
Susan menelepon Hendra salah satu dari temannya yang bekerja di media massa.
"Halo Hendra , apa kamu kenal dengan wartawan yang mengambil foto acara pertunangan anak dari pemilik All Star Hotel kemaren?" , ucap Susan.
"Oh , berita yang pagi ini terbit ya? Kamu mencarinya untuk apa?" , tanya Hendra.
"Itu yang menjadi tunangannya adalah bos aku dan dia mau minta foto nya buat di cetak , bisa gak kamu bantu aku untuk mendapatkan softcopy nya?" , ucap Susan.
"Baiklah , tapi kamu harus traktir aku minum kopi yang setelah aku kirimkan fotonya ke kamu" , ucap Hendra.
"Kenapa cuma file foto asli saja aku harus mentraktir kamu kopi?" , ucap Susan.
"Gak ada yang gratis di dunia ini Susan sayang" , ucap Hendra yang sebenarnya sangat menyukai Susan dan hanya mengambil kesempatan itu untuk dapat berduaan dengan orang yang disukainya.
"Baiklah , cepetan ya kirimkan ke aku fotonya" , ucap Susan.
"Ok baby" , jawab Hendra sambil memutuskan sambungan panggilan telponnya.
Hendra memanggil Burhan sang fotografer yang mengambil foto acara di All Star Hotel kemaren malam.
"Burhan , kamu kirimin aku file foto yang terbit di halaman utama hari ini ya" , ucap Hendra.
"Buat apa kamu foto dari pertunangan pewaris anak orang kaya itu?" , ucap Burhan.
"Cewek incaran aku ternyata kerja bersama dengan cowok yang ada di dalam koran itu dan bos nya minta untuk dia mendapatkan foto itu untuk dicetak" , ucap Hendra.
"Bukankah mereka punya fotografer sendiri. Kenapa sampai minta gambar foto yang terbit di koran hari ini?" , ucap Burhan dengan penuh tanda tanya.
"Kayaknya dia suka dengan hasil jepretan foto kamu" , ucap Hendra.
"Baiklah , demi kamu bisa mendapatkan wanita yang kamu incar , ini file nya" , ucap Burhan sambil memberikan flashdisk kepada Hendra.
"Terima kasih" , ucap Hendra sambil mengambil flash disk yang diberikan Burhan dan kembali ke meja kerjanya.
Hendra langsung mengirimkan file asli dari foto itu ke email Susan.
Setelah tulisan di layar komputernya terkirim , Hendra mengambil ponselnya dan menyentuh nama Susan disana.
Tidak lama terdengar suara dari sana.
"Halo" , jawab Susan.
"Halo baby , aku sudah kirimkan fotonya ke email kamu" , ucap Hendra.
"Iya , aku juga sudah lihat , makasih ya" , jawab Susan.
"Iya baby , jangan lupa ya traktiran aku , sabtu ini ya" , ucap Hendra.
"Baiklah" , jawab Susan sambil memutuskan sambungan telponnya.
.
.
"Huft , gara-gara si bos aku jadi harus pergi dengan Hendra deh" , ucap Susan sambil meletakkan ponselnya di meja.
__ADS_1
"Kamu kenapa Susan?" , tanya Yuli.
"Masa untuk mendapatkan foto ini saja , aku harus mentraktir teman aku kopi" , ucap Susan dengan nada kesal.
"Teman kamu itu cowok atau cewek?" , tanya Yuli.
"Cowok" .
"Berarti dia modus sama kamu" , ucap Yuli.
"Modus apaan?" , tanya Susan sambil mengerutkan keningnya.
"Modus cinta" , jawab Yuli sambil terkekeh.
"Sudah ah , aku mau pergi cetak foto si bos dulu dan di kasih bingkai yang bagus" , ucap Susan.
"Baiklah" , jawab Yuli sambil melanjutkan pekerjaannya kembali.
Susan berjalan keluar dari kantor menuju ke tempat cetak foto yang ada di ruko dekat gedung perusahaan mereka.
Sampai disana , Susan langsung meminta petugas toko untuk memperlihatkan bingkai foto yang paling mahal disana.
Terlihat ada beberapa pilihan bingkai foto disana.
"Yang mana yang paling cocok untuk foto ini" , ucap Susan.
"Kalau dilihat dari foto ini , yang paling cocok yang bingkai berwarna hitam dan ada ukiran di pinggirannya ini" , ucap petugas toko.
