
Bima segera beranjak dari lantai dan Arkana yang melindungi Jingga tepat di belakangnya, saat itu Bima hendak menyentuhnya namun dengan cepat di tangkis oleh Arkana. Kemudian Arkana meraih kerah baju Bima dan menatapnya dengan tajam.
“ Aku nggak peduli kamu adalah saudaraku apa bukan, perbuatanmu sudah kelewatan dan aku akan membawanya ke jalur hukum.” Ucap Arkana.
“ Mas Arka, sebenarnya bukan dia yang menyembunyikan aku selama ini.” Sahut Jingga.
“ Jangan membelanya, mau itu dia yang pertama atau kedua tetap saja dia sudah menyembunyikanmu selama ini. Dan aku tahu sejak surat perceraian itu datang ke rumah, ku pikir mama yang melakukannya, ternyata si brengsek yang berpura-pura peduli dengan adiknya.” Arkana sudah tidak bisa menahan sabarnya lagi, dia ingin sekali lagi memukul wajah Bima jika saja Jingga tidak menahannya.
“ Kita sudahi semua ini disini, semua orang melihat kita.” Pinta Jingga.
“ Tunggu dulu.” Sahut Bima membuat Jingga dan Arkana menatapnya bingung.
“ Sekarang tolong perjelas semuanya, siapa yang kamu pilih di antara kita berdua.?” Tanya Bima menatap Jingga dan membuat Arkana geram.
“ Aku sudah bilang ke kamu sebelumnya, untuk sekarang tentu saja aku lebih memilih mas Arka. Kamu hanya masa laluku, jadi jangan pernah mencoba datang kepadaku lagi.” Balas Jingga dengan penuh penegasan.
Jingga meraih tangan Arkana dan mengajaknya untuk segera pergi, namun sebelum itu Arkana memperingati Bima untuk tidak melarikan diri. Sebab dia benar-benar akan melaporkan masalah ini ke polisi, dan dengan tampang yang santai Bima hanya mengganggukkan kepalanya yang artinya dia akan mendengar ucapan Arkana.
**
Jingga dan Arkana mendatangi sebuah rumah sakit di Bandung untuk mengecek kesehatan Jingga sebelum mereka kembali ke Jakarta, Arkana tidak mau sesuatu terjadi kepada Jingga selama perjalanan pulang oleh sebab itu dia ingin memastikannya terlebih dulu.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jingga dan Arkana sudah saling bertukar informasi dan mereka pun tahu bahwa mama Widya dan Bima memang tidak bekerja sama tapi memiliki tujuan yang hampir sama.
Keduanya sama-sama ingin memisahkan mereka berdua, namun takdir masih berpihak kepada mereka. Arkana senang karena ternyata Jingga masih memilihnya, dia merasa lega dan bisa memperjuangkan perasaannya sampai akhir.
Begitu mereka tiba di rumah sakit, seorang dokter memeriksa keadaan Jingga sedangkan Arkana pergi membayar administrasi terlebih dulu. Setelah di periksa ternyata Jingga harus mendapat cairan infus, dan itu hanya akan memakan waktu sebentar. Arkana menyetujuinya dan akan menemani Jingga selama dia menerima cairan infus.
“ Kalau cairan sudah habis ibu sudah boleh pulang.” Kata perawat yang menangani Jingga.
“ Terima kasih sus.” Jawab Jingga tersenyum simpul.
Sosok Arkana baru saja masuk setelah membayar biaya administrasi, melihat Jingga sekarang rasanya seperti mimpi di siang bolong. Dia duduk dan perlahan meraih tangan Jingga yang tidak mendapat tusukan infus.
“ Kamu kelihatan begitu kurus sejak terakhir kali aku melihatmu, ini benar-benar buat hatiku sakit.” Kata Arkana parau.
“ Kamu nggak sadar? Bukan hanya aku yang kelihatan kurus, tapi kamu juga.” Balas Jingga menatap Arkana lurus.
__ADS_1
“ Tapi anak kita sehat, dia sangat hebat minum susu dan dia sangat tampan sepertiku.” Ucap Arkana dengan penuh semangat.
“ Anak kita? Jadi benar anak kita masih sama kamu mas.?”
“ Kamu ngomong apa? Tentu saja, aku yang merawatnya selama kamu nggak ada. Meskipun terkadang Qania dan Diana ikut membantu, bi Salma dan bi Inah juga suka bantu aku jagain Keenan.” Jelas Arkana seketika membuat Jingga menangis tersedu-sedu.
“ Kok nangis? Jangan nangis.” Ucap Arkana sambil memeluk Jingga dan mengusap pundaknya dengan lembut.
“ Aku senang karena anak kita masih sama kamu, aku senang karena dia sehat, aku juga senang karena dia tampan seperti kamu. Terima kasih karena selama aku nggak ada, kamu sudah menjaga dia dengan baik.”
“ Dia anakku, apapun akan ku lakukan untuknya. Kamu jangan menangis lagi, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Keenan.”
“Aku nggak sabar ketemu sama dia.”
