Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Operasi Berhasil


__ADS_3


Semua orang menunggu diluar selama operasi berlangsung, tidak satu pun dari mereka yang tidak berdoa demi keselamatan Bima dalam operasi kanker otak stadium akhirnya.


Arkana yang sebagai dokter bedah saraf paham betul bagaimana cara kerja operasi bagian otak karena sebelumnya dia juga pernah ikut andil dalam operasi seperti itu. Kemungkinan keberhasilan operasi begitu kecil, jika berhasil pun masih belum di katakan sembuh seratus persen.


Jingga tidak bisa berhenti menangis saat itu, dia sekarang paham kenapa sikap Nawa kepadanya seperti sangat memaksa. Dia bahkan tidak tahu kalau ternyata Nawa tidak memiliki waktu, dan waktu kebersamaan mereka kemarin mungkin sesuatu yang sangat di inginkan oleh Nawa.


Arkana merangkul Jingga dan keduanya saling menguatkan satu sama lain, bagi Arkana dia juga sangat takut kehilangan kakak laki-lakinya itu. Semua yang telah Bima lakukan untuknya sudah sangat banyak, bahkan dia belum membalas perbuatan baiknya sama sekali.


“ Ar, kita harus memberitahu mama mu soal keadaan Bima.” Sahut papa Aidan.


“ Mama mungkin akan sangat syok kalau tahu Bima sedang sakit.” Balas Arkana.


“ Bagaimana pun juga kita harus memberitahunya.” Sambung papa Aidan.


“ Baik pa, aku akan telpon mama dan kasih tahu soal keadaan Bima sekarang.” Arkana pun beranjak dari tempatnya dan segera menjauh untuk melakukan panggilan.


**


Operasi telah selesai di lakukan, salah seorang dokter keluar untuk memberitahu hasilnya. Semua orang kompak berdiri dan berkmupul di sekitar dokter yang saat itu sedang menjelaskan kondisi Bima.


“ Operasinya berhasil, pasien akan di pindahkan ke ruang ICU untuk memantau perkembangannya.” Ungkap dokter Ririn.


“ Kanker otak yang di alami Bima sudah masuk di tahap stadium akhir, perlu di ketahui bahwa hal ini sudah tidak dapat di sembuhkan. Kami melakukan operasi ini hanya untuk membantu memperlambat pertumbuhan sel kankernya dan juga untuk membuat hidupnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.” Jelas dokter Ririn kemudian.


“ Syukurlah, terima kasih banyak dokter.” Kata papa Aidan tak berhenti bersyukur atas hasil yang di dengarnya barusan.


“ Kamu pasti Jingga kan.” Lirik dokter Ririn kepadanya.


“ Iya dok, saya Jingga.” Balasnya pelan.


“ Bima sering cerita ke saya soal kamu, ternyata memang benar kalau kamu sangat cantik.”

__ADS_1


“ Dan kamu pasti Arkana kan.” Lanjut dokter Ririn menatap Arkana.


“ Iya dok, saya Arkana.”


“ Dia juga sering cerita ke saya soal adik laki-lakinya, kamu dan Jingga memang sangat cocok seperti yang dia bilang.” Lanjutnya dengan senyuman.


Setelah dokter Ririn selesai menyampaikan keadaan Bima dan mengobrol sedikit dengan Jingga dan Arkana, kini tiba saatnya dia pergi. Semua orang yang datang untuk Bima belum di perbolehkan untuk menjenguknya sampai besok, sehingga yang akan datang menjaga kali ini hanya Zara dan papa Aidan.


Jingga dan Arkana harus kembali ke Jakarta untuk melihat Keenan, dan kabarnya mama Widya juga sedang dalam perjalanan ke Bandung setelah di beritahu oleh Arkana tentang keadaan Bima.


**


Malam itu ketika Jingga dan Arkana kembali ke Jakarta, untuk pertama kalinya Keenan tidak menangis saat Jingga menyentuhnya. Dan kini Jingga bisa menimang putranya dengan bebas dan penuh rasa syukur. Dia bahkan sampai menangis ketika menatap buah hatinya ikut menatapnya dengan tatapan yang lembut.


“ Ini mama sayang, akhirnya kamu mau di gendong sama mama.” Ucap Jingga menatap Keenan dengan penuh cinta.


Jingga mengecup kening Keenan dengan sangat lembut, dia tidak berhenti memberikan ciuman yang sudah lama ingin dia lakukan. Keenan benar-benar tenang ketika di gendong oleh Jingga, bahkan membuatnya terlihat hampir tertidur.


