Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 (Empat Sekawan)


__ADS_3

"Kamu kemana saja!!! aku rindu!!!"


sebuah suara dan juga tangan kekar Fabri memeluk Ela dari belakang, Fabri menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ela, Ela tiba-tiba menegang, dia belum paham dan belum tahu bahwa orang yang sedang memeluknya dari belakang adalah Fabri, lelaki yang ditunggu-tunggu Ela, Fabri berjanji mengabari atau menelponnya namun Fabri tak kunjung menelepon. Ela masih mematung di tempatnya tanpa bisa menoleh ke arah seseorang yang sedang memeluk dia dari belakang, Ela tahu kalau Bu Desi mempunyai 2 orang anak, anak sulungnya adalah seorang anak laki-laki namun selama 2 bulan lebih kerja di sana, Ela tak pernah bertemu sekalipun dengan anak sulung Bu Desi bahkan foto keluarga di ruang keluarga pun sudah diturunkan sebelum dia bekerja di rumah tersebut.


"le...lepaskan tuan muda! apa yang tuan muda lakukan?"


kata Ela yang tak mau berbuat salah, dia tak mau di pecat dari pekerjaannya, di sini semua orang baik padanya, termasuk bi Surti, pembantu lama di sana, juga bi Ana, lagian Bu Desi pemilik rumah juga baik padanya. Fabri menyadari bahwa Ela tak mengenalinya, akhirnya dia melepaskan tangannya dari tubuh Ela, dia membalikkan tubuh Ela menghadap ke arahnya.


"Ela?"


panggil Fabri yang melihat Ela menunduk, Ela yang tak biasa di panggil dengan nama Ela merasa asing dengan itu, biasanya di panggil Lala. Akhirnya Ela memberanikan diri menatap sang tuan muda yang ada di hadapannya.


"Kak Fabri?" pekik Ela yang tau siapa yang ada di hadapannya,


Ela tak menyangka akan bertemu Fabri di rumah Bu Desi, hingga akhirnya Ela memikirkan apa hubungan Bu Desi dengan Fabri atau jangan-jangan Fabri adalah anak Bu Ela, Ela dengan lekat memandang wajah Fabri,namun wajah itu tak sama dengan Bu Desi karena memang Fabrii mewarisi ketampanan sama papa yaitu Kevin.


"Kamu apa kabar El?" tanya Fabri sambil menarik Ela agar duduk di kursi di depannya.


"maaf Kak aku tidak bisa mengabari kakak setelah 2 hari aku bekerja kembali di minimarket itu ternyata pengelolanya memecatku dan kebetulan aku bertemu dengan Bu Desi waktu itu dan dia menawariku untuk bekerja di rumah ini, karena aku butuh kerjaan akhirnya aku mau dan aku meninggalkan kosan, namun aku juga bingung kak, aku tidak bisa menghubungi kakak,aku pikir kakak pasti akan menghubungiku karena kakak tahu nomorku, tapi hingga satu bulan lebih kakak tidak pernah menghubungiku lagi karena itu aku tidak berharap kakak bisa menghubungiku" ucap Ela panjang lebar,


sedangkan Fabri hanya menikmati wajah gadis yang nyatanya memang sudah merasuk ke dalam hatinya, Fabri tak tahu harus bagaimana mengatakannya karena rasanya baru pertama kali dia jatuh cinta pada seorang gadis, dengan Sania pun Fabri tak pernah mendapatkan getaran cinta di hatinya juga debaran jantungnya seperti saat menatap Ela karena memang pada dasarnya Fabri menyayangi Sania sebagai saudaranya saja.


"Suapi aku!! aku laper!" kata Fabri dengan entengnya.


"Tapi kak......"

__ADS_1


"Gak ada tapi-tapian, ayo....aaaaa!"


Fabri bahkan sudah membuka mulutnya lebar agar Ella leluasa untuk menyuapinya, Fabri mengambil laptop yang ada di samping ranjangnya, dia kembali duduk di hadapan Ela sambil membuka laptopnya dan beberapa kali dia sudah membuka mulutnya agar Ella bisa menyuapinya dengan mulus.


Tak seperti Fabri yang sedang bahagia, Leo malah semakin terpuruk saat mendapati pesan dari Ayana, Ayana mengatakan bahwa dia masih lama di kota sang nenek, bahkan dia sudah mengajukan cuti satu semester selama tinggal di kota sang nenek, hanya Ayana yang neneknya punya saat ini, sedangkan di bawa ke Jakarta pun sang nenek tak bersedia, dia ingin berada di rumah kenangannya bersama kakek.


