Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Aku Yang Di Salahkan )


__ADS_3


Selama dua tahun setelah perceraian orang tuanya, Arkana tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari mama Widya. Dia selalu di salahkan atas apa yang terjadi sampai saat ini, setiap kali dia bertanya atau menyinggung mama Widya setiap saat itu juga dia akan di pukul atau di kurung di dalam kamar mandi.


Arkana sempat mengetahui bahwa mama Widya di pecat dari pekerjaanya dan karena di tuduh mencuri, dan saat itu dia baru tahu kalau ternyata ibunya bekerja menjadi seorang pembantu rumah tangga di salah satu keluarga kaya raya di pusat kota.


Tuduhan pencurian yang di tujukan pada mama Widya terbukti palsu sehingga masalah ini tidak di bawa ke rana hukum, akan tetapi mama Widya tetap di pecat dari pekerjaannya itu. Dan selama satu tahun dia dan Arkana hidup dalam kemiskinan, tidak memiliki apa-apa, bahkan untuk makan pun sangat sulit.


Arkana yang telah lulus di bangku SD memutuskan untuk berhenti sekolah, dia tidak ingin lanjut bangku SMP dengan kondisi dia dan mama Widya yang seperti itu.


Arkana yang sebentar lagi akan menginjak usia 13 tahun memutuskan untuk mencari pekerjaan, dia ingin membuat mama Widya merasa bangga padanya. Apapun akan di lakukan oleh Arkana sampai mama Widya mengakuinya dan berhenti menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi selama ini.


Arkana memperoleh pekerjaan yaitu menjual keripik tetangga dengan cara menjualnya berkeliling kompleks, dia bisa mendapatkan uang yang cukup untuk makan bersama mamanya.


Di hari pertamanya menjual dia mendapatkan uang sebesar 5000 rupiah, dengan uang itu setidaknya dia bisa membeli nasi bungkus untuk dia dana mama Widya. Sepulang dari jualan, Arkana mendapati mama Widya yang sudah menunggunya sejak tadi.


“ Dari mana saja kamu.?” Lontar mama Widya ketus.


“ Aku jualan ma, mbak Yani tetangga kita jualan keripik dan aku bantu dia jualan. Aku bawa nasi bungkus buat kita makan malam ini ma.” Arkana menunjukkan dua bungkus nasi di hadapan mamanya dengan ekspresi yang sangat bahagia.


“ Siapa yang suruh kamu jualan? Mama emang suruh kamu cari uang buat makan.?” Balas mama Widya sontak membuat Arkana terlihat takut.


“ Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Tetangga kita menganggap mama sudah menyuruh kamu untuk cari uang, mereka bilang mama nggak becus jadi orang tua. Dan itu salah kamu, mama jadi malu tahu.” Mama Widya menarik dagu Arkana dengan kasar dan menatapnya tajam.


“ Aku cuma mau bantu mama.” Balas Arkana lirih.


“ Bantu apa? Justru kamu malah buat mama malu.”


“ Mama sekarang nggak ada kerjaan, jadi aku mau bantu mama cari uang.”

__ADS_1


“ Mama nggak butuh bantuan kamu, sebagai anak kamu itu harusnya belajar biar pintar di sekolah.”


“ Tapi aku mau nggak mau sekolah lagi, biaya sekolah mahal. Aku nggak mau buat mama susah.”


“ Kamu harus tetap sekolah, kalau kamu berhenti sekolah kamu mau jadi apa saat besar nanti.?” Ucap mama Widya bahkan tak ingin menatap wajah Arkana saat ini.


“ Aku nggak mau buat mama repot.” Ujar Arkana menunduk sedih.


“ Urusan mama cari uang untuk sekolah kamu, jadi mama minta kamu harus jadi anak yang cerdas. Buktikan ke mama dengan prestasi kamu bisa buat derajat kita lebih tinggi. “


Setelah mendengar ucapan mamanya, Arkana mulai bertekad membuat mamanya bangga dengan terus bersekolah. Dia pun melanjutkan pendidikannya di bangku SMP Negeri, setiap hari dia belajar dan terus belajar hingga nilainya terus mencapai angka sempurna.


