Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 5: Masalah mulai berdatangan


__ADS_3

Keesokan harinya


Bima sampai di rumah Albert jam setengah 7 pagi dan pergi ke dapur untuk membuat kopi karena pagi ini dia belum ngopi. Saat enak enak ngopi sambil ngobrol dengan pas Surono, Lia datang dengan pakaian sekolah.


"Ayo pak, keburu telat ini." ucap Lia buru buru.


"Lagian enggak dari tadi!" ucap Surono ngomel.


"Namanya kesiangan pak!" jawab Lia masuk ke dalam mobil.


Bima memandang mobil Surono yang keluar area rumah, saat sedang melamun memikirkan masalah Lina, Alena tiba tiba memanggil Bima.


"Mas Bima." panggil Alena dari teras rumah.


"Ya bu bos?" jawab Bima.


"Di panggil bapak." ucap Alena.


"Oh iyaa..." ucap Bima bergegas ke ruangan Albert.


Bima mengetok pintu dan langsung di persilahkan masuk oleh Albert.


"Ada yang bisa saya bantu bos?" tanya Bima.


"Semalam saya dapat surat ini, coba kamu baca." jawab Albert memberikan sepucuk surat pada Bima.


Bima membaca isi surat tersebut, isi suratnya begini:


"Kau kembali mempekerjakan seorang asisten pribadi? hahahaha naif sekali! asisten pribadi yang kau bayar mahal mahal itu akan mati sebentar lagi dan perusahaanmu itu akan segera jatuh ke tanganku! dasar anak pungut sialan! jangan lupa, istri dan anakmu akan aku perkosa di depan matamu!"


Setelah membaca itu tatapan Bima berubah menjadi tatapan membunuh seperti harimau yang kelaparan.


"Apa perlu kepalanya aku bawakan?" tanya Bima datar dengan tatapan penuh amarah.


"Tidak perlu, dia pamanku, jangan gegabah." jawab Albert tenang.


"Bos masih anggap dia paman setelah melecehkan istri dan anakmu? bos itu lelaki apa? tidak punya harga diri! cepat katakan padaku mau kepala, jari, atau bagian tubuh lainnya? bilang! atau semua bagian tubuhnya dalam keadaan terpisah? ayo bilang biar aku lakukan hari ini juga!" ucap Bima membuat Albert kaget.


"Kenapa? bos takut polisi? tenang aku sudah ada bekingan raksasa! mereka bisa aku suap untuk menutup kasus ini!" ucap Bima dengan berani.


"Cukup! nanti istriku dengar! kita main aman saja, kalau mereka berani senggol fisik, baru kita habisi mereka! yang terpenting tetap jaga istri dan anakku!" ucap Albert tegas.


"Oke kalau itu mau bos!" ucap Bima mengeluarkan ponselnya.


Bima menghubungi Draco yang baru saja selesai melakukan misi pembunuhan salah satu menteri.


"Halo, ada yang bisa di bantu bos?" tanya Draco.


"Kerahkan 50 orang untuk jaga anak bosku, nanti aku berikan fotonya, lacak juga orang yang nanti aku berikan fotonya." ucap Bima.


"Baik, tolong segera kirimkan fotonya, aku akan kirimkan orang untuk menjaganya!" ucap Draco.


"Ya..." jawab Bima menutup telepon lalu mengirimkan foto Lia dan paman Albert.


"Clear bos." ucap Bima tersenyum sinis.


"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Albert heran.


"Bawahan, lebih baik bos tidak usah cari tau lebih dalam karena aku masuk ke dunia itu demi melindungimu juga." jawab Bima.


"Sudah, kamu boleh keluar, kita berangkat jam 8." ucap Albert.


"Oke, kalau begitu aku cuci mobil dulu." ucap Bima beranjak keluar.


Saat membuka pintu, Bima kaget karena bertatapan langsung dengan Alena.


"Maaf bu bos." ucap Bima meminta maaf lalu pergi begitu saja.


"Mas, yang aku dengar tadi tidak nyata kan?" tanya Alena masuk kedalam ruangan Albert.


"Nyata." jawab Albert singkat.


"Terus bagaimana? apa aku ke luar negeri sama Lia saja? demi keamanan Lia." tanya Alena memeluk Albert.


