Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Special Chapter 24


__ADS_3


Hari ini akan di adakan study tour ke luar kota, kelas Lingga akan mengunjungi satu tempat bersejarah bersama wali kelas mereka. Sebenarnya bukan hanya dari kelas mereka saja, dari kelas lain pun akan pergi. Maka dari itu pihak sekolah menyiapkan tiga bus besar untuk membawa mereka semua sampai ke tempat tujuan.


Lingga sudah duduk di salah satu kursi dengan menempatkan tasnya di kursi kosong agar tak ada yang mengisinya, Lingga tidak suka seseorang duduk di sebelahnya ketika dalam perjalanan jauh.


“ Sebelah kamu kosong, aku boleh duduk disitu nggak.?” Salah seorang teman perempuan Lingga baru saja meminta untuk duduk di sebelahnya.


“ Tapi tempatnya sudah terisi, untuk dia.” Tunjuk Lingga pada Sabrina yang berdiri tepat di belakang.


Sabrina terkejut kaget mendengarnya, Lingga sudah mengambilkan kursi untuknya dan terang-terangan memberitahu orang lain bahwa kursi itu adalah kursinya.


“ Terima kasih.” Balas Sabrina setelah dia duduk di samping Lingga.


Lingga tersenyum simpul di buatnya, bagaimana pun juga dia dan Sabrina sedang berperan sebagai sepasang kekasih sehingga tidak aneh jika dia mengambilkan tempat untuk Sabrina.


“ Bangunkan aku kalau kita sudah sampai di tempat tujuan.” Ucap Lingga yang mulai bersandar dan menutup kedua matanya.


Diam-diam Sabrina melirik Lingga yang sedang tertidur, dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengambil foto Lingga sebagai kenang-kenangan. Terhitung tiga hari lagi sampai dia harus pergi dari Jakarta, dan sampai saat ini pun Sabrina belum memberitahu Lingga soal itu.


“ Untuk apa juga aku kasih tahu? Toh dia nggak akan peduli.” Benak Sabrina.


**


Seluruh rangkaian study tour hari ini berjalan dengan baik, semua murid di perbolehkan untuk berkeliling selama tiga puluh menit sampai bus kembali. Mereka di minta untuk datang ke titik kumpul tepat waktu sebelum absen di mulai.


Sabrina terlihat ingin pergi ke sebuah toko aksesoris, dia berpikir untuk membeli sesuatu dan akan di berikan kepada Lingga sebagai kenang-kenangan di hari dia akan pergi meninggalkan Jakarta.


Lingga melihat Sabrina yang pergi tanpa sepatah kata pun kepadanya, karena penasaran dia pun bergerak mengikuti Sabrina tanpa sepengetahuan gadis itu.


Sekarang Lingga melihat Sabrina memasuki sebuah toko aksesoris khusus oleh-oleh, dia tidak tahu kenapa Sabrina tiba-tiba masuk ke dalam sana. Lingga masih berdiri di depan toko sambil diam-diam mengintip ke dalam, hal itu dia lakukan sampai Sabrina selesai dengan urusannya di dalam sana.


“ Aldo.” Seru Sabrina ketika dia sudah keluar dari toko itu.


“ Rina.?” Balas seorang pria yang di temui Sabrina di depan toko aksesoris.


Lingga kembali melihat pemandangan yang membuatnya kesal, Sabrina langsung memeluk pria bernama Aldo itu dan keduanya tampak senang bertemu satu sama lain. Hal ini semakin membuat Lingga geram lantaran Sabrina tidak pernah terlihat seperti itu jika bersamanya.


“ Dia siapa.?” Akhirnya Lingga muncul dengan ekspresi tidak biasa yang dia tampilkan saat ini.


“ Lingga.?” Ucap Sabrina terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


“ Kamu harus ingat kalau semua teman-teman kita tahu kalau kita pacaran kan? Kenapa kamu bersikap manis di depan pria lain? Apa kata mereka nantinya.” Bisik Lingga.


“ Maaf, aku keceplosan.” Balas Sabrina baru menyadarinya.


“ Dia siapa Rin.?” Tanya Aldo menatap Lingga penasaran.