**
Kembali ke Jakarta setelah urusan di Bandung selesai, kini Jingga dan Arkana sudah tiba di kediaman mereka. Keduanya di sambut oleh bi Inah dan bi Salma yang sangat senang melihat Jingga yang akhirnya kembali setelah sekian lama.
Arkana juga sudah memberitahu Jingga sebelumnya bahwa rumah mereka yang dulu sudah di ambil oleh mama Widya, dan dia terpaksa datang ke rumah kedua orang tua Jingga.
Jingga yang mengetahuinya pun merasa senang dan tidak keberatan, rumah itu memang sudah di siapkan untuknya dan anaknya jika sudah lahir. Semua yang di harapkan orang tuanya pun terwujud dengan keputusan yang di buat Arkana itu.
“ Ya ampun non Jingga, kita berdua udah kangen banget sama non.” Ucap bi Inah sambil menggenggam kedua tangan Jingga.
“ Sudah tugas kita non, melihat non kembali dalam keadaan sehat buat kita merasa sangat senang.” Sambung bi Salma.
Arkana yang baru saja masuk ke dalam kamar kini telah keluar bersama Keenan di gendongannya, Jingga terpaku di tempatnya dengan tatapan lurus ke arah Keenan yang begitu mungil di gendongan Arkana.
“ Dia anak kita mas.?” Ucap Jingga tak percaya ketika melihat wajah keenan dengan jelas.
“ Iya, namanya Keenan Arshakalif Sandyakala.” Jawab Arkana.
“ Dia ganteng banget, seperti yang kamu bilang,”
“ Kamu harus menggendongnya.” Arkana memberikan Keenan kepada Jingga untuk dia merasakan pertama kalinya menggendong putra mereka.
Ketika Keenan sudah berada di gendongan Keenan, saat itu juga Keenan menangis dengan sangat keras. Jingga kebingungan di buatnya dan kembali menyerahkan Keenan kepada Arkana.
“ Kok nangis nak? Itu mama, kamu udah lama nggak ketemu sama mama.” Kata Arkana sambil menimang Keenan agar berhenti menangis.
__ADS_1
Jingga benar-benar bingung sekarang, dia juga takut kalau Keenan tidak akan menyukainya. Bi Inah berkata bahwa mungkin saja Keenan belum terbiasa dengan aroma Jingga jadi dia masih asing, kemudian bi Salma memberitahu Jingga untuk membuat aromanya sama dengan Arkana agar Keenan mengenalinya.
Keenan sudah berhenti menangis di gendongan Arkana, dan terlihat wajah Jingga yang berubah sedih. Arkana langsung meraih kepala Jingga dan membelainya dengan lembut.
“ Jangan sedih, dia anak kamu juga.” Kata Arkana seakan-akan memberi kepercayaan diri kepada Jingga.
**
Malam harinya Jingga tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya duduk di kamar seorang diri sedangkan Arkana berada di kamar sebelah sedang menidurkan Keenan.
Arkana sudah berkata tidak apa-apa tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam dia juga ingin berperan penting dalam merawat putranya, Jingga hanya takut kalau Keenan akan seperti itu sampai dia besar.
Pintu baru saja terbuka dan memperlihatkan Arkana yang telah kembali dari menidurkan Keenan, pria itu berjalan menghampiri Jingga dan naik ke atas tempat tidur.
Arkana meraih tubuh mungil Jingga ke dalam dekapannya dan memeluknya selama beberapa menit untuk melepas rindu yang masih tersisa begitu banyak.
“ Bagaimana dengan Keenan.?” Tanya Jingga.
“ Dia sudah tidur.” Jawab Arkana lirih.
“ Aku minta maaf ya, karena aku”
“ Jangan minta maaf, kamu nggak salah.” Potong Arkana.
“ Kita akan cari cara supaya Keenan mau sama kamu, jangan sedih lagi ya, sekarang kamu istirahat soalnya besok kita akan datang ke kantor polisi untuk melaporkan mereka berdua.”
“ Kamu yakin akan melaporkan mereka mas?”
“ Mereka udah jahat ke kamu dan aku, nggak ada alasan buat kasihan sama mereka.”
“ Tapi mereka keluarga kamu mas.”
Arkana melepas pelukannya dan menatap wajah Jingga sebentar.
“ Kamu itu korban atas perbuatan mereka, kenapa kamu masih memiliki hati yang begitu tulus.?” Tanya Arkana.
“ Aku sadar kalau mama Widya melakukan semua ini karena balas dendam ke orang tua aku, dan aku juga akan memberikan semua harta itu kalau semuanya bisa membuatnya memaafkan kedua orang tuaku. Dan untuk Nawa, aku nggak berpikir harus melaporkan dia. Aku sadar kalau perasaanku sudah bukan untuk dia lagi, jadi ku pikir semua tidak akan menjadi masalah sekarang.” Ungkap Jingga.
“ Kalau kamu memang menginginkan hal itu, ya sudah. Aku akan menuruti kamu, kita hanya perlu menemui mereka berdua dan menyelesaikan semua masalah ini secara kekeluargaan.”
__ADS_1
“ Terima kasih mas, aku nggak salah pilih suami seperti kamu.” Balas Jingga sambil memeluk erat suaminya itu.