Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Look Similar


__ADS_3


Hujan diluar masih belum reda sampai sekarang, Jingga sedang sibuk di dalam kamarnya sambil merapihkan kamar dan juga mengganti sepreinya. Kamar Arkana sudah seperti kamarnya saat ini, mereka memang tidur di tempat tidur yang sama selama dia tinggal di rumah itu.


Alasan Jingga memilih tidur di kamar itu hanya untuk memantau keadaan Arkana saja, selama beberapa hari ini Arkana memang tidak bermimpi buruk lagi dan dia bisa tidur dengan pulas.


Kemudian setelah dia selesai mengganti seprei, tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Jingga pun menjawab panggilan yang datang dari Arkana.


“ Ada apa mas.?”


“ Aku nggak bisa pulang cepat soalnya ada operasi mendadak, mungkin aku bisa pulang sekitar jam 12 malam. Pesanan kamu udah aku pesan melalui kurir, kamu jangan capek-capek ya.”


“ Iya mas, terima kasih sebelumnya.”


Panggilan pun berakhir, Jingga meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu seprei kotor yang tadi dia masukkan ke dalam tempat cucian kotor, besok semuanya akan di kirim ke laundry agar dapat di cuci dengan bersih dan wangi.


Suara bel baru saja berdering, Jingga tidak menyangka kurir makanan yang di pesan oleh Arkana sudah datang secepat ini. Padahal diluar sedang hujan lebat, bagaimana mungkin kurir itu datang sangat cepat.


Jingga baru saja membuka pintu dan langsung berhadapan dengan seorang pria yang membuatnya terkejut bukan main, sejenak dia hampir terbawa suasana karena mengira Bima adalah Nawa.


“ Mas Bima, kok bisa ada disini.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Aku bawain kamu ini.” Bima memberikan sebuah kotak kue kepada Jingga.


Kue muffin dengan beraneka macam toping sudah ada di tangan Jingga, tapi dia tidak tahu kenapa Bima tiba-tiba datang dan membawakannya kue seperti itu.


“ Barusan aku dari rumah sakit dan dengar kalau Arkana nggak bisa pulang karena ada operasi, jadi aku sengaja mampir bawain kamu kue.” Kata Bima lirih.


“ Tapi dari mana mas Bima tahu kalau aku suka muffin.?”


“ Aku iseng aja, kebetulan di jalan ada toko kue baru buka. Mereka jual muffin itu jadi aku beli deh buat kamu.”


“ Btw, kamu nggak mau izinin aku masuk ke dalam.?” Lontar Bima lagi.

__ADS_1


“ Maaf mas, suamiku nggak ada di dalam. Dan aku sendirian di rumah, nggak sopan kalau aku nerima tamu walaupun mas Bima adalah kakaknya mas Arka.” Jawab Jingga.


“ Sorry..soryy, kalau gitu aku pamit pulang. Jaga diri baik-baik.” Ucap Bima yang kemudian memutar tubuhnya meninggalkan Jingga.


Jingga baru saja menutup pintu rumah, dia berdiri di belakang pintu sambil menatap kotak muffin yang ada di tangannya. Ketika Bima pamit pulang barusan, entah mengapa kalimatnya terdengar tak asing dan kembali mengingatkan Jingga pada sosok Nawa.


**


Arkana merasa lega bisa keluar dari ruang operasi sebelum jam 12 malam, dia langsung bergegas untuk pulang karena sudah merindukan Jingga. Dia tahu kalau Jingga pasti sudah tidur di rumah, tapi dia tetap ingin pulang cepat dan menatapnya tidur untuk mengembalikan semangatnya yang dimana hari ini sudah di rusak dengan pekerjaan yang begitu padat.


Saat Arkana baru saja masuk ke dalam ruangannya, dia di buat kaget dengan kehadiran mama Widya di dalam sana. Arkana tidak tahu apa yang di lakukan mamanya di jam segini, melihat Arkana yang sudah datang lantas membuat mama Widya langsung menyampaikan tujuannya datang ke tempat itu.


“ Kenapa Jingga tinggal bersama kamu lagi? Kamu mau sakitin dia atau kamu mau kurung dia di rumah itu lagi.?” Tanya mama Widya.


“Tidak keduanya, aku janji akan jaga dia mulai sekarang. Aku bukan Arkana yang dulu, sekarang aku sayang sama dia.” Jawab Arkana tegas.


