
"Kak May!!! Air ketuban kakak pecah!!!" ucap Raka panik...
"Kak Ray!!!" Teriak nya hingga beberapa saat kemudian Ray dan tuan Adrian berjalan cepat ke arah ruang keluarga, melihat istrinya panik, Ray juga ikutan panik.
"Raka!! siapkan mobil!!" teriak Ray, dan dengan sigap Raka lari ke arah pintu keluar.
"Berjalan pelan saja May!! tidak apa-apa, sebentar lagi pasti nanti melahirkan!! papah pelan saja Ray!" nyonya Clarissa memberikan arahan.
Ray sangat panik demi melihat wajah yang istri yang pucat karena ini adalah kehamilan pertama jadi mereka sama-sama belum berpengalaman. Valle dan Clarissa ikut menemani May sampai ke depan rumah dan masuk ke dalam mobil. Mereka berharap semuanya akan baik-baik saja. Raka sangat panik sama halnya dengan Ray, karena pada saat kelahiran anaknya dan Valle, Valeria tak perlu mengalami kontraksi karena saat kehamilan Valeria mengalami hal yang tidak baik, sehingga dokter kandungan yang memeriksa nya menyarankan untuk melakukan tindakan operasi caesar.
Raka seakan lupa bahwa yang di bawa adalah wanita hamil bukan tuan besarnya, jiwa pembalap nya keluar seketika! dengan kecepatan yang tinggi , Raka berusaha untuk segera sampai di rumah sakit, beruntung nya ini adalah weekend sehingga Raka tak mendapatkan kendala berarti dalam mengendalikan mobilnya.
"Huh..huh....huh......!!'" suara May yang bernafas lewat mulut nya, dia sangat kesakitan, dengan sekuat tenaga mencengkram tangan Ray.
"Sayaang bersabar ya......" Ray coba menenangkan Maysha sang istri.
"Raka!!! kau pikir ini di arena balap!! apa kau tak lihat kakak ipar mu sedang hamil!!" kata Ray.
"Tidak apa Raka!!! aku sudah tidak tahan sayang....hiks..... Ray ini...sangat sakit!!!" ucap May dengan rintihan kesakitan nya.Ray hanya menenangkan sang istri dengan menciumi tangan yang di genggam nya fan juga seluruh wajah sang istri. Ray tak pernah takut kehilangan apapun itu, kecuali sang papa! namun saat ini hatinya sangat takut, bayang-bayang peristiwa yang sering di ceritakan oleh sang papa tentang mamanya tiba-tiba terlintas begitu saja!
Ray sampai beberapa kali memejamkan matanya,sambil terus mulutnya komat-kamit membaca doa, berharap sang istri baik-baik saja. Perjalanan dari rumah tuan Adrian ke rumah sakit milik Ray memakan waktu setengah jam saja sebenarnya, Namun entah mengapa rasanya sangat lama bagi Ray, lelaki dingin ini bahkan sudah terlihat kacau sekali, Raka yang memperhatikan sang kakak hanya bisa menghela nafas pelan, serumit apapun Ray, seganas apapun musuhnya! tak pernah sama sekali Ray terlihat tak berdaya seperti saat ini, Raka melihat muka pucat May merasa iba.
Raka yang tau dari Ray bahwa May sosok yang tak bisa menahan rasa sakit, bahkan dia cenderung tidak kuat menahan sakit! apalagi di awal kehamilan nya, May dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"May......masih sakit?'' tanya Ray basa-basi, karena jelas sekali tercetak muka kesakitan di wajah sang istri, Ray bertanya hanya untuk menenangkan hatinya yang kalut.
"Aaarrrgggghhh......" suara erangan rasa sakit terdengar sedikit keras dari mulut Maysha.
"Ray......aku gak kuat!" Ucap Maysha lemas.
"No..no... no....sayang!!! bertahanlah!! aku mohon sayang!!" ucap Ray bahkan sudah meneteskan air matanya, dia tak sanggup melihat sang istri dengan wajah kesakitan nya.
"Raka cepat!!!" Perintah Ray ketika menyadari laju kendaraan Raka mulai pelan, saking paniknya Ray tak menyadari kalau dia sudah sampai di parkiran rumah sakit, karena itu Raka memelankan laju mobilnya.