Hingga suatu ketika Arkana sakit dan besok dia harus ujian, dengan kondisi yang kurang sehat dia memaksa untuk pergi. Dan setelah ujian berakhir dan nilainya keluar, dia merasa kecewa dengan nilai matematika yang kurang dua nilai hingga mencapai nilai sempurna.


Sepulang dari sekolah dia mendapat amarah yang luar biasa dari mamanya, nilai 98 ternyata tidak membuat mama Widya senang. Hal itu membuat Arkana harus menerima hukuman dengan dirinya yang harus di kurung di dalam kamar mandi semalaman oleh mamanya.


“ Ma, Arkana janji akan belajar lebih giat lagi.”


Perlahan namun pasti suaranya mulai melemah, Arkana merasa tubuhnya sudah sangat lemah. Dia merasa pusing dan pandangannya mulai kabur, hingga akhirnya dia jatuh pingsan di dalam kamar mandi.


**


Arkana membuka kedua matanya setelah tiga hari tak sadarkan diri, dia melihat ruangan yang dulu pernah dia tempati. Arkana kemudian sadar sepenuhnya, terdapat jarum infus yang menempel di tangannya dan ruangan tersebut sunyi yang membuatnya sangat takut.


“ Mama.?”


Hal pertama yang ada di ingatannya hanya mama Widya, dia takut kalau mamanya pergi meninggalkannya. Arkana tidak tahu kenapa dia bisa berakhir di ruangan itu, dan sekarang dia melihat sosok mama Widya yang masuk ke dalam kamar tersebut.


“ Kamu sadar juga akhirnya.” Ucap mama Widya lirih.

__ADS_1


“ Aku kenapa ma.?” Tanya Arkana menatap mamanya dengan tatapan sayu.


“ Ingat sendiri, mama malas jelasin ke kamu.”


Arkana kemudian ingat kalau terakhir kali dia di kurung oleh mama Widya di kamar mandi, dia tidak tahu kalau dirinya bisa berakhir di rumah sakit seperti ini sekarang.


“ Kamu itu laki-laki tapi lemah banget, sudah dua kali loh kamu masuk rumah sakit kaya gini.” Sahut mama Widya.


“ Maafin aku ma.”


“ Nggak usah minta maaf, mama nggak butuh maaf dari kamu. Maaf kamu tuh nggak berguna, kamu bisa nggak sih jadi anak yang lebih berguna sekali aja buat mama.”


“ Aku sudah berusaha ma.”


“ Berusaha katamu? Buktinya mana kalau mau sudah berusaha.?”


Arkana terdiam, dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Rasanya setiap ucapannya adalah kesalahan di mata mamanya, dia akan selalu salah meski dia sudah membela diri dengan baik.


“ Seandainya yang ikut mama itu Bima, mungkin mama nggak akan stress kaya sekarang.” Mama Widya beranjak dari tempatnya, sekali lagi dia meninggalkan Arkana sendirian di kamar itu.


Arkana menangis di tempat tidurnya, dia merasa sangat sedih saat ini. Hingga seseorang masuk ke dalam ruangan itu, dia adalah Hendra yang ternyata sebelumnya sudah berdiri di depan pintu masuk ketika mama Widya melontarkan kata-kata yang menyakiti perasaannya.


“ Bagaimana keadaan kamu Ar.?” Tanya Hendra yang menghampiri Arkana dan langsung mengecek keadaannya.


“ Dokter, mati itu sakit nggak? “ Tanya Arkana tiba-tiba.


“ Loh, kenapa kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu.?” Hendra terkejut mendengar Arkana mengucapkan kalimat barusan.


“ Kenapa aku di lahirin kalau kaya gini keadaannya? Mama nggak sayang sama aku, dia selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada kami berdua. “

__ADS_1


Hendra meraih kepala Arkana dan membelainya dengan lembut, dia tidak menyangka anak seusia itu dapat mengatakan sesuatu yang sangat menakutkan di pendengarannya.


“ Jangan bicara seperti itu, mama Widya mungkin belum menerima keadaan yang di alaminya saja. Kamu harus lebih bersabar dalam menghadapinya, dan ingat. Yang di miliki mama mu saat ini hanya kamu, jadi jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup lagi ya.” Kata Hendra seketika membuat Arkana berhenti menangis dan menyesali ucapannya barusan.


__ADS_2