"Bima bukan orang biasa, dia punya bekingan raksasa, dari yang aku dengar tadi kemungkinan besar Blood Moon. Kamu tidak usah khawatir, serahkan keamanan Lia pada Bima." ucap Albert.


"Dari keberaniannya kemungkinan iya,apakah dia anggota atau apa?" tanya Alena.


"Ketua, tadi aku sekilas lihat cincin khas ketua Blood Moon di jari manisnya." jawab Albert.


"Mengerikan sekali!" ucap Alena merinding.


"Sudah, kamu tenang saja, biar aku sama Bima yang urus semua masalah ini." ucap Albert mengelus lembut.


Di luar, Bima sedang mencuci mobil sambil mendengarkan musik dangdut melalui son di pos satpam dan sebatang rokok di mulutnya.


"Mas bim, udah sarapan belom?" tanya seorang wanita paruh baya bernama bi Narti.

__ADS_1


"Udah bi." jawab Bima memeras kanebo.


"Ohh ya udah, kalau mau sarapan lagi di dapur udah saya masakin!" ucap bi Narti.


"Iya bi." jawab Bima lanjut mengelap mobil yang sudah selesai di sabun.


Bima jeda sebentar untuk minum kopinya yang sudah dingin, setelah itu dia lanjut mengelap mobilnya. Setelah selesai Bima duduk istirahat di depan pos sambil ngobrol dengan Cokro.


Jam 8 Albert keluar dari rumah dengan pakaian rapi di temani Alena. Bima dengan segera masuk ke dalam mobil di barengi Albert. Mereka pun berangkat ke kantor, jam 8.40 mereka baru sampai di kantor karena macet.


Bima berjalan di belakang Albert sambil menyapa para karyawan yang sibuk bekerja mengejar target.


"Tumben datang jam segini, ada masalah apa?" tanya Mike saat pintu lift terbuka.


"Bos sedang badmood, nanti pak Mike di amuk lho." bisik Bima.


"Hey!!" ucap Albert tersinggung.


"Benarkan." ucap Bima.


"Benar!" ucap Mike berjalan masuk ke dalam ruangan Albert.


Bima duduk di mejanya yang satu ruangan dengan Albert. Bima melihat beberapa berkas yang harus dia cek, Bima menghidupkan komputernya lalu mulai bekerja.


"Bim, ini kamu salah ketik, perbaiki lagi." ucap Albert teliti.


"Ohh maaf." ucap Bima mengambil berkas yang salah untuk dia perbaiki.


"Bos, kau tidak punya kakak cantik? atau saudara cantik?" tanya Bima sambil bekerja.


"Ada, tapi dia bule, kamu pasti tidak bisa bahasa Inggris. Kakak kakak ku semua laki laki dan semuanya meneruskan perusahaan ayahku di Eropa sana." jawab Albert.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu bim?" tanya Mike mencoba akrab.


"Kalau jodoh hehehe..." jawab Bima terkekeh.


"Aihhh berharap sekali hahaha...." ucap Mike tertawa geli.


"Kenapa bos tidak pilih asisten perempuan saja? kan kalau asisten bos perempuan aku bisa pdkt. Kalau kalau jodoh gitu..." ucap Bima.


"Nanti istriku cemburu..." jawab Albert membuat Bima dan Mike tertawa geli.


"Bos tipe pria yang takut istri! payah! hahaha..." ucap Bima di sambut tawa Mike.


Saat jam makan siang, mereka bertiga pergi ke restoran Oichi yang lumayan jauh dari kantor. Saat sedang berjalan di jalan sepi sambil ngobrol untuk memecah suasana, tiba tiba mobil mereka di pepet dan blokir oleh dua mobil sedan hitam tanpa plat nomor.


"Bab*, mau cari gara gara apa gimana mereka ini!" gumam Bima kesal.


"Baik baik malah di tembak mati aku bos, liat plat mereka, tidak ada, ciri khas seorang pemain. Bos diam anteng di sini saja biar aku yang urus." ucap Bima ke luar mobil.


Bima mengetuk kaca mobil yang memblokir nya.


"Ada apa?" tanya sopir.


"Ada apa matamu!" ucap Bima marah lalu memukul sopir tersebut berkali kali.


Bugh..


Bugh..


Bugh..


"Matamu buta apa gimana su! bajing*n!" teriak Bima.


Tiba tiba segerombolan orang keluar dari kedua mobil membawa samurai dan tongkat besi.


