
Sesil menatap dan memantapkan hatinya, hanya harga diri yang dia punya dalam hidupnya, setelah sampai di tanah air 2 hari yang lalu, Sesil mencoba mengikuti Levin,dan benar saja Levin punya apartemen nya sendiri, karena itu hari ini Sesil nekat mengikuti Levin.
"perjanjian kita masih berlaku bukan Tuan?"
Ucap Sesil lagi ketika melihat tatapan benci dan tak suka dari Levin, Sesil pikir lebih baik menjadi budak Levin seumur hidupnya,namun dia tak mendapatkan penyiksaan seperti istri pemilik kedai itu, dan bahkan dia berada di negara yang masih menjunjung tinggi norma kemanusiaan,hingga dia yakin walaupun di jadikan budak Levin,namun Levin pasti tak akan melewati batas nya.
"Keluar dari apartemen ku!! aku sudah tak membutuhkan mu lagi!!"
ucap Levin sambil berlalu dari hadapan Sesil.
Sesil berlutut seketika, sungguh kakinya sudah gemetaran sejak pertama Levin menariknya ke dalam apartemen milik lelaki tersebut.
"Papaku sudah tiada!! seluruh peninggalan Papa di ambil alih oleh Vera, asisten Papa....Aku hidup layaknya gelanggang di negri orang, tidak.....tidakkah kau mau sedikit saja berbelas kasih padaku!!" kata Sesil dengan menjatuhkan harga diri nya, bahkan airmata sudah tak bisa lagi keluar, penderitaan yang dialami nya selama ini telah mengikis habis airmata nya.
Kehidupan megah dan mewah yang sebelumnya Papa nya berikan, benar-benar tak bisa membuat Sesil berdiri seorang diri, dia tak mampu melakukan nya, selama se tahun ini dia sudah berusaha sekeras mungkin.Levin terdiam,dia seakan memberikan Sesil kesempatan untuk bercerita.
"Aku hanya butuh makan dan tempat tinggal, A-aku berjanji akan setia menjadi budakmu....asal kau mau menerima ku!! ijinkan aku bekerja di sini....aku tidak butuh uang,.aku hanya butuh perlindungan,hanya itu!"
########
Di sebuah cafe di pusat kota
"Maksud Kakak?"
Tanya Leo tiba-tiba ketika mendengar beberapa hari yang lalu Sesil datang padanya dengan keadaan yang menyedihkan,.dia terlihat seperti seorang gembel dengan bekas luka kecil di beberapa bagian wajahnya, Levin bahkan bisa menebak bahwa tubuh gadis itu pasti sama saja nasibnya dengan wajahnya.
"Dia datang padaku! Meminta menjadi budak ku sesuai perjanjian yang aku buat 5 tahun yang lalu, dia akan menjadi budak ku kalau berani kembali ke sini lagi!"
kata Levin sambil membuang asap rokok dari mulut nya.
"Aku dan Ayana bahkan sudah melupakan semuanya Kak! Lagipula kedatangan Sesil atau wanita manapun tak akan mampu membuat kami terpisah!" kata Leo dengan percaya diri, benar dia sangat menyayangi dan mencintai sang istri.
"Lalu bagaimana menurut Kakak?" tanya Leo
__ADS_1
"Aku belum memikirkan nya!" jawabnya sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak di depannya.
"Berhentilah merokok Kak!" kata Ayana yang baru saja datang dari toilet dan duduk di dekat suaminya.
"Aku sudah mengurangi nya Ay! Dimana Rey?" tanya Levin
"Di bawa Mami, katanya Papi Raka kangen!" kata Ayana
"Kak, bolehkah aku bertemu Sesil?" tanya Ayana, Leo seketika menoleh pada sang istri.
"Buat apa Ay?'' tanya Levin.
"Aku hanya ingin bertemu dengan dia? Kakak bilang dia sudah berubah, Kakak bilang juga dia tidak punya siapa-siapa, barang kali aku bisa menjadi temannya'' Kata Ayana
"Aku tidak tau di mana dia! Aku mengusir nya dari apartemen ku...sudah dua hari ini aku tak melihatnya!" kata Levin dengan entengnya.
