Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Terbongkar


__ADS_3


Bima menatap layar ponselnya ketika dia langsung mengakhiri panggilan dari Diana, tak lama setelah itu ada sebuah pesan gambar yang masuk dan membuatnya penasaran. Bima pun langsung membuka pesan tersebut dan mendapatkan sebuah gambar surat dengan sebuah keterangan.


Diana : Aku tidak ingat dengan tulisan tangan Jingga, tapi coba lihat surat yang di titipkannya terakhir kali. Aku tahu kamu pasti Bima, kalau benar kamu Bima tolong cari tahu soal surat ini.


Bima mulai membaca surat yang di kirim oleh Diana barusan, dia memperhatikan setiap detail yang ada di surat itu. Kemudian dia menutup kedua matanya dengan rapat sambil menggenggam erat ponselnya dengan satu tangan.


Bima langsung beranjak dari tempat tidurnya sambil menarik jaket dan juga kunci mobilnya, malam itu juga dia keluar meninggalkan rumah. Bahkan saat bi Ijah menanyakan kemana dia akan pergi, pria itu hanya diam dan terus berjalan secepat mungkin.


“ Orang-orang di rumah ini semakin hari semakin aneh, rasanya rumah ini sudah tidak bisa di katakan sebagai rumah lagi.” Ucap bi Ijah hanya dapat menghela nafas panjang.


**


Arkana tiba di sebuah rumah mewah beberapa saat yang lalu, dia turun dari mobilnya dan menatap ke arah rumah besar di hadapannya dengan tatapan nanar. Tak lama kemudian muncul seorang pria setengah baya yang tak lain adalah papa Aidan.


“ Akhirnya kamu datang juga, papa sudah menunggu kamu dari tadi. Ayo masuk, kita bicara di dalam.” Ajak papa Aidan merangkul Arkana dan bersama-sama berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.


Arkana memang di panggil oleh papa Aidan ke rumah karena ada hal yang ingin di sampaikan, hal tersebut menyangkut soal Jingga yang kabarnya terlihat di satu tempat di daerah Jakarta.


Papa Aidan mengajak Arkana duduk bersama dengan istrinya Syifa di sebuah ruang keluarga, kemudian dia menunjukkan beberapa foto yang telah berhasil di kumpulkan dengan ciri-ciri yang sebelumnya di sebutkan oleh Arkana tentang Jingga.


“ Semua ini adalah hasil jepretan dari seseorang yang papa perintahkan, apa di antara foto-foto ini ada Jingga? Papa tidak bisa memastikan bahwa itu dia, karena kamu tahu sendiri papa belum pernah bertemu dengannya secara langsung.” Ujar papa Aidan.


Arkana memperhatikan satu persatu foto tersebut dengan sangat teliti, di antara semua foto yang ada hanya ada satu yang tampak persis seperti Jingga. Kemudian dia menunjukkan foto itu kepada papanya.


“ Yang ini mirip dia, tapi aku nggak yakin karena fotonya kurang jelas dengan angel fotonya.”


“ Wanita di foto ini di temukan di sekitaran Bintaro, dia sering berada di dekat toko buku. Papa bisa meminta seseorang untuk memotretnya lebih banyak untuk memastikannya.”


Arkana hanya mengangguk pelan dan menyetujui ucapan papanya barusan, Arkana merasa lega karena banyak pihak yang mau membantunya. Kemarin papa Hendra, sekarang papa Aidan, hanya mama Widya dan Bima saja yang sampai saat ini tidak terlihat membantunya.

__ADS_1


“ Bima kemana pa.?”


“ Bima di rumah mama Widya, dia sudah lama nggak pernah pulang ke rumah.”


“ Oh iya nak Arka, tante barusan habis buat sup iga. Kamu mau nggak buat di bawa pulang ke rumah.?” Tawar Tante Syifa.


“ Nggak usah tante, aku nggak mau ngrepotin.” Balas Arkana.


“ Nggak kok, tante nggak merasa di repotin. Kamu tunggu disini ya, biar tante siapin dulu.” Wanita itu pun segera pergi meninggalkan suaminya dan Arkana, dan bergegas menuju dapur untuk menyiapkan semuanya.


