
Karena masalah gaun yang tidak muat di tambah kemacetan parah menuju tempat acara, Jingga dan Arkana pun harus datang tepat di acara resepsinya saja. Mereka tidak bisa melihat proses ijab qabul Qania dan Aizen, meski begitu mereka bersyukur bisa tiba tepat di mulainya resepsi.
Sebagian besar tamu undangan tentu saja mereka yang bekerja di rumah sakit, saat Jingga dan Arkana datang lantas beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.
“ Mereka berdua emang cocok banget, istrinya dokter cantiknya nggak main-main.”
“ Jadi nggak sabar lihat anak mereka nanti kaya gimana.”
“ Baju mereka couple, so sweet banget nggak sih.”
Seperti biasa, kemunculan Arkana dan Jingga yang berpura-pura mesra di depan umum akan selalu menjadi bahan obrolan setiap orang. Keduanya terus berjalan menuju pelaminan dimana Qania dan Aizen sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
“ Selamat ya Qania, semoga kamu bisa menjadi istri yang baik buat suami. Dan juga semoga kalian selalu bahagia ya.” Ucap Jingga sambil memeluk Qania.
“ Terima kasih ya, dan semoga kamu sama Arkana ada titik terangnya. Kalian bisa bersama dan hidup bahagia sampai kakek nenek.” Bisik Qania.
Jingga melepas pelukannya dan menatap Qania sebentar, dia tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh Qania barusan akan terwujud. Setelah itu, Arkana yang maju di hadapan Qania.
“ Selamat, aku akan menghormati keputusan kamu ini. Semoga kamu terus bahagia.” Kata Arkana menatap Qania lurus.
“ Terima kasih.” Balas Qania tersenyum simpul.
“ Jaga Qania, jangan buat dia sedih.” Lontar Arkana pada Aizen.
“ Pasti, aku pasti akan membuat dia bahagia.” Balas Aizen.
Setelah turun dari pelaminan, Arkana merasa begitu bebas. Dia tidak merasa marah ataupun kecewa melihat Qania akhirnya resmi menjadi istri Aizen, sebaliknya dia merasa tenang dan biasa saja.
“ Permisi kak, kakak cantik banget hari ini. Bisa foto bareng nggak.?” Beberapa anak muda tiba-tiba meminta Jingga untuk berfoto bersama mereka, melihat hal itu sontak membuat Arkana langsung maju dan merangkul Jingga.
“ Maaf ya, istriku sedang hamil dan dia ingin segera duduk.” Kata Arkana menggagalkan keinginan mereka untuk bisa berfoto bersama Jingga.
“ Padahal aku nggak capek loh mas.” Ucap Jingga saat dia sudah di bawa Arkana menuju kursi tamu.
“ Aku heran sama mereka yang selalu ingin minta foto sama kamu, memangnya nggak ada orang lain apa.?” Protes Arkana.
“ Mungkin karena aku cantik.” Balas Jingga.
“ Ya..ya.., terserah. Sebaiknya kita duduk disini aja.” Arkana mempersilahkan Jingga untuk duduk di salah satu kursi yang di sediakan di tempat itu.
__ADS_1
“ Kamu mau makan apa.?” Tanya Arkana.
“ Aku mau buah aja.” Jawab Jingga.
“ Tunggu disini, kalau ada yang minta foto lagi sama kamu langsung tolak.” Ucap Arkana sebelum akhirnya meninggalkan Jingga.
Arkana kemudian datang dengan beberapa macam cemilan di tangannya, padahal Jingga hanya minta buah tapi dia di bawakan cemilan lain. Jingga pun berterima kasih karena sepertinya cemilan yang di bawa oleh Arkana terlihat sangat enak.
“ Jingga.” Seseorang baru saja menegur Jingga dan membuatnya menoleh dengan cepat.
“ Sinta.” Jingga langsung bangkit dari kursinya dan memeluk teman SMA nya dengan penuh semangat.
“ Kamu datang sama siapa? Kamu kenal sama pengantinnya.?” Tanya Jingga.
“ Suamiku temenan sama mempelai pria, kalau kamu.?” Tanya Sinta.
“ Kamu lupa suamiku pemilik rumah sakit tempat pengantin kerja.?” Ucap Jingga sedikit berbisik.
“ Oh iya aku lupa.” Balas Sinta sambil menepuk jidat.
“ Sintaaaaaaa.” Suara yang melengking baru saja terdengar oleh Jingga dan Sinta, siapa lagi kalau bukan Diana.
