Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
FLASHBACK ( Last )


__ADS_3


“ Kamu jangan kaya gini lagi ya, berhenti nyakitin diri kamu sendiri. Semua nggak akan ada yang berubah dengan menyelesaikan masalah seperti ini, justru kamu hanya akan mendapat masalah baru nantinya.” Gumam Qania.


“ Aku nggak kuat lagi Nia, hidup seperti ini hanya buat aku ingin cepat-cepat mati tahu nggak.” Balas Arkana.


“ Ar, dengerin aku. Kalau kamu mau menyelesaikan masalah bukan seperti ini caranya, kamu coba ngomong sama mama kamu dan selesaikan semua kesalahan yang dulu terjadi. Aku yakin mama kamu pasti akan dengerin kamu, orang tua pasti akan selalu ada untuk anaknya.” Ucap Qania sekali lagi.


“ Kamu nggak akan pernah ngerti Nia, kamu enak bilang kaya gitu karena kamu nggak pernah rasain gimana jadi aku.”


“ Ar, aku nggak harus jadi kamu buat merasakan semuanya. Selama ini kamu belum coba kan bicara dari hati ke hati sama mama kamu, kamu harus coba dulu sebelum tahu hasilnya.”


“ Aku capek, tolong tinggalin aku sendirian.” Lontar Arkana sambil memutar tubuhnya membelakangi Qania.


Qania hanya bisa menatap Arkana dengan tatapan sayu, dia menundukkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya keluar meninggalkan Arkana.


**


Di tahun terakhir kuliah, Arkana akan segera menyelesaikan masa kuliahnya dan nantinya akan di lanjut ke masa Koas di rumah sakit bintang harapan milik papa Hendra.


Karena rumah sakit itu milik keluarga, jadinya Arkana sangat mudah untuk melakukan masa koas nya disana, dia menjalani kehidupan setelah itu atas aturan dari mama Widya. Dia tidak pernah lagi menyakiti dirinya sendiri, tidak pernah membantah, dan cenderung menjadi anak yang patuh dan lebih pendiam.


Ada rumor buruk tentang Arkana yang tersebar selama dia menjadi koas disana, kabarnya Arkana sangat tidak kompeten saat melakukan tugasnya. Dia cenderung banyak melamun dan pandangannya kosong, bahkan ada satu pasien yang sempat salah di berikan suntikan.


Karena rumah sakit itu milik orang tuanya sendiri, masalah tersebut di selesaikan secara rahasia dan kekeluargaan. Rumor itu pun menghilang seiring berjalannya waktu, dan tentu saja dampaknya akan jatuh pada Arkana yang dia dapat dari mamanya sendiri.


Dan hari ini Arkana kembali membuat kesalahan, dia tidak sengaja melewatkan jadwal pemeriksaan pasien pasca operasi. Hal itu membuat dokter yang bertanggung jawab menegur Arkana, dan Arkana merasa bersalah atas apa yang terjadi sehingga dia berjanji akan lebih teliti lagi dalam bertugas.


“ Arkana, kamu di panggil direktur utama.” Ucap salah seorang perawat yang membuat Arkana mulai merasa panik.

__ADS_1


Dan setelah dia menyelesaikan masalahnya, Arkana pun bergegas menuju ruangan direktur. Dan setibanya dia disana, dia membuka pintu dan melihat ada papa Hendra dan juga mama Widya disana.


Papa Hendra memang sudah tidak menjadi dokter yang aktif di rumah sakit itu karena sudah di lantik menjadi direktur utama di rumah sakit, dan yang akan menggantikan posisi direktur utama berikutnya tentu saja adalah Arkana.


Itu adalah pemikirkan semua orang bahwa yang menjadi direktur utama adalah papa Hendra, namun yang sebenarnya terjadi adalah mama Widya lah yang menjadi direktur utama di rumah sakit itu.


Mama Widya membuat semua orang percaya bahwa papa Hendra adalah direktur utama, tetapi aslinya adalah dia yang mengatur semua urusan di rumah sakit. Sejak kedua orang tua papa Hendra meninggal dunia, harta warisan seluruhnya jatuh pada papa Hendra yang merupakan anak satu-satunya di keluarga tersebut.


Sekitar tiga tahun yang lalu ketika mama Widya berusaha meminta cerai dari papa Hendra, dia di berikan sebagian harta warisan untuk mama Widya. Termasuk rumah sakit dan pertambangan yang di miliki oleh keluarga Adyatama.


