Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Levin terus menatap tajam ke arah Sesil yang tak bergerak dari tempatnya, padahal Levin sudah meminta Sesil untuk naik ke atas ranjang nya, entah mengapa Levin ingin tidur bersama dengan Sesil saat ini, hanya tidur bersama,bukan ingin berbuat hal-hal yang tidak-tidak. Namun seperti nya Sesil mengartikan lain keinginan dari Levin.


Levin yang berkali-kali mendapatkan penolakan dari Sesil merasa marah, dia bergerak cepat turun dari ranjang dan menghampiri Sesil cepat, kemudian mendorong tubuh Sesil sampai menempel dinding di tepi pintu.


"Kau benar-benar membuat aku gila Sesil!!!"


ucap Levin lirih dan detik berikutnya,dia memegang tengkuk belakang Sesil, menyatukan bibir nya dengan bibir Sesil yang sejak tadi sudah membuat nya tergoda. Sesil yang masih shock hanya bisa pasrah dengan perlakuan majikannya itu, Levin dengan lembut meluuumat bibir ranum Sesil, dengan sekuat tenaga Sesil mencoba untuk menenangkan hatinya.Shock? jelas sekali Sesil shock. yang dia tau selama ini Levin begitu membencinya, ajakan menikah kala itu pun di artikan Sesil sebagai bentuk pembalasan akan kebaikan Levin yang masih mau menampung dirinya.


Namun saat ini, ketika lelaki dingin dan bermulut pedas ini mencium nya dengan lembut dan sedikit menuntut, Sesil merasa di cintai dan di hargai, dia merasa Levin menerima dirinya dalam hidup Levin. Levin tak bisa mengendalikan dirinya, perlahan dia mengiring Sesil kembali ke ranjang ukuran king miliknya, mengangkat tubuh Sesil tanpa melepaskan pangutan di bibir Sesil.


Sesil yang tak menyadari keberadaannya sekarang hanya bisa diam, bahkan dia tak membalas ciuman yang di layangkan Levin ke bibirnya. Sesil merasa dadanya mulai sesak, dia memukul pelan dada Levin,berharap Levin melepaskan pangutan bibir nya agar dia bisa bernafas.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Levin yang berada di atas tubuh Sesil melepaskan bibirnya dari bibir Sesil, Sesil nampak tersengal begitu Levin melepaskan ciumannya.Sesil bahkan tak berani menatap mata Levin, dia sedikit memalingkan wajahnya ke arah kanan, Levin terus memandangi wajah gadis yang berada di bawah Kungkungan saat ini, dia menyingkirkan rambut Sesil yang sedikit berantakan dan menutupi wajahnya.


"Cantik!" batin Levin tanpa melepaskan tatapan matanya pada Sesil


"Tu-tuan.... a-aku sesak" kata Sesil lirih.


Levin bergulir ke samping Sesil, dia nampak terlentang di samping gadis yang sudah membuat nya susah mengendalikan diri. Sesil bergeser pelan, dia ingin meninggalkan kamar Levin sebelum lelaki itu benar-benar mencuri kesempatan dalam kesempitan. Merasa ranjang nya bergerak, Levin menoleh ke arah Sesil dan segera menarik tangan Sesil hingga kembali tertidur di ranjang.


"Tuan....saya sudah mengantuk, bisakah saya kembali ke kamar saya tuan" kata Sesil.


bukannya menjawab Levin malah menarik Sesil ke dalam pelukannya, menjadikan lengan kekarnya sebagai bantalan kepala Sesil, bahkan Levin menenggelamkan wajah Sesil ke dalam dadanya yang tak berpakaian. Levin lebih senang menggunakan celana bahan kaos panjang dan bertelanjang dada saat tidur.


"Tidurlah!" perintah Levin.


"Tapi Tuan, nanti anda tidak nyaman....anda....!" omongan Sesil terpotong karena melihat mata tajam Levin yang tengah menatapnya.

__ADS_1


"Sedikit lagi kamu bergerak! aku pastikan aku akan memper*kosamu malam ini!" bisik Levin dengan penuh penekanan.


