Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kontraksi


__ADS_3


Bima datang ke rumah Arkana setelah mengetahui bahwa Arkana telah kembali ke rumahnya, dia datang membawa makanan kesukaan Arkana dan juga Jingga. Kali ini dia tidak datang sendirian, melainkan bersama Zara yang pernah dia kenalkan dengan mereka berdua.


Arkana tidak keberatan dengan kedatangan Bima kali ini, setelah dia melihat kepedulian sang kakak dia pun mulai meruntuhkan tembok yang dia bangun selama ini dari kakaknya itu.


“ Sebentar lagi mau lahiran ya, perutnya udah besar banget.” Tegur Zara sambil menatap perut Jingga dengan senyuman.


“ Iya kak, sudah masuk usia 35 minggu.” Jawab Jingga.


“ Gimana keadaan kamu sekarang? Udah nggak sakit lagi.?” Tanya Bima.


“ Kadang-kadang masih sakit kak, apalagi kalau mau tidur biasanya sesak nafas. Tapi nggak ada yang serius kok, dokter bilang harus lebih banyak istirahat aja dulu.” Balas Jingga kemudian.


“ Tadinya kami mau bawa sesuatu buat si bayi, tapi nanti aja deh pas bayinya udah lahir.” Ucap Zara sambil melirik Bima.


“ Kapan kalian berdua menikah.?” Tanya Arkana tiba-tiba yang membuat tatapan Bima dan Zara langsung tertuju kepadanya.


“ Zara masih sibuk dengan pekerjaannya, tunggu waktu yang tepat aja, iya kan sayang.?” Lirik Bima dan langsung di balas oleh anggukan pelan dari Zara.


Jingga tiba-tiba merasa aneh pada bagian bawahnya, dia ingin segera ke kamar mandi karena mengira ada yang basah di bawah sana. Kemudian Jingga izin ke kemar mandi yang membuat Arkana dengan cepat menawarkan diri untuk menemaninya, tapi Jingga menolak karena ada tamu.


“ Biar aku aja yang nemenin, gimana.?” Sahut Zara cepat.


“ Nggak apa-apa kak, aku Cuma mau ke kamar mandi bentar kok.” Tolak Jingga.


“ Aku mau sekalian touch up juga, boleh kan.?” Sambung Zara dan akhirnya Jingga menyetujui wanita itu untuk ikut masuk ke dalam.


Sekarang hanya ada Bima dan Arkana di ruang tamu, suasana tiba-tiba berubah canggung. Meskipun Arkana sudah memaafkan Bima, tapi hubungan persaudaraan mereka tidak bisa tiba-tiba kembali seperti dulu lagi.


“ Kamu sudah ketemu mama lagi sejak hari itu.?” Tanya Bima memulai percakapan mereka.

__ADS_1


“ Nggak pernah.” Jawabnya lirih.


“ Tapi mama bilang ke kamu kan kalau SIP kamu di rumah sakit nggak jadi di cabut? “


“ Aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah sakit itu sejak lama, jadi nggak ada alasan lagi untuk kembali sekalipun SIP ku batal di cabut.”


“ Kamu mau berhenti jadi dokter.?”


“ Aku sama Jingga mau pergi dari Jakarta setelah anak kita lahir, aku hanya nggak mau terikat dengan apapun di sini.”


“ Kalian mau kemana.?”


“ Aku nggak mau kasih tahu siapapun kemana kami akan pergi. Jadi maaf kalau aku nggak bisa bilang kemana tujuan kami pergi dari kota ini.”


“ Kau sudah punya apa untuk menghidupi istri dan anakmu.?”


“ Aku punya asetku sendiri, mama nggak tahu soal ini dan aku juga sudah menyimpannya sejak lama.”


“ Bagaimana dengan perusahaan mendiang orang tua Jingga? Kau tahu kalau perusahaan itu di pegang oleh mama sekarang, kalau kalian pergi bagaimana nasib perusahaan itu.?”


