Tiger.


Tiger yang tidak bisa berbuat banyak hanya bisa bertahan menunggu blunder fatal Bima.


Buaghh..


Buaghh..


Bruakkk..


Namun itulah kesalahan Tiger, karena Bima dengan mudah memikirkan combo yang tepat untuk meng-KO Tiger. Bima memukul wajah Tiger dua kali lalu menendangnya dengan keras hingga terpental jauh keluar arena dan menabrak pagar kayu hingga hancur.


"Pemenangnya Bima!" teriak Draco berlari menolong Tiger yang berkali-kali muntah darah.


"Maaf aku terlalu keras." ucap Bima menghampiri Tiger.


"Tak apa, memang aku yang terlalu lemah, aku berikan tahta ku padamu ketua." ucap Tiger membungkuk.


"Ketua." ucap Draco ikut membungkuk.


"Kau kerja bos?" tanya Draco bingung.


"Iya! aku masuk gengster supaya dapat backup besar, makanya aku ke sini, mau ambil alih gengster kecil tanggung jadi lebih baik langsung ke puncak saja, hitung hitung ukur batasan tubuh." jawab Bima.


"Memangnya tidak papa bertato? soalnya syarat wajib jadi ketua di sini harus di tato khusus." tanya Draco.


"Tidak papa, bosku juga bertato kok." jawab Bima.


"Mari." ajak Draco.


Mereka bertiga berjalan ke sebuah bangunan khusus untuk upacara geng, di sana tempat sakral dan tidak sembarangan orang boleh masuk. Bima melakukan upacara penobatan sebagai Ketua geng Blood Moon baru menggantikan Tiger.


Setelah upacara, Bima masuk ke ruang tato untuk syarat utama.



Bima di tato punggungnya yang masih polos, proses ini memakan waktu sampai jam makan siang. Dan kebetulan Albert menelepon untuk di jemput.


"Otw bos!" ucap Bima menutup telepon.


"Sudah selesai bos." ucap Bima.


"Wahh pas!" ucap Bima.


Setelah si lapisi plastik warp Bima memakai bajunya kembali dan pergi menuju kantor untuk menjemput Albert.


Tak sampai 20 menit, Bima sampai di depan kantor, Albert dan Mike masuk ke dalam mobil.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Albert.


"Belum bos." jawab Bima.


"Kita ke restoran mawar merah." ucap Albert.


"Baik." jawab Bima.


Bima mengetik di ponselnya restoran mawar merah sambil menyetir, setelah ketemu dia ikuti rutenya.


"Darimana dari tadi?" tanya Albert.

__ADS_1


"Tato punggung bos." jawab Bima.


"Cepat sekali, tato di mana?" tanya Albert heran.


"Dekat sini kok bos, lagian tidak rumit kok tato nya." jawab Bima bohong padahal tato nya sangat rumit dan banyak detail.


Sesampainya di restoran mawar merah, mereka langsung masuk ke dalam untuk makan siang. Setelah makan siang mereka kembali ke kantor untuk lanjut bekerja, Bima juga di beri tugas sedikit sedikit mengurus berkas laporan dari karyawan.


"Kalau gini mending jadi karyawan sekalian!" gumam Bima kesal.


Jam pulang pun datang, Bima mengantarkan Albert ke rumahnya lalu langsung pamit kembali ke kost untuk istirahat.


Saat sedang enak enak bersantai sambil merokok, ponselnya berbunyi dan memunculkan nama Draco. Bima mengangkatnya dan mendengarkan penjelasan Draco tentang Geng Blood Moon.


Geng Blood Moon ini beranggotakan sepuluh ribu orang di Jakarta, di kota lain masih banyak lagi, totalnya sekitar seratus ribu orang yang tersebar ke seluruh negeri. Blood Moon ini gengster nomor satu di Indonesia, di susul Black Rose di nomor dua dan Black Dragon di nomor tiga.