"Ooo mainnya keroyokan, dari geng Black Mamba, Oke oke..." ucap Bima melepas jasnya membuka dua kancing kemejanya lalu menerjang segerombolan orang itu tanpa takut.


Bugh..


Bugh..


Bugh..


Krak..


Krak..


Bruak...


Bruak..


Bruak..


Bima memukuli mereka, mematahkan kaki dan tangan mereka dengan mudah, mengadu kepala musuhnya ke kap bagasi berkali kali sampai kepalanya pecah.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Bima mengeluarkan ponselnya menelepon Tiger.

__ADS_1


Orang yang di interogasi Bima malah pingsan karena tak bisa menahan rasa sakit.


"Halo bos, ada apa?" tanya Tiger.


"Posisi?" tanya Bima balik.


"Restoran Cendana." jawab Tiger.


"Kesini, jalan bunga, aku barusan di keroyok." ucap Bima.


"Otw!" ucap Tiger dengan cepat menutup telepon.


Bima menghampiri mobilnya dan berbicara dengan Albert.


"Maaf bos, kayaknya kita terlambat, aku mau urus masalah ini dulu, bibit-bibit bahaya ini." ucap Bima membuka pintu mobil.


"Tak apa, aku bosnya jadi bebas, kamu selesaikan masalah ini dulu baru kita makan siang." jawab Albert.


Bima menutup pintu mobil ketika melihat 5 mobil Jeep mendekat.


"Sudah aku duga." ucap Albert tersenyum kecil.


"Benar benar bukan orang biasa!" ucap Mike kaget.


"Beruntung aku mendapatkannya." ucap Albert.


"Kau sangat beruntung!" ucap Mike.


Di luar Bima berbincang-bincang dengan Tiger sambil memperhatikan bawahan mereka mengangkat korban Bima ke mobil untuk di bawa ke markas.


"Dari Black Mamba, hemm...apakah suruhan orang itu?" ucap Bima.


"Kemungkinan besar iya bos, nanti biar aku sama Draco interogasi mereka yang masih hidup. Bos tunggu kabar kami saja." ucap Tiger.


"Mobilnya bawa sekalian, sayang mobil mahal." ucap Bima.


"Hahaha...kau tau saja barang mahal." ucap Tiger tertawa geli.


"Hahaha...sudah aku mau makan siang dulu, kasihan bosku sudah menunggu." ucap Bima.


"Hati hati di jalan bos." ucap Tiger.


Bima masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju restoran Ochi. Di sana Bima memperhatikan sekitar karena sadar sudah di buntuti dari kantor tadi.


"Kenapa bim?" tanya Mike heran dengan sikap waspada Bima.


"Gak papa, makan aja." jawab Bima santai sambil makan ayam geprek nya.


'Dia tenang sekali, padahal nyawanya terancam!' batin Albert kagum dengan sikap Bima.


Ponsel Bima berdering memunculkan nama Lina, Bima meminta ijin untuk mengangkat telepon pada Albert.


"Bos tetap waspada, aku angkat telepon dulu." ucap Bima.


"Iya." jawab Albert santai.


Bima keluar restoran mengangkat telepon masih tetap waspada.


"Halo, kenapa mbak?" tanya Bima.


"Kamu masih kerja? pulang jam berapa?" tanya Lina.


"Jam 4 sore, ada apa?" tanya Bima balik.


"Pingin ketemu, aku mau bicara." jawab Lina.


"Nanti jam 4 aku pulang." ucap Bima.


"Beliin martabak sekalian ya, telornya dua." ucap Lina.


"Dihh...iya nanti kalau enggak lupa." jawab Bima.


"Nanti aku inget in hahaha..." ucap Lina terkekeh.


"Ya udah, aku mau makan dulu, sampai nanti bye." ucap Bima.


"Sampai nanti, bye..." ucap Lina.


Setelah mematikan telepon, Bima kembali ke dalam untuk lanjut makan.


"Bos, mobilnya aku modif ya." ucap Bima setelah selesai makan.


"Terserah kamu, itukan mobil kamu, oh iya surat suratnya nanti di rumah saya kasih." ucap Albert.


"Wehh makasih banyak!" ucap Bima senang.


"Iya, itu komisi kamu udah ngelindungin saya sam keluarga saya." ucap Albert tersenyum kecil.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kantor untuk lanjut bekerja.


Bersambung....


__ADS_2