Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Gugatan Cerai


__ADS_3


Dari ruang unit gawat darurat, Jingga sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Namun sesuai permintaan mama Widya, Jingga akan tetap di rawat di rumah sakit itu untuk membuat orang-orang di rumah sakitnya tidak tahu tentang masalah yang terjadi hari ini.


Jingga masih belum siuman, dan dokter yang menanganinya baru saja memanggil Arkana dan mama Widya ke ruangan untuk memberitahu kondisi yang terjadi pada Jingga saat ini.


“ Jadi aapa yang terjadi pada menantu dan cucu saya dok.?”


“ Bersyukur pendarahannya tidak cukup parah, dan kami tidak menemukan gejala yang serius pada janin. Ibu dan anak baik-baik saja, tapi untuk memantau keadaannya kami menyarankan untuk tetap di rawat selema beberapa hari ke depan.”


“ Tapi benar kan dok, nggak ada yang serius sama menantu saya.?”


“ Iya ibu, menantu ibu baik-baik saja. Jangan khawatir, semua akan tetap kita pantau sampai dia boleh pulang ke rumah.”


“ Terima kasih banyak dok, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”


Dan setelah keluar dari ruangan itu, Mama Widya dan Arkana pun langsung menuju ruangan Jingga, Dan setibanya mereka disana, ternyata Jingga sudah bangun dan sedang duduk menatap keluar jendela.


“ Ya ampun nak, kamu jangan duduk dulu. Berbaring saja, kondisi kamu belum begitu baik.” Kata mama Widya.


“ Ada yang mau aku bilang di depan mama sama mas Arka.” Ucap Jingga terdengar cukup serius.


“ Jangan sekarang ya, kamu perlu istirahat. Soal Arkana, biar mama yang menyelesaikannya.”


“ Bukan itu ma, ini tentang hal lain. Sambung Jingga kemudian.


“ Kamu mau ngomon apa memangnya.?” Tanya mama Widya.


“ Aku mau kita cerai mas, aku bilang kaya gini di hadapan mama supaya semuanya berakhir dengan cepat. Kita nggak perlu menunggu sampai anak ini lahir, sekarang juga aku mau kita cerai.” Kata Jingga dengan sungguh-sungguh.


Mama Widya tertawa mendengar ucapan Jingga barusan, dia mengira bahwa itu adalah candaan biasa. Tapi sekali lagi Jingga menekankan ingin bercerai dengan Arkana, apapun yang terjadi dia ingin berpisah secepatnya.

__ADS_1


“ Jingga…, kamu dengerin mama ya nak. Kalian akan menjadi orang tua sebentar lagi, perceraian itu nggak baik. Arkana janji akan menjadi suami yang lebih baik lagi ke depannya, percaya sama mama.” Ucap mama Widya berusaha meyakinkan Jingga.


“ Selama delapan bulan aku menikah dengan mas Arka, aku nggak pernah yang namanya merasa bebas dan bahagia ma. Untuk apa pernikahan ini di lanjutkan kalau yang aku dapat hanya sakit hati?” Ujar Jingga dengan air mata yang mengalir keluar di pelupuk matanya.


“ Maafin mama kalau Arkana berbuat salah, kamu jangan bilang cerai dengan mudah seperti itu dong.”


“ Selama ini semua hanya kepura-puraan ma, aku dekat sama mas Arka hanya pura-pura dan mama tahu semua itu. Yang rasain aku ma, aku capek hidup kaya gini terus.” Isak Jingga.


“ Kamu tenangkan pikiran kamu dulu ya, kamu ngomong begini karena kamu lagi marah sama Arkana atas perbuatannya sama kamu. Tenang dulu ya, nanti kita bahas lagi yang penting kamu tenang dulu.” Mam Widya terus menerus membujuk Jingga untuk tetap tenang, sebaliknya dia merasa sudah cukup tenang menahannya dari waktu yang cukup lama.


“ Arkana, kamu sebaiknya keluar. Biar mama yang menemani Jingga malam ini.” Titah mama Widya dan segera di turuti oleh Arkana.


**


Suara pecahan kaca dan lemparan barang-barang terdengar jelas dari dapur, bi Inah yang sedang menatap pintu kamar Arkana di buat cemas dengan keadaan Arkana saat ini.