“ Kamu keluar dulu, aku mau bicara sama putraku.” Titah mama Widya pada papa Hendra.


Dan sekarang di ruangan itu hanya ada mereka berdua saja, tampak mama Widya yang beranjak dari kursi utama menuju sofa yang saat ini di duduki oleh Arkana.


“ Mau sampai kapan kamu mengacau? Kasus kemarin saja belum sepenuhnya menghilang dan sekarang kamu mau apalagi.?” Lontar mama Widya menatap Arkana serius.


“ Aku hanya kelelahan ma, aku butuh istirahat.” Jawab Arkana.


“ Cukup ma, cukup.!!!” Arkana menggebrak meja untuk pertama kalinya dengan emosi yang sangat kuat.


“ Mama nggak pernah tahu kalau selama ini aku nggak mau sekolah kedokteran, tapi mama terus nyuruh aku harus jadi dokter seolah-olah mama yang jalani kehidupanku. Aku sudah belajar keras bahkan jarang mengeluh, aku tidak ingin menjadi seorang dokter bedah tapi, mama bilang aku harus jadi dokter.”


“ Kamu berani meninggikan suara kamu ke mama.”


“ Mama tahu nggak kalau selama ini aku mengalami masalah kecemasan yang selalu buat aku muntah dan mimisan? Nilaiku selalu turun karena kesehatan aku yang semakin memburuk, aku hanya minum obat supaya aku bisa bertahan. Mama nggak tahu kan.?”


Arkana tidak peduli apa yang di katakan oleh mamanya, dia terus bicara dan mengeluarkan semua isi hatinya. Dia ingat bagaimana Qania selalu menyuruhnya berkata jujur atas apa yang di rasakannya, dengan begitu mamanya bisa tahu tentang perasaannya selama ini.


“ Tujuan mama sebenarnya apa sih? Kenapa aku harus jadi dokter? Kenapa aku tidak boleh memilih cita-citaku sendiri, kenapa.???” Tanya Arkana menatap mamanya dengan tatapan yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“ Mama melakukan semua ini untuk masa depan kamu, kamu mau hidup kamu di masa depan kaya hidup kita dulu? Bicara kamu sekarang kaya kamu ngerti apa itu hidup susah, bukan mama yang nggak pernah ngertiin kamu, tapi kamu yang nggak pernah ngertiin mama.” Tunjuk mama Widya di depan Arkana.


“ Sudah ku duga, percuma saja mengutaran semua perasaan yang ku alami selama ini. Pada akhirnya mama hanya akan menyalahkan aku, bodohnya aku ini.” Benak Arkana yang merasa ada air hangat yang mengalir jatuh di pipinya.


“ Maafin aku ma, aku nggak akan begini lagi.” Arkana kemudian beranjak dari tempatnya, dia tidak ingin berada di sana lebih lama atau emosinya akan kembali memberontak.


Setelah meninggalkan ruangan itu, Arkana pergi ke atap rumah sakit untuk menyendiri. Dia duduk di lantai tanpa ada pengalas sama sekali, kemudian terdengar langkah kaki seseorang dari belakang.


“ Aku bawain kamu kopi.” Qania menyodorkan segelas kopi untuk pria itu.


“ Terima kasih.” Balas Arkana lirih.


“ Kamu baik-baik aja kan.?” Tanya Qania.


“ Menurut kamu.?” Arkana menoleh menatap Qania.


Qania kemudian mengusap kepala Arkana yang membuatnya merasa sangat nyaman, berada di samping Qania setelah perdebatannya dengan mama Widya mulai terobati.


“ Kamu nggak mau pacaran sama aku.?” Tanya Arkana tiba-tiba.


“ Hmm, sudah seratus kali loh kamu ngajak aku pacaran.” Gumam Qania menghentikan aksinya barusan.


“ Kamu hitung kalau aku nembak kamu udah 100 kali.?”


“ Habisnya aku merasa itu belum cukup 100.”


“ Ya udah, aku mau.”


Arkana kembali menoleh ke arah Qania dengan tatapan tak percaya, dia tidak menyangka kalau akhirnya Qania mau menerimanya sebagai pacar Arkana.

__ADS_1


“ Aku senang banget.” Seru Arkana seketika lupa dengan segala masalah yang dia punya.


__ADS_2