“ Papa punya berapa anak dari tante Syifa.?” Tanya Arkana tiba-tiba.


“ Papa hanya punya Revan, dia yang kemarin waktu itu ikut ke rumah kamu. Sekarang dia udah masuk kelas dua SMA.” Jawab papa Aidan.


“ Tapi papa punya satu anak tiri lagi, jadi tante Syifa itu janda beranak satu waktu papa nikahin dia. Anaknya perempuan, dua tahun lebih tua dari Bima.”


“ Papa…Mamaaaaa, aku pulang. Kangen banget sama masakan mama, kayaknya ada sup iga nih, aromanya kecium sampai depan.” Suara itu baru saja membuat Arkana dan Aidan menoleh pada seorang wanita cantik yang berjalan mendekati tempat mereka berada.


“ Ada tamu ya? Aku lihat ada mobil asing yang….” Wanita itu menggantung ucapannya saat melihat ada Arkana di samping papa Aidan.


“ Zara.?” Ucap Arkana terkejut.


“ Arkana.?” Ucap Zara yang juga sama terkejutnya dengan Arkana.


“ Loh, kalian berdua udah saling kenal.?” Tanya papa Aidan kebingungan.


“ Jadi anak tiri yang papa maskud itu, kak Zara.?” Arkana kembali melirik papa Aidan dengan tatapan tak percayanya.


“ Iya benar, Zara ini anaknya tante Syifa. Kakak tirinya Bima.”


**

__ADS_1


Arkana dan Zara sudah menjauh dari semua orang saat ini, sebelumnya mereka menjelaskan kepada papa Aidan dan tante Syifa bahwa mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dan sekarang Arkana merasa perlu meminta penjelasan Zara tentang semua yang telah terjadi sebelumnya.


“ Jadi apa semua ini? kamu sama Bima memiliki hubungan saudara tiri, tapi kenapa kalian menipu kami dengan berpura-pura menjadi sepasang kekasih? Kamu sama Bima nggak benar-benar pacaran kan? “ Tanya Arkana menatapnya penasaran.


“ Gawat, aku harus bilang apa? Kalau aku jujur pasti Bima bakal marah.” Benak Zara mulai frustasi.


“ Kenapa diam? Kalian nggak benar-benar pacaran kan? “ Ulang Arkana.


“ Iya, itu benar. Aku sam Bima hanya berpura-pura saja. Kami melakukannya sebenarnya untuk membuat mama Widya merasa tenang jika Bima sudah punya pasangan. “ Jawab Zara akhirnya.


“ Tapi kenapa harus kamu? Kenapa dia nggak cari wanita lain.?” Tanya Arkana.


“ Bima punya alasan tersendiri, aku nggak bisa kasih tahu kamu alasannya.” Balas Zara.


“ Ini aneh, kenapa sekarang aku merasa sangat takut.” Kata Arkana sambil menunduk.


“ Takut kenapa.?”


“ Lupakan saja, aku nggak akan kasih tahu siapapun soal kebenaran ini. Tapi sebaiknya kalian mengakhirinya sebelum terlambat, aku permisi.” Arkana pun beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Zara yang masih menatapnya dengan penasaran.


Saat Arkana sudah pergi, terlihat Zara yang langsung meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang. Tak menunggu waktu lama hingga akhirnya panggilan itu di jawab.


“ Dia udah tahu siapa aku, kamu nggak perlu berpura-pura lagi di depan Arkana.”


Sementara itu Arkana sedang berpamitan dengan papa Aidan dan tante Syifa, dia telah menerima sup iga yang di berikan tante Syifa untuk di bawa pulang ke rumah.


Saat Arkana hendak pulang, tanpa sengaja dia mendengar suara Revan yang menyebut nama seseorang. Saat itu Zara juga baru saja masuk ke dalam rumah dan mendengar apa yang Revan sebutkan barusan.


“ Bang Nawa udah lama nggak pulang, papa nggak coba telpon suruh pulang pa.?” Ulang Revan.


“ Nawa.?” Ucap Arkana menatap Revan dengan tatapan penasaran.

__ADS_1



__ADS_2