
Boy sedikit berlari membopong Kayra menuju ambulan yang ada di depan vila, ambulan yang tadi di bawa oleh Ray juga.Dengan rasa cemas dan panik bersamaan, bahkan Boy sudah menendang pintu ambulan agar segera di buka.
"Cepat tangani dia!" teriak Boy tanpa sadar, tangan Kayra sudah berlumuran darah akibat sayatan pisau tajam yang dilakukan oleh Dani, dokter segera menangani kondisi Kayra cukup memprihatinkan namun Boy masih sangat berharap Kayra dapat terselamatkan dan bisa melewati masa-masa sulitnya.Dokter tetap membutuhkan peralatan dan kenyamanan pasien di rumah sakit, walaupun di dalam mobil ambulans sudah tersedia segala perlengkapan dari rumah sakit bahkan berbagai jenis golongan darah dibawa oleh dokter dan penuh saja karena kehilangan banyak darah nya dengan cepat mobil ambulans itu melaju meninggalkan villa menuju rumah sakit terdekat di sana agar Kayra bisa ditangani dengan maksimal.
sedangkan Lee ditemani oleh Leo, Fabri dan paman Jay segera meluncur meninggalkan vila untuk mencari keberadaan Vita, paman Jay masih mencari keberadaan Vita lewat Mario,salah satu hacker anak buah tuan Adrian, Lee yang nampak cemas mencoba berpikir dengan otak jenius nya.Dia berpikir bagaimana caranya menemukan keberadaan Vita.
"Rush Hitam!!" teriak Lee tiba-tiba.
"Apa maksud loe Lee?" tanya Fabri.
"Loe inget! kita berhenti di jalan setapak? ada mobil Rush Hitam lewat? dengan kaca hitam di bagian jendela nya?" jelas Lee
"Itu mobil satu-satunya dari arah jalan ini!!" lanjut Lee.
"B 5678 KA!! lacak Bri!!" lanjut Lee lagi
otak jenius Lee sangat berguna saat ini dan begitu lah kerja otak jenius seorang Shailendra, sedetail apapun dia bisa mengingat nya dengan jelas, bahkan Mario yang sedang ada di sebrang panggilan telepon yang di lakukan paman Jay sangat ter pesona dengan kecerdasan otak anak Ray itu.
"Sepertinya kami menemukan titik terang tuan Mario! biarkan anak-anak yang bekerja! kalau mereka gagal,kita yang akan maju!" kata paman Jay dan menutup panggilan telepon nya.
Dengan ke ahli an Fabri di bidang komputer mampu membuat jari-jari nya lincah di atas benda otak tipis yang berada di pangkuannya.
Lalu bagaimana kelanjutan dari ketiga pemuda yang sudah berada di kandang macan itu? Johan jelas tak akan membiarkan mereka lolos begitu saja, bila sahabatnya saja di usik,Johan sudah seperti singa kelaparan! bagaimana jika anaknya yang di usik? beginilah nasib mereka semuanya.
__ADS_1
"Aargghhhh...." teriakan yang berasal dari Riko sambil memegang Kejan*tannnya, bahkan dia sudah tak bisa berdiri lagi, Dani sudah gemetaran sambil terkencing di celana melihat apa yang di lakukan Johan pada Riko, bagaimana tidak, Johan sengaja menghukum mereka satu persatu,saat ini Teo dan Dani sedang di pegangi oleh anak buah Johan dan menunggu giliran nya, dan Johan dengan amarahnya mengamuk memakai cambuk milik Lee, berulang kali mencambuk Riko dengan tak berjeda sama sekali.
"Bagaimana?? apa masih ingin bisa berdiri?" ucap Johan sambil menendang burung perkutut milik Riko lagi, dan sudah sangat bisa di pastikan, Riko tak akan bisa lagi membangunkan si burung perkutut itu kedepannya lagi.
"A-aam-ammpun!!"
mohon Riko terlihat memelas dan dengan keadaan hampir tak bernyawa.Johan membuang cambuk di tangannya, dan mengambil tongkat bisbol disana.
"Giliran mu bocah!!"
ucapnya dengan seringai jelas diwajahnya sambil mengetuk-ngetukkan tongkat nya ke lantai hingga mengeluarkan suara cukup nyaring, Matanya tajam menatap Teo, Teo yang merasa terancam berusaha memberontak dari cekalan tangan body guard Johan.
"Waktumu tinggal setengah jam Jo!! segera selesaikan!" Ray yang sedari tadi duduk manis akhirnya membuka suaranya, Johan hanya mengacungkan jempolnya sejajar dengan bahu, menandakan dia menjawab oke pada Ray yang ada di belakang punggungnya.
kata Johan sambil mengayunkan tongkat nya ke arah Teo, dengan kekuatan penuh bersamaan dengan jeritan mulut Teo yang menyayat hati, patah juga lengan tangan Teo sebelah kiri.Namun itu tak membuat Johan puas, tangan kedua juga di patahkan oleh Johan, terakhir kepala Teo jadi sasaran nya dan seketika Teo terkapar tak berdaya di lantai dengan darah yang bersimbah dari kepalanya.
"Ampun om.....hiks....ommm ampun!!!" teriak Dani sambil memberontak dari cekalan tangan anak buah Johan.
"Jangan...om.....aku mohon ampun?!!!"
Johan menatap ke arah Dani tanpa rasa iba sama sekali, dia tiba-tiba memejamkan mata,Johan ingat bagaimana kondisi sanga anak gadisnya itu, sungguh mengenaskan!.Johan mengambil sebuah pisau yang ada di balik celana di betisnya,
"Tenang bocah!! aku tak akan membunuhmu!!!" kata Johan
__ADS_1
"Aku hanya akan menyayat tubuhmu!!" dan tiba-tiba.....
"Aargghhhh.....tidak!!!! ampuni aku Om!!!" suara menggema hingga beberapa anak buah Johan merinding mendengar dan melihat perbuatan Johan.
Ditempat lain.....
Seorang lelaki tampan sudah menunggu kedatangan Revita dan juga Edo.Dengan senyuman manisnya dia tersenyum pada tubuh Revita yang masih setia dengan pingsannya.
"Letakkan di ruangan itu!" kata si lelaki itu.
"Sebentar lagi kita mulai!" lanjut nya,sambil melangkah ke sofa begitu Edo selesai meletakkan Vita ke ruangan yang di perintahkan padanya.
"Aku mau upahku dulu!" kata Edo sudah mendorong lelaki itu di sofa dan segera melucuti cela*na si lelaki itu.
"Apa yang kau lakukan??" bentaknya.
"Aku tak butuh uangmu!! kau tau itu!!" dengan cepat Edo langsung memasukkan Batang milik lelaki itu ke dalam mulutnya, meng*ulum dan sesekali menikmati nya.
"Ooh shi*t!!" umpat lelaki itu ketika batang nya bereaksi setelah mendapatkan kenikmatan dari mulut Edo.
"Aku sudah membuat mu senang!! maka buatlah aku senang terlebih dahulu!" kata Edo sambil melanjutkan kegiatan nya, lelaki itu hanya menikmati apa yang dilakukan Edo bahkan sesekali dia mende*sah nikmat.
bersambung.....
__ADS_1