“ Kenalin, aku pacarnya Sabrina.” Lingga langsung menyodorkan tangannya pada Aldo.


“ Aku Aldo, teman kecil Sabrina.” Jawab Aldo menerima jabat tangan Lingga.


“ Oh iya Rin, ku dengar papa kamu mau kembali kesini.?”

__ADS_1


“ Aldo, kita ngomong disana yuk.” Sahut Sabrina dengan suara yang sedikit di tinggikan.


“ Aku sama Aldo mau ngobrol sebentar, aku janji nggak akan terlihat dekat sama dia biar semua orang nggak curiga.” Bisik Sabrina sebelum meninggalkan Lingga sendirian.


Lingga terlihat sedih sekarang, dia di tinggalkan sendirian begitu saja. Tapi ada yang lebih menarik perhatiannya barusan. Bagaimana pria bernama Aldo bisa tahu tentang Sabrina yang akan pindah?


“ Apa maksudnya tentang pindah kesini? Apa jangan-jangan Sabrina akan tinggal di Bandung dalam tiga hari ke depan.?” Ucap Lingga benar-benar di buat penasaran.


**


Waktu terus berjalan, dan sekarang tiba waktunya kembali ke Jakarta. Smeua murid sedang berkumpul di satu tempat untuk bersiap pulang. Di lakukan pengecekan satu persatu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, para guru bertugas dengan teliti mengecek anak murid mereka dengan sangat baik.


Sabrina datang terlambat setelah dia selesai mengobrol bersama temannya itu, Lingga tampak kesal sampai tidak ingin melihat wajahnya. Lingga terlebih dulu naik ke dalam bus dan mengambil tempat duduk yang sebelumnya, begitu pun dengan Sabrina.


“ Kamu mau nggak.?” Tawar Sabrina memberikan permen kepada Lingga.


“ Nggak.” Tolaknya tanpa menatap wajah Sabrina sama sekali.


“ Ya udah.” Sabrina pun menikmati permen itu sendirian.


Terdengar suara dering ponsel yang ternyata adalah milik Sabrina, diam-diam Lingga mulai meliriknya. Dia melihat nama Aldo di sana, rupanya setelah pertemuan singkat mereka hari ini keduanya mulai aktif saling balas-balasan pesan.


“ Aku nggak peduli.” Benak Lingga menoleh ke jendela dan sempat melihat sosok Aldo yang tersenyum ke arah ponselnya.


“ Nyebelin banget.” Gumam Lingga pelan.


“ Kamu bilang apa barusan.?” Tanya Sabrina penasaran.


“ Nggak ada.” Jawabnya dengan super duper cuek.


Entah mengapa saat melihat wajah Sabrina yang tertidur dengan pulas, perasaan kesal yang sebelumnya mengganggu kini hilang. Dia tidak lagi marah tidak jelas pada gadis itu, dan sekarang senyuman Lingga pun mulai terbentuk di sudut bibirnya.


**


Hari demi hari Lingga selalu menunggu Sabrina mengatakannya secara langsung bahwa dia akan segera pindah dari Jakarta, tapi sampai hari ini pun dia belum mengatakan apa-apa. Lingga merasa bahwa Sabrina mungkin tidak khawatir soal itu, dan bukan hal penting juga untuknya memberitahu Lingga.


Tapi hal ini semakin membuat Lingga frustasi berat, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mungkin melarang Sabrina untuk tidak pergi, tapi dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hari-harinya tanpa gadis itu.


Hari ini adalah hari dimana kelas Lingga belajar Psikologi, dan kebetulan guru di atas sedang menjelaskan bagaimana perasaan manusia terhadap satu sama lain. Hingga muncul pernyataan dari guru di atas yang menyebutkan.


“ Kalau seandainya ini adalah hari terakhir kalian, apa yang ingin kalian sampaikan pada seseorang yang begitu berharga di hidup kalian.?”


Saat itu juga Lingga langsung melirik Sabrina, dia merasa sudah menemukan jawabannya di kepala. Tapi kenapa begitu sulit untuk mengatakannya.


“ Kamu kenapa liatin aku kaya gitu.? “ Tegur Sabrina.


“ Nggak apa-apa, aku hanya asal noleh.” Jawabnya tak ingin sampai ketahuan.


