Sang Asisten Ceo

Sang Asisten Ceo
Season 2 Empat Sekawan


__ADS_3

Fabri nampak berlari ke arah sang istri, keringat bercucuran setelah dia melakukan olahraga sore, walaupun hanya lari-lari di halaman depan rumah mewah milik nya.


Ela sedang duduk di teras ditemani oleh anaknya yaitu Bianca, beberapa saat lalu Bian baru saja menyelesaikan makan sorenya.


"Uuhh anak Daddy....kenyang ya?" kata Fabri yang terlihat jongkok di depan Bian.


"Iya Daddy!" jawab Ela dengan bergaya bagai bayi.


"Sayang....apa boleh Bian aku ajak ke salon anak? kemarin aku dapat brosur tempat Spa bayi" kata Ela sambil mengelap keringat di kening Fabri dengan handuk yang melingkar di leher suaminya itu.


"Memangnya tempat biasanya kenapa La?" tanya Fabri,duduk di samping Ela sambil mengambil minuman mineral dan meminum nya.


"Tempat biasanya bagus, tapi agak jauh, aku ingin mencoba tempat baru yang ini, nanti aku ajak Kak Ayana saja" kata Ela


"iya gak papa, tapi sekarang kamu harus bawa pengawal ya sayang" kata Fabri sambil mengelus kepala istri nya.


"Kenapa?" tanya nya heran.


"Gak, aku hanya khawatir saja"


"Tapi kan aku ada mbak nya, yang bantu jagain aku dan Bian" kata Ela


"Gak papa sayang, nambah satu orang lagi kan gak masalah" saut Fabri.


"Udah masuk yuk, Daddy mau mandi sayang....." ucap Fabri sambil menggendong Bian, dan balita itu hanya tertawa sambil berceloteh dengan Fabri.


Di sisi lain Lee yang sudah wangi memeluk erat tubuh istri nya, dia benar-benar takut membayangkan Vandi kembali dan berbuat hal-hal kejam seperti dulu pada sang istri, Vita jelas heran dengan posesif nya Lee dari kemarin, Lee memang selalu menempel padanya, tapi tidak seposesif ini.


"Apa ada yang kamu pikirkan mas?"


tanya Vita, dan Lee hanya menggeleng saja, Vita punya feeling yang cukup kuat,dia tak bisa di bohongi begitu saja.


"Benar tak mau cerita?" tanya Vita lagi, Lee semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang......kamu ingat penyebab pertama kita menikah?" tanya Lee sambil menaikkan tubuh sang istri ke pangkuan nya, Vita seketika mengalungkan tangannya ke leher Lee.


Vita nampak mengerutkan keningnya, dia heran mengapa Lee tiba-tiba membahas itu setelah bertahun-tahun lamanya.


"Ya...kenapa?" tanya Vita

__ADS_1


"Dia kembali, Vandi bebas sayang....namun bebasnya dia sedikit janggal, karena itu aku hanya takut kalau......" Lee bahkan tak bisa meneruskan perkataannya.


"Mas.....jangan berprasangka buruk...semoga dia keluar penjara karena memang sudah waktunya,dan mulai bertaubat serta menata hidupnya" kata Vita.


"Ya...semoga!" kata Lee yang sudah tidak bisa tenang lagi tangannya.


"Mas.....apa sih!! di kondisikan dong tangannya!!" sentak Vita yang kaget dengan perlakuan Lee, namun Lee nampak tak peduli,bukan hanya tangannya bahkan sekarang bibirnya pun ikut bergerilya.


"Yang....udah seminggu lho aku di anggurin!" kata Lee dengan manja.


"Lha emang aku lagi datang bulan mas!" saut Vita


"Perkos@ aku dong Yang!" ucap Lee dengan berbinar


"Apa??"


Akhirnya terjadi pertempuran yang tak terelakkan oleh Vita, Vita memang selalu kalah jika berhubungan dengan pertempuran ranjang dengan sang suami, mau bertengkar seperti apapun Vita dengan Lee, Lee selalu menang perkara di atas ranjang, walaupun setelah pertempuran mereka, pertengkaran mereka sering kali mereka lanjutkan.


Tak jauh beda dengan Lee, Boy sekarang sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan besar balas dendam Vandi kepada keluarga nya, karena semua kelakuan Vandi dan kawan-kawan nya terbongkar akibat ulah Boy dan kawan-kawan nya.