Hal itu membuat Sesil takut, dia seketika memejamkan matanya dan berusaha tidur dalam pelukan Levin. Levin nampak tersenyum samar, dia merasa dirinya sendiri sudah gila karena begitu nyaman tidur sambil memeluk Sesil.


Pagi Menjelang.....


Levin terbangun terlebih dahulu, dia memandang ke arah Sesil yang tertidur dengan tangan kanan nya sebagai bantalan kepala nya sendiri, sedangkan Levin menopang kepalanya dan tidur miring menghadap ke Sesil. Semalaman dia sulit sekali tidur karena sibuk memperhatikan wajah gadis di pelukan nya, berulangkali mengicipi bibir ranum milik Sesil, bahkan ketika Levin mendengar suara desaahan kecil dari mulut Sesil, Levin segera memindahkan bibir nya ke leher Sesil dan meninggalkan jejak kissmark di sana.


Levin beranjak membersihkan diri, kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana boxer nya, Karena memang kebiasaan Levin mengeringkan badan di dalam kamar mandi, ternyata Sesil sudah terbangun dan mengucek matanya pelan, mencoba mengumpulkan kesadarannya, dan betapa kagetnya dia ketika melihat isi kamar yang sudah bisa di pastikan bukanlah kamar nya.


"Sudah bangun? nyenyak?"


tanya Levin sambil memakai kemeja nya, Sesil memalingkan wajahnya karena Levin belum memakai celana nya, Levin hanya tersenyum tipis.


"Siapkan sarapan ku!" kata Levin


"Jangan!! aku buru-buru!" cegah Levin


"Aku lebih suka melihat mu begini....seksy.....aku suka!!" tentu saja kalimat itu hanya terucap di hati Levin saja.


Sesil turun perlahan dari ranjang, dia masih memakai kemeja kedodoran warna putih milik Levin, dengan cekatan dia memasak menu yang cukup cepat matang.


Setelah sarapan, Levin segera beranjak dari meja makan.


"Siapkan makan siang untuk ku! aku akan pulang"


kata Levin

__ADS_1


"Baik Tuan!" saut Sesil


"Sini....!" perintah Levin


"Ya??" Sesil merasa heran dengan sikap Levin, namun Sesil akhirnya mendekati Levin.


"Cium aku!" kata Levin dengan muka datar nya.


"Hah???" sekali lagi Sesil heran dan kaget.


"Cium...!" perintah Levin lagi sambil menunjuk pada pipinya sendiri.


Sesil dengan ragu memajukan wajahnya ke arah Levin dan saat akan mencium pipi Levin, Levin memalingkan wajahnya hingga ciuman yang seharusnya mendarat di pipinya sekarang beralih ke bibir Levin.


"Hemmmm rupanya setelah semalam kamu mulai ketagihan dengan bibir ku ya?" kata Levin dengan tak tau dirinya, padahal dialah yang mencuri kesempatan itu.


"Ti-tidak tuan!" jawab Sesil cepat.


"Baiklah.....aku berangkat!" kata Levin


Levin segera berlalu dari sana, sedangkan Sesil di buat melongo dengan perubahan sikap Levin, walaupun sikapnya masih datar dan dingin setidaknya dia merasa Levin sedikit manis padanya, Sesil tersenyum tipis,namun seketika dia menggeleng kan kepalanya, dia teringat dan memang harus ingat posisinya saat ini, dia hanyalah seorang pembantu. Sesil tak berani berharap baik tahta menjadi kekasih Levin, hal semalam di jadikan Sesil sebagai patokan akan balas budinya pada Levin. Sesil ber pikir Levin berhak untuk mendapatkan apapun yang ada di tubuhnya, Sesil tersenyum getir, dia membayangkan dirinya sebagai seorang gadis murahan yang dengan mudah menyerahkan semuanya kepada seorang lelaki yang notabene nya hanya memberikan tempat tinggal dan makan untuk nya.


"Aku benar-benar murahan!" gumam Sesil setelah memperhatikan tampilan nya sendiri yang masih memakai baju kemeja milik Levin.


Berbeda dengan Levin yang terus-menerus mengelus bibir nya sambil tersenyum tipis mengingat dirinya yang baru saja mengerjai Sesil.Cinta benar-benar membuat Levin kehilangan kendali diri.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2