
Levin membawa Boy masuk ke dalam rumah diam-diam, bagaimana pun juga, Levin masih punya hati untuk melindungi Boy dari amukan Johan sang Papa, Levin tak ingin Johan menganggap Boy remaja yang masih suka main-main padahal sudah punya tanggung jawab sebagai suami dari anaknya, Minum boleh sesekali tapi bukan untuk mabok seperti sekarang ini. Perlahan Levin mengetuk pintu kamar sang adik, dan setelah sekian menit, Kay baru membuka nya.
"Kak Levin? ini kak Boy kenapa?" tanya Kay bingung karena sang suami di papah Kakak nya.
''Hai Kay sayang....aku tidak apa-apa sayang.... terimakasih kakak Levin yang galak!!" kata Boy sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar adik ipar siallan!!" umpat Levin sambil berlalu ke kamar nya.
Di dalam kamar, Boy melepaskan semua pakaiannya bahkan sampai tak tersisa, dia merasa gerah dan akhirnya memutuskan untuk mandi.
"Kak..mau kemana?" tanya Kay melihat tubuh polos suaminya.
"Mandi sayang....badan aku lengket semua!" kata Boy yang setengah sadar.
"Eh gak!! sini, aku lap aja pakai air hangat! udah jam 12 an kak, masa' mau mandi?!"
kata Kay menarik Boy di tepian ranjang, dan dengan tak ada akhlak nya, Boy tidur terlentang tanpa busana.
"iihh Kak!! di tutupi dong itu-nya!!" kata Kay sambil mengambil handuk kecil sebelum mengambil air hangat nya.
"Sayang.....sini dulu deh!" kata Boy dengan senyum licik nya.
"Apa kak?" tanya Kay sambil mendekati Boy
"Aarrgggh......aduh apa sih kak!!" sentak Kay karena terlalu kaget, pasalnya Boy menarik Kay sampai terduduk di pangkuan Boy.
__ADS_1
"Bikin aku tambah gerah dulu ya, baru di lap pakai air hangat!" bisik Boy di telinga Kay, sambil mengelus perut Kay yang mulai membuncit.
"Iihh... Kakak!... sttttttttt..!!" belum juga Kay mengiyakan permintaan Boy, mulut dan lidah Boy sudah bergerilya kemana-mana, dan benar saja apa yang di katakan Boy pada kedua sahabatnya, dengan keadaan setengah mabuk, Boy lebih beringas di atas ranjang, dan Kay berulang kali harus memperingatkan Boy tentang bayi yang ada di perutnya.
Meninggalkan Boy yang sudah menambah pertempuran untuk menuju ronde ke 3, Fabri sesampainya di rumah langsung menuju kamar Ela, walaupun Mama nya sering ngomel dengan kebiasaan Fabri yang tiba-tiba tidur dikamar Ela, namun demi apapun Fabri terus saja menyakinkan sang Mama dan papa kalau dia tak akan pernah membuat gawang Ela jebol! Kevin yang setuju bila mereka menikah setelah Fabri lulus dan bisa menjalankan perusahaan sebagai asisten Lee barulah dia di berikan kesempatan menikahi Ela.
ceklek.....
Fabri masuk dan langsung melepaskan jaket dan celana jeans nya, hingga dia hanya memakai boxer dan kaos putih di bagian atasnya.
Grep.....
Dengan cepat dia memeluk Ela dari belakang,mencari kehangatan di balik tengkuk belakang Ela, Ela memang sensitif terhadap gerakan,dia langsung terbangun dan membalikkan badannya ke arah seseorang yang memeluk nya.
"Kak.....baru pulang?" tanya Ela dengan mata yang masih tertutup.
"Bagaimana kerjaan nya?" tanya Fabri setelah melepaskan ciumannya.