"Baiklah , saya pilih yang itu saja. Apa hasilnya bisa langsung jadi?" , tanya Susan.
"Baiklah" , jawab Susan sambil membayar semuanya dan duduk di kursi yang di sediakan disana.
Setelah beberapa waktu , foto yang dicetak dalam ukuran besar itu sudah jadi dan sedang dimasukkan ke dalam bingkai foto.
"Benar kelihatan sangat bagus dengan menggunakan bingkai ini" , ucap Susan dalam hatinya sambil melihat petugas toko yang mulai membungkus bingkai dengan kertas koran.
Setelah petugas toko selesai membungkus bingkai fotonya , Susan membawa bingkai foto itu menuju ke kantor.
"Ya ampun , ternyata bingkai foto ini berat juga" , ucap Susan dalam hatinya.
Susan terus berjalan sampai akhirnya dia sampai di meja kerjanya dengan nafas yang terengah-engah.
"Kamu kenapa sesak nafas gitu?" , ucap Yuli.
"Bingkai fotonya berat banget tau" , jawab Susan.
"Lihat dong foto si bos dan tunangannya" , ucap Yuli.
"Bentar ya , aku mau duduk dan minum dulu , capek banget rasanya" , ucap Susan.
"Baiklah" , jawab Yuli.
Selesai melepaskan rasa lelahnya , Susan mulai membuka pembungkus bingkai foto.
"Cantik sekali tunangannya di bos" , ucap Ernest yang sedang lewat disana untuk menuju ke ruangan James.
__ADS_1
"Iya , pacarnya memang sangat cantik dan masih remaja lagi , makanya dia sangat menyayangi pacar kecilnya ini" , ucap Susan.
"Memangnya kamu sudah pernah bertemu dengan pacarnya?" , tanya Ernest.
"Sudah , waktu itu di kamar hotel" , jawab Susan.
"Kenapa bos bisa di kamar hotel bersama dengan kekasihnya? Apa jangan-jangan kekasihnya sekarang sedang hamil , makanya mereka akan menikah dengan cepat" , ucap Ernest.
Susan gak berani menjawabnya , karena James sudah berada di belakang Ernest.
James langsung memukul kepala Ernest dari belakang.
"Siapa lagi yang berani memukul kepala gue" , ucap Ernest sambil memegang belakang kepalanya yang sakit dan membalikkan tubuhnya.
"Kamu kalau bicara jangan asal ya , pacar saya itu tidak sedang hamil , memang kami sudah memutuskan untuk menikah secepatnya , awas kalau kamu berani ngomong macam-macam lagi tentang calon istri saya , saya pecat kamu" , ucap James.
"Maaf pak" , jawab Ernest.
"Ya sudah , kamu ngapain kesini?" , ucap James.
"Ada dokumen yang harus bapak tanda tangani" , ucap Ernest.
"Baiklah" , jawab James sambil melihat dokumen yang dibawa oleh Ernest dan menandatanganinya disana , setelah itu memberikannya kepada sekretaris pribadinya itu.
"Kalau gitu saya permisi kerja dulu ya pak" , ucap Ernest.
"Itu baru benar , kerja yang baik , jangan membuat gosip yang tidak benar" , ucap James.
"Iya pak , maaf" , jawab Ernest sambil pergi dari sana menuju ke ruangan kerjanya.
James melihat foto yang baru dicetak oleh Susan.
"Bagus , tolong kamu pasangkan di dalam ruangan saya" , ucap James sambil tersenyum.
"Baik pak , mau di pasang di mananya?" , tanya Susan.
"Di belakang meja kerja saya saja" , ucap James.
Susan mengangkat lagi bingkai foto yang berat itu dan membawanya ke ruangan kerja bos nya.
James langsung tersenyum bahagia melihat foto dia dan Angelica sekarang sudah terpasang disana.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya pak" , ucap Susan.
"Baiklah , terima kasih ya" , ucap James.
Papa Freddy yang baru sampai di kantor siang itu , melihat pintu ruangan kerja James terbuka , dia pun masuk ke dalam.
"Dari mana kamu bisa dapat foto pertunangan kalian nak?" , tanya papa Freddy.
Mendengar suara papanya , James pun langsung membalikkan tubuhnya.
"Aku minta Susan yang mencarinya pa" , jawab James sambil tersenyum.
"Ok , kalian kelihatan sangat serasi di foto ini" , ucap papa Freddy sambil tersenyum.
__ADS_1
James pun langsung tersenyum lebar mendengar perkataan papanya.