“ Salma, gawat itu tuan emosi lagi. Aku dengar non Jingga masuk rumah sakit, tuan Arkana pulang ke rumah langsung ngamuk-ngamuk kaya gitu. Gimana dong ini.” Sahut bi Inah pada bi Salma yang sejak tadi fokus membuat makan malam.


“ Ada apalagi sih ini, kayaknya ini rumah tangga penuh problem deh.”


“ Udah diam aja, kita sebagai pembantu Cuma bisa kerja disini dan jangan ikut campur urusan mereka.”


“ Sekarang aku kasihan sama non Jingga, hidupnya menderita banget menikah sama tuan Arka, aku berharap mereka berpisah dan non Jingga bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.”


“ Aamiin, semoga kaya gitu.”


Sementara itu di dalam kamar, Arkana terlihat sangat frustasi dengan dirinya yang sekarang. Ada perasaan yang membuatnya sedih dan sakit secara bersamaan, bayangan ketika Jingga meringis kesakitan dengan darah yang di lihatnya hari ini masih membuatnya sangat ketakutan.


Di samping itu juga dia bingung dan penasaran, mama Widya sudah tahu tentang sikapnya selama ini pada Jingga, tapi kenapa mama Widya tidak pernah menunjukkan apapun kepadanya bahwa dia sudah tahu? Jika itu menjadi masalah, pasti mama Widya akan langsung datang menemuinya dan marah kepadanya.


“ Sebenarnya apa yang sudah terjadi? aku benar-benar bingung.”

__ADS_1


Perceraian?


Satu kata itu juga terus terngiang di kepala Arkana sejak tadi, dia tidak pernah mengira kata perceraian yang keluar dari mulut Jingga barusan membuatnya terluka.


“ Kenapa aku jadi sedih? Bukannya bagus kalau kita berpisah lebih awal.?” Arkana tak sadar air matanya mengalir, dia begitu frustasi sampai tidak berminat untuk melakukan apa-apa.


**


Selama tiga hari Jingga di rawat di rumah sakit, Arkana tidak pernah menemuinya sama sekali karena dia di larang oleh mama Widya untuk bertemu dengan Jingga.


Sejak hari itu tidak ada lagi pembahasan tentang perceraian, Arkana berpikir kalau Jingga sudah membatalkan gugatannya dan mereka akan tetap menjadi sepasang suami istri.


Hari ini merupakan hari dimana Jingga akan pulang ke rumah, Arkana sengaja tidak masuk bekerja karena ingin menyambutnya. Dia sudah menyuruh bibi di rumah untuk membuatkan makanan kesukaan Jingga, dan semuanya telah siap dan hanya menunggu sampai Jingga pulang kembali.


Selama satu, dua, hingga tiga jam Arkana menunggu kedatangan Jingga pulang. Namun, sampai detik ini juga Jingga belum muncul di hadapannya, hal itu membuatnya cemas dan ingin segera menghubunginya.


Panggilan dari mama Widya baru saja masuk ketika Arkana hendak menghubungi Jingga, tanpa menunggu waktu lama Arkana pun langsung menjawab panggilan tersebut.


“ Halo ma, bagaimana dengan Jingga? Dia jadi kan pulang hari ini.?”


“ Jadi, dia boleh pulang hari ini.”


“ Tapi kok kalian belum sampai dari tadi? Aku udah nungguin kalian di rumah.”


“ Mulai hari ini Jingga nggak akan tinggal di rumah itu lagi.”


“ Maksud mama.?”


“ Jingga membatalkan gugatannya, sebagai gantinya Jingga akan tinggal di rumah mama. Dan kamu tetap tinggal di rumah itu, untuk saat ini kamu nggak usah temuin Jingga dulu.”


“ Tapi ma, halo…, ma?” Arkana melihat ponselnya yang ternyata panggilan tersebut sudah berakhir.

__ADS_1


Arkana menatap langit di pagi itu yang terlihat mendung, entah mengapa dia merasakan hal yang sama dengan cuaca hari ini. Sampai Arkana merasa dirinya benar-benar tidak berguna, dia tidak puas dengan apa yang di perolehnya saat ini.


__ADS_2