“ Sini, biar aku aja. Kamu kelihatan sangat capek.” Sahut Arkana yang ingin Jingga istirahat terlebih dulu.


Arkana pun tersenyum senang mendengarnya, bisa melihat Jingga akhirnya tersenyum setelah hampir seharian bersedih membuat Arkana benar-benar merasa sangat lega.


“ Kalau gitu aku mau mandi, kamu tidurin Keenan aja dulu.” Kata Arkana di balas anggukan pelan dari Jingga.


Setelah Arkana meninggalkannya, terlihat air mata Jingga yang kembali menetes. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Nawa sekarang, dia tahu ini bukanlah sesuatu yang harus di tunjukkan kepada Arkana karena Jingga tidak ingin membuat Arkana sampai kepikiran.


“ Nak, mama benar-benar bingung sekarang.” Isak Jingga.


**


Jingga masuk ke dalam kamar dan melihat Arkana yang sudah selesai mandi, terlihat Arkana sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap sesuatu di ponselnya.


“ Mas Arka.” Panggil Jingga yang membuat Arkana segera melepas ponselnya dan fokus menatap Jingga.

__ADS_1


“ Ada apa sayang.?” Tanya Arkana penasaran.


Jingga menutup kedua matanya sebelum dia bicara, dia mulai memikirkan sesuatu. Kehidupan rumah tangga siapa tidak menginginkan kebahagiaan? Semua orang pasti menginginkan hal tersebut, entah bagi mereka yang belum masuk pada dunia pernikahan ataupun belum.


Begitu pula dengan Jingga sekarang, dia akan berusaha untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka dengan cara berkomunikasi yang baik dan selalu berpikiran positif.


“ Kamu kenapa? kalau mau cerita, bilang aja.” Sahut Arkana menyadarkan Jingga yang larut dalam pikirannya.


“ Aku mau minta maaf sama kamu, kamu pasti nggak nyaman karena aku terus khawatir sama Nawa. Kamu harus tahu satu hal mas, aku mungkin sangat khawatir sama dia sekarang tapi aku memilih kamu sebagai suami aku.”


Arkana langsung berdiri dan memeluk Jingga dengan sangat lembut, dia tidak membiarkan Jingga bicara lagi setelah itu. Sebaliknya Jingga bingung dengan sikap Arkana yang tiba-tiba ini.


“ Aku nggak cemburu kok, kita sama-sama mengkhawatirkan dia sekarang. Lakukan apa yang mau kamu lakukan, aku kasih kamu izin untuk melakukannya. Aku percaya kok kalau hatimu hanya untuk aku sekarang.” Ucap Arkana seketika membuat Jingga menangis terharu mendengarnya.


“ Terima kasih mas, aku nggak tahu mau bilang apalagi sekarang.”


Arkana melepas pelukannya saat menyadari bahwa Jingga sedang menangis, kemudian dia menaruh kedua tangannya di wajah Jingga sambil menyeka air mata istrinya.


“ Jangan nangis, kalau Bima sadar kamu nggak boleh sedih. Dia pasti ingin lihat kamu bahagia, kamu harus kuat ya.” Ucapnya pelan.


**


Kabar baru tentang Bima telah di terima oleh Jingga dan Arkana hari ini, kabarnya Bima telah di pindahkan ke rumah sakit bintang harapan oleh mama Widya. Beliau ingin putranya mendapat perawatan yang lebih baik di Jakarta, dan semua prosedurnya telah dilakukan sejak hari Bima tiba di Jakarta.


Jingga dan Arkana jadi tidak perlu repot-repot pulang pergi ke Bandung untuk menegoknya, setelah selesai menemani Keenan, keduanya pergi bersama menuju rumah sakit bintang harapan.


Setibanya disana, mereka di larang oleh orang-orang suruhan mama Widya untuk pergi ke lantai dimana Biam di rawat. Bima sendiri mendapat perawatan super VVIP di rumah sakit itu, dimana satu lantai di biarkan kosong dan hanya boleh di datangi oleh dokter dan mama Widya saja.


“ Biarkan kami masuk, kami mau melihat keadaan Bima.” Gertak Arkana kesal.


“ Kami di perintah sama nyonya untuk tidak mempersilahkan siapapun masuk ke dalam.” Balas mereka.


“ Biarkan mereka masuk.” Sahut seseorang yang membuat Jingga dan Arkana kompak menoleh.

__ADS_1


“ Papa Hendra.?” Ucap keduanya terkejut.



__ADS_2