"Pi...... ayolah tolong Leo!!"


Kata Leo yang mengekor pada papi nya yang saat ini sibuk dengan pekerjaan nya, bahkan Leo sampai mendatangi sang papi di kantor nya.


"Apa yang kau inginkan Leo? papi jengah melihat mu membuntuti papi!!" kata Raka yang benar-benar jengah melihat tingkah anaknya.


"Pi.... berikan proyek di kota Semarang itu padaku!!" kata Leo, kota di mana Ayana tinggal bersama sang nenek.


"Hanya satu minggu kan? aku bisa urus itu Pi!! bilang sama Om Zen,biar aku saja yang menangani proyek tersebut" kata Leo


"Proyek itu bukan untuk main-main Leo!! apalagi sebagai kerja sampingan di balik kerja mu mengejar wanita mu itu" kata Raka yang tau persis apa yang sebenarnya di inginkan oleh Leo anaknya.


"Serius Pi, aku bakalan serius sama kerjaan aku!! mengejar Ayana kesana aku anggap bonus" kata Leo meyakinkan sang papi.


"Bonus?? yakin kamu?" Raka tersenyum tipis, dia meyakini bahwa alasan utama anaknya adalah gadis pujaan hatinya, proyek tersebut hanya di jadikan alasan Leo agar bisa mulus tinggal di sana.


"Itu papi tau!! dasar gak peka!!" kata Leo sambil memanyunkan bibirnya.


"Dasar bucin, nurun siapa sih kamu? perasaan papi yang di bucinin sama mami kamu, bukan papi yang bucin" kata Raka sedikit mengejek anaknya.

__ADS_1


"Cinta gak butuh siapa yang bucin duluan Pi! mau aku atau Ayana sama saja!" ucap Leo dengan ketus dan keluar dari ruangan papinya.


Ayana bukan gadis pertama yang berpacaran dengan Leo, Leo memang beberapa kali berpacaran,namun Ayana lah yang benar-benar membuat Leo gila memikirkan nya, diantara empat sekawan hanya Boy dan Lee yang tak tersentuh wanita, walaupun Lee memang di nyatakan banyak pacar nya, namun play boy abal-abal itu tak pernah sama sekali menganggap wanita yang mencintai nya sebagai pacar, para wanita itu yang mengklaim dirinya sebagai pacar Lee. hingga beredar kabar tentang banyak nya pacar Lee dan membuat dia menyandang predikat play boy. Sedangkan Boy? Kay yang menempel terus padanya,sudah bisa menjauhkan para gadis-gadis agar tidak mendekati nya sama sekali.


Pada akhirnya karena bujuk rayu Leo, Raka menugaskan satu anak buahnya bersama Leo menangani proyek tersebut,dan di sinilah Leo berada sekarang.


"Pagi Ay.....sayang" sapa Leo di depan rumah bermodel joglo dengan halaman yang cukup luas,dan di penuhi banyak sayuran.Leo yang sejak tadi mengetuk pintu rumah yang ditinggali kekasihnya sangat bahagia ketika melihat gadis yang di rindukan nya berada di hadapan nya.


"Leo?" ucap Ayana lirih,


Bahkan saat terkejut pun, Ayana terlihat lembut sekali, hal itu yang selalu membuat Leo suka pada Ayana, kelembutan Ayana.


"Dimana nenek?" tanya Leo langsung bahkan terlihat tak sabar.


"Sedang tidur" kata Ayana singkat heran, kenapa tiba-tiba dia tanya nenek nya. pasti ada udang di balik batu,pikir Ayana, dan benar saja,selang beberapa detik.....


"Oh Sh*it Ay!!...aku rindu banget!!"


Ucap Leo sambil mendorong Ayana masuk ke rumah, bahkan Leo tak menghiraukan asistennya yang masih berada di luar rumah, Leo benar-benar menuntaskan kerinduan nya pada Ayana, Lumataaan demi Lumataaan di lancarkan Leo membuat Ayana kewalahan dengan aksi Leo, seperti biasa si pemaksa itu terus saja mencurahkan rasa rindunya dengan cumbuan-cumbuannya.


"Leo!" pekik Ayana dengan nafas tersengal-sengal, setelah Leo melepaskan ciumannya.


"Aku rindu Ayyy......" rengek Leo sambil memangku Ayana dan duduk di kursi ruang tamu.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2