Besok, Sabrina sudah meninggalkan Jakarta. Lingga mulai terdesak dan ingin mengajak gadis itu untuk bicara serius, dia harus lebih jujur pada dirinya sendiri.


“ Nanti sepulang sekolah kita ketemu sebentar, ada yang ingin ku tanyakan.” Bisik Lingga.


“ Aku nggak bisa.”

__ADS_1


“ Kenapa?”


“ Ada urusan.”


“ Sepenting apa sampai kamu menolak ajakanku.?”


“ Penting banget, jadi aku nggak bisa cancel.”


“ Udah ya, aku pergi dulu.” Lanjut Sabrina yang akhirnya berlari dengan cepat meninggalkan Lingga.


Lingga cukup tahu mendengarnya, bahkan di detik-detik seperti ini pun dia sangat sulit untuk melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya Lingga menyerah dan tidak mendesak Sabrina lagi.


“ Lingga.” Panggil seseorang yang membuatnya menoleh.


“ Siska? Ada apa.?”


“ Aku mau kasih tahu sesuatu ke kamu, aku jadi nggak enak mau ngomongnya. Tapi kita bisa cari tempat lain dulu nggak.?”


“ Boleh.”


**


Lingga dan Siska kini sudah pindah ke tempat yang lebih sepi, terlihat Siska yang menunduk dengan wajah kebingungan. Sedangkan Lingga masih setia menunggu sampai gadis itu angkat bicara.


“ Waktu itu saat kita ketemu di kafe, sebenarnya kamu lagi nunggu Sabrina kan.?” Tebak Siska.


“ Kamu tahu dari mana? Aku nggak pernah kasih tahu siapa-siapa soal itu.” Jawab Lingga.


“ Sabrina yang kasih tahu ke aku.”


“ Kok bisa? Dia kan nggak datang waktu itu.”


“ Aku jadi nggak enak sama Sabrina, beberapa hari ini aku perhatiin ada sesuatu yang aneh dengan kalian. Sabrina dulu sering deketin kamu, tapi setelah pertemuan kita waktu itu di kafe kayaknya buat dia salah paham deh.”


“ Bentar..bentar.., aku nggak ngerti maksud kamu.”


“ Beberapa hari lalu Sabrina tanya soal pertemuan kita di kafe waktu itu, dan dia bilang kalau kamu ajak dia ketemu duluan, tapi karena aku nggak tahu kalau kamu lagi nunggu dia makanya aku asal jawab kalau kita Cuma ngobrol bentaran doang.”


“ Jadi dia lihat kita berdua tapi pergi gitu aja.?”


“ Kayaknya sih iya, dia nggak jelasin lagi ke aku. Dan sejak hari itu sikapnya agak beda ke aku, padahal kalian berdua udah pacaran tapi kenapa dia kaya gitu ke aku.?”


“ Sebenarnya aku sama dia nggak pacaran, aku sengaja bilang ke semua orang supaya nggak ada yang gangguin dia lagi.”


“ Hah? Cuma pura-pura? Tapi kenapa? kamu beneran nggak ada rasa apa-apa ke dia? Besok dia mau pergi loh, seenggaknya kamu jujur ke dia kalau kamu beneran suka.”


“ Aku mau jujur hari ini, tapi dia bilang kalau dia sibuk.”


“ Ya ampun, ku pikir selama ini kalian berdua pacaran tanpa pura-pura.” Ucap Siska sambil menepuk keningnya.


“ Menurut kamu, kalau seandainya aku jujur ke dia tentang perasaanku, apa dia akan tetap tinggal disini.?” Tanya Lingga.


“ Hmm, aku nggak yakin soal itu. Orang tua Sabrina super sibuk dan selalu pindah-pindah karena urusan bisnis, jadi ku rasa dia tetap akan ikut kemana orang tuanya pergi.” Jawab Siska.

__ADS_1


“ Tapi nggak apa-apa kalau kamu mau jujur, LDR bukan hal yang sulit. Dari pada nanti Sabrina di lirik sama cowok lain, kamu mau.?” Lanjut Siska seketika membuat Lingga menggelengkan kepala dengan cepat.



__ADS_2