"Dad, apa perlu anak buah uncle Antoni di kerahkan sedemikian banyaknya?"


tanya Boy ketika rumahnya di penuhi dengan orang-orang berjas hitam dan berkacamata hitam khas anak buah mafia.


"Apa kau lebih suka kalau Daddy mengurung istri mu di rumah?" kata Ben yang terdengar mengancam Boy.


"No Dad!!" jelas Boy tak mau, dia dan kawan-kawan nya hanya waspada, dia juga tak tau pasti apakah Vandi dan teman-temannya akan bertindak untuk balas dendam atau tidak.


"Kalau begitu bisa kah kau diam saja Boy? biarkan uncle Antoni bekerja!" kata Ben dan Boy pada akhirnya menuruti kemauan sang Daddy.


##########


"Ya udah Kak, lain kali saja kita janjian, sekarang aku sama Bian sudah sampai tempat nya" kata Ela yang sedang berbicara dengan Ayana melalui ponselnya.


"Iya La, maaf ya....ini Rey juga lagi gak enak badan, dari tadi rewel, kayaknya udah mau tumbuh giginya" kata Ayana di sebrang sana.


"Ya udah Kak, Ela matiin ya..." kata Ela


Setelah mendapat jawaban dari Ayana, Ela mematikan sambungan teleponnya, dan segera beranjak masuk ke dalam sebuah bangunan yang ada di alamat brosur beberapa hari yang lalu dia dapatkan.

__ADS_1


"Selamat datang.....sudah buat janji?" kata seorang wanita yang ada di meja resepsionis.


"Belum, ini Perdana untuk kami, aku mendapatkan brosur ini dari pemilik Spa" kata Ela pada wanita tersebut.


"Baiklah tunggu sebentar ya"


Wanita itu nampak menelpon seseorang, dan tak berapa lama Edo datang dari sebuah ruangan, dia nampak tersenyum manis pada Ela, pembawaan Edo yang ramah dan wajahnya yang kalem benar-benar bisa membuat Ela merasa aman, Ela tak tau saja, di balik wajah dan sikap ramahnya tersimpan sifat dan sikap kejam bila dia menginginkan sesuatu.


"Halo Bian........Bian kan? aku masih ingat!" kata Edo menyapanya


"Iya Kak Edo, aku panggil Kak saja ya?" kata Ela


"Kak Ed, mereka biasa memanggilku dengan nama singkat!" kata Edo.


" Baiklah kak, biasanya pemilik Spa adalah wanita, tapi Kakak hebat...bisa membuka spa untuk bayi seperti ini!" kata Ela


"Karena aku suka anak-anak, ayo aku kenalkan dengan beberapa pegawai di sini yang akan memberikan servis spa untuk Bian" kata Edo


Edo memang melakukan pendekatan dengan Ela, mencoba mengambil hati Ela agar percaya padanya dan mau mencoba berteman dengannya, Edo bisa menilai dengan cepat sifat Ela, dia wanita yang cukup polos dan kurang hati-hati, tak ada rasa curiga atau apapun dalam diri Ela.


"Boleh minta nomor telepon nya Ela? barang kali di perlukan suatu saat nanti" kata Edo


"Oh..iya Kak" sesuai prediksi Edo, Ela orang yang tak gampang curiga.


Ela nampak memperhatikan Bian yang sedang di Spa, sedangkan Edo sudah pamit undur diri,dari dalam kantornya di bisa melihat gerak-gerik Ela, namun kaca itu tak bisa menembus ke dalam jika di lihat dari luar.


"Apa rencana mu sayang!" kata Vandi yang memeluk Edo dari belakang dan sama-sama melihat ke arah Ela


"Kau tau, Ela pernah terbakar tubuh dan wajahnya!" kata Edo


"benarkan?"


"Ya...dan dia selamat,dia melakukan beberapa operasi di tubuh dan wajahnya!" kata Edo lagi


"Apa kita perlu melakukan hal yang sama? barang kali dia ingin reuni dengan sang api" kata Vandi.


"Tapi jangan biarkan dia melakukan operasi lagi, kasihan!" lanjut Vandi.


Edo melihat ke arah Vandi, di tau betul apa maksud dari Vandi, dan dia tersenyum melihat ke arah Ela.

__ADS_1


"Ide Bagus!"


bersambung


__ADS_2