Bisnis Blood Moon sendiri ada banyak, dari restoran, Hotel, Apartemen, Mall, tempat Judi, jual beli Senjata, Club, jasa pengawalan, jasa pembunuh bayaran, jasa pengintai, dan berbagai perusahaan yang bergerak di semua bidang.


Semua bisnis itu di atas namakan Bima, kini ATM Bima berisi ratusan miliar bahkan triliunan hasil bisnis geng Blood Moon yang sangat banyak itu.


Masih banyak lagi yang di jelaskan Draco tentang Blood Moon, tapi yang Bima paham hanya penjelasan di atas, sisanya dia tidak paham. Setelah selesai telponan dengan Draco yang dia jadikan asisten bersama Tiger untuk mengurus geng, Bima pergi ke dapur untuk membuat kopi.


Di dapur Bima bertemu Lina yang sedang melamun sambil menangis.


"Mbak Lina kenapa? kok nangis?" tanya Bima sembari menunggu air yang dia masak.


"Ah enggak kok, enggak papa." jawab Lina dengan suara bindeng.


"Yang bener? gak papa kok nangis?" tanya Bima lagi.


"Iya enggak papa kok bang serius." jawab Lina tersenyum paksa.


"Ah boong ah, gak mungkin! gak papa kok nanges!" ucap Bima.


Benar saja, Lina malah menangis keras karena sudah tidak bisa menahan lagi.


"Tuhh nanges! ahh bohong!" ucap Bima menuang air panas ke gelas berisi bubuk kopi.


"Anj*ng panas!" gumam Bima menggosok bibirnya yang mau mencoba rasa kopinya.


"Ahh abang jangan buat ketawa! gak enak nangis sambil ketawa!!!" ucap Lina kesal.


"Yeee siapa yang ngelawak mbak! ini panas banget!" ucap Bima masih menggosok bibirnya.


"Ya panas lah! orang air baru mendidih maen seruput aja!" ucap Lina menghapus air matanya.


"Mbak Lina kenapa sih? gak kayak biasanya. Coba cerita." tanya Bima.


"Abang jangan bilang siapa siapa ya, janji." ucap Lina duduk di samping Bima.


"Iya, kenapa?" tanya Bima.


"Aku hamil, pacarku ngilang gitu aja habis aku kabarin. Itu bikin mental aku drop dan stress, gimana cara ngomong sama budhe kalau udah begini. Memang semua ini salah aku, kenapa dengan gampangnya aku ngasih mahkota ku demi janji yang belum pasti." ucap Lina lirih.


'Waduhhh berat pren!' batin Bima.


"Mbak Lina tinggal cari cowok lain, dengan fisik kayak mbak, pasti gampang dapat cowok baru." ucap Bima.


"Gampang, memang gampang tapi apa mereka mau berhubungan sama wanita murahan kayak aku? mana mau bang!" ucap Lina.


"Cari dulu, siapa tau ada atau mbak bicarain baik baik sama ibu kost. Soalnya ini masalah berat mbak, gak bisa di pikir sendirian, nanti bisa stress." ucap Bima.


"Mana berani aku bilang sama budhe, dia udah biayain aku hidup di sini selama 3 tahun tapi aku malah berbuat kayak gini, bisa di usir aku bang." ucap Lina.


"Besok saya bantu ngomong deh mbak." ucap Bima.


"Beneran ya?!" ucap Lina.


"Iya beneran." jawab Bima.


Lina pun pergi ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan Bima pergi ke gazebo depan parkiran menemui Tigor dan Rizal orang yang nempatin kamar nomor 6.


"Lama amat sih bim, buat kopi aja setengah jam." ucap Rizal.


"Berak dulu tadi." ucap Bima tertawa kecil.


"Ya elahh..." ucap Rizal.


Mereka ngobrol di gazebo itu, curhat masalah kuliah Rizal, curhat soal kerjaan dan masalah percintaan.


Jam 1 mereka kembali ke kamar masing-masing karena besok masih harus kerja.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2