"Kak!! kita sudah sampai!!" kata Raka, dan benar saja,dokter yang menangani Maysha sudah menunggu di depan rumah sakit, karena ketika Ray masuk mobil Raka langsung menelpon Tian, mengabari bahwa Maysha akan melahirkan dan memintanya menyiapkan ruangan bersalin untuk kakak iparnya itu.
"Sayang...kita sampai...ayo....!" kata Ray yang ingin membopong Maysha.
"May..... Maysha!!!" teriak Ray memanggil Maysha karena terlalu panik, dia bahkan tak mengeluarkan May dari dalam mobil, Raka yang mendengar teriakkan Ray segera melihat dan memerintahkan sang kakak keluar membawa May.
"Kak!!! ayo bawa keluar!!!" bentak Raka menyadarkan Ray.
Tubuh May sudah tak berdaya lagi, sudah terlihat lemas dan pasrah.Ray bahkan sudah berderai air mata sekarang, melihat Ray berlari membopong istrinya yang sedang hamil besar dan terlihat May sedang pingsan, membuat beberapa suster dan dokter berkeringat dingin.
"Cepat tolong istriku Tian!!!"
Teriak Ray karena yang dia liat pertama kali adalah Tian, padahal dia bukan dokter kandungan, dokter segera mengambil alih May dan masuk ke dalam ruang bersalin, di upayakan beberapa cara agar May terbangun dari pingsannya.Ray berusaha untuk masuk kedalam ruang tersebut, namun Tian yang berada di luar mencegahnya, agar dokter bisa bekerja semaksimal mungkin. Dokter keluar dan membisikkan sesuatu pada Tian, Ray terlihat masih diam, namun dia bisa melihat raut wajah Tian yang berubah dan memandang Ray dengan sangat lekat.Ray yang juga menatapnya, seakan bisa membaca tatapan mata Tian.
__ADS_1
"Ray......!!" kata Tian dengan lesu.
Ray memejamkan matanya, dia teringat perbincangan terakhir dia dengan Maysha.
flashback on
Cerita May saat bersiap untuk tidur....
"Ibu berjuang untuk Lerie, walaupun usia kami berbeda sangat jauh Ray, dan saat itu, Ayah harus berangkat ke luar negri sebagai TKI, karena sudah menunggu lama dan baru bisa berangkat, akhirnya ibu merelakannya Ray!"
"Kau adalah kekuatan ibu dan ayah May! jadi jaga adikmu demi ibu dan ayah suatu hari nanti! begitulah kata ibuku Ray, dan aku tak menduga bahwa itu adalah kata-kata terakhir ibuku untuk ku!"
" Di detik-detik terakhir ibu,aku bertanya pada ibu, kenapa mempertahankan kehamilannya bila memang bermasalah Ray, dan kau tau Ray sayang? apa jawaban ibuku?" Ray mengeleng.
"Dia mengelus perutnya yang sudah tak buncit lagi, karena Lerie sudah terlahir, Ibu bilang sambil menatap bayi mungil di gendongan bibi....Dia berhak bahagia May, aku sudah pernah bahagia jadi biarkan kehidupan baru di rahim ku merasakan bahagia juga May!"
Flashback off
Ray memejamkan mata, tiba-tiba dia terisak, seorang Ray yang bisa mengendalikan emosi nya, nyatanya kalah dengan keadaan sang istri, Raka merasa tak sanggup melihat sang kakak, airmatanya sudah jatuh bahkan semakin deras.Ray menata hatinya, mencoba mencerna perkataan Maysha saat itu, keputusan sang sangat sulit untuk nya. Ray tak lagi bisa berdiri tegak, dengan cepat Raka memegang bahu Ray yang terlihat limbung.
"Selamat kan bayinya dok!"
Ucap Ray dengan gemetaran, ...."Dia berhak bahagia May, aku sudah pernah bahagia jadi biarkan kehidupan baru di rahim ku merasakan bahagia juga May!" kata-kata May yang menceritakan tentang sang ibu, seakan mengisyaratkan pesan May untuk Ray! bahwa Ray harus memilih bayinya daripada May jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
__ADS_1
bersambung.....