"Tapi kata anak buah ku yang mengawasi apartemen ku, dia berada di sekitar apartemen, kalau menjelang malam,dia akan menyusup masuk dan tidur di tangga darurat!"
Anak buah Levin juga memberitahu security di apartemen agar membiarkan wanita itu menyusup masuk dan tidur di sana, sambil menunggu keputusan dari Levin.
"Kakak!!! kenapa jahat sekali!!" ucap Ayana sambil berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Sayang ..kamu mau kemana?" tanya Leo yang kaget tiba-tiba istri nya bangun dari duduknya.
"Mau nyari Sesil Kak, kak Levin! ayo ikut!" ajak Ayana bahkan sampai menarik tangan Levin.
Levin dan Leo tak habis pikir, bagaimana Ayana bisa melupakan semua kejahatan Sesil padahal akibat dari perbuatan Sesil, Ayana sampai harus berurusan dengan dokter psikiater kala itu. Akhirnya kedua pria tersebut menuruti apa kata Ayana, mendengar cerita Levin, Ayana merasa iba dengan Sesil, dia benar-benar ingin bertemu langsung dengan Sesil.
Leo mengemudi kan mobilnya menuju ke apartemen Levin, Levin ikut serta dalam satu mobil sesuai permintaan sang adik.
Di taman apartemen....
Sesil sedang asyik memakan nasi kotak yang baru saja di berikan seorang security apartemen, sang security bilang bahwa dia membawa bekal dari rumah, hingga ada seseorang yang memberikan nasi kotak padanya dan sayang kalau sampai tidak di makan. Sambil makan Sesil menghitung uang yang ada di tangan nya, uang, kalung dan gelang yang di berikan oleh Wati sudah tak cukup lagi karena dia sudah memakai nya untuk membeli tiket kembali ke tanah air dan mengurus beberapa berkas penting, bahkan kemarin saat dia menanyakan tentang biaya kost pada security apartemen, ternyata uang nya tak cukup untuk dia pakai sewa kost.
__ADS_1
"Uang nya tinggal segini, kalau aku pake sewa kost gak cukup, lagian aku nanti makan apa kalau uangnya habis?"
gumam Sesil, dia belum tau mau kerja apa, dia masih berharap bisa bertemu dengan Levin dan hidup dengan Levin sebagai budak nya.
"Papa..... bolehkah Sesil menyerah saja"
kata gadis itu sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya, setelah nya dia menghapus air mata yang sedari tadi terus mengalir.
Sesil tak pernah tau, dari dalam mobil 3 pasang mata menatapnya, dua pasang dengan tatapan datar dan tak mau tau, satu dengan tatapan iba nya, dia sama sekali tak menyangka si anak manja itu menjadi seperti ini.
Ayana berjalan menuju ke arah Sesil, dia benar-benar menguatkan hati untuk bertemu dengan gadis yang terlihat menyedihkan itu, Sesil selesai makan, dia membuang kotak nasi dan meminum air putih.
''Sesil?" panggil Ayana
Sontak Sesil menatap suara siapa yang memanggil nya, dan betapa kagetnya Sesil mendapati Ayana sudah ada di depannya, dia mundur beberapa langkah ketika melihat Levin dan Leo menyusul Ayana.Sesil tak bisa berkata apa-apa,dia hanya tertunduk tanpa berani menatap Ayana
Greep........
Ayana memeluk Sesil,tanpa terasa air mata Sesil mengalir pelan melewati pipi tirus nya
"Maaf kan Ayana!" ucap Sesil lirih, sangat lirih karena sejatinya dia tak mampu berkata apapun lagi.
Ayana mengurai pelukannya,dan melihat wajah Sesil yang nampak sangat tirus, membelai wajah yang penuh dengan luka kecil.
"Mulai sekarang kau akan tinggal bersama kak Levin"
kata Ayana sukses membuat Levin melotot.
"Ay!!" pekik Levin.
"Terima Sesil atau aku akan mengadu pada Om Johan!" ancam Ayana tetap dengan nada lembut nya.Dan kedua lelaki itu pun hanya bisa pasrah.
bersambung
__ADS_1