Ela memang tidak mau kuliah,dia tidak mau menyusahkan Fabri dan juga keluarganya, dia lebih memilih untuk kelas memasak dan sekarang mulai bekerja sebagai asisten chef, namun saat ingin keluar dari rumah keluarga Fabri dan mencari kost sendiri, Desi langsung menolak permintaan Ela, beberapa tahun lagi mereka akan menikah jadi menurut Desi wajar jika Ela tinggal di situ, karena desakan mereka akhirnya Ela menurut, dengan syarat Ela tak mau berpindah dari kamar pembantu yang biasa dia tempati dan bagi Desi tidak masalah sekali,lagian mereka hanya mempunyai dua orang pembantu yaitu Ela dan juga bik Nur, sekarang karena Ela sudah sibuk dengan pekerjaan barunya, hanya bik Nur yang bekerja sendirian, jika weekend atau saatnya Ela untuk libur maka ia akan membantu membersihkan rumah dan itu tidak menjadi masalah buat Ela sesuai kesepakatan dengan Fabri bahwa Ela tidak boleh terlalu capek, dia boleh mengerjakan pekerjaan rumah di rumah besarnya asal jangan terlalu capek.
"Seru banget! chef membuat menu baru! dan dia meminta aku juga untuk belajar kak!"
"Benarkah?" tanya Fabri terlihat senang karena melihat Ela yang berbinar dengan cerita nya.
Ella bercerita ke sana dan kemari, dia begitu senang menceritakan bagaimana pekerjaannya sebagai asisten chef di tempat kerjanya yang sekarang, Fabri hanya memperhatikan gadis yang sangat dicintainya itu, Ela tak pernah merasakan bahagia semasa hidupnya setelah kepergian sang Mama, hidupnya penuh dengan penderitaan apalagi tantenya yang beberapa waktu lalu ingin menjualnya ke klub malam, ternyata penderitaan Ella tak sampai disitu setelah bisa lari dari klub malam dia terlunta-lunta hidup Jakarta bahkan pertemuannya dengan Fabri untuk pertama kali pun terkesan tidak baik karena Ella sedang mencuri sandwich di mobil Fabri yang terbuka kacanya.
__ADS_1
Fabri memandang Ela dengan penuh haru, dia benar-benar ingin membahagiakan Ela, menjadikan Ela wanita satu-satunya dalam hidupnya, setelah dia menyelesaikan skripsinya dan lulus dari kuliahnya dia akan bekerja keras menjadi asisten di perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Kevin sang Papa, perusahaan milik keluarga Barata,setelah itu sang Papa menjanjikan untuk menikahkannya dengan Ella dan sungguh Fabri sangat tidak sabar menunggu hal itu terjadi.
"sayang aku sangat mencintaimu" kata Fabri
"Jangan terlalu berlebihan mencintai sesuatu Kak" kata Ela
"Kenapa? kenyataan nya aku cinta sama kamu! cinta mati malah!!" kata Fabri menyakinkan Ela.
"Iya Kakak Fabri yang baik...cakep.....tampan!"
"jangan di goda dong sayang" rengek Fabri
"ih apa sih kak!....kak...kakak habis minum?" tanya Ela
''Hanya menemani kak Levin saja!.....udah tidur ya!"
Mereka berdua akhirnya terlelap dalam mimpi mereka,Ela yang capek dengan pekerjaannya serta Fabri yang memang sudah tidak bisa menahan kantuknya, mereka berdua sama-sama masuk ke dalam mimpi mereka masing-masing.
Sedangkan Leo, sesampainya di apartemen miliknya, malah mengambil botol minuman dan meminum nya sendiri.
"Leo...loe tau siapa Ayana, dia bisa mengorbankan apapun tanpa kita minta!! apalagi kalau dia sudah merasa iba dengan seseorang! gue takut bukan loe yang menyerah! melainkan dia"
Kata-kata Levin,masih terngiang di telinga Leo dengan jelas, dia benar-benar pusing memikirkan keadaan nya dan kelangsungan perusahaan sang Papi.
"Breeengsek!!!! kenapa harus ada masalah seperti ini!!" umpat Leo sambil terus menegak minumannya.
__ADS_1
bersambung