Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Arkana Yang Malang


__ADS_3


“ Ar.., kamu dengar aku? Bangun Ar. Siapa yang melakukan semua ini sama kamu.?” Tanya Bima berusaha menyadarkan Arkana.


Bima bisa melihat tubuh Arkana terluka parah terlebih lagi wajahnya, ada darah dimana-mana dan dia harus segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.


“ Ada apa ini.?” Suara itu membuat Bima merasa tertolong karena yang datang ternyata adalah Hendra.


“ Om, tolong selamatkan Arkana. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama dia, waktu aku pulang dia sudah dalam keadaan seperti ini.” Jelas Bima.


“ Ini parah, kita harus membawanya ke rumah sakit.” Balas Hendra setelah melihat kondisi Arkana.


“ Ja-jangan ke rumah sakit…, kumo…hon jangan.” Arkana yang sadar berusaha memohon agar tidak di bawa ke rumah sakit oleh Bima dan Hendra.


“ Kita bawa dia ke kamar terlebih dulu.” Ujar Hendra yang kemudian membuat dia dan Bima segera membawa Arkana meninggalkan ruangan itu.


**


Di tempat lain atau lebih tepatnya di rumah Jingga, saat ini dia masih di temani oleh Qania dan Diana. Waktu sudah menunjukkan pukul 05:00 sore tapi Arkana belum juga pulang ke rumah, padahal kedua wanita itu di janjikan menemani Jingga hanya sampai jam 03:00 sore saja.


Qania pun memutus obrolan mereka untuk mengecek ponselnya, dia meninggalkan ponselnya di dalam sehingga dia harus pergi dari hadapan Jingga dan Diana.


“ Aku telpon mas Aizen aja kali ya, mungkin dia tahu dimana Arkana sekarang.” Benak Qania sambil merogoh isi tasnya.


Qania di buat terkejut ketika melihat ada beberapa panggilan masuk dari Aizen, bahkan ada juga dari Nisa. Dia hampir lupa dengan rencana kemarin dan mungkin mereka ingin memberitahu hasilnya pada Qania.


“ Halo mas, kamu dimana.?”


“ Aku masih di rumah sakit, rencana nggak sesuai seperti yang kita bahas di awal. Kamu pasti kaget kalau tahu apa yang terjadi disini.”


“ Ceritain mas, aku lagi nggak di dekat Jingga kok.”


Aizen pun memberitahu Qania tentang apa yang terjadi di rumah sakit hari ini, tampak ekspresi terkejut terus terlihat saat dia mendengarkan penjelasan Aizen. Untuk Qania sendiri dia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Arkana yang dia kenal akhirnya berani angkat bicara seperti itu.

__ADS_1


“ Jadi Arkana dimana sekarang?” Tanya Qania penasaran.


“ Loh? Memangnya dia belum sampai? Dia udah pulang dari tadi siang, aku pikir dia ada disana.” Jawab Aizen di seberang sana.


“ Justru sekarang aku lagi nunggu dia pulang, dia janji mau pulang jam 3:00 tapi sampai sekarang belum juga kembali.”


“ Aneh, padahal dia udah pulang. Nggak mungkin kalau dia nggak pulang kesana, Jingga pasti khawatir nanti.”


“ Hari ini kamu lembur kan mas?”


“ Iya, memangnya kenapa.?”


“ Aku disini aja ya nemenin Jingga sekaligus mantau keadaan dia, aku punya firasat kalau Arkana bakal pulang telat hari ini.”


“ Iya, kamu boleh tinggal disana. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku ya.”


“ Iya mas.”


Setelah percakapan mereka selesai, Qania mencoba untuk menghubungi Arkana. Ekspresi cemas sudah mulai terlihat di wajah Qania, dia tahu kalau Arkana pasti akan berurusan dengan mamanya setelah membuat kekacauan seperti itu di rumah sakit.


**


Bima sendiri masih belum tahu apa penyebab Arkana bisa seperti itu, dia mencurigai beberapa orang yang dia lihat tadi sore tapi siapa mereka? Kenapa mereka bisa masuk ke dalam rumah? Semua itu membuat Bima benar-benar di buat frustasi.