“ Sayang? Kamu yakin perasaan kamu ke dia benar-benar tulus? Bahkan mama nggak nyangka kalau ternyata anak dalam kandungannya itu bukan anak kamu, itu yang kamu bilang sayang? “


“ Kamu pikir selama ini mama mama diam dan menunggu kamu jelasin ke mama? Apapun tentang kalian berdua sudah mama tahu sejak awal, tanpa Jingga kasih tahu ke mama pun mama sudah tahu kalau hubungan kalian sedang tidak baik. “


“ Tapi itu dulu, sekarang aku sayang sama Jingga.”


“ Dan bagaimana kamu bisa mempertanggung jawabkan penyakit Jingga? Selama dia menikah dengan kamu, dia banyak mendapat masalah. Dia sakit karena kamu, dia sebaiknya berpisah dari kamu dari pada semakin menderita lebih dari itu.”


Arkana mengepal kedua tangannya dengan sangat kuat, dia sangat marah tapi berusaha sabar dan menahan emosinya sekuat mungkin.


" Aku sayang sama dia, walaupun sekarang dia sedang sakit tapi aku akan cari cara buat dia bisa sembuh kembali." Ujar Arkana dengan penuh keseriusan.


“ Berhenti bersikap bodoh, kamu jangan sampai jatuh terlalu dalam karena perasaanmu itu. Hubungan kalian hanya sampai anak itu lahir, dan sampai itu terjadi kamu harus tutup mulut dari semua orang. Anggap anak itu sebagai anakmu, mama nggak mau ada rumor buruk tentang hubungan kalian yang bisa merusak citra keluarga kita.”


" Dan jika nanti anak itu lahir, kita bisa membuatnya berpisah dengan Jingga. Itu kan yang kamu mau?"


Mama Widya merasa sudah cukup membahasnya dengan Arkana, kemudian dia menarik tasnya dan hendak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


“ Aku nggak akan pisah, sekalipun mama memaksaku untuk berpisah.” Ucap Arkana berhasil membuat langkah mama Widya terhenti.


“ Apa kamu bilang? “


“ Dulu aku bisa menuruti keinginan mama termasuk menikah dengan Jingga, tapi kali ini aku nggak akan mau ikutin kata mama untuk berpisah dengan dia.”


“ Kita lihat saja, siapa yang jauh lebih berkuasa. Tanpa kamu setujui pun, mama tetap bisa membuat kalian bercerai. Jingga tidak akan pernah cinta sama kamu, percuma saja kalau kamu memiliki perasaan sepihak itu.”


Mama Widya pun pergi meninggalkan Arkana sendirian dengan emosinya yang meluap, dia sangat kesal sampai memukul meja kerjanya dengan sangat kuat.


**


Jingga tampak khawatir sambil berusaha menghubungi nomor Arkana, dia tidak bisa di hubungi sejak tadi padahal dia janji akan pulang di jam 12 malam. Tapi sekarang sudah jam 2:00 dan dia masih belum pulang, nomornya aktif tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Setelah beberapa saat di hubungi tanpa menyerah, akhirnya panggilan itu berhasil di jawab. Namun dengan suara wanita yang membuat Jingga penasaran.


“ Jingga? Ini aku Qania.”


“ Qania? Kok kamu yang jawab telpon mas Arka.?”


“ Aku ada diluar sama Arka dan suamiku, kamu bisa keluar buka pintu nggak.?”


Jingga mengakhiri panggilannya dan segera keluar menemui mereka, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi dari suara Qania terdengar sangat mencurigakan.


Saat pintu terbuka, tampak Aizen dan Qania membantu Arkana yang tak sadarkan diri masuk ke dalam kamar. Qania menjelaskan kepada Jingga bahwa mereka di hubungi oleh pihak bar tempat Arkana minum sampai mabuk, mereka langsung kesana dan membawanya pulang ke rumah.


“ Mas Arka sudah lama nggak pernah minum, kenapa dia tiba-tiba melakukan itu.?” tanya Jingga penasaran.


“ Aku juga nggak tahu, hari ini jadwalnya sibuk. Nggak mungkin dia pergi karena pekerjaannya, justru aku pikir kamu sama dia lagi ada masalah makanya dia pergi minum.” Balas Qania.


Mereka tak ada yang tahu kenapa Arkana sampai melakukan hal itu lagi, sekarang dia sudah tak sadarkan diri dan berhasil di baringkan di atas tempat tidur.


Jingga menemani Qania dan Aizen sampai pintu masuk, dia juga tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada mereka berdua karena sudah membawa Arkana pulang dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2