Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Episode 11


__ADS_3

Keesokan harinya


Saat Bima bangun, dia tidak melihat Lina di pelukannya. Saat melihat jam dinding, dia kaget karena jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Bima buru buru mandi dan berpakaian rapi, setelah itu dia pergi mencari keberadaan Lina.


"Buk, mbak Lina di mana?" tanya Bima ketika melihat ibu kost sedang duduk santai di teras rumah.


"Bentar ibuk panggilin." jawab ibu kost masuk ke dalam rumah memanggil Lina.


Tak lama Lina keluar rumah dengan keadaan kebingungan.


"Buruan ganti baju yang rapi mbak, sekalian bawa surat lamaran kerjanya, keburu bos pergi." ucap Bima.


"Ih kok dadakan banget sih! nyebelin banget!" ucap Lina kesal.


"Udah buruan gak usah ngambek!" ucap ibu kost.


Lina berlari masuk ke dalam rumah untuk ganti baju sekalian mencari surat lamaran kerjanya. 10 menit kemudian Lina keluar menemui Bima dengan pakaian rapi dan modis.


"Ayok!" ucap Lina ketus.


Bima masuk ke dalam mobil diikuti Lina dengan raut wajahnya cemberut. Bima melajukan mobilnya ke rumah Albert, 40 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah megah nan indah setelah terjebak macet.


"Loh, libur kan mas?" tanya Cokro kaget melihat kedatangan Bima.


"Nganter temen interview kerja." jawab Bima memarkirkan mobilnya.


"Owalah, ya udah semoga keterima kerja." ucap Cokro terpana melihat Lina yang keluar dari mobil.


"Ayok." ajak Bima masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam rumah, Bima di sapa oleh Lia yang sedang bersantai menonton TV.


"Mas Bima! katanya libur sampai besok rabu." ucap Lia menyapa Bima.


"Nganter temen interview mbak." jawab Bima.


"Owalah, ayah di atas kok sama mamah, naik aja." ucap Lia.


"Permisi mbak." ucap Bima pamit lalu naik ke lantai atas.


Tok..tok..tok..


Bima mengetuk pintu ruangan Albert sambil sesekali melirik ke arah Lina yang terlihat gugup.


"Masuk bim!" jawab Albert dari dalam ruangan.


Bima membuka pintu dan mengajak Lin masuk ke dalam.


"Ini temen kamu itu?" tanya Albert.


"Iya." jawab Bima singkat.


"Boleh lihat CV nya?" tanya Albert.


Lina dengan gelagapan langsung memberikan CV nya dengan tangan gemetaran.


"Lina Haryono, usia 27 tahun, tamatan D3 Manajemen Bisnis dan Ekonomi. Kamu berminat kerja di bagian apa?" tanya Albert membaca identitas Lina.


"Seadanya aja pak, saya terima kerja apapun selagi di bayar." jawab Lina.


"Mamah tertarik?" tanya Albert pada Alena.


"Kamu siap kerja hariini juga?" tanya Alena pada Lina.


"Siap bu." jawab Lina.


"Ya udah, hari ini kamu mulai kerja sama saya, silahkan tanda tangan di sini." ucap Alena menyodorkan surat kontrak pada Lina.


Dengan cepat Lina menandatangani kontrak tersebut, dia juga terkejut melihat nominal gajinya yang mencapai 30 juta per bulan.


"Bima, antar saya sama Lina ke kantor ya, saya ganti baju dulu." ucap Alena pergi.


"Kantornya mana bos?" tanya Bima.


"Kantor kita itu, kamu lurus terus sekitar satu kiloan. Nnti ketemu gedung besar, lebih besar dari gedung kita, itu kantornya. Namanya Central Corporation." jawab Albert.


"Okey, ayo kita tunggu di depan." ucap Bima mengajak Lina pergi.


Keduanya pun pergi dari ruangan Albert dan menunggu Alena di teras rumah. Bima melihat Lina yang terlihat sangat amat bahagia karena impiannya untuk kerja kantoran akhirnya kesampaian juga.


"Ayo bim, berangkat." ucap Alena sudah selesai berganti pakaian.


Bima membukakan pintu mobil untuk Alena lalu masuk ke dalam mobil, Alena duduk di kursi depan masih dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


"Kamu nanti tunggu di kantor ya bim, saya pulang paling jam 3 lebih 15 menitan." ucap Alena melihat jadwalnya.


"Okey bu bos." jawab Bima santai.


Sesampainya di kantor, Bima langsung memarkirkan mobilnya setelah menurunkan Alena dan Lina di lobby kantor.


"Sopir baru mas?" tanya satpam.


"Iya pak." jawab Bima tersenyum.