“ Kamu lihat gaun yang di pakai sama mempelai wanita? Itu aku yang buat.” Kata Diana dengan penuh percaya diri.
“ Wahh hebat banget ya, aku pikir Jingga yang membuatnya.”
“ Jingga sudah lama nggak menjahit, semua itu karena ulah seseorang.” Ucap Diana sengaja mengeraskan suaranya agar Arkana mendengarnya.
“ Oh iya, aku sampai lupa. Mas, kenalin dia Sinta teman SMA aku sama kaya Diana.” Kata Jingga melirik Arkana yang sejak tadi di cuekin.
“ Arkana, suaminya Jingga.” Balas Arkana tanpa menyodorkan tangan.
“ Sinta kak, teman dekat Jingga waktu SMA.”
“ Suami kamu mana.?” Tanya Jingga.
“ Suamiku lagi kumpul sama teman-teman kuliahnya, aku kebetulan lihat kamu tadi jadi langsung nyapa aja.” Jelasnya kemudian.
“ Kalian berdua sudah menikah, tinggal aku aja nih yang belum.” Seloroh Diana.
__ADS_1
“ Makanya di segerakan, jangan sibuk kerja terus.” Sahut Sinta.
“ Kalau aku sih nunggu pangeran berkuda putih datang melamar, aku nggak mau sampai salah pilih suami. Aku takut hidupku bakalan kaya seekor burung yang terus di kurung di dalam sangkar.” Diana kembali menyindir Arkana dengan kalimatnya barusan.
“ Dari tadi kamu ngomong kaya nyindir orang terus sih.” Tegur Sinta.
“ Btw, nggak nyangka ya kita bisa reuni kaya gini.” Jingga dengan cepat mengalihkan pembicaraan agar tidak semakin rumit.
“ Sekarang kamu tinggal dimana Sin.?” Tanya Diana.
“ Aku stay di Bali sama suami, karena ada urusan aja di Jakarta makanya kami datang kesini. Dan kebetulan banget acara nikahannya bersamaan dengan urusan dia, jadi kita bisa datang deh.” Jelas Sinta.
Ponsel Jingga tiba-tiba berdering menandakan ada pesan yang masuk, kemudian dia mengecek isi pesan tersebut yang ternyata datang dari Arkana.
“ Kita pulang sekarang.” Tulis Arkana dalam pesannya.
Jingga melirik Arkana sebentar dan memberikan jawaban dengan menganggukan kepalanya, kemudian dia meminta maaf pada Diana dan Sinta karena harus pulang lebih dulu.
“ Kok cepat banget sih.?” Tanya Sinta bingung.
“ Iya nih, ada urusan lain soalnya.” Balas Jingga terpaksa berbohong.
“ Urusan lain atau karena suami kamu nggak betah kamu ngobrol sama kita.?” Sahut Diana melirik Arkana dengan sinis.
“ Maksud kamu apa ya? Jingga memiliki urusana lain, kenapa kamu menyindir seperti itu.?” Lontar Arkana mulai terbawa emosi.
Jingga tidak ingin masalahnya semakin larut, dengan cepat dia menarik Arkana meninggalkan mereka setelah dia berpamitan. Jika terus berlanjut bisa saja Arkana dan Diana bertengkar seperti kucing dan anjing, Jingga sudah tahu sifat Arkana begitu pun dengan sifat Diana yang terlalu frontal meskipun dia seorang wanita.
Arkana dan Jingga sudah meninggalkan aula pernikahan, dan sekarang mereka sedang berjalan menuju parkiran. Langkah Arkana yang terkesan cepat membuat Jingga kesulitan untuk mengejarnya, dia tahu kalau Arkana sudah di buat kesal dengan sikap Diana barusan.
“ Kamu lama banget sih.” Tegur Arkana ketika melihat Jingga masih berjalan lambat di belakangnya.
Arkana kemudian tersadar dan kembali menghampiri Jingga, dan sekarang mereka berdua berjalan bersama-sama dengan langkah yang pelan.
“ Teman kamu itu nyinggung aku kan? Dia tahu kalau selama ini aku memperlakukan kamu beda.?” Tanya Arkana ketika mereka sudah tiba di mobil.
“ Aku juga nggak tahu mas kenapa Diana tiba-tiba kaya gitu.” Balas Jingga pelan.
“ Aku nggak suka sama teman kamu yang satu itu, jangan pernah ajak dia ke rumah lagi.” Kata Arkana mengakhiri percakapan mereka saat itu.
__ADS_1