“ Tapi Ar,”


“ Kalian berdua, cepat kemari. Jingga kayaknya mulai kontraksi, ada darah yang keluar dari balik dressnya.” Sahut Zara yang terlihat begitu panik memanggil Arkana dan Bima.


Arkana dan Bima berlari menuju kamar Jingga, terlihat Arkana yang begitu panik ketika dia masuk ke dalam kamar dan menyaksikan Jingga sedang menahan rasa sakit hingga di antara kedua kakinya mengalir darah yang cukup banyak.


“ Aku siapin mobil dulu, kalian berdua angkat Jingga ke mobil.” Ucap Zara yang menyerahkan semuanya kepada Arkana dan Bima.


“ Tahan ya, kita akan segera ke rumah sakit.” Ucap Arkana berusaha menahan rasa takutnya agar membuat Jingga merasa tenang.


**

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, Bima keluar dari mobil dan langsung masuk memanggil petugas untuk segera membawa brangkar keluar. Dua orang perawat keluar bersama brangkar, kemudian mereka semua kompak memindahkan Jingga dari mobil ke atas brangkar tersebut.


Arkana terus berada di samping Jingga sambil menggenggam tangannya, melihat Jingga yang menangis kesakitan jelas membuatnya ikut sakit. Dia bahkan tidak mengira jika kontraksinya di rasakan sekarang, padahal masih ada satu minggu lebih untuk jadwal seharusnya dia melahirkan.


“ Sakit mas…, sakit.”


“ Sabar ya, sebentar lagi kita ketemu dokter. “


“ Kamu.., jangan tinggalin aku. Aku takut, kamu tetap sama aku ya.”


“ Iya sayang, aku nggak akan tinggalin kamu. Aku janji.”


Jingga kini sudah memasuki ruang unit gawat darurat, Arkana di perbolehkan masuk karena dia adalah seorang dokter. Sedangkan Bima dan Zara hanya boleh menunggu diluar sampai waktu pemeriksaan selesai dilakukan.


Dokter yang menangani Jingga sudah masuk ke dalam ruangan, mereka adalah dokter Nala dan dokter Zakir. Dua dokter lainnya masih dalam perjalanan, sehingga dia harus di tangani oleh kedua dokter itu dulu.


“ Ar, kamu tenang ya. Jangan ikut panik, kamu harus bisa buat Jingga tenang.” Ucap dokter Nala sebelum memulai pemeriksaannya.


Arkana mengangguk pelan dan kemudian berdiri di samping Jingga sambil menenangkannya, setiap kali Jingga merintih kesakitan dan menggenggam tangan Arkana dengan kuat saat itu juga Arkana berharap bisa menggantikan Jingga menanggung rasa sakit yang di rasakannya.


“ Kondisi jantung pasien bekerja lebih cepat akibat kontraksi dok, apa yang harus kita lakukan.?”


“ Berikan obat penenang dengan dosis rendah.”


“ Baik dok.”


Semua orang mengerjakan tugasnya masing-masing, Arkana menyaksikan mereka semua sambil menangkan Jingga. Akibat obat penenang yang di berikan, akhirnya kesadaran Jingga semakin melemah hingga Arkana bisa merasakan genggamannya yang tidak lagi sekuat barusan.


“ Semua akan baik-baik saja kan dok? Apa dia harus melahirkan sekarang.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Belum, kontraksi palsu ini sering di rasakan oleh ibu hamil. Kita bisa melihat setelah pemeriksaan selesai, jika keadaan Jingga memburuk maka tidak ada cara lain selain melakukan operasi Caesar.” Ungkap dokter Nala.

__ADS_1


“ Karena kontraksi barusan kerja jantungnya semakin meningkat, dua minggu yang lalu jantungnya mengalami pembengkakan sehingga membuat kondisi Jingga semakin buruk jika terus di biarkan. Obat penenang yang di berikan bersifat aman dan sementara, jika dia sadar nanti dan masih merasakan kontraksi maka seperti yang di katakan oleh dokter Nala barusan, kita harus segera melakukan operasi Caesar.” Sambung dokter Zakir.



__ADS_2