“ Dia belum siuman.?” Suara Hendra membuat Bima langsung menoleh, kemudian dia membalasnya dengan gelengan kepala.


“ Kondisi fisiknya cukup parah, tapi dari hasil pemeriksaan tidak ada luka yang serius. Dia mungkin akan segera sadar sebentar lagi.” Ungkap Hendra yang baru saja duduk di salah satu kursi di kamar itu.


“ Aku mau tanya sesuatu sama om Hendra.” Lontar Bima tiba-tiba.


“ Silahkan.”


“ Sebenarnya aku sudah curiga sejak kembali ke mama, tapi mama selalu bilang nggak ada masalah di antara dia dan Arkana. Apa Om Hendra tahu seperti apa hubungan mama dan Arkana selama ini.?”

__ADS_1


“ Sebelum itu boleh om tahu seberapa sayang kamu sama Arkana.?”


“ Sayang banget om, kita mungkin tidak satu ayah tapi aku sayang sama dia.”


“ Apa? Kalian tidak satu ayah.?” Hendra tampak sangat terkejut mendengarnya, ini pertama kalinya dia tahu soal kebenaran tersebut.


“ Mama nggak pernah bilang sama om soal itu.?” Tanya Bima juga ikut kebingungan.


“ Mamamu tidak pernah menceritakan masa lalunya, jadi selama ini om kira kamu sama Arkana adalah satu ayah. Tak heran kalau sikapnya selama ini membuat Arkana sangat kesulitan.”


“ Om bisa kan kasih tahu aku semuanya.”


Hendra mengangguk setuju mendengar permintaan Bima, dia merasa satu persatu puzzle akan terkumpul menjadi satu dengan dirinya yang saling bertukar cerita dengan Bima.


**


Selama hampir dua jam lebih Bima dan Hendra saling bertukar cerita, sekarang Bima tahu masalah yang di alami Arkana selama ini. Dan dia juga mengerti kenapa Arkana begitu membencinya setelah dua puluh tahun tidak bertemu.


Bima sendiri tidak pernah mengira kalau akhirnya akan seperti ini, dia yang membiarkan Arkana ikut dengan mamanya berharap bahwa Arkana akan hidup dengan bahagia mengingat Arkana adalah darah daging mamanya sendiri.


Sementara itu Hendra pun baru mengetahui bahwa dulu Widya hamil dengan pria lain karena tidak sengaja, hubungan Widya dan Aidan ( Papa Bima ) sempat bermasalah karena masalah ekonomi.


Widya yang tidak tahan hidup miskin berusaha mencari pria lain dan berakhir hamil dengan pria itu, dia merahasiakan kehamilannya dari pria lain untuk tetap bisa bersama Aidan karena cintanya yang sangat besar pada pria itu.


Namun sayang setelah kelahiran Arkana semuanya terbongkar, Widya dan Aidan terus bertengkar sampai akhirnya Aidan membalas perbuatan Widya dengan berselingkuh yang berakhir perceraian dengan Widya.


Bima selama ini sudah mengetahuinya dan tidak membiarkan Arkana tahu karena dia sangat menyayangi adiknya, Bima yang saat itu sudah dapat berpikir dengan dewasa memutuskan untuk ikut dengan ayahnya dan membiarkan Arkana yang pergi dengan mamanya.


Dan semua kenyataan yang di dengar Bima dari Hendra tampaknya ikut membuat hatinya hancur, adik yang selama ini dia sayangi harus menanggung penderitaan yang sangat berat.


“ Maaf Ar, aku belum bisa jadi kakak yang baik untuk kamu.” Benaknya berusaha menahan air mata di depan Hendra.


“ Semua berubah setelah dia mencintai Jingga, hidupnya jauh lebih baik sekarang. Dan om lihat dia jadi lebih berani, kehadiran Jingga benar-benar mampu menyembuhkan luka untuk Arkana.” Ucap Hendra ikut menatap wajah Arkana dengan senyuman tipis.

__ADS_1



__ADS_2