Bima ngobrol sebentar dengan satpam itu lalu pergi masuk ke kantor, dia naik ke lantai paling atas untuk menemui Alena yang memanggilnya melalui telepon. Sesampainya di lantai paling atas, Bima terkejut bukan main karena di ruangan Alena terjadi pertengkaran besar antara Alena dengan Max, kakak Albert paling muda.


"Ada apaan tuh?" gumam Bima penasaran dan menghampiri ruangan Alena yang sudah di kerubungi anak-anak kantor yang kepo.


"Silahkan kembali ke meja masing masing, maaf mengganggu." ucap Bima masuk ke dalam ruangan dan menutup kaca ruangan dengan gorden.


"Dasar tidak tau malu! sudah ku beri satu perusahaan besar masih mau minta lagi! bajing*n kau!" teriak Alena marah dengan baju yang sudah berantakan.


"Aku tidak butuh perusahaanmu! aku cuma mau tubuhmu!" ucap Max dengan wajah penuh nafsu.


Buaghh...


Pranggg...


Bima menendang Max dengan keras lalu melemparnya hingga menabrak kaca ruangan sampai pecah.


"Dari awal bertemu, aku sudah tidak nyaman dengan keberadaanmu, sudah aku beri ancaman tapi masih nekat saja! mau mati bagaimana?" tanya Bima sambil mencengkeram kerah Max.


"Hahahaha....orang rendahan sepertimu akan mati sebentar lagi! Blood Moon akan jadi milikku, semua kekayaanmu akan jadi milikku! istri cantikmu akan aku hamili! hahahahahaha...." teriak Max.


Bima menelepon Albert sambil menengok ke arah Lina yang ketakutan sampai pucat.


"Halo, ada apa?" tanya Albert.


"Max, datang ke kantor bu bos, dia mau memperkosa bu bos! bos mau minta Max di apakan?" tanya Bima.


"Aku ke sana, jangan kau apa apakan!" ucap Albert dengan suara marah langsung menutup telepon.


"Bukan aku yang mengurusmu, tapi adikmu, tunggu tanggal mainnya, kakakmu, istrimu, anakmu, kakekmu, semua saudara mu akan mati dengan kepala tertancap di atas monas! kau akan melihatnya dengan kedua matamu!" bisik Bima menyeringai.


"Coba saja kalau bisa! bukan keluargaku yang mati! tapi keluargamu! hahahahaha...." teriak Max berlagak berani walaupun sebenarnya dia ketakutan setengah mati.


"Hahaha...kau ketakutan! aku tau itu! dasar sampah!" ucap Bima tertawa sinis.


"Bu bos suruh pulang semua karyawan dulu, takutnya malah jadi kesebar masalah ini ke publik." ucap Bima duduk santai.


"Kalian pulang, besok lanjut kerja! jangan sampai masalah ini tersebar!" ucap Alena.


Akhirnya para karyawan pun pulang, semua karyawan dari divisi apapun di pulangkan karena ada masalah.


"Lina jangan takut ya, ini sudah resikonya." ucap Alena memeluk Lina yang bergetar ketakutan.


"L-lina takut bu..." ucap Lina bergetar ketakutan.


"Jangan takut, besok biar Bima yang ngamanin kantor ini." ucap Alena lembut.


"I-iya bu.." jawab Lina masih ketakutan.


Bima menelepon Tiger dan Draco untuk segera datang ke kantor.


"Halo, kesini cepet, ada kerjaan buat kalian." ucap Bima.


"Sharelok bos! siap OTW!" ucap Tiger semangat mematikan telepon.


"Tunggu di bawah dulu bu bos, aku mau selesaiin masalah ini sebentar." ucap Bima.


"Ayo Lina, biar Bima yang urus, kita tunggu di lobby aja." ajak Alena.


Lina hanya mengikuti Alena yang berjalan ke lift. 10 menit kemudian, Albert datang dan di susul oleh Draco, Tiger bersama 10 anggota Blood Moon.


"Kalian mau apa?" tanya Albert bingung.


"Kami di undang bos Bima." jawab Tiger.


"Ohh, ayo ke lantai atas." ucap Albert berjalan masuk ke dalam diikuti Draco dan Tiger beserta anggota geng lain.


Albert memberi kode pada Alena untuk masuk ke dalam mobil dan pulang duluan. Setelah itu mereka pergi ke lantai paling atas. Sesampainya di lantai paling atas, mereka kaget melihat Max yang sudah babak belur di tali di tiang penyangga gedung dan Bima sedang minum yogurt sambil merokok dengan santainya.


"Adiku! tolong! dia memukuli ku tanpa alasan! tolong!" teriak Max berakting.


"Kau bisa diam tidak? mulutmu bau tai!" ucap Bima melempar kaleng soda yang masih penuh.


"Ceritakan kronologi nya." ucap Albert pada Bima.

__ADS_1


"Untuk kronologi, nanti bisa bertanya pada bu bos, sekarang tentukan hukumannya dulu. Mau di mutilasi, kuliti, di bakar hidup hidup atau tembak mati?" tanya Bima.


"Kamu bawa ke markas kamu dulu, nanti biar aku tanyakan kronologinya ke istriku!" ucap Albert mengepalkan tangannya melihat ke arah Max.


"Bos tidak mau memukul dulu? sekali dua kali boleh lah." ucap Bima.


Tanpa menjawab Albert langsung memukuli Max dengan brutal sampai Max berdarah darah dan beberapa kali memuntahkan darah.


"Hahhh! sudah! bawa dia sebelum aku membunuhnya!" teriak Albert ngos-ngosan.


"Bawa bawa! jangan di bunuh! aku ada rencana besar!" ucap Bima pada Draco.


"Siksa dikit bolehlah bos." ucap Draco.


"Dikit dikit jangan sampe mati!" ucap Bima.


"Wokee! ayo bawa! kita senang senang di markas!" ucap Draco semangat.


Setelah di bawanya Max yang pingsan oleh anggota Blood Moon, Bima mengajak Albert pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Albert langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk mengecek keadaan Alena.


Sedangkan Bima masuk ke dalam rumah mencari Lina yang tadi terlihat syok berat. Bima melihat Lina sedang melamun duduk di ruang tamu sendirian.


"Mbak." panggil Bima lembut.


Lina dengan kaget menengok kearah suara tersebut, dia langsung berlari memeluk Bima yang jas nya terdapat beberapa bercak darah.


"Udah udah, enggak usah nangis." ucap Bima mengelus punggung Lina.


"A-aku pingin resign aja! aku enggak mau kerja kayak gini yah! aku trauma!" ucap Lina menangis.


"Ssttt...gak boleh gitu! ini baru sehari masa mau resign cuma gara gara hal kayak begini, cobain dulu satu minggu, kalau nyaman nanti lanjut, kalau enggak ya udah resign." ucap Bima.


"T-tapi nanti kalau kejadian kayak tadi g-gimana? aku takut yahh...aku takut!" ucap Lina sesenggukan.


"Saya yang jagain, tenang aja, enggak akan kejadian kayak begini lagi." jawab Bima mencium kening Lina.


"Janji?" tanya Lina menatap dalam dalam mata Bima.


"Janji!" jawab Bima.


Setelah Lina sedikit tenang, Bima pamit untuk ke ruangan Albert sebentar.


"Mbak tunggu disini sebentar, saya pamit ke bos dulu." ucap Bima.


"Cepetan." ucap Lina serak.


Bima berlari naik ke atas menuju ruangan Albert.


Tok..tok..tok..


"Masuk...." jawab dari dalam.


Bima masuk ke dalam ruangan lalu duduk di sofa yang tersedia di ruangan Albert. Dia sebenarnya sedikit kaget melihat Jason dan Lia yang duduk di meja Albert.


"Aku mau bicara bos, kebetulan satu keluarga berkumpul." ucap Bima.


"Bicara.." ucap Albert.


"Bos, aku mau hancurkan keluargamu, kejadian ini yang memacuku melakukan ini." ucap Bima yang membuat Jason dan Lia kaget sekaget kagetnya.


"Mas Bima jangan gegabah, keluarga ayah punya bekingan kuat. Aku kemarin dengar kakek sedang menjalin hubungan dengan geng Blood Moon." ucap Jason.


"Hah? hahahaha....itu namanya bunuh diri! Bima aja ketuanya!" ucap Albert tertawa lepas.


"Hah? gimana gimana?" tanya Jason kurang paham.


"Sudah, kau lakukan sesukamu demi keamanan keluargaku. Ini juga demi kebaikan bersama, temanmu juga supaya nyaman kerja disini aku juga sudah tidak nyaman dengan mereka!" ucap Albert sudah kehabisan kesabaran.


"Tunggu berita satu minggu ini bos, kalau begitu aku pamit pulang." ucap Bima.


"Hati hati, aku tunggu berita hebat darimu." ucap Albert.


Bima pun keluar dari ruangan Albert dan mengajak Lina pulang.


"Kenapa ayah mengijinkan mas Bima? apa ayah sudah tidak cinta dengan kakek lagi?" tanya Lia protes.


"Lia, Bima pasti bakalan menyaring mana yang baik dan buruk, sudah kita tunggu saja berita selanjutnya. Kalian fokus sekolah saja, biar masalah ini ayah dan Bima yang urus." ucap Lia.


Setelah itu Lia dan Jason pun keluar ruangan dan kembali ke kamarnya masing-masing.


Di Kost


Bima mengantar Lina yang tertidur di mobil ke rumah ibu kost, setelah menaruh Lina di kamarnya dan mencium ke dia pipinya, Bima kembali ke kamarnya untuk istirahat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2