
Fabri dan para sahabatnya sudah bersiap untuk pergi ke tempat di mana Levin menyekap Vandi dan Edo, bahkan penangkapan mereka pun di lakukan sedemikian rupa agar tak terendus oleh pihak yang berwajib jika secara tiba-tiba Vandi dan Edo hilang dari masyarakat. Lee dan juga Levin benar-benar sudah mempersiapkan segalanya, dulu Lee dan kawan-kawannya membiarkan Vandi ditangkap oleh pihak kepolisian karena bagaimanapun juga Kay dan Vita masih selamat,mereka pun yang sudah menghancurkan kehidupan Vandi dan Edo karena kesalahannya, Edo dan Vandi beserta teman-temannya yang banyak menyiksa dan membunuh para gadis hanya untuk kesenangan mereka belaka, namun kali ini sudah tak bisa dibiarkan lagi, Fabri menjadi orang yang paling terluka karena Edo memilih Ela sebagai korban pertama, di antara istri para sahabatnya memang inilah yang paling baik dan paling tidak peka tentang kejahatan yang ada disekitarnya,Ella selalu menganggap semua orang baik entah kenapa sifat itu begitu melekat pada diri Ella, gadis yang lemah lembut dan penurut itu sekarang hanya tinggal nama saja karena ulah Vandi.Bara api dalam tubuh Fabri bener-bener sudah berkobar,apapun yang akan dia lakukan semuanya demi membalaskan dendamnya kepada Vandi dan Edo atas kematian sang istri, dia sadar bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik tapi biar bagaimanapun mereka harus menerima hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka yang melenyapkan nyawa istrinya yang tidak bersalah sama sekali, padahal dari setiap cerita Ela, Ela begitu sangat senang berteman dengan Edo, Fabri hanya membiarkannya saja karena Ella memang mempunyai banyak teman walaupun dia tak punya satu pun sahabat kecuali istri istri dari sahabat sang suami yaitu Fabri.
"Apa masih lama Kak?" tanya Fabri seakan tak sabar.
"Masih, aku sengaja mencari tempat yang bagus untuk eksekusi, dan di sana kalian bisa melakukan apapun yang kalian mau!"
kata Levin sambil bermain dengan ponselnya, dia harus tetap mengawasi perusahaan walaupun sedang membantu Lee dan para sahabatnya.
"Aku suka gayamu Kak!" saut Boy yang terlihat begitu bangga dengan Kakak ipar nya.
"Satu lagi!" kata Levin
"Apa itu Kak?" tanya Lee
"Kalian bisa membakar rumah itu, beserta isinya!" ucap Levin dengan seringai jahatnya.
"Aku suka pemikiran Kakak!" Fabri menyauti Levin
Edo ternyata tak banyak mempunyai anak buah,anak buah Edo sebagian besar adalah preman-preman yang membutuhkan uang dan sebagian lagi hanyalah orang-orang yang dibiayai hidupnya oleh Edo, jadi Levin membiarkan para preman itu untuk di jebloskan ke dalam penjara dengan beberapa tuduhan,sedangkan orang-orang yang dibiayai hidupnya oleh Edo mereka bersikeras untuk membela Edo mati-matian,ada 5 orang diantaranya yang ikut terjaring dalam penangkapan yang dilakukan oleh anak buah Lee dan juga Levin.Di salah satu ruangan di sebuah rumah, nampak Edo dan Vandi di ikat di kursi, mereka di buat saling berhadapan, sedangkan kelima anak buahnya di sekap dalam satu ruangan di samping nya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Edo lirih, dia iba melihat orang yang di cintai nya nampak terkapar dengan sangat mengenaskan, dia baru saja di pukuli oleh anak buah Lee karena berusaha untuk melawan.
"Aku baik-baik saja, apa kita bisa keluar dari sini?" tanya Vandi lirih
"Aku akan berusaha, aku pasti bisa membawamu keluar dari ruangan ini!" kata Edo meyakinkan Vandi.
__ADS_1
"Brengseekk!!! itu karena kita terlalu ceroboh Do!!"
kata Vandi menyesali perbuatannya sendiri karena menelpon Edo di saat yang tidak tepat, lebih tepatnya Edo lah yang menelpon Vandi lebih dulu, Padahal dia begitu yakin bahwa ponsel nya pasti disadap oleh Lee dan juga kawan-kawannya Namun karena begitu senang Edo menelepon Vandi dan memberi kabar bahwa target pertamanya sudah hangus terbakar sesuai dengan janji Edo pada Vandi bahwa Ela akan kembali terbakar namun tidak bisa melakukan operasi plastik, begitulah janji Edo pada Vandi,ketika mereka sedang berdebat dan memikirkan cara untuk bisa keluar dari ruangan tersebut. Fabri dan kawan-kawannya datang dan Boy sudah bersiap untuk mencegah Fabri memulai kegilaan nya, namun tidak sesuai dugaan Boy, Fabri nampak tenang bertemu dengan Vandi dan Edo walaupun ada kemarahan di matanya.
"Apa yang kalian lakukan? kalian mengikat mereka?"
tanya Fabri tenang sambil duduk kepada anak buahnya.
"Bukankah sebaiknya mereka di lepas dan saling berpelukan? aku sangat yakin mereka saling merindukan!" lanjut Fabri dengan seringai seramnya.
"Ciiihh...... lepaskan kami!! mari kita bertarung satu lawan satu!!" ucap Edo dengan angguh nya
"Woooww ide yang bagus!! tapi tenang... setelah aku lebih dulu mempertemukan kalian dengan teman lama kalian!! okey? hahahahahhaha!" tawa Fabri nampak membahana di ruangan tersebut.
"Terlalu banyak b@cot!!!!" umpat Edo.
Edo merasa terluka dan marah melihat Vandi sedikit lemas tak berdaya, Lee dan yang lainnya hanya bisa mengikuti apa yang di lakukan oleh Fabri.
Suara langkah kaki yang terdengar semakin jelas dan akhirnya seorang lelaki masuk menyapa semuanya.
"Hallo tuan Fabri, sedang berbisnis dengan Anda!" kata Drew, lelaki setengah bule itu nampak memandang Vandi begitu lekat.
"B@ngsaat!!!!"
Umpat Edo karena tau siapa Drew, Drew adalah musuh nya beberapa waktu lampau, bahkan berbagai cara untuk mengalahkan Edo pun pernah di lakukan oleh Drew.
__ADS_1
"Drew....kau yakin akan melakukan ini kan?"
tanya Fabri dengan tenang, ke empat teman Fabri yang belum juga paham suasananya hanya diam saja.
"Tentu saja! asal 20% saham club' itu akan menjadi milikku sesuai janjimu!" kata Drew
"Deal!!" saut Fabri.
Fabri segera pergi dari ruangan tersebut setelah meminta salah satu anaknya untuk memasang kamera yang mereka pegang dan meletakkan di sudut ruangan sehingga bisa merekam seluruh adegan yang ada di ruangan tersebut dan Lee,Levin, Leo dan Boy hanya heran dengan apa yang dilakukan oleh Fabri, memang di perjalanan tadi Fabri tampak menelpon seseorang beberapa kali dan entah negosiasi apa yang dilakukan Fabri dengan lelaki yang baru saja masuk namun mereka tahu ini adalah usaha Fabri untuk membalas dendam.
"Siapa dia?" tanya Leo
"Bagaimana kalau kita lihat melalui cctv, akan ada tontonan yang bagus kali ini" kata Fabri dengan seringai licik nya.
"Maksud mu?" Boy yang penasaran ikut membuka suara.
"Kita akan merusak sedikit mental nya!!" saut Fabri
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, umpatan dan makian nampak terdengar dari dalam ruangan yang masih sedikit terbuka itu.
bersambung.....
KURANG SEHAT!
BUTUH......
__ADS_1
LIKE
KOMEN DAN KOPI...( Othor